Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
83 Ren dan Aoyama


__ADS_3

Mobil putih itu melaju dan semakin menjauh dari tempat Hinana berdiri. Ia berusaha mengejar dan menghentikan Shota.


"Shota kun.... Shota kun berhenti." teriak Hinana dan berlari mengejar mobil yang dinaiki Shota.


"YAMETE (berhenti) Shota......!" teriak Hinana lebih keras, tapi usahanya tidak berhasil. Hinana akhirnya berhenti karena tak kuat lagi berlari mengejar. Ia membuka ponselnya dan melihat pasan suara dari Shota.


Saat ia akan mendengar pesan suara, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Sawako.


" Ne moshi-moshi (halo)."Ucap Hinana.


"Hinana kau ada dimana? Cepatlah ke kantor kau pasti akan...."


"Sawako maaf, biasakah kau beri tahu teman-teman jika aku akan terlambat ke kantor. Aku ada urusa mendadak." Hinana memotong perkataan Sawako, karena ia harus pergi ke rumah sakit.


"Um baiklah, apa kau baik-baik saja?" tanya Sawako.


"Genki desu, Jaa ne (aku baik-baik saja, sampai jumpa)." Hinana segera mematikan sambungan teleponnya kemudian menuju bus yang saat itu berhenti di halte.


Sesampainya di rumah sakit, Hinana masih menunggu Ren yang sedang di periksa. Ia juga sedikit mendengar bahwa Ren kesulitan menelan saat sedang makan.


Hinana masih berdiri mematung sambil memegang ponselnya, ia meragu apakah harus memberitahu Ren bahwa Shota pergi.


Dari kejauhan Aoyama melihat Hinana yang tangannya bergetar sambil memegangi ponsel. Ia tahu benar karakter sahabatnya, pasti saat ini Hinana sedang dalam masa tersulit.


"Sumimasen (permisi) aku harus berbicara dengan Aoyama." ucap Hinana saat masih kecil kepada guru les Aoyama. Wajahnya terlihat begitu panik, jadi Fumika selaku guru les menyuruh Hinana untuk duduk dulu.


"Baiklah, nona kecil sebaiknya kau duduk dulu." balas Fumika yang mempersilakan Hinana untuk duduk sambil menunggu Aoyama.


"Tidak bisa, ini sangat mendesak." Hinana masih berdiri di depan pintu dan tak lama kemudian Aoyama keluar menemui Hinana.


"Ada apa Hinana?" tanya Aoyama.


"Ibu mu.... Ibu mu meninggal, dia bunuh diri." ucap Hinana dan saat itu tangannya bergetar dengan memegang roknya sangat kuat.


Aoyama melihatnya dan langsung menarik tangan Hinana untuk pergi. Ia tahu saat itu ayah Hinana menyuruh untuk tidak memberitahu alasan kematian ibunya. Karena Hinana telah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun darinya.


"Hinana, apa yang kau lakukan disini." sapa Aoyama pada akhirnya.


"Anoo aku bertemu dengan Shota, menurutmu apakah kondisi Ren akan buruk jika mendengar Shota meninggalkan Jepang?" tanya Hinana meragu.


"Tentu saja." jawab Aoyama dan melihat Ren dari kaca.

__ADS_1


"Tetapi, Ren sangat ingin bertemu Shota. Aku juga tak ingin jika Ren memburuk lagi, apa yang harus ku lakukan?" gumam Hinana dengan panik, ia menggenggam ponselnya sangat kuat.


Kejadian itu sama seperti saat Hinana memberitahu kabar kematian ibu Aoyama.


Tanpa pikir panjang Aoyama langsung menarik Hinana kepelukannya.


"Jangan lakukan. Jangan katakan padanya." ucap Aoyama dan merasa saat ini Hinana pasti sedang menangis.


"Tapi aku tak ingin membohonginya." ucap Hinana dalam isak tangisnya. Seperti yang Aoyama pikirkan, bahwa Hinana tak mungkin bisa berbohong.


"Ne Hinana kai tidak akan berbohong, jangan katakan apapun padanya mengerti?.Sekarang pergilah, bukankah kau harus bekerja." Aoyama mengusap sisa air mata Hinana.


"Hum, sampai jumpa." Hinana menuruti perkataan Aoyama dan ia juga harus segera ke kantor karena Saeako bilang ada sesuatu yang sangat penting.


"Ini pertama kalinya aku memeluknya. Aku mengumpulkan semua keberanianku untuk melindungi orang-orang yang sangat penting. Akhirnya aku bukan orang yang lemah." ucap Aoyama dan hati dengan memandangi kepergian Hinana.


...***************...


"Ohayougozaimasu (selamat pagi)." Sapa Hinana pada teman-temannya.


"Ohayou, hey Hinana kemarilah." Arumi langsung menarik tangan Hinana yang baru datang. Ia memperlihatkan gaun yang sudah jadi.


"Sugoi (menakjubkan)." Hinana terkagum-kagum karena yang selama ini ditunggu-tunggu akhirnya jadi.


"Terimakasih semuanya, maaf jika aku terlalu mementingkan urusanku daripada bersama kalian."


"Tidak apa-apa Hinana. Kami semua mengerti." balas Emi.


"Yosh, sekarang tinggal tugas akhir dari Hinana." Ucap Tsubaki.


"Eh nani (apa)?"


"Kau harus mentraktir makan siang untuk kami."


"Benar sekali, aku sudah lapar sekali." Arumi membenarkan ucapan Tsubaki.


"Wakatta (baiklah)." ucap Hinana dan tersenyum pada teman-temannya.


Kemudian mereka semua bergegas menuju restoran terdekat di kantor. Hinana mengajak teman-temannya makan Yakiniku dan shabu-shabu, meskipun masih siang hari tapi di ada salahnya mengapresiasi kerja keras teman-temannya. Ia juga mengajak Aoyama yang baru selesai shifnya.


"ITADAKIMASU." ucap semuanya dengan kompak kemudian mengambil makanan.

__ADS_1


Saat Hinana akan memasukan makanan kedalam mulutnya ia teringat perkataan dokter yang tak sengaja ia dengar.


"Sepertinya keadaanmu belum cukup baik, maaf Ren untuk hari ini kau belum bisa makan dahulu. Jika kau terus-menerus tersedak bisa menganggu pernapasanmu."


"Doshite (kenapa) Hinana?" tanya Arimura di sebelahnya.


"Em nanimonai (tidak ada apa-apa), ayo makan." jawab Hinana lalu perlahan mulai makan bersama teman-temannya.


"Terimakasih makanannya Hinana." ucap Emi saat mereka akan pulang.


"Tidak masalah."


"Tapi kulihat kau hanya makan sedikit, apa kau sedang diet sekarang." Tsubaki mengejek Hinana dan tertawa kecil.


"Berisik, hari ini tidak begitu lapar."


"Bercanda kok. Oh ya terimakasih banyak." ucap Tsubaki.


"Oh ya Hinana bagaimana tentang rencana ke Tokyo, bukankah Ren sudah siuman?" tanya Sawako.


"Aku belum memikirkan hal itu, lagipula keadaannya belum pulih sepenuhnya. Aku jadi bingung harus bagaimana." ucap Hinana dengan menggaruk kepala, ia juga sedikit tertawa agar suasana tidak canggung


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, kita akan mencari jalan keluarnya bersama. Bukankah kita adalah team?" Sahut Tsubaki karena tak ingin sepenuhnya Hinana yang menanggung.


"Hum, aku setuju. Lagi pula Hinana juga sudah banyak membantu." Arumi merangkul Hinana.


"Arigatou mina-san (terimakasih semuanya)." Balas Hinana dengan tersenyum.


"Baiklah ayo kita pulang, besok kita akan membahas dengan Jouji san." ucap Tsubaki lalu mengajak Emi pulang karena rumah mereka satu arah.


"Jaa ne." ucap teman-teman Hinana berpamitan.


"Mau pulang bersama?" Tanya Aoyama menawari Hinana.


"Aku ingin pergi ke toserba, kau saja duluan." Hinana menolak dengan ramah.


"Baiklah. Jaa ne (sampai jumpa)." Aoyama melambaikan tangan tanpa menoleh kebelakang.


Hinana hanya tertawa kecil karena memikirkan bagaimana bisa teman masa kecilnya tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang sok keren. Ia pun memutuskan untuk masuk ke toserba dan melihat barang-barang yang di jual. Ia teringat Ren, saat ia dan teman-temannya makan bersama tapi Ren tidak bisa. Hinana membelikan note book dan pulpen sebagai gantinya.


"Apakah Ren akan menyukainya? Entahlah, lain kali aku akan mentraktirnya makan." gumam Hinana dan tersenyum saat memandangi note book yang ia beli.

__ADS_1


Di perjalanan kerumah sakit Hinana memandangi ponselnya, entah seberapa jauh laki-laki itu berhasil meluluhkan hatinya.


__ADS_2