Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
113 Misi selesai


__ADS_3

Ren terlihat memandangi langit malam yang cerah. Setelah membantu Arimura untuk masuk ke kamar ia langsung pergi ke ruang tengah tempat dimana Hinana selalu menontin film. Pandangannya hampa saat ini, semua keinginannya sudah terwujud. Ayahnya sudah tidak lagi bekerja untuk orang lain, dirinya sudah berhasil membuat ayahnya untuk menuangkan idenya di perusahaan miliknya. Tsubaki sahabatnya juga telah mendapat tawaran kerja di perusahaan besar Tokyo, tentu saja Ren sangat senang.


"Ren ku apa yang kau lalukan? " tanya Emi yang sedang melihat Ren duduk melamun sendiri.


"Tidak ada. Emi setalah ini apa yang akan kau lakukan? " tanya Ren pada Emi yang dari dulu selalu membantunya.


"Apa lagi, kita akan kembali ke Saporro kemudian menjalani hari seperti biasa." Jawab Emi dan duduk di sebuah kursi karena sepertinya Reb butuh teman bicara.


"Apa kau menyukai bekerja di tempatku?" Ren mulai bertanya kepada Emi. Sudah lama sekali Ren tak pernah berbicara secara face to face pada teman perempuan yang pernah menyukainya.


"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu? Saat aku lelah mencari pekerjaan tiba-tiba kau menghubungiku dan memberikan aku pekerjaan. Tentu saja aku menyukainya." Jawa Emi sambil mengingat masa lalunya yang hampir menyerah mencari pekerjaan.


"Yokatta (syukurlah). Aku senang mendengarnya, aku harap kau dan adikku bisa akur." Ren menghembuskan nafas dengan lega karena masih ada Emi yang akan membantu ayahnya.


"Adik? " Pekik Emi kebingungan, bukankah Ren hanya punya satu saudara yaitu Shota.


"Tentu saja Arumi, aku lelah jika melihat kalian masih saling bertengkar." Jawaban dari Ren seakan membuat Emi tekejut


"HAH.... Arumi adalah adikmu??? " Emi sampai berdiri karena terkejut sementara Ren hanya tertawa karena melihat ekspresi temannya.


"Kenapa? Aku sengaja merahasiakan darimu. Aku ingin kau cemburu dan berhenti mengejarku." Balas Ren dan berusaha untuk menghentikan tawanya.


"Gomenne (maaf) Emi aku membohongimu." ucap Ren sekali lagi kepada Emi.


"Kenapa kau melakukan itu?" Emi mulai merasa tenang dan mulai duduk kembali di kursinya.


"Karena aku tak menyukaimu. Dan kau bukan orang yang menyerah begitu saja jadi terpaksa aku melakukan hal itu." Ren kali ini mulai membongkar satu persatu yang menjadi rahasianya. Ren juga bersyukur karena Emi menyukainya, karena dengan begitu ia masih punya seseorang yang akan mengingatnya ketika Ren sudah tiada.


"Tapi sekarang aku menyerah padamu." ucap Emi dan memberikan senyum pada Ren.


"Ada seseorang yang sangat tulus menyukaimu, orang itu tak pernah melihat kekuranganmu. Dan aku yakin kau juga menyukainya. Hey Ren, kenapa kau tak menyatakan perasaanmu? Hinana sangat mencintaimu, Hinana menunggumu." ucap Emi sekali lagi, ia tahu bahwa Ren juga menyukai Hinana.


"Bagaimana jika aku mati saat pacaran denganmu? Apa kau mungkin akan ikut mati juga? Aku tak ingin menyakitinya, aku ingin melindungi Hinana."

__ADS_1


Jawaban dari Ren membuat Emi tak bisa menahan tangisnya. Yang dikatakan Ren memang benar, Emi akan merasa kehilangan jika saat itu Ren meninggal.


"Maafkan aku Emi, tolong jaga Hinana jika aku benar-benar tidak ada." Ren menepuk lembut kepala Emi, Ren ingin membuatnya tenang. Karena Emi saat ini masih menangis.


Keesokan harinya Hinana sudah berada di mansion milik Ren. Mereka berencana untuk berjalan-jalan di kawasan kota Shibuya sebelum kembali ke Hokkaido.


Aoyama menolak ajakan teman-temannya, ia memilih untuk dirumah meakipun harus menjaga Arimura.


"Aku ingin berfoto di bawah menara Tokyo." ucap Arumi yang antusias.


"Baiklah, ayo katakan chizzz." Emi mengambil ponsel milih Arumi dan memotret Arumi. Ia tersenyum kepada Ren yang memperhatikannya. Tangisan semalam sudah cukup baginya, Emi ingin menuruti perintah Ren agar selalu akur dengan Arumi.


"Hinana aku ingin makan yakisoba." ucap Ren dan menunjuk pada kedai. Hinana pun menuruti keinginan Ren dan mengajak teman-temannya untuk makan bersama.


"Ada yang ingin kusampaikan pada kalian." ucap Hinana tiba-tiba.


"Apa itu berita yang baik." Ren menghentikan makannya dan melipat tangannya kedepan untuk mendengarkan Hinana.


"Aku tidak kembali ke Hokkaido, aku mencoba memulai kehidupan yang baru." ucap Hinana dengan gugup.


"Yokatta (syukurlah)." Teriak Arumi dan Emi secara bersamaan.


(Flasback.)


Hinana mendapat telepon dari nomor yang tidak di kenalnya. Ia lalu mengangkatnya.


"Moshi-moshi." Ucap Hinana.


"Hinana ini aku Kaori, hey Hinana tolong jangan matikan panggilannya. Bisakah kita bertemu, aku merindukanmu." Jawab Kaori dari telepon.


"Wakatta (baiklah), datanglah ke restoran sushi biasanya." setelah membuat janji Hinana menutup teleponnya dan bergegas untuk pergi.


"Onichan kau mau pergi kemana malam-malam." tanya Ryusei yang melihat kakaknya sudah memakai coat silver.

__ADS_1


"Aku ada janji dengan seseorang. Jaa ne (sampai jumpa). " Saat Hinana melangkahkan kaki keuar Ryusei langsung menahannya.


"Aku akan ikut bersamamu." Jawab Ryusei yang masih mengkhawatirkan kakaknya, meskipun saat ini dirinya sudah memakai piyama.


"Aku tidak punya waktu lagi jika harus menunggumu." Desah Hinana karena melihat pakaian adiknya. Tapi Rsusei langsung mengambil kunci mobil dan sudah berada di kemudinya. Hinana hanya melongo keheranan.


"Apa kau benar-benar akan pergi dengan baju tidurmu? " tanya Hinana.


"Sudahlah, daripada kau menghilang dariku." Ucap Ryusei dengan kesal dan Hinana menertawakan adiknya. Akhirnya Hinana pergi menemui Kaori dengan Ryusei yang menjadi bodyguardnya.


Sepuluh menit Hinana sudah sampai restoran yang ia rencanakan bertemu dengan Kaori. Ia segera keluar dari mobil dan masuk kedalam, semntara Ryusei masih memarkirkan mobilnya.


"Hinana.. " Panggil Kaori dari tempat duduk dekat jendela. Hinana segera mendekat kearah Kaori.


" Bagaimana kabarmu, aku senang melihatmu baik-baik saja." ucap Kaori memberi sambutan untuk Hinana.


"Aku baik-baik saja, apa yang ingin kau bicarakan." Tanya Hinana tanpa basa-basi karena ia tak ingin Kaori membahas tentang Yukiatsu. Kaori memberikan sebuah kertas untuk Hinana.


"Audisi, aku harap kau mengikutinya. Orang sepertimu harus mengikuti audisi ini, setelah kau berhasil menjadi model video clip para produser akan memberikanmu masa trainee untuk menjadi artis." Kaori menjelaskan apa yang menjadi tujuannya bertemu Hinana.


Sejujurnya rencana ini sudah disiapkan oleh Kaori sejak satu tahun yang lalu. Tapi Hinana menghilang tanpa kabar apapun. Kaori tidak menanyakan kenapa Hinana pergi dan kenapa Hinana pergi, karena Ren melarangnya. Sebelum Kaori bertemu dengan Hinana ia juga berkonsultasi dulu dengan Ren meskipun lewat telepon.


"Benarkah ini? " Ucap Hinana tak percaya melihat formulir untuknya.


"Tentu saja. Hinana kau sudah lebih senior untuk menjadi model aku rasa sudah selanjutnya kau naik ke level yang tinggi." Kaori mencoba meyakinkan Hinana karena ini satu-satunya jalan agar Hinana mau kembali ke entertainment.


"Akan kupikirkan nanti, sekarang ayo kita pesan makanan." Ucap Hinana yang masih tak percaya dengan tawaran Kaori.


"Hanya sampai akhir Mei, Hinana kesempatanmu hanya sampai akhirnya bulan ini jadi tolong pikirkan baik-baik." Kaori mengingatkan Hinana jika audisinya hanya sampai akhir bulan ini.


"Wakatta (aku mengerti). Jemput aku seperti biasa."


Jawaban dari Hinana membuat Kaori tersenyum, kemudian mereka mulai memesan makanan ringan. Ryusei yang mematai-matai Hinana dari kejauhan ikut tersenyum karena kakaknya sudah mau kembali lagi.

__ADS_1


(selesai)


__ADS_2