Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
117


__ADS_3

Pov Aoyama


Larisa berusaha menghubungi putrinya Hinana. Sebenarnya ia tidak ingin menggangu putrinya yang sedang ikut audisi, tapi Larisa juga mengkhawatirkan keadaan putra angkatnya. Ia juga melihat sepertinya Aoyama mempunyai hubungan dengan seorang gadis yang ia temui di kamar rawat Tahara.


Hinana menyelesaikan audisinya dengan baik, semua orang di studio banyak yang sudah mengenal Hinana dan merasa senag jika Hinana mau bekerja sama dengannya. Ponselnya berdering saat Hinana mengambil tasnya.


"Moshi-moshi (halo). " ucap Hinana saat menjawab panggilan dari ibunya.


"Hinana, apa audisimu berjalan lancar?" tanya ibunya.


"Humm tentu saja, mereka sudah mengenalku dengan baik." Jawab Hinana dengan perasaan lega.


"Yokatta (syukurlah). Hinana ada yang perlu okaasan (ibu) tanyakan padamu." Larisa mengirim pesan gambar pada line putrinya. Sebelum pergi Larisa mengambil foto Arimura dan Aoyama saat di ruang tunggu.


"Apa kau mengenal perempuan yang bersama Aoyama, lalu apa mereka mempunyai hubungan?" tanya Larisa sekali lagi saat gambarnya sudah terkirim dan Hinana membukanya.


"Oh, dia adalah temanku Arimura dan Aoyama juga mengenalnya dan berteman dengannya. Hanya saja akhir-akhir ini mereka berdua sangat dekat, aku juga curiga apa bisa orang seperti Aoyama berselingkuh dari pacarnya." Jawab Hinana.


"Begitukah!!! " Pekik ibunya dari telepon.


"Kenapa? Okaasan apa yang sedang terjadi?" Hinana mendengar suara ibunya yang sedang khawatir.


"Hinana ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Hari ini ibu menemani Aoyama bertemu dengan ayahnya tapi disana ada gadis itu yang mengatakan jika Tahara adalah ayah kandungnya." ucap Larisa menjawab pertanyaan purtinya.


"Hinana kita akan membicarakannya di rumah, Jaa ne (sampai jumpa). " Larisa mengakhiri panggilan karena sudah melihat Aoyama yang berjalan mendekat kearah mobilnya. Tanpa pikir panjang Larisa langsung keluar dan memeluk putra angkatnya.


"Aoyama semuanya akan baik-baik saja. Bibi, Paman, Ryusei dan Hinana selalu ada bersamamu. Kami semua adalah keluarga." Ucap Larisa dengan memeluk Aoyama, ia mencoba menenangkan Aoyama.


"Bibi, aku ingin pergi menemui ibuku." ucap Aoyama dengan lemah.


"Tidak boleh. Aoyama Bibi sekarang adalah ibumu, paman Aoi adalah ayahmu. Kau tidak boleh pergi kemanapun." Ucap Larisa dengan suara serak karena menahan agar air matanya.


"Tapi aku tidak pernah lahir di keluaga kalian."

__ADS_1


"Tidak boleh. Kau adalah putraku." Larisa segera menarik Aoyama untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia sengaja mengunci mobilnya dan akhirnya Aoyama hanya bisa menangis.


Saat Aoyama mengatakan ingin menemui ibunya, Larisa selalu beranggapan jika Aoyama akan mengakhiri hidupnya. Mengingat sahabatnya yang meninggal membuat hati Larisa terkoyak lagi. Bagaimanapun juga ia dan ibunya Aoyama sudah berteman sejak SMA, maka dari itu Larisa selalu menjaga Aoyama. Larisa pun juga ikut menangis di dalam mobil.


(Sebenarnya novel ini masih bersambung dengan novel sebelumnya ya..


Jika kalian membaca novel Time to meet you pasti sudah tahu bagaimana alurnya. Hinana adalah putri dari Larisa arizawa dan Aoi Miura. Sedangkan Aoyama adalah putra dari teman Larisa yang bernama Maira. Dulu Maira pernah menyukai Aoi dan mereka juga berteman dekat. Sedangkan Hinana ingin menjadi model karena dorongan dari Bibinya yaitu Mayu yang menjadi model terkenal di LA . Tapi hubungan Mayu dan Aoi tidak baik-baik saja, Shohei selalu membuat Ayahnya Hinana bersalah dan selalu mengingatkan tentang kematian saudaranya yaitu Tanaka, maka dari itu Aoi selalu pergi ke makam Tanaka dengan membawa bunga krisan. Shohei adalah suami Mayu, ia sengaja melakukan karena masih cemburu karena Mayu masih menyukai Aoi sampai sekarang)


Hinana keluar dari tempat audisi dan segera menemui teman-temannya.


"Hinana bagaimana dengan audisinya? " Tanya Tsubaki yang tak lama menunggunya.


"Berjalan baik, bagaimana denganmu juga." tanya Hinana kembali.


"Aku lolos dan mulai kerja minggu depan." Jawab Tsubaki dengan bangga.


"Sugoi (hebat). " puji Hinana.


"Kita harus merayakannya malam ini karena Tsubaki sudah berhasil dan Hinana juga." Sahut Arumi dan memeluk kedua temannya.


"Ada apa Hinana? " tanya Ren.


"Sepertinya Aoyama dan Arimura mengalami masalah yang serius." Jawab Hinana meskipun belum tahu jelas apa yang sedang terjadi.


"Sensei? " pekik Arumi.


"Alice? " Tsubaki ngernyitkan dahinya karena memang dua orang itu tidak ada disini.


"Apa yang terjadi pada mereka? " Emi bertanya dengan pelan.


"Aku juga masih belum terlalu paham hanya saja ibuku baru saja meneleponku. Aoyama menemui ayahnya dan Arimura juga ada disana. Aku rasa mereka berdua menemui orang yang sama." Jawab Hinana yang sulit menjelaskan.


"Tunggu sebentar, jadi maksudmu mereka berdua adalah saudara?" Ren segera menebak, karena waktu itu Arimura mengatakan akan menemui ayah kandungnya yang selama ini dicarinya.

__ADS_1


Arimura juga mengirim fotonya bersama ayah kandungannya kepada Ren dan mengatakan jika sudah berhasil bertemu.


Ren merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya dan mencari foto Arimura bersama ayah kandungnya.


"Arimura mengirimkan pesan waktu itu, dia sudah berhasil bertemu ayah kandungnya." Ren menunjukkan foto itu pada Hinana.


"Woahhhh, itu adalah ayahnya Aoyama." Hinana berteriak karena terkejut melihat foto yang ditunjuk oleh Ren.


"Kalian berdua masih sering berkirim pesan." tanya Hinana kepada Ren dengan tatapan yang tajam. Bagaimanapun juga Ren pernah menyukai Arimura jadi Hinana masih merasa cemburu.


"Ituuu, waktu itu sebelum festival dimulai. Arimura hanya punya ID line ku saja." Jawab Ren dan menggaruk kepalanya untuk menjelaskan pada Hinana.


"Sudahlah, ini bukan masalah rumah tangga kalian. Aoyama sensei dan Arimura chan mereka berdua sedang terjadi sesuatu, kita harus membantunya." Emi segera melerai sebelum mereka berdua terbakar api cemburu.


"Ayo sekarang kita pergi menemui Arimura." Ajak Tsubaki dan merangkul Hinana.


"Kau juga kenapa mau saja dipeluk orang lain." Ucap Ren yang juga tak kalah terbakar karena melihat Tsubaki merangkul Hinana.


Emi langsung menarik Tsubaki dan menyuruhnya menjauh sebelum Ren mulai meletus. Sedangkan Arumi hanya menertawakan Ren dan Hinana yang saling cemburu karena masalah yang sepele.


Mereka semua sudah sampai di mansion Ren dalam waktu lima belas menit. Karena tempat audisinya lumayan jauh dan hanya bisa naik bus. Arimura sudah berada di ruang tamu dan hanya memandangi ponselnya.


"Aku pulang." ucap Tsubaki dengan tersenyum begitu juga teman-temannya lainnya.


"Selamat datang." Balas Arimura dan mengusap sisa air matanya.


Hinana menarik kuat jaket yang dipakai Ren saat kekasihnya akan berjalan mendekati Arimura. Emi yang tak sengaja hanya bisa tertawa dalam hati karena menganggap pertengkaran mereka belum berakhir.


"Apa terjadi sesuatu padamu? Ceritkanlah kami semua sudah tahu dan ingin mendengar semuanya darimu." ucap Ren pada Arimura dan masih berdiri di samping Hinana.


Emi dan Arumi pun segera duduk di kursi di sebelah Arimura.


"Kalian semua tahu darimana?" tanya Arimura dengan pelan dan melindungi kearah teman-temannya.

__ADS_1


"Dari penyihir."


Mendengar jawaban dari Tsubaki ingin sekali Hinana melayangkan pukulannya. Tapi Ren langsung memeluk kekasihnya dan menyuruhnya untuk diam saja.


__ADS_2