Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
36


__ADS_3

Hari sudah malam, Hinana pulang ke apartemennya dan langsung tidur. Esok paginya Hinana terbangun sendiri tepat jam 8 pagi.


Hinana mendengar suara sedikit bising, dan dengan semangat keluar dari kamarnya.


"ah ternyata kau Toru." gumam Hinana saat melihat robotnya membersihkan ruang tamu. Hinana pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi kerja.


Ia menyiapkan sarapan sendiri dengan memanggang roti.


"Ah panas sekali." rintih Hinana sendiri saat mengambil roti dari panggangan. Pagi ini Hinana merasa kesepian karena harus sarapan pagi sendiri.


"dia benar-benar tidak datang hari ini." ucap Hinana dengan kecewa saat keluar dari apartemennya dan menuju halte bus.


Tak butuh waktu lama, Hinana sudah sampai di rumah Tsubaki dan memencet bel.


"Hinana, aku senang sekali kau datang. Aku khawatir padamu, sebenarnya aku ingin menemuimu tapi Ren melarangku. Dia bilang Hinana masih butuh waktu untuk sendiri, kami minta maaf saat itu jadi ku mohon jangan keluar dari pekerjaan ini." ucap Tsubaki panjang lebar saat melihat Hinana.


"kau sudah selesai, jadi apa kau masih membiarkan aku di luar."


"Ahh maafkan aku, masuklah semua orang sudah di dalam. Teman-teman Hinana ada di sini." dengan senang Tsubaki berteriak.


"Hinana syukurlah kau kembali." ucap Emi.


"aku mungkin tidak tahu apa-apa soal fashion mode tapi mungkin aku bisa membantu apapun di sini. Aku bisa membuatkan makanan, ah tidak aku tidak bisa masak. Tapi setidaknya aku bisa memberi bantuan, jadi izinkan aku tetap bergabung." ucap Hinana.


"kau bicara apa Hinana. Justru kami sangat khawatir jika kau benar-benar keluar dari team."


"eh.. Jadi aku masih bisa."


"tentu saja, baiklah aku memerlukan bantuanmu Hinana." Emi menarik tangam Hinana dan mengajaknya menggambar pola di kain. Kali ini Koizumi team memakai hasil rancangan milik Arumi.


Sekali lagi Hinana memandang ke arah Ren, perasaannya benar-benar baik setelah melihat Ren. Apalagi Ren selalu tertawa dan tersenyum.


"Hinana bisa bantu aku pegangi kainnya." Emi memanggil Hinana.


"oh baiklah, yang mana?" Hinana mulai fokus dengan pekerjaannya.


Saat itu juga Ren melihatnya, sejak Hinana kembali Ren belum menyapanya karena sangat sibuk membuat baju.


Hingga kedua pandangan mereka saling bertemu. Tapi keduanya bersikap sama-sama tidak tahu dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


"Ren, sebaiknya kita istirahat dulu." ucap Tsubaki karena mendengar gelang Ren berbunyi.


"hem baiklah, Arumi tolong bereskan semuanya."


"iya, aku rasa jari-jari ku akan patah karena dari tadi menjahit." keluh Arumi kemudian membersihkan sisa-sisa benang.


"kita istirahat dulu teman-teman." Tsubaki menghampiri Emi dan Hinana yang masih sibuk dengan menggunting kain.


"sebentar, akan tanggung jika tidak di selesaikan." jawab Emi.


"jangan terlalu keras Emi, istirahatlah dulu. Oh ya Hinana tolong ambilkan minuman di dapur."


"baik," Hinana segera pergi ke dapur Tsubaki dan mengambil sekantong minuman yang sudah dibeli Tsubaki.


Hinana membawa dan membagikan ke teman-temannya.


"kenapa kau tidak menghampiriku?" ucap Hinana dan menghapiri Ren.


"kau merindukanku?"


"ti ti-dak, untuk apa." Hinana terkejut dengan kata-kata yang di ucapkan Ren.


"kau sudah merasa lebih baik?"

__ADS_1


"iya, meskipun aku tak punya keahlian apapun tapi aku membutuhkan pekerjaan ini." jawab Hinana dan memberikan sebotol soda.


"aku ingin minum air putih saja, bisa ambilkan?"


"maaf aku lupa jika kau tak ingin minum ini. Baiklah tunggu sebentar."


"hem." angguk Ren kemudian memejamkan mata saat Hinana pergi.


Dengan cepat Hinana mengambil sebotol air mineral dan kembali lagi ke ruang tengah.


Hinana melihat Ren sedang memejamkan mata, ia terus memandanginya. Saat itu ia teringat ucapan Shota, bahwa semua kehidupan pasti punya liku-liku dan tidak ada yang berjalan lurus. Tapi melihat Ren sepertinya kehidupan Ren berjalan lurus.


"hentikan melihatku seperti itu." ucap Ren tiba-tiba.


"siapa juga yang melihatmu, ini." dengan salah tingkah Hinana memberikan air mineral untuk Ren.


"Ren, Hinana kami akan bermain di belakang. Ayolah pergi." teriak Tsubaki.


"pergilah dulu aku akan menyusul." balas Ren.


"baiklah." Tsubaki kemudian pergi dengan Arumi dan Emi.


"kau tidak pergi dengan mereka." tanya Ren pada Hinana.


"aku akan pergi bersamamu."


"eh benarkah? Aku ingin ke toilet, kau mau ikut?" ucap Ren dengan nada menggoda.


"lupakan, aku menyusul mereka." karena merasa malu Hinana kemudian pergi, sementara Ren hanya tertawa melihat tingkah konyol Hinana.


Sebenarnya hanya alasan Ren saja jika ingin ke toilet. Ren mengambil kotak obat dan meminum beberapa obatnya. Dan Tsubaki juga beralasan mengajak teman-temannya bermain di luar, agar Ren bisa istirahat.


Tsubaki mengajak bermain basket dan dengan antusias Hinana setuju. Tsubaki satu team dengan Emi sedangkan Hinana dengan Arumi. Mereka berlomba untuk memasukkan bola kedalam Ring.


"lihat saja aku tidak akan kalah dengan perempuan." Tsubaki tidak terima di remehkan Hinana. Ia berusaha merebut bola dari tangan Hinana, hingga bola meleset dari tangan Hinana dan Tsubaki.


Ren yang saat itu berjalan menangkap bola yang meluncur ke arahnya, dan melempar hingga masuk ke Ring dengan kerennya.


"woah." ucap Emi dan Arumi kagum.


"HAH tri point." Tsubaki juga kagum pada Ren.


"SUGOI...( menakjubkan) Ren ayo bermain denganku." Hinana segera menarik Ren dan mengajaknya.


"tidak mau."


"ayolah, aku tidak ingin ada penolakan."


"aku capek Hinana, kalian saja aku yang melihat."


"tidak boleh, aku ingin bertanding denganmu."


"Hinana aku rasa Ren benar-benar lelah, biarkan dia istirahat." Tsubaki segera menghampiri Ren.


"ayolah Ren bermainlah sebentar, dulu kau kan kapten team basket." ucap Arumi.


"HeH dia kapten?"


"benar, dulu saat SMA Ren banyak penggemarnya." tambah Emi.


"aku akan menguji kemampuanmu, dulu aku juga kapten."


"eh benarkah, kalau begitu kau juga keren Hinana." puji Arumi.

__ADS_1


"tapi saat SMP."


"sudahlah, aku rasa tidak perlu. Ren mungkin lelah karena sudah bekerja keras seharian ini." Tsubaki berusaha menghentikan.


"baiklah, tapi hanya pertandingan kau dan aku." Ren menerima tantangan Hinana dan membuat Tsubaki terkejut.


"Ren..."


" daijobu Tsubaki." Ren menenangkan Tsubaki yang dari tadi menghawatirkannya.


"baiklah kau duluan." Hinana melemparkan bola kearah Ren.


Akhirnya Ren pun menuruti permintaan Hinana. Berkali-kali mereka sama-sama mencetak skor, dan saat bola sudah berada di tangan Ren sudah pasti masuk ke ring.


"ayo Hinana kalahkan Ren." teriak Arumi memberi semangat.


"jelas-jelas yang akan menang Ren, mereka selisih 5 point." ucap Emi


"meski bisa di tebak tapi tak ada salahnya memberikan semangat pada Hinana."


"kau benar. Ayo Hinana semangat, jangan sampai Ren pegang bolanya." Emi pun akhirnya ikut memberi semangat pada Hinana. Sedangkan Tsubaki tetap merasa khawatir dengan Ren.


Lima belas menit berlangsung, dan gelang Ren sudah mulai berbunyi menandakan tekanan jantungan tinggi.


"sudah Hinana berhenti aku capek." Ren memegangi dadanya dan menarik nafas panjang.


"Heh segitu saja?"


"lagi pula aku sudah menang darimu, kau harus menuruti permintaan dari pemenang."


"HAH tidak ada perjanjian seperti itu, lagi pula kita hanya bertanding saja." Hinana terkejut karena ucapan Ren. Sementara Tsubaki langsung menghampiri Ren dengan membawa sebotol air dan tas obat Ren.


"kau tidak apa-apa?" tanya Tsubaki dengan panik, sementara Hinana hanya melihatnya saja.


"Hinana kemarilah dan minumlah." Arumi memanggilnya dan Hinana langsung menghampirinya.


"harusnya kau tak perlu lakukan itu Ren."


"hentikan Tsubaki jangan begitu khawatir, nanti mereka tahu penyakitku." bisik Ren dan mengambil beberapa obat di tas kecilnya.


"kau membuatku takut, lain kali jangan lakukan itu lagi Ren."


"kau sama posesifnya dengan Shota, pergilah aku ingin sendiri."


"tapi Ren, detak jantungmu belum stabil biar aku menemanimu."


"tidak perlu sepertinya gelang ini rusak." Ren menggoyang-goyangkan pergelangan tangannya, karena smartband itu masih berbunyi.


"Ren ayo sekarang kita ke rumah sakit, aku khawatir." ucap Tsubaki dengan ketakutan.


"tidak perlu Tsubaki, kau pergi saja jika takut."


"aku tak ingin kau mati."teriak Tsubaki karena tak bisa menahannya. Ren begitu keras kepala dan membuat Tsubaki sangat khawatir, hingga membuat Hinana, Arumi dan Emi melihat mereka.


"kalian sedang apa?" tanya Arumi.


"ahh ano... kami hanya sedang menceritakan sesuatu. Tidak begitu penting, iya kan Tsubaki." Ren membuat alasan agar tidak ada yang curiga.


"cerita tentang apa?" Hinana pun ikut bertanya.


"emm tentang masalah pria. Kau ingin tahu Hinana? Kemarilah aku akan berbisik padamu."


"lupakan saja, kau menyebalkan." Hinana merasa malu kemudian mengajak Arumi dan Emi masuk kedalam rumah Tsubaki.

__ADS_1


"syukurlah mereka percaya. Kau dengar Tsubaki, jika kau katakan penyakitku pada mereka. Aku akan membencimu." Ren berbisik pada Tsubaki lalu meninggalkannya. Sementara Tsubaki masih belum beranjak dari tempatnya, dan mulai menangis.


__ADS_2