
Wakarimasu (aku mengerti). Seto sensei serahkan semua padaku. Aku akan menjaga Ren dengan sebaik-baiknya. Jaa ne (sampai jumpa)."
Hinana tersenyum senang dan keluar dari ruangan Seto. Ia telah berhasil mendapatkan surat izin dari dokter Seto.
Seto hanya tersenyum melihat ekpresi Hinana yang senang karena telah mendapatkan surat izin untuk Ren. Persahabatan mereka bertiga membuatnya iri karena sama-sama melindungi satu sama lain. Baik Ren, Hinana ataupun Aoyama, mereka semua sangat peduli. Dan Seto berharap persahabatan ketiganya bisa berlangsung lama. Karena melihat Aoyama yang bisa tersenyum bahagia sudah membuat Seto merasa lega.
"Kalian semua harus berterimakasih padaku." Ucap Hinana tiba-tiba dan langsung masuk ke kamar Ren. Disana sudah ada Aoyama yang sedang makan bersama Ren.
"Kenapa?" Tanya Aoyama.
Hinana menunjukkan surat izin yang barusan ia dapat dari Seto. Ren yang melihatnya langsung tersenyum dengan wajah yang berbinar-binar.
"Seto Sensei mengizinkanku keluar?" Ucap Ren dengan semangat.
"Yup!!!"
"Akhirnya. Aku siapkan pakaian untuk besok, aku tak sabar untuk pergi." Ren sangat senang dan membuka lemari untuk mencari pakaian.
"Kau seperti perempuan saja, kita sedang tidak berkencan." Hinana tertawa karena melihat kekasihnya yang seperti anak kecil.
"Tapi mana mungkin aku pergi memakai piyama."
Ren merentangkan tangannya dan menunjukkan pada Hinana jika selama ini yang dipakai selalu baju tidur.
Aoyama berdiri dari kursinya, ia lansung mengambil baju milik Ren dan memberikannya.
"Pakai ini saja."
"Tidak mau, kenapa kau yang pilihkan. Pilih saja baju untuk kau pakai." Protes Ren dan malah membuat Hinana tertawa lebar.
"Kapan lagi kau memakai baju pemberianku?" Aoyama mencoba membela diri.
"Lain kali saja, besok aku akan pakai baju pemberian dari Hinana." Ren langsung mengambil kaos putih lengan panjang yang diberikan oleh Hinana.
"Tapi masalahnya kita akan pergi berempat dan Seto menyuruh perawat Kishi untuk ikut." Ucap Hinana menyesaikan kalimatnya yang sempat terpotong karen ulah Ren.
"Kishi Murakami...." Teriak Aoyama karena terkejut.
"Jangan pedulikan aku, lakukan sesuka hati kalian." Kishi langsung membuka pintu kamar Ren dan masuk ke kamar. Memang tugasnya untuk mengecek kondisi Ren dan melaporkan kepada dokter Seto.
"Hey, harusnya kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk."
Ren dengan polosnya memprotes Kishi yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Kamarmu terlalu berisik jadi percuma saja mengetuk pintu." Jawab Kishi dan mempersiapkan peralatan.
Aoyama langsung menarik kra baju Ren dan menyuruh Ren untuk duduk bersandar di ranjangnya. Kalau tidak begitu Kishi akan kerepotan untuk memeriksa kondisi Ren. Karena Ren hanya menurut jika Seto sendiri yang memeriksanya.
"Ren tidurlah." Ucap Aoyama memerintah Ren seperti anaknya.
"Aku sudah tidur." Jawab Ren dan tidur dengan posisi tengkurap.
"Tidurlah yang benar...! Perawat Kishi akan kesulitan jika kau seperti itu." Aoyama semakin geram dengan kelakuan Ren.
"Apa perlu ku bantu." Hinana mendekat dan menawarkan bantuan.
"Tidak tidak tidak perlu, aku bisa sendiri kok." Tolak Ren dan tidur dengan benar.
Sebenarnya hanya butuh waktu lima menit saja untuk menjalani pemeriksaan rutin. Tapi karena tingkah Ren yang selalu membuat pusing tentu saja memakan waktu hingga satu jam.
"Istirahatlah dulu." Ucap Kishi setelah selesai memeriksa Ren.
"Aku bosan kau selalu berkata seperti itu." Jawab Ren dengan mengeluh.
"Besok kau kan pergi, lebih baik kau siapkan tenaga untuk besok." Kishi memberikan saran dan pergi untuk menyerahkan hasil pemeriksaan pada dokter Seto.
"Apa hasilnya baik?" Tanya Hinana pada Kishi sebelum pergi.
"Aoyama pergilah, aku ingin bersama dengan Hinana." Ren mengusir Aoyama yang masih menghabiskan sarapannya.
"Aku juga ingin bersama dengan Hinana, kita mengobrol bersama." Jawab Aoyama dengan santai.
"Tapi Hinana pacarku, pergilah." Gerutu Ren.
"Baik baik, aku akan pergi setelah kau mengabiskan makananmu juga." Aoyama menarik lagi kra baju milik Ren dan menyuruhnya menghabiskan makanan.
"Kalian berdua makan sendiri tanpa mengajakku. Ren aku ingin mencobanya." Hinana mendekat kearah Ren dan ingin mencoba makanan yang di makan kekasihnya.
"Hinana aku akan membelikannya untukmu. Aoyama nanti marah jika aku tak menghabiskannya."
Ren beralasan karena tak ingin Hinana mencoba makanannya. Ren hanya makan kentang tumbuk dengan susu almond tentu saja rasanya sangat hambar. Ia tak ingin Hinana merasakannya karena tak ingin kekasih khawatir jika selama ini makanan Ren tidak ada rasanya.
Aoyama segera membereskan piring kotornya, begitu juga milik Ren. Karena dari tadi Ren sudah mengusirnya untuk keluar. Padahal tadinya Ren merengek ingin Aoyama menemaninya. Tapi semuanya tentu berakhir setelah kedatangan Hinana.
"Hinana, aku ingin memelukmu." Ren bediri dari ranjangnya dan duduk di sofa bersama Hinana setelah Aoyama baru saja pergi.
"Jika kau ingin memelukku lakukan saja kenapa harus izin." Jawab Hinana dengan malu lalu Ren langsung memberikan pelukannya dengan hangat.
__ADS_1
"Aku ingin menciumu, apakah boleh?" Pertanyaan dari Ren membuat pipi Hinana memanas. Lagi pula kenapa juga Ren harus meminta izin, bukankah saat ini mereka sudah pacaran.
"Hum."
Hinana hanya mengangguk dan menutup matanya, menunggu Ren untuk menciumnya. Ren mulai mendekatkan wajahnya ke Hinana, namun satu detik kemudian ia mnegurungkan niatnya dan memegangi dadanya. Beberapa detik Hinana menutup matanya akhirnya ia membuka matanya karena Ren tak menciumnya.
"Kenapa tidak jadi?" Tanya Hinana yang kecewa.
"Aku merasa berdebar-debar jadi sulit melakukannya."
"Kalau begitu aku yang akan menciumu."
"Ehhh." Pekik Ren terkejut.
"Kau tahu, kita belum pernah berciuman selama pacaran. Dua hari lagi adalah ulang tahunku, aku ingin kau memberikanku sesuatu padaku." Ucap Hinana dan merasa kesal terhadap kekasihnya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kisu.. (ciuman). Aku akan menciummu sekarang dan kau harus menciumku saat hari ulang tahunku."
Hinana mendekatkan wajahnya kearah Ren sehingga Ren sedikit terlentang. Kedua matanya saling bertatapan karena jarak mereka sangatlah dekat. Perlahan Hinana mendekatkan bibirnya untuk mencium Ren.
.
.
.
.
.
.
Suara smartband milik Ren berbunyi kencang, Aoyama yang akan pulang dan melintas di sekitar kamar Ren, tiba-tiba mendengar suara smartband milik Ren langsung berlari ke kamar Ren.
"Apa yang terjadi...." Aoyama langsung membuka pintu kamar Ren, dan melihat Hinana yang panik menekan tombol darurat.
Sementara Ren terlihat menutup matanya dan memegang dadanya.
Tak lama kemudian Seto langsung datang dan menyuruh Hinana dan Aoyama untuk menunggu di luar. Dengan cepat Seto langsung memberikan suntikan anti nyeri dan memasang oksigen di hidung Ren.
"Bagaimana? Masih terasa sakit?" Tanya Seto kepada Ren untuk memastikan jika Ren masih tersadar. Ia juga masih sibuk memeriksa nadi pasiennya, meskipun smarbandnya yang dipakai Ren sudah tidak berbunyi. Ren mengangguk untuk membalas perkataan Seto.
__ADS_1