
Hinana berangkat ke kantor tanpa berganti baju, dan badannya terasa sakit semua karena posisi tidur yang tidak baik.
"Hinana, nona Sawako menunggumu di bawah." ucap Rena.
"oh terima kasih." Hinana segara menemui Sawako.
"apa kau baik-baik saja Hinana?" tanya Sawako saat bertemu Hinana.
"iya tidak apa-apa, aku ketiduran di lantai semalam."
"kau sangat pekerja keras rupanya."
"tidak juga, baiklah kembali bekerja. Sawa bagaimana tentang mode pakaian pria?"
"aku suka dengan design tuan Matsumoto, aku ingin jika Yukiatsu modelnya."
DEG... Pertempuran baru saja di mulai. Batin Hinana.
"Why? Koizumi Clothes hanya perusahaan kecil, mana mungkin bisa." Hinana mencoba menahan emosinya.
"aku selalu suka jika Yukiatsu menjadi brand ambassador ku. Kau keberatan Hinana?"
"eh terserah kau saja."
"tunggu sebentar Hinana." Sawako mengangkat telepon. Hal itu membuat Hinana sedikit lega karena menjauh dari obrolan sebelumnya.
"maaf Hinana tadi Shota meneleponku."
"em tidak apa-apa."
"Shota mengajakku merayakan tahun baru bersama, tapi sayangnya aku juga harus ke Tokyo merayakan dengan Top model."
"em begitu, libur tahun baru kau masih sibuk kerja."
"Hinana bisakah jika Yukiatsu menyukaiku?"
"kenapa kau tanya padaku?"
"kau berpacaran dengannya lima tahun tentu sudah mengenalnya lebih, jika aku menyatakan perasaanku apakah diterima." pertanyaan Sawako membuat Hinana kehilangan kesabarannya.
"aku rasa kau akan ditolak, apa lagi sekarang dia dekat dengan Nanami."
"kau jahat sekali Hinana, aku kehilangan harapan."
"Hinana tuan Jouji ingin bertemu denganmu." Arumi memanggil Hinana dan memberi hormat pada Sawako.
"ada perlu apa?"
"mungkin membahas kerja sama kemarin dengan tuan Matsumoto. Akan ku gantikan sebentar."
"baiklah terima kasih Arumi. Nona Sawako maaf kau bisa lanjutkan dengan Arumi."
"baiklah Hinana nanti kita makan siang bersama." ucap Sawako.
"apa anda sangat dekat dengan Hinana?" tanya Arumi setelah Hinana pergi.
"tentu saja, di relasi bisnisku dulu."
TOK TOK TOK
"masuklah."
"permisi apakah tuan memanggilku?"
"oh iya Hinana. Design tuan Matsumoto kau berikan pada nona Sawako." Jouji menyerahkan beberapa lembar gambar pada Hinana.
"baiklah,"
__ADS_1
"oh iya besok malam perusahaan mengadakan pesta tahun baru, datanglah."
"baik."
"Hinana bisakah kau memberiku informasi tentang Tokyo Summer Fashion?. Aku rasa setelah kerja sama dengan brand terkenal, perusahaan kita bisa."
"eh apakah anda tertarik?"
"Ren. Aku rasa kesempatan Ren sudah datang."
"tapi Shota melarangnya."
"Shota melarangnya karena perintahku, tapi aku rasa tidak ada salahnya jika mencoba. Aku percayakan padamu Hinana bantulah Ren"
"eh baik."
"kau bisa pergi sekarang."
"permisi." ucap Hinana kemudian keluar dari ruangan direktur.
Sementara itu keadaan Ren di rumah sakit sudah mengalami perubahan. Karena sudah stabil hari ini Ren sudah boleh pulang.
"sesuai dengan reservasi, tapi sudah stabil." ucap Dokter saat memeriksa.
"akhirnya aku kembali lagi." Ren merasa senang karena bisa meninggalkan rumah sakit.
"pakailah gelang smartband, itu bisa membantu memeriksa nadimu sewaktu-waktu. Jika detak jantungmu diatas rata-rata dan jika di bawah rata-rata akan berbunyi."
"woah keren sekali, seperti gelang jam model terbaru."
"memang sudah dirancang begitu kau suka?"
"hem terima kasih dokter." Ren langsung memakai di tangan kanannya."
"bagaimana perkembangan jantungnya?" tanya Sheren ibu Ren disampingnya.
"sesuai reservasi, keadaan jantungnya akan semakin memburuk tiap tahunnya." Dokter menjelaskan pada Sheren dan Ren juga mendengarnya. Ren hanya tersenyum terbiasa mendengar semuanya.
"siap sensei." Ren memberi tanda hormat dengan tangannya.
"mungkin terasa berat bagimu tidak bisa melakukan aktivitas yang normal, tapi kau harus menahannya."
"aku sudah terbiasa dengan hal itu, jadi tidak usah khawatir."
Jika terasa nyeri gelang itu akan berbunyi, kau harus ke rumah sakit. Jangan sampai terlamat karena...."
"aku akan mati jika terlambat." Ren meneruskan ucapan dokternya yang menggantung.
"baiklah Ren kau boleh pulang dan istirahat dirumah."
"mata ashita sensei." ucap Ren kemudian pergi dengan ibunya.
Dokter Seto Takayama sebenarnya selalu khawatir dengan keadaan Ren. Tapi melihat Ren yang ceria menjalani hidupnya Seto sensei merasa senang, setidaknya penyakit Ren tidak membuatnya kehilangan kebahagiaannya.
"nona Sawa." Hinana memanggil Sawako yang beranjak pergi.
"iya Hinana."
"ini rancangan dari tuan Matsumoto, aku sudah melihatnya dan kurasa yang ini akan cocok untuk trend 2022."
"baiklah akan ku pilih nanti. Aku harus ke Tokyo siang ini."
"kalau begitu hati-hati."
"selamat libur tahun baru Hinana, bye-bye." ucap Sawako lalu masuk ke mobilnya.
Hinana berencana untuk kerumah sakit dulu sore ini, karena nanti malam akan ada pesta tahun baru di kantornya.
__ADS_1
"permisi, dimana pasien di kamar ini?" tanya Hinana pada pegawai kebersihan.
"kamar ini sudah kosong sejak pagi tadi nona, apa ada yang bisa saya bantu lagi."
"eh tidak."
"baiklah saya permisi dulu."
"Ren sudah pulang tapi belum bisa di hubungi." batin Hinana kemudian kembali ke kantornya.
"Oik Hinana kemarilah." Tsubaki memanggil Hinana saat melihatnya baru datang.
"ada apa?"
"kau bantu aku siapkan minuman dan desert."
"kau lakukan saja sendiri, itu sangat mudah."
"aku akan membantu Emi menyiapkan barbeque. Aku tak ingin tanganmu terluka lagi." ucapan Tsubaki mengingatkan kejadian waktu itu.
"baiklah pergilah."
"eh kau pengertian sekali membawakan kami buah."
"ini... Ah tentu saja." sebenarnya buah-buahan yang di beli Hinana untuk Ren. Tapi karena tidak bertemu dengannya lebih baik untuk acara pesta saja.
Tepat pukul 8 malam semua karyawan merayakan tahun baru dan malan bersama.
"apa kabar semua." terdengar suara khas Shota di pertengahan acara.
"Shota kau bilang ada di Osaka?" tanya Arumi.
"iya aku bekerja disana, tentu saja aku pulang pada malam tahun baru."
"bergabunglah." Tsubaki membawakan kursi plastik untuk Shota.
"kalau begitu bolehkah aku ikut juga." Sawako tiba-tiba datang.
"eh nona Sawa kau bilang akan merayakan tahun baru di Tokyo." tanya Emi.
"menurutku tidak menyenangkan disana. Aku lebih suka merayakan tahun baru dengan Hinana." Sawako menghampiri Hinana dan langsung memeluknya.
Hinana hanya tersenyum samar dengan kedatangan Sawako. Dan Shota memperhatikannya, sepertinya Hinana merasa kurang nyaman dengan Sawako.
Semua orang beramai-ramai menyalakan kembang api, sementara Hinana duduk di pojokan balkon dengan menikmati sekaleng sodanya.
"kau tidak ikut menyalakan kembang api?" Sawako menghampiri Hinana dengan membawakan segelas whine.
"tidak aku lebih suka melihatnya, terima kasih tapi aku mudah sekali mabuk." tolak Hinana.
"dulu aku selalu melihat kembang api dengan Yukiatsu di atap sekolah, menyenangkan sekali."
SEKALI LAGI, Pertempuran di mulai. Pekik Hinana.
"apa kau sekelas dengannya."
"kami selalu bersama-sama sejak SMP, kau tahu apa alasanku bergabung dengan kalian disini?"
"tidak."
"aku melihat Yukiatsu menggandeng model Nanami. Menurutku sama sekali tidak cocok. Aku penasaran kenapa Yukiatsu lebih memilih Nanami dari pada kau." tanpa rasa bersalah Sawako terus saja membahas Yukiatsu.
Sementara Hinana memegangi dadanya, terasa sakit sekali. Apalagi menyebut nama Nanami di depannya.
"menyebalkan sekali. Aku pikir saat Yukiatsu putus denganmu dia akan melihatku. Ternyata aku sama sekali tidak pernah ada di hidupnya." Sawako masih melanjutkan kata-katanya.
"kenapa kau tak melupakannya saja." Hinana menjawab perkataan Sawako, berharap Sawako tidak membahasnya lagi.
__ADS_1
"tidak semudah itu Hinana. Yukiatsu adalah cinta pertamaku, dia juga teman pertamaku." Sawako meneguk segelas whine nya karena kesal dengan ucapan Hinana.
Arumi mendengar semua percakapan antara Hinana dan Sawako. Tapi Arumi lebih memperhatikan Hinana yang kurang nyaman dengan kedatangan Sawako.