
"Lihatlah !! Butiran salju yang turun berbentuk seperti kristal. Itu namanya bunga salju, indah bukan? Tapi tidak semua orang menyadarinya. Karena bunga itu sangat dingin dan akan mencair jika di sentuh." ( Hinana Arizawa)
..._______________________...
Hinana terkejut karena melihat Ren yang sudah duduk di kursi roda. Pandangannya menuju ke bunga sakura, dan tak lama kemudian ia menyadari bahwa Hinana datang.
"Konbanwa (selamat sore)." ucap Ren menyapa Hinana meskipun ia masih bernafas dengan bantuan oksigen.
"Konbanwa." balas Hinana lalu menghampiri Ren.
"Bunga sakura akan mati bukan saat musim dingin? Meskipun begitu bunga sakura akan mekar lagi di musim semi yang akan datang. Aku tidak dapat melihatnya lagi. Hinana, apa kau menyukai bunga sakura?" tanya Ren dan memandang kearah Hinana.
Hinana menyembunyikan note book yang baru dibelinya. Ia merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk memberikannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanpa menjawab pertanyaan dari Ren, ia bertanya mengapa Ren tidak berada di kamarnya.
"Aku bosan."
"Masuklah sebentar lagi malam." tanpa persetujuan Hinana langsung mendorong kursi roda Ren dan mengajaknya masuk ke kamar inapnya.
"Apa kau bisa berdiri sendiri?" tanya Hinana saat sudah sampai di kamar.
"Hum. Apa yang kau bawa?" tanya Ren dan menunjuk ke arah tas kertas.
"Note book, aku membelinya di Toserba." jawab Hinana dan membantu menaikan selimut untuk Ren.
"Untuk apa Hinana kemari?"
"Eh itoo, anoo... Lihatlah gaunnya sudah jadi, bagus bukan?" Hinana bingung harus menjawab apa, akhirnya ia mengalihkan pembicaraan pada gaun yang akan di tampilkan di festival.
"Kireine (cantiknya), kenapa kau tidak memakainya?" ucap Ren dan tersenyum saat Hinana menunjukkan foto gaun di ponselnya.
"Mana mungkin aku melakukan, aku permisi ke kamar mandi dulu."
"Em baiklah pergilah." jawab Ren dengan memandangi foto gaun miliknya. Entah kenapa Ren langsung membuka email Hinana saat ada pesan dari Sawako. Matanya terperanjat saat tahu ada voice note dari Shota.
Ren ingin tahu apa yang dikatakan Shota, dan mengapa Hinana tak memberitahunya. Saat akan mendengarkan pesan suara, tiba-tiba Hinana sudah kembali dari kamar mandi. Dan Ren mengurungkan niatnya.
"Ren, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Hinana.
"Emm entahlah kau bisa melihatnya sendiri. Doshite (kenapa)?"
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Tsubaki dan yang lain ingin menjengukmu." Jawab Hinana.
"Jangan kemari, mereka akan berisik."
"Mereka mengkhawatirkanmu."
"Tetap saja mereka berisik." ucap Ren dengan tersenyum.
"Hinana, apa ada hal yang ingin kau sampaikan?" tanya Ren dengan penuh harap. Ia berharap jika Hinana akan memberitahu tentang Shota.
"Tidak ada, aku kemari ingin melihat keadaanmu. Dan besok memberitahu kepada teman-teman." jawab Hinana.
"Sokka (begitukah)?"
"Hum, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa." jawab Ren dengan memendam kekecewaannya dan memejamkan matanya.
"Apa kau lelah?" tanya Hinana saat menyadari Ren memejamkan mata.
"Sedikit."
"Baiklah istirahatlah. Ren kun, cepatlah sembuh. Aku akan mentraktirmu makan jika kau sudah sembuh. Jaa ne." Hinana menaikan selimut Ren sebelum ia pergi.
Keesokan paginya Ren terbangun karena perawat membukakan tirai kamarnya.
"Ohayougozaimasu tuan." Sapa perawat laki-laki kemudian keluar dari kamar Ren. Ia melihat ada bingkisan di nakas, mungkin itu milik Hinana yang tertinggal kemarin.
Ren mengambil bingkisan itu dan membukanya. Senyumnya tampak mengambang saat melihat Note book dan surat kecil dari Hinana.
" Jika kau bosan bisa menulis sesuatu"
"Ohayougozaimasu, o genki desuka? (selamat pagi, bagaimana kabar mu?)." tanya Aoyama yang akan memeriksa Ren.
"Hum sedikit lebih baik. Dimana Seto sensei?" jawab Ren dan menanyakan Dokter Seto.
"Sebentar lagi akan datang. Kau sudah minum?" Tanya Aoyama dan Ren hanya mengangguk.
"Ohayou, Ren bagaimana kabarmu?" tanya dokter Seto yang baru masuk kemudian memberikan selembar hasil chek up.
"Dilihat dari hasil yang kuperiksa dia semakin membaik. Oh ya dia mencarimu." jawab Aoyama kemudian mulai merapikan selang oksigen yang sudah tidak di gunakan lagi.
__ADS_1
"Ehhh Hountoni? (benarkah) sepertinya kau merindukan ku." Dokter Seto memberikan suntikan ke cairan infus Ren.
"Sensei, bisakah aku keluar dari rumah sakit?"
Ren mengambil posisi duduk, sembari menggambar sesuatu di note book yang diberikan Hinana.
"Aku khawatir jika kau keluar dari rumah sakit akan melakukan hal yang sembrono." Jawab Dokter Seto dengan nada yang sinis. Karena ia sudah paham kelakuan Ren. "Setidaknya jangan tinggalkan rumah sakit selama seminggu ini."
"Ehh aku tidak bisa janji." balas Ren kemudian tertawa kecil, Seto pun hanya menggaruk kepalanya karena tak mungkin Ren akan menuruti perintahnya.
"Aoyama sensei, bolehkah aku pinjam ponselmu?" ucap Ren pada Aoyama.
"Baiklah, ini. Tapi aku tak punya no ayahmu." Aoyama memberikan ponselnya.
Ren tak menjawab perkataan Aoyama, ia langsung membuka email dari Hinana dan memutar voice note.
Karena Hinana akan keluar dari kamar mandi, Ren terpaksa mengirimkan voice note ke email Aoyama. Karena tak mungkin mengirimkan ke miliknya, karena ia sendiri tak tahu dimana ponselnya.
"Halo Ren apa kau sudah bangun? Gomenn telah membuatmu harus dirawat. Aku akan pergi tolong jangan mencariku, semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri. Tidak ada hubungannya denganmu baik Dady maupun Momy. Jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa."
Suara Shota dari voice note memenuhi kamarnya dan Seto pun juga ikut mendengarkan. Aoyama terkejut karena Ren tahu pesan suara dari Shota yang sengaja di sembunyikan Hinana.
"Bagaimana kau bisa tahu itu?" pekik Aoyama dengan terkejut.
"Aku mencurinya dari Hinana jadi kukirim ke emailmu." Jawaban Aoyama terkesan santai tapi sudah pasti Aoyama paham akan kekecewan Ren.
"Hinana melihatmu tersedak dan kesulitan bernafas. Tahukah Ren, saat itu aku melihat tangan Hinana yang gemetar memegangi ponselnya. Kejadian itu sama persis saat dua belas yang lalu, ketika Hinana memberitahu bahwa ibuku meninggal bunuh diri. Lalu aku bilang padanya untuk jangan katakan."
"Shota juga tinggal di apartemenku selama ini, ia terus menanyakan bagaimana keadaanmu. Saat aku mengatakan kenapa kau tak melihatnya?. Shota hanya mengatakan bahwa dia tak punya keberanian untuk menemuimu. Jadi kupikir Hinana tak perlu sejauh itu ikut campur masalah kalian berdua, aku melarangnya untuk memberitahu pesan suara itu."
Akhirnya Aoyama menceritakan semua kebenaran yang terjadi, meskipun pada awalnya ia tak terlalu peduli pada masalah pasiennya. Itu karena Aoyama tak ingin Ren menyalahkan Hinana. Karena bagaimanapun juga Hinana teman baiknya, bahkan ibunya Hinana selalu menolongnya.
Dokter Seto yang dari tadi berada di dalam hanya bisa diam, ia tak ingin membela Ren ataupun Aoyama. Hingga akhirnya Aoyama memutuskan keluar dari kamar Ren tanpa meminta ponselnya.
"Oh ya aku lupa, pagi ini aku akan mengirimkan bubur dan sup tulang iga. Cobalah untuk memakannya, tapi jika masih sulit menelan jangan terlalu dipaksa." Seto mencoba untuk menetralkan suasana agar tidak menjadi canggung.
"Sensei." panggil Ren setelah lama terdiam.
"Iya, ada apa?"
"Aku ingin melihat bunga sakura."
__ADS_1
..
yang baca maraton sempetin jempol donk, biar semangat up nya...