
..."Bintang itu berkelap- kelip dan bersinar terang, tapi suatu hari cahaya bintang akan meredup bukan? ...
...Dan alasannya karena bintang itu meledak kemudian hancur."...
.
.
.
Keesokan harinya Ren memutuskan untuk kembali ke Saporrow. Aoyama, Arumi dan Emi juga kembali karena pekerjaan mereka berada di sana. Sedangkan Tsubaki masih tinggal beberapa hari di mansion milik keluarga Ren dan secepatnya akan mencari apartemen.
Ren meninggalkan kota Tokyo tanpa memberitahu Hinana, ia sengaja menjaga jarak dari kekasihnya dengan alasan melindunginya. Saat ini Hinana sedang mengalami masa traineer selama tiga bulan. Jadi meskipun Aoyama memberitahunya, Hinana tak bisa berbuat apapun.
Disepanjang kereta Ren hanya diam, kini sifatnya berubah total dari Ren yang pernah di kenal teman-temannya. Ren juga tidak pernah membalas atau mengangkat line dari Hinana.
"Konnichiwa." Sapa dokter Seto saat mengantar Ren ke ruangannya.
Sudah di katakan sebelumnya, saat Ren kembali dari Tokyo ia harus berada di rumah sakit entah sampai kapan.
"Bagaimana perjalananmu di Tokyo, kau bisa bercerita padaku agar tidak bosan." Seto mulai memeriksa nadi milik Ren dan memakaikan gelang yang bertanda pasien rumah sakit.
"Team kami menang." Jawab Ren dan tersenyum tipis pada dokternya.
"Selamat, aku sudah yakin jika akan mendapat kabar baik darimu. Ren kau bisa menggangguku seperti biasa. Jaa ne."
Seto akhirnya keluar dari kamar Ren. Ia merasa ada perubahan besar pada pasiennya. Tentu saja Ren berubah karena mulai saat ini dirinya akan tinggal di rumah sakit selama sisa waktunya.
"Apa terjadi masalah besar saat di Tokyo?" Tanya Seto pada Aoyama saat berada di ruangannya. Aoyama juga sudah mulai bekerja saat kembali dari Tokyo.
"Humm, " Jawab Aoyama disertai anggukan.
"Sebenarnya bukan masalah penyakitnya, tapi perasaannya yang terluka karena ingin melindungi orang yang dicintainya." Ucap Aoyama menjelaskan.
"Apa maksudmu?" Seto hanya keheranan karena tak mengerti maksudnya.
"Sensei bisa tanyakan pada yang bersangkutan, bukankah kalian berdua sangat dekat? Aku pergi dulu."
__ADS_1
Aoyama memberikan sedikit senyum dan pergi melakukan pekerjaannya. Saat ini dirinya bukanlah dokter magang, secara resmi Aoyama sudah menjadi dokter spesialis bedah dan bisa melakukan operasi.
Saat melawati kamar inap Ren. Aoyama sedikit mengintip dan ingin tahu apa yang sedang Ren lakukan. Ternyata Ren hanya duduk di ranjangnya dan memandangi jendela. Ren sudah benar-benar berubah, dan tidak ada senyuman sama sekali sejak ia kembali.
"Ternyata benar, satu persatu dari mereka akan pergi dariku." Aoyama bergumam pda dirinya sendiri dan membuang nafasnya dengan kasar.
Tiga bulan berlalu, Arumi dan Emi masih sering menjenguk Ren tapi hanya sebentar, karena Ren tidak seceria seperti dulu. Mereka mencoba memahami perasaan Ren karena memang sangat berat kehidupan yang di lalui Ren.
Aoyama juga masih membantu dokter Seto yang memeriksa pasien dengan riwayat penyakit jantung.
"Hey, apa kau masih mencintai Izumi."
Tanya Ren pada akhirnya saat Aoyama memeriksa kondisinya.
Sebenarnya Aoyama tak ingin membahas hal itu lagi. Cukup hanya untuknya saja mengenang kekasih tanpa harus orang lain mencemaskannya.
"Bagaimana denganmu, apa kau masih menyukai Hinana." Jawab Aoyama dengan santai dan sudah menjadi kebiasaan jika Aoyama menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Hinana."
Sangkal Ren dan hanya menatap Aoyama dengan tatapan tajam.
"Aku menanyakan tentangmu dan Izumi. Apa saat ini kau masih mencintainya? " Tanya Ren sekali lagi dan Aoyama masih terdiam.
"Hey, JAWABLAH... " Ren sedikit berteriak dan baru kali ini Aoyama melihatnya.
Karena Aoyama tak juga menjawab pertanyaan Ren menepis kertas kerja milik Aoyama dan berantakan. Terlihat beberapa lembarnya nama-nama pendonor jantung dan Aoyama juga mencocokkan DNA yang cocok untuk Ren.
"Apa ini ? Kau melakukan untukku ? Hey dengarlah, semuanya akan sia-sia. Meskipun kau mendapatkan yang cocok sekalipun tapi tubauhku tak bisa bertahan dalam waktu 60 menit. Aku akan mati saat musim dingin nanti." Ucap Ren dan menepis sekali lagi kertas kerja milik Aoyama.
"Meskipun aku mencintainya tetap saja semuanya tak akan pernah berpihak kepadaku. Ayahku, ibuku, Izumi, Arimura dan kau pada akhirnya akan meninggalkanku. Padahal aku ingin menolongmu agar ada satu orang saja yang ku sukai bisa bersamaku. Tetapi tak bisa."
Aoyama tak bisa lagi membendung air matanya. Tanpa peduli dengan kertas kerjanya ia akhirnya pergi dari kamar Ren. Aoyama juga menghiraukan dokter Seto saat berpapasan di pintu kamar Ren.
.
.
__ADS_1
.
.
"Ayahku, ibuku, Izumi, Arimura dan kau pada akhirnya akan meninggalkanku. Padahal aku ingin menolongmu agar ada satu orang saja yang ku sukai bisa bersamaku. Tetapi tak bisa."
Perkataan Aoyama masih terdengar jelas di telinga Ren. Wajah dan tatapan yang semula dingin kini berubah menjadi sendu.
"Ren apa terjadi sesuatu? Aku kau baik-baik saja? "
Seto langsung masuk dan panik karena melihat Aoyama yang keluar dari kamar Ren dengan menyeka air matanya.
"Sensei, aku ingin menghabiskan sisa umurku di Paris bersama ibuku." Jawab Ren dengan tatapan sendu.
Mendengar perkataan dari Ren, dokter Seto hanya mengangguk dan menepuk bahu Ren dengan pelan. Pasti terjadi sesuatu pada Ren dan Aoyama, itulah yang ada di pikiran Seto.
Setelah itu Seto langsung menghubungi Jouji yaitu ayah Ren ,dan mengatakan jika putranya akan dipidahkan dari rumah sakit atas permintaan dari pasien. Semua berkas- berkasnya sudah disiapkan dan sudah membuat jadwal keberangkatan yaitu besok senin.
Awalnya Seto merahasiakan semuanya dari Aoyama karena mungkin keputusan Ren karena habis berkelahi dengan dokter Juniornya. Tapi Aoyama tidak sebodoh yang ia pikirkan. Rumah sakit ini milik Bibinya, sudah pasti Aoyama tahu tentang kepindahan Ren.
Aoyama berlari ke toilet, ia segera menghubungi Arumi dan Emi terutama Hinana. Hinana harus tahu jika Ren akan pergi ke Paris besok senin.
...----------------...
Suara roda dari koper terdengar jelas di lorong bandara. Ren dan ayahnya tentunya para staff medis rumah sakit pergi menuju gate karena jam terbang sebentar lagi.
Seto yang sudah tau jika Aoyama pasti akan menyusulnya. Ia berdiri dan menghalangi Aoyama. Tetapi tidak dengan teman-teman Ren lainnya yang langsung menerobos untuk menemui Ren. Begitu juga Tsubaki yang bergegas datang dari Tokyo.
"Ren... Apa kau serius akan meninggalkan kami. Ku pikir kita akan bersama-sama hingga akhir, bukankah kita adalah sahabat."
Teriak Emi saat melihat sosok Ren yang berjalan bersama ayahnya dan ketiga staff medis.
Ren yang mendengar suara Emi kemudian berhenti dan menoleh kebelakang.
"Apa yang kau pikirkan, kau bahkan tak menjawab teleponku sama sekali." Tsubaki berlari lebih dulu dari kedua temannya.
"Gomenne (maaf), tapi aku ingin berada di Paris." Jawab Ren dengan singkat.
__ADS_1
"Semua itu hanya omong kosong darimu. Ren, kenapa kau berubah. Kita semua sama saja, pada akhirnya kehidupan akan selesai kan. Aku ingin semuanya ingin bersama denganmu sampai akhir. Apa kau ingin melupakan kebersamaan kita." Arumi dengan air mata yang sudah tumpah berusaha untuk mencegah Ren.
Bagaimanapun juga Ren merupakan mataharinya Arumi yang selalu memberikan semangat dan tetap percaya pada impiannya.