Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
125


__ADS_3

Kuriyama bukan kota yang besar, hanya saja hamparan luas selalu ditumbuhi bunga krisan kuning yang sangat indah.


"Bolehkah aku ikut denganmu." Ucap Ren dengan perlahan.


Mendengar perkataan dari Ren tentu saja membuat Hinana dan Aoyama terkejut. Apakah Ren sudah melupakan kejadian waktu itu.


"Dulu aku tidak sempat mengantarkan kepergian Izumi karena sibuk dengan perusahaanku. Sekarang aku ingin mengunjunginya. Izumi juga temanku saat di rumah sakit." Ucap Ren sekali lagi.


Hinana mulai menyadari bahwa Ren benar-benar seseorang yang berhati baik. Ren mampu berdamai dengan keadaannya setelah tahu bahwa kekasihnya Aoyama sudah meninggal.


"Aoyama kun, bukankah kau sudah berjanji akan mengenalkanku pada Sakura?" Hinana menyahuti perkataan dari Ren.


"Kita akan sama-sama menikmati bunga krisan, bukankah itu bagus." Ren duduk di sebelah Aoyama dan membujuknya.


"HAH... Apa kalian yakin? Pemakamannya ada di atas bukit. Ren mana mampu naik keatas." Jawab Aoyama dengan suara sedikit keras karena kesal dengan ucapan kedua temannya yang merajuk ikut.


"Benar juga, akhir-akhir ini aku memang merasa sering lelah. Maafkan aku Izumi karena tidak bisa mengantarmu dan mengunjungimu."


Sura Ren terdengar melemah, sepertinya putus asa karena tidak bisa pergi. Ren langsung pindah ke ranjangnya dan membaca buku yang baru di belikan Hinana.


"Hey... Apa tidak ada cara lain untuk kesana?" Hinana mendekat kearah Aoyama dan berbicara dengan berbisik.


"Apa kau bodoh? Dari dulu pemakaman tempatnya di atas bukit. Untuk kesana harus berjalan kaki. " Jawab Aoyama yang ikut berbisik juga agar Ren tidak mendengar.


"Aku pernah melihat ayahku datang ke pemakaman mendiang pamanku. Saat itu ayahku sedang mengalami patah tulang, tapi bisa sampai ke atas. Aku yakin pasti ada caranya."


Hinana masih memaksa Aoyama agar mencarikan solusi. Mungkin tujuan Ren bukan untuk pergi ke pemakaman juga, melainkan untuk keluar dari rumah sakit


"Kau bisa mengajak Ren sampai ke bawah bukit saja. Mungkin Ren hanya ingin keluar dari rumah sakit." Bisik Hinana sekali lagi.


"Baiklah, kalian bisa pergi denganku tapi jangan merepotkan." Ucap Aoyama kali ini tidak berbisik dan Ren bisa mendengarnya.


"Benarkah?" Tanya Ren dengan mata yang terbuka lebar.


"Tapi kau harus meminta izin sendiri pada Seto sensei dan pihak rumah sakit. Tempat pemakamannya ada di atas bukit, jika kau tidak bisa naik sebaiknya tunggu saja di bawah bersama Hinana." Aoyama mengatakan pada Ren, dan Ren terlihat sangat bersemangat karena Aoyama mengajaknya pergi.


"Masa bodoh pada Seto sensei, kita punya Hinana untuk merayunya. Aku tidak akan merepotkanmu." Ucap Ren dengan sangat bersemangat.


"Ehhh kenapa harus aku juga." Pekik Hinana.


"Rumah sakit ini kan milik ibumu." Ucap Ren dan Aoyama secara bersamaan. Sedangkan Hinana hanya bisa merebahkan punggungnya di sofa karena dua orang laki-laki yang memperalatnya.

__ADS_1


"Saat kau membujukku harusnya kau memikirkan soal itu."


Bisik Aoyama pada Hinana dan tersenyum kemenangan.


"Bodohnya aku tidak berpikiran sejauh itu. "


Gerutu Hinana dan merebahkan punggungnya di sofa.


...****************...


Keesokan harinya Hinana pergi ke ruangan dokter Seto.


"Sumimasen (permisi)." Hinana mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan dokter Seto.


"Hinana chan, apa yang membawamu kemari." Tanya Seto dan melepas kacamatanya.


"Ada yang ingin ku sampaikan padamu." Ucap Hinana dengan ragu.


"Baiklah katakan padaku. Apa ini mengenai Ren?"


Tebak dokter Seto dan Hinana mengangguk membenarkan.


"HAH??? Untuk apa pergi kesana? Lagipula jaraknya juga lumayan jauh dari rumah sakit."


"Ren ingin mengunjungi makam temannya dan letaknya ada di Kuriyama. Aku dan Aoyama juga akan kesana untuk mendampingi Ren." Ucap Hinana dengan cepat dan menyebut nama Aoyama agar Seto mengizinkannya.


"Hinana, kau tahu jika pemakaman letaknya di atas bukit. Kondisi Ren saat ini tidak memungkinkan untuk kesana. Ren sudah sering merasa lelah walaupun tidak melakukan aktivitas yang berat. Bahkan tubuhnya sudah perlahan membengkak."


Jawab Seto memberitahukan kondisi Ren pada Hinana. Meskipun Hinana bukan anggota keluarga Ren, tapi Seto tetap memberitahu kondisi pasiennya.


"Membengkak?" Pekik Hinana dengan terkejut.


"Hum iya. Saat jantung tidak bisa memompa darah dengan benar, maka salah satu dari tubuhnya akan mengalami pembengkakan. Kejadian ini bertahap, hingga akhirnya seluruh tubuh Ren akan memar."


Hinana sangat terkejut mendengar penjelasan dari dokter Seto. Memang ia melihat tubuh Ren akhir-akhir ini mulai gemuk, dan Hinana sempat mencubit kedua pipinya. Hanya saja Hinana tak sadar jika itu akibat dari penyakit yang diderita olehh Ren.


Hinana juga merasa bersalah karena memanggil Ren dengan sebutan gamoi.


"Begitukah."


"Jika berada masih dekat di sekitar rumah sakit mungkin aku akan mengizinkannya." Jawab Seto kembali.

__ADS_1


"Tapi Seto sensei. Sebenarnya temannya Ren adalah pacarnya Aoyama. Dia bernama Izumi Sakura yang meninggal karena penyakit yang sama dengan Ren. Setelah mendengar Aoyama akan mengunjungi makam Izumi, Ren langsung terkejut dan ingin ikut menemaninya. Ini hanya pendapatku saja, mungkin Ren masih menghawatirkan Aoyama." Ucap Hinana menceritakan.


Seto berdiam diri sejenak. Ia juga teringat saat Aoyama berteriak dan mengatakan jika Ren adalah satu-satunya temannya.


.


.


.


"Selama ini aku ingin punya teman tapi saat Ren mau menjadi temanku, kenapa dia pergi meninggalkanku." Ucap Aoyama lalu terjatuh karena tidak bisa melawan Seniornya.


"Aku tidak punya siapapun. Ayahku meninggalkanku dan ibuku telah meninggal. Bahkan pacarku juga meninggal lebih dahulu. Satu-satunya keluargaku adalah Bibi Larisa, makanya aku harus baik terhadap anak perempuannya." Jawab Aoyama saat Seto menanyakan identitas dokter magangnya.


.


.


"Sensei aku mohon bantuannya, kau bisakan mengizinkan Ren pergi denganku yang jaraknya cukup jauh. Hanya sekali ini saja aku mohon....!" Hinana masih berusaha memohon pada Seto untuk mengizinkannya.


"Tapi Hinana... Jika ke pemakaman harus naik keatas bukit dan Ren sudah tidak bisa lagi beraktivitas seperti dulu."


"Kalau begitu aku akan memberitahunya untuk tidak naik ke pemakaman. Aku dan Ren bisa menunggu Aoyama di bawah. Dengan begitu Ren mungkin tidak akan mencemaskan Aoyama. Aku mohon Sensei...." Hinana memohon dengan kedua tangannya dan berusaha meyakinkan Seto.


"Baiklah." Ucap Seto dan membuat mata Hinana berbinar-binar karena usahanya berhasil.


"Tapi aku akan menyuruh perawat Kishi menemani kalian." Lanjut Seto dan mengambil buku izinnya.


"Ehh kenapa harus dengan perawat Kishi Murakami. Bukankah Aoyama juga sudah cukup, Aoyama kan seorang dokter." Protes Hinana


"Untuk berjaga-jaga saja. Dan juga untuk memastikan Ren tidak melanggar aturan." Jawab dokter Seto dengan tegas.


"Baiklah." Keluh Hinana menyerah.


"Pastikan kalian semua harus kembali sebelum malam. Jika terjadi sesuatu pada Ren, maka selanjutnya aku tidak akan mengizinkan Ren keluar dari rumah sakit lagi. Mengerti..."


Seto memberikan surat izinnya dan menempelkan pada kening Hinana dengan keras.


"Wakarimasu (aku mengerti). Seto sensei serahkan semua padaku. Aku akan menjaga Ren dengan sebaik-baiknya. Jaa ne (sampai jumpa)."


Hinana tersenyum senang dan keluar dari ruangan Seto. Ia telah berhasil mendapatkan surat izin dari dokter Seto.

__ADS_1


__ADS_2