
"Sepertinya aku tepat waktu." Suara Aoyama terdengar tiba-tiba dan sudah berada di pinggir gerbang. Aoyama hanya tertawa kecil saat Hinana berjalan melewatinya.
"Ayo pulang Ren." Ajak Aoyama dan Ren menurutinya.
Aoyama senang melihat kedua temannya yang sudah bahagia. Menurutnya, Ren adalah orang yang baik. Jadi Aoyama tidak merasa ragu jika Hinana bersamanya.
"Aoyama besok kita akan menemani Hinana untuk audisi kan?" Tanya Ren untuk memastikan jika senseinya masih mengizinkannya.
"Tentu saja. Tsubaki juga masih mengikuti beberapa interviewnya." jawan Aoyama dengan santai.
"Syukurlah aku masih bisa menemani mereka berdua. Setalah itu aku bisa kembali ke Sapporow tanpa beban." Ucap Ren dan tersenyum lega.
"Ren, saat di Sapporow kau akan... "
"Wakarimasu (aku mengerti). " Ren segera memotong perkataan dari Aoyama. Disituasi saat ini Ren tak ingin membahasnya.
Saat Ren kembali, ia sudah harus beristirahat di rumah sakit. Entah untuk berapa lama, mungkin selama sisa hidupnya. Oleh karena itu Ren ingin memastikan jika orang-orang yang ia sayangi sudah berbahagia. Sejujurnya Ren enggan mengajak Hinana berpacaran, saat itu hatinya tidak sejalan dengan pikiran. Akhirnya Ren memutuskan selama di Tokyo Ren ingin membuat Hinana merasa bahagia.
Keesokan harinya, sesuai dengan rencana. Ren, Arumi dan Emi ikut mengantarkan Hinana audisi. Mereka ingin membuat Hinana semangat. Sedangkan Aoyama akan menyusul nantinya, karena ada sesuatu yang harus ia lakukan bersama ibunya Hinana.
"Aoyama, kau tidak harus memaksakan dirimu jika tidak ingin menemuinya." Ucap Larisa menepuk punggung Aoyama.
Sejujurnya Larisa ragu saat Aoyama mengatakan padanya untuk bersedia menemui ayahnya. Karena saat Larisa mengatakan jika ayah Aoyama ada di Tokyo, dirinya melihat Aoyama yang sudah tegang dan tangannya bergemetar.
"Aku hanya akan menemuinya terakhir kali dan mengatakan jangan ganggu hidupku lagi. " Jawab Aoyama kepada bibinya.
"Baiklah, ayo pergi." Ajak Larisa dan meberikan senyum. Kemudian ia menyalakan mobilnya dan melaju menuju ke rumah sakit.
Mereka berdua sudah sampai di rumah sakit lima menit yang lalu. Larisa masih menunggu Aoyama untuk mempersiapkan dirinya, jika Aoyama mengajak pulang saat itu juga Larisa juga tidak keberatan. Ia ingat ucapan putrinya Hinana jika kehidupan Aoyama sudah lebih baik, jadi tidak perlu lagi mereka bertemu.
"Bibi ayo antarkan aku ke tempatnya." Ajak Aoyama setelah mengahabiskan minumnya.
Larisa mengangguk dan mengantar Aoyama ke tempat ayahnya dirawat.
"Kou chan." sapa laki-laki paruh baya yang sedang duduk di ranjangnya.
Mata Aoyama terbuka lebar saat melihat seseorang yang ada di ruangan itu. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Kenapa kau ada di sini? " Aoyama tidak membalas sapaan ayahnya, ia malah bertanya pada seseorang yang sedang menunggu ayahnya yang tak lain adalah Arimura.
"Maaf aku belum sempat mengatakan pada kalian semua. Sebenarnya aku pergi ke Jepang karena menemukan kabar keberadaan ayah kandungku, karena aku tidak tahu tentang Jepang jadi aku pergi ke tempat Ren. Tahara Kou adalah ayah kandung yang selama ini ku cari. " Jawab Arimura.
Aoyama sangat terkejut, saat ini kakinya terasa lemas tapi ia berusaha untuk tetap berdiri. Larisa yang berada di belakangnya sudah sangat menghawatirkan Aoyama yang sudah dianggap sebagai putranya.
Mata Aoyama terasa perih karena cairan yang sudah memenuhi kelopak matanya. Arimura yang terkadang menganggunya ternyata adalah saudaranya. Aoyama masih tidak mempercainya, bahkan Aoyama sempat menaruh rasa pada Arimura. Kebersamaan dengan Arimura sudah berhasil membuatnya perlahan melupakan kekasihnya yang sudah meninggal.
"Apakah kalian sudah saling mengenal. " Tanya lelaki tua yang bernama Tahara Kou.
"Aoyama adalah seorang dokter dan kami sudah berteman saat aku berada di Sapporow." Jawab Arimura pada Ayahnya.
"Aku tidak mengenalnya." Ucap Aoyama dengan perasaan dingin.
"Aoyama sensei, tolong jangan berkata yang tidak sopan pada ayahku." ucap Arimura yang masih tidak paham dengan situasinya.
"Kou chan, gadis ini adalah putri ayah yang pernah ayah ceritakan dulu." Tahara menjelaskan pada Aoyama yang sebenarnya.
"Ayah? " Pekik Arimura.
"Iya. Kou adalah putra ayah yang sudah lama ayah tinggalkan."
"Jangan ganggu hidupku lagi, aku bukan anak yang kau harapkan." Aoyama berkata tegas kepada ayahnya kemudian bergegas pergi. Larisa langsung mengikuti Aoyama dari belakang, ia takut jika terjadi sesuatu pada putra angkatnya.
"Sensei." Arimura mengambil tongkat dan berusaha mengejar kepergian Aoyama. Dirinya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sensei... " panggil Arimura dalam tangisnya dan masih berusaha berjalan untuk menemukan Aoyama.
Aoyama berhenti di ruang tunggu dan duduk di salah satu kursi. Larisa memberikan minuman untuknya.
"Aoyama maafkan Bibi." Ucap Larisa yang merasa kasihan.
"Tidak apa. Terimakasih sudah memberitahu keberadaan ayahku jadi aku bisa menghindarinya." Jawab Aoyama kepada Bibinya.
"Sensei.. " Arimura berhasil menemukan Aoyama yang sedang duduk di ruang tunggu.
"Apa kalian sudah saling mengenal? " tanya Larisa kepada Arimura, ia memang baru melihat wajah Arimura dua hari yang lalu.
__ADS_1
"Dia adalah temannya Hinana. Obasan (bibi) boleh aku minta waktu untuk sebentar." Aoyama meminta izin pada Bibinya untuk berbicara pada Arimura sebelum pulang.
"Baiklah bibi akan menunggu di mobil. Aoyama... Bibi, paman, Hinana dan Ryusei selalu ada bersamamu. Kita adalah keluarga." ucap Larisa sebelum pergi karena ia takut jika Aoyama akan menghilang darinya.
"Aku mengerti." balas Aoyama.
Larisa kemudian pergi meninggalkan Aoyama yang ingin berbicara pada temannya.
"Sensei, aku tidak mengerti sama sekali. Bisakah kau menjelaskannya?" Tanya Arimura memulai percakapan saat Larisa sudah pergi.
"Aku terlahir karena sebuah kesalahan itulah yang dikatakan oleh orang tua di kamar tadi. Tahara adalah ayahku, dia mengatakan jika tidak mencintainya ibuku dan adanya aku adalah kesalahan yang membuatnya terpisah dari orang yang disayangi. Mungkin karena aku dan ibuku, Tahara meninggalkan ibumu dan Arimura chan." Aoyama menjelaskan dengan singkat dan jelas, walaupun sebenarnya ia masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.
"Aoyama Sensei adalah kakakku? " tanya Arimura dengan air mata yang sudah membanjiri pelupul matanya.
"Aku tidak tahu mungkin saja aku adalah adikmu. Yang aku tahu kita mempunyai hubungan darah." Jawab Aoyama yang masih belum berani melihat wajah Arimura.
"Kenapa...??? Kenapa harus Aoyama sensei. Aku mencintai Aoyama sensei, aku ingin dicintai Aoyama sensei seperti yang pernah ku katakan sebelumnya. Kenapa..? " Gumam Arimura pada dirinya sendiri tapi Aoyama bisa mendengarnya.
Mendengar perkataan dari Arimura membuat hatinya sangat sakit. Karena yang diinginkan Arimura juga sepertinya yang Aoyama harapkan. Aoyama juga masih ingat pertama kali bertemu dengan Arimura.
.
.
.
"Sensei menyukai bunga? " tanya Arimura yang mengejutkannya.
.
.
.
"Sensei, aku juga ingin dicintai seperti itu." ucap Arimura saat mengambil cincin yang akan ia berikan untuk Sakura.
"Maaf Arimura, sepertinya harapanmu tidak akan pernah terwujud." Aoyama berdiri dan menghampiri Arimura. Meskipun kakinya terasa lemas ia harus mengakhiri semuanya.
__ADS_1
"Sayounara (selamat tinggal) Arimura chan." Aoyama memeluk Arimura untuk yang pertama dan terakhir kalinya kemudian ia pergi meninggalkannya.
Arimura hanya bisa menangis tanpa bisa melihat kepergian orang yang dicintainya. Air matanya sudah membanjiri pelupuk matanya dan membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Cinta yang ia rasakan kali ini benar- benar rasa sakit yang indah baginya.