Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
45


__ADS_3

untuk saat ini aku merasa menyesal telah menyampaikan perasaanku padanya. Rasa suka ku padanya ternyata bertepuk sebelah tangan. Mungkin tak seharusnya aku membuka hatiku dengan cepat, sekarang aku tak tahu lagi harus ku apakan perasaan ini.(Hinana arizawa)


Hinana memandangi bunga sakura yang masih menguncup, ia berangkat bekerja dan berjalan kaki sambil merasakan hangatnya musim semi.


"ohayou...." sapa Hinana pada rekan satu kantor dan mereka semua membalasnya. Kemudian Hinana memulai aktivitasnya kembali.


"ohayou Hinana." sapa Arumi yang baru saja datang, memang ruangan kerja mereka sekarang bersebelahan. Jadi mau tidak mau Hinana tidak bisa menghindar sepenuhnya dari Ren.


"eh ohayou, kau pagi sekali."


"tentu saja, aku harus membersihkan tempatnya dulu."


"kau dari dulu tidak pernah berubah Arumi, kau sangat rajin."


"itu karena tidak ada hal yang ku kerjakan di rumah. Aku sendirian rasanya sangat sepi jadi lebih baik aku berangkat kerja lebih awal. Daah Hinana aku ke ruangan ku." Arumi menyudahi obrolan dengan Hinana dan masuk ke ruangan sebelah.


Hinana kembali berkutat lagi pada komputernya, tak lama kemudian ia mendengar suara teman-temannya yang sudah mulai berdatangan. Ia juga melihat Ren baru berangkat dengan Tsubaki.


"selamat pagi Hinana." sapa Tsubaki dan Hinana membalas dengan anggukan. Ia melihat Ren menghampiri mejannya sementara Tsubaki sudah pergi.


"Hinana, bisa kita berbicara sebentar." ucap Ren dan sudah duduk di depannya.


"kau tidak lihat bahwa aku sedang sibuk." jawab Hinana dengan sikap dinginnya.


"aku tahu, hanya sebentar saja. Lagi pula aku juga punya sedikit waktu. Aku tunggu kau di rooftop." Ren kemudian pergi menuju rooftop. Sementara Hinana masih memikirkan apakah ia harus menuruti perkataan Ren atau tidak.


Sejujurnya Hinana masih menginginkan bisa dekat dengan teman-temannya. Dengan bersama mereka ia bisa melupakan masa lalunya. Tapi ia juga merasakan kehidupan makin menjadi kosong karena tidak tahu tujuan yang sebenarnya. Ia merasa iri karena teman-temannya bisa mengejar impiannya sedangkan ia tidak.


"baiklah apa yang ingin kau katakan." Hinana sudah sampai di rooftop dan melihat Ren sudah menunggunya.


"Hinana lihatlah sepertiny beberapa bunga sakura sudah mulai mekar." Ren masih melihat kearah bunga sakura tanpa berbalik.


"iya aku tahu. Tak perlu basa-basi lagi cepat katakan."


"kau menghindariku?" tanya Ren dan perlahan mendekat ke arah Hinana.


"tidak, untuk apa?"


"tapi kau terlihat seperti menghindar dari ku. Dengan keluarnya kau dari Tokyo Summer, bahkan kau tak memberikan alasan yang tepat."


"aku sudah katakan bahwa aku tak punya keahlian apapun apa itu belum cukup puas." Hinana menggenggam tangannya agar tak menangis. Ia sangat benci jika ada seseorang yang melihatnya lemah.

__ADS_1


"jika itu alasannya maka kembalilah, teman-teman memerlukanmu."


"tidak, mereka bisa melakukannya tanpa aku." ucap Hinana dan beranjak pergi.


"benar dugaanku, kau sengaja menghindari ku."


"kau lah yang menjauh dari ku." teriak Hinana. "kau tiba-tiba mengajakku berkencan lalu meninggalkanku. Kau seperti menyembunyikan sesuatu dariku."


"benarkah? Aku minta maaf karena tak memberi tahumu jika saat itu aku sakit. Kalau begitu lupakan jika kita pernah berkencan. Lupakan jika aku pernah mengajakmu."


"HAH." Hinana merasa terkejut dengan kata-kata Ren. Bagaimana bisa Ren mengatakan sesuatu yang sangat kejam bagi Hinana.


"baiklah kau bisa pergi, hanya itu yang ingin ku katakan."


"tunggu sebentar apa maksudmu, Melupakan?" Hinana mendekat ke arah Ren.


"hem, lupakan jika aku pernah mengajakmu berkencan."


"kenapa?"


"aku rasa hal itu tidak penting, bukankah alasanmu ke Hokkaido untuk melarikan diri dari rasa sakit itu? Jika kau memulainya denganku, maka kau akan merasa sakit yang lebih parah. Jadi lupakan." ucap Ren dan menahan rasa sakit yang ada didadanya. Tidak terdengar gelang Ren karena ia sengaja melepasnya. "Oh iya, apakah kau mau memelukku untuk yang terakhir?" lanjut Ren dan Hinana tak menjawab.


Tapi wajah Ren terlihat sangat datar dan tidak ada seutas senyum. Benarkah Ren mengatakan hal ini padanya?.


Hinana menyerah, kini air matanya tak bisa ia tahan lagi. Ia pergi meninggalkan Ren dan meninggalkan pekerjaan. Hal ini sungguh menyakitkan baginya. Bagaimana bisa dengan mudahnya Ren menyuruhnya melupakan kencan pertamanya.


"eh bukannya itu Hinana?" tanya Emi yang melihat Hinana berlari.


"iya ada apa dengannya? Apa dia pulang? Bukankah masih jam kerja?" balas Arumi.


"apa terjadi sesuatu padanya?" Emi bertanya pada Tsubaki.


"entahlah aku akan menghampirinya sebentar." Tsubaki tanpa pikir panjang langsung berlari menghampiri Hinana. Namun Tsubaki kurang cepat, karena Hinana melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


Sementara itu Hinana masih menyetir dengan keadaan marah dan sedih.


"BAKA Ren. Aku benar-benar membencimu." umpat Hinana yang masih menyetir. Air matanya tak bisa berhenti untuk menetes.


Hinana berhenti di taman Furano, ia melihat bunga sakura yang bermekaran. Pemandangan yang indah tapi tidak dengan hatinya. Hatinya benar-benar hancur kali ini.


"BAKA HINANA......" ia berteriak mengutuk dirinya sendiri dan tangisnya juga belum bisa berhenti.

__ADS_1


Ia mengambil bunga sakura yang jatuh tertiup angin, Hinana teringat jika waktu itu ia dan Ren pernah berada di tempat ini. Rasanya baru kemarin tapi sekarang kenangan itu seperti jahat padanya.


...**********************************...


"Gomennasai." ucap Hinana dan membungkuk pada Jouji. Kemarin ia meninggalkan pekerjaan dan esok harinya mau tidak mau ia harus kembali ke pekerjaannya.


"baiklah ku maafkan, tapi jangan ulangi lagi. Sekarang ini yang memimpin adalah aku, kau paham nona Hinana."


"Baik."


" kembalilah bekerja!"


"baik, terima kasih." Hinana lalu keluar dari ruangan tuan Jouji dan berjalan ke meja kerjanya.


"kau baik-baik saja nona Hinana? " tanya Ariko junior kerjanya.


"hem, tuan Jouji memaafkanku. Atigatou Ariko sudah menyelesaikan pekerjaanku kemarin."


"tidak masalah, sebagai teman harus saling membantu bukan." jawab Ariko sambil memeluk Hinana dan Hinana membalasnya.


Kemudian tak lama kemudian Ren datang dan semua karyawannya memberi hormat. Hinana yang melihatnya memilih untuk segera duduk di mejanya. Ren hanya menunduk membalas ucapan selamat pagi dari semuanya. Ia berjalan lurus menuju ruangannya dan sama sekali tak memalingkan pandangannya pada Hinana. Itulah yang paling membuat Hinana sangat kesal.


"Hinana san apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Ariko.


"tidak ada, ayo kembali bekerja."


"baiklah, oh ya Hinana. Kemarin setelah kau pergi, ada kecelakaan katanya tuan Ren jatuh dari tangga. Tapi sekarang melihatnya kembali sepertinya tidak terjadi hal serius padanya."


"benarkah?" ucapan Ariko membuat Hinana terkejut. Hinana memikirkan apakah Ren saat itu mengejarnya?.


"hem, waktu itu kau sedang berbicara dengannya kan?"


"eh.. Iya tapi hanya masalah pekerjaan." jawab Hinana datar.


"baiklah kita lanjutkan bekerja, tidak akan selesai jika kita terus mengobrol." ucap Ariko dan keduanya saling melempar tawa.


Meskipun adanya Ariko yang selalu membantunya tapi Hinana masih merindukan teman-teman lainya. Tapi tak apa, mungkin setelah selesainya festival Tokyo Summer ia bisa kembali bekerja dengan teman-temannya dulu.



Ariko

__ADS_1


__ADS_2