
..." Senyumanmu itulah yang menyelamatkan ku. Saat ini diriku telah berubah setelah berjumpa denganmu. Kita akan selalu berpegangan tangan melewati hari-hari yang tak sepenuhnya biru. Adakalanya suatu saat langit pun menghitam, tapi bukankah kita sudah berjanji. Meskipun langit cerah ataupun hujanpun, kita akan sama-sama tersenyum untuk hari esok."...
...****************...
Seminggu sudah terlewati, Hinana akan memberi kejutan untuk Ren.
"Ehh... Kemana perginya? " Pekik Hinana karena tidak menemukan sosok Ren di kamar. Padahal sudah jauh-jauh Hinana datang dan membawa banyak oleh-oleh.
Sudah seperti biasanya Ren selalu berada di ruangan Aoyama sepanjang hari. Entah mulai kapan perteman Ren dan Aoyama menjadi sangat dekat.
"Ren jangan seenaknya menggunakan pulpenku." ucap Aoyama dengan kesal karena ia kehabisan tinta untuk menulis.
"Kalau begitu aku akan membelikannya, Aoyama berikan aku izin untuk keluar." Jawab Ren dengan senyuman liciknya, ia memang sengaja mengabiskan tinta pulpen milik Aoyama.
"Usaha yang bagus kawan, tapi sayangnya itu sia-sia. Aku sudah membeli pulpen sebelumnya."
Aoyama menunjukkan pulpen pada Ren, tentu saja membuat senyuman Ren luntur seketika.
"Wakatta." Gumam Ren dengan cemberut dan Aoyama malah tertawa senang melihat Ren yang kalah telak.
Pintu ruangan Aoyama tiba-tiba terbuka dan membuat Ren dan Aoyama terkejut. Karena semua orang akan mengetuk pintu dahulu sebelum masuk.
"Ternyata kau ada disini." Pekik Hinana saat melihatnya kedua orang yang sangat ia kenal sedang duduk bersantai.
"Hinana.... " Ucap Ren dan Aoyama bersamaan. Mereka berdua sangat terkejut dengan kehadiran Hinana.
"Kenapa kau tak memberiku kabar?"
Ren langsung berdiri dan menghampiri Hinana. Perasaannya yang semula bosan mendadak bahagia karena kehadiran kekasihnya.
"Aku merindukanmu." Jawab Hinana dan tersenyum kepada Ren.
"Aku juga merindukanmu." Balas Aoyama yang langsung menyambar beberapa bingkisan yang di bawa Hinana.
"Tetapi aku tidak merindukan Aoyama kun. Kemarikan itu bukan untukmu."
Hinana mengambil kembali beberapa bingkisan yang sempat diambil paksa oleh Aoyama. Sementara Ren hanya tertawa geli melihat ekspresi Aoyama yang kecewa.
"Baiklah, sepertinya kau membelikan banyak untuk Ren. Karena Hinana sudah berada di sini, kalian berdua pergilah."
"Kau berani mengusirku? " Ucap Hinana yang menantang Aoyama.
"Ano... Bukan seperti itu. Maksudnya... "
__ADS_1
"Ayo kembali ke kamarku, Aoyama akan kembali bekerja. Tidak baik juga jika kita berlama-lama di ruangan ini tanpa ada Aoyama." Ren segera menjelaskan apa yang di maksud Aoyama. Ia juga sangat bahagia karena Hinana datang menjenguknya.
"Baikalah." Ucap Hinana pada Ren.
"Aoyama kun, bekerja lah yang benar kau mengerti. Aku membelikan manisan kesukaanmu. Jaa ne."
Hinana memberikan sekotak manisan yang ia beli dari Fukuoka, kemudian berjalan mengikuti Ren dari belakang.
Sudah beberapa hari Hinana tak pernah masuk ke kamar inap Ren. Rupanya sudah banyak sekali perubahan. Ren mulai memenuhi nakasnya dengan beberapa buku.
"Kau senang membaca buku?" Tanya Hinana dan mengambil salah satu buku yang ada di nakas.
"Tidak juga, hanya saja aku merasa sangat bosan jika Aoyama tidak kemari." Jawab Ren dan membuka tirai jendelanya dengan penuh agar matahari bisa menerangi kamarnya.
"Emmm, apakah Arumi dan Emi tidak menjengukmu? "
"Kadang-kadang, lagipula jika mereka sering kemari kau akan cemburu kan." Jawab Ren dan tertawa kecil.
"Tentu saja." Ucap Hinana dengan wajah yang cemberut.
"Hinana.... Bolehkah aku memeluk mu. Aku sangat merindukanmu."
Hinana terdiam sejenak saat mendengar ucapan dari Ren. Dan Ren saat ini masih berdiri di samping jendela.
"Kita kan sudah pacaran, kenapa harus meminta izin." Jawab Hinana dengan pelan dan tersipu malu.
Hinana membalas pelukan Ren tanpa mengatakan apapun. Hinana juga menikmati pelukan Ren seakan melepaskan rasa rindunya. Saat ini Hinana tak ingin memikirkan hal buruk apapun. Ia masih ingin terus bersama- sama dengan Ren.
"Arigatou (terimakasih) Hinana chan." Ucap Ren setelah melepaskan pelukannya.
"Bicara apa kau ini." Hinana dengan gemas mencubit kedua pipi Ren. Hanya beberapa hari tidak bertemu tapi Hinana Ren merasa semakin gemuk.
"Kau semakin gemuk sekarang. Apa Ren kun makan dengan baik?"
"Eh benarkah?, padahal aku sedang diet nasi." Ren menjadi panik dan langsung melihat wajahnya pada kaca toilet.
"Gamoi (ejekan untul orang yang berbadan gemuk) ." Panggil Hinana dengan tertawa kecil.
"Hey, jangan memanggilku seperti itu." Ren langsung keluar dari toilet dan segera mengacak-acak rambut kekasihnya.
"Tapi itu panggilan yang lucu untukmu. Aku punya sesuatu untukmu. " Ucap Hinana dengan membela diri. Ia juga memberikan beberapa pernak pernik yang ia beli di sepanjang tour keliling kotanya.
Ren dengan senang membuka satu persatu hadiah yang diberikan dari Hinana. Ia juga langsung menaruhnya di kamarnya. Bagi Ren mustahil untuk memasang barang -barang dari Hinana di rumahnya, karena ia tak mungkin lagi kembali ke rumahnya.
__ADS_1
"Kau akan memasangnya disini? " Tanya Hinana saat melihat Ren mamasang tirai dari kerang di jendelanya.
"Tentu saja, dan kaktusnya sangat indah jika di letakkan di samping jendela." Ucap Ren dan sibuk memasang semua oleh-oleh dari Hinana.
"Kau membelikanku kaos." Ren tertawa kecil dan langsung pergi ke toilet dan memakainya.
"Tarrraaaa, pas sekali di ukuranku." Ren kembali memperlihatkan kaos yang sudah ia pakai dan sangat pas ukurannya.
"Kau tidak cocok memakainya. Aku lebih suka Ren yang memakai kemeja atau tuxedo." Jawab Hinana memberi komentar.
"Bukankah aku biasanya juga memakai kaos."
"Iya, hanya saja kau selalu memakai blazer atau jaket untuk menutupinya."
Ren tak membalas ucapan Hinana lagi, ia langsung duduk di sofa dan membantu Hinana merapikan tas kertas yang tidak ada isinya.
"Sugoii (Menakjubkan) .... Seperti kamarku saja."
Suara Aoyama yang tiba-tiba terdengar dan masuk ke kamar Ren tanpa izin lebih dahulu.
"Oleh-oleh dari Hinana. Baguskan...! Hinana chan juga membelikan ku kaos." Jawab Ren dan membuka pintu dengan lebar agar Aoyama bisa masuk.
"Tapi kau akan terkena masalah jika Seto sensei tahu." Ucap Aoyama.
"Kalau itu akan menjadi tanggung jawab Hinana. Benarkan Hinana, kau bisa sedikit merayu Seto sensei agar mengizinkannya." Pinta Ren dengan memohon pada Hinana.
"Ehhhh, kenapa harus aku."
"Karena rumah sakit ini milil ibumu." Jawaban dari Aoyama seakan mewakili Ren. Tadinya Ren juga ingin mengatakan seperti itu.
"Kalian berdua sama-sama menyebalkan."
Hinana mendengus dengan kesal karena Ren sudah tahu jika ibunya merupakan pemilik rumah sakit ini dan pastinya Ren akan seenaknya saja meminta bantuan.
"Hey Hinana, apa kau akan berada di Saporrow lebih lama? " Tanya Aoyama.
"Hum tentu saja. Aku akan berada di sini sampai selesai festival musim gugur. Aku akan menghabiskan masa musim gugur bersama Ren." Jawab Hinana.
"Syukurlah. Aku akan pergi ke Kuriyama, dulu Sakura selalu ingin menghabiskan musim dingin bersamaku. Jagalah Ren baik-baik, jika Ren berbuat onar laporkan saja pada Seto sensei."
"Kuriyama apakah tempat pemakamannya Izumi?"
Pertanyaan dari Ren sebenarnya membuat Hinana khawatir. Karena Ren pernah jatuh pingsan saat melihat foto Sakura dengan Aoyama.
__ADS_1
"Benar. Sakura sendiri yang minta di makamkan di sana. Sakura sangat menyukai bunga krisan yang tumbuh liar disana."
Aoyama menjawab pertanyaan dari Ren, sekarang ia tak lagi menyembunyikan perasaannya. Dan hampir setiap tahun di musim gugur Aoyama selalu menghabiskan waktunya di kuil dekat pemakaman.