Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
69


__ADS_3

..."Tidak masalah jika aku akan tiada esok, lusa, ataupun hari yang akan datang. Bisa melihatmu dan bersamamu hari ini aku sangat bersyukur"...


...(Ren Koizumi)...


...******************************************...


Karena malam semakin larut, akhirnya Ren mengajak Hinana pulang dengan naik taksi.


"Jaa Mata." ucap Hinana dan melambaikan tangan pada Ren saat sudah sampai di depan gedung apartemennya.


Ren membalas lambaian tangan Hinana kemudian menutup kaca jendela, karena taksi yang ia naiki akan berjalan kerumahnya.


Saat sudah sampai di apartemennya Hinana segera membuka laptop dan mengakses web festival Tokyo.


Sudah ada dua puluh tiga kontestan yang mereview hasil karya, tingga Koizumi team yang terakhir.


Tiba-tiba matanya terkejut saat melihat berita tentang sahabatnya dulu Nanami. Dengan ragu, Hinana mengarahkan kursor dan mulai mengklik link berita tentang itu.


...******************...


Keesokan harinya Hinana terbangun dengan sebuah kompres yang telah menempel di kepalanya. Ia melihat kearah jam dan terlihat sudah pukul 10 pagi.


"Astaga, aku terlambat." Pekik Hinana, tapi kepalanya sangat sakit jika di buat duduk. Ia membuka ponselnya dan ada pesan masuk dari Ren.


Ren


Hinana chan, kau bisa istirahat dulu jika sakit. Jangan khawatirkan kami. Okey.


Ia melihat di sebelah meja sudah ada beberapa obat dan segelas air putih.


"Ternyata ada gunanya juga ibu mengadopsi Aoyama." gumam Hinana lalu perlahan menuju dapur.


Betapa terkejutnya Hinana saat melihat meja makan sudah tersedia sandwich, segelas susu dan sup tulang iga. Rasanya seperti menang lotre, meskipun semalam telah terjadi hal yang membuat hatinya sakit.


Entah rasanya tubuh Hinana sangat lemah, jadi ia memutuskan untuk mendengarkan musik di audio dan berbaring di sofa.


TING TONG...


Terdengar seseorang menekan bel pintu apartemen.


"Kau sudah makan malam?" tanya Aoyama yang berdiri di depan pintu.


"Belum, aku baru saja bangun."

__ADS_1


"Ini." Aoyama memberikan sekotak bento untuk Hinana kemudian pergi tanpa mengucapkan apapun.


"Eh!! Arigatou." Teriak Hinana tapi yang terlihat hanya punggung milik Aoyama.


Melihat sikap baik Aoyama, ia semakin yakin bahwa yang merawat Hinana semasa sakit adalah Aoyama. Resep obat yang ada di meja juga bertuliskan nama rumah sakit tempat Aoyama bekerja.


Karena merasa bosan akhirnya Hinana pergi untuk berjalan-jalan malam sebentar.


"Hinana." Panggil Shota yang terlihat berdiri di sebelah halte. Kemudian perlahan menghampiri Hinana.


"Kau mau kemana?" tanya Shota saat sudah berada di samping Hinana.


"Aku hanya berjalan-jalan saja, bagaimana denganmu?"


"Selesai bertemu Arimura." Jawab Shota singkat.


"Oh. Apa kau sudah berbaikan padanya? Sepertinya Arimura sangat mencintaimu." Ucap Hinana.


"Sudahlah aku tak ingin membahasnya lagi. Sebenarnya sudah lama aku membuang perasaanku padanya."


"Apa karena Ren?" Pertanyaan Hinana membuat Shota terdiam sesaat.


"Bukan." jawab Shota dengan sedikit ragu, kemudian memberikan sekaleng beer untuk Hinana.


"Aku juga ingin merasakan cinta yang seperti itu. Bagaimana rasanya di rindukan oleh orang yang mencintaiku.


Bagaimana juga rasanya ditangisi oleh orang yang mencintaiku.


Dan bagaimana rasanya di cintai dengan tulus. Semua itu aku ingin merasakannya." Lanjut Hinana kemudian meneguk beernya.


"Bukankah dulu kau juga pernah merasakannya?" tanya Shota seakan mau menghibur Hinana.


"Tidak, aku merasakan cinta pertama yang teramat buruk. Dari awal orang itu tidak mencintaiku, namun berpura-pura. Hingga akhirnya membatalkan pernikahan. Kemudian aku jatuh cinta pada orang lain, apa kau tau bagaimana kelanjutannya?" Ucap Hinana seakan bertanya pada Shota.


"Emm tidak juga." Jawab Shota.


"Aku merasa jika cinta ku bertepuk sebelah tangan lagi." Balas Hinana dengan tertawa kecil.


"Eh kenapa kau berpikiran seperti itu? Kenapa tak pastikan, kau bisa menyatakan cintamu. Tapi jika kau mau."


"Aku sudah mengatakannya."


"HAH." Shota terkejut dengan ucapan Hinana.

__ADS_1


"Ku bilang aku sudah mengatakannya. Tapi dia tak menjawabnya. Dia mengajakku berkencan satu kali. Tapi...." Hinana mulai meragu karena mengingat ucapan Ren waktu itu.


Saat itu Hinana sedang berdebat dengan Ren di roftoop karena ia merasa bahwa Ren menghindarinya.


"Benarkan kau sengaja menghindar dari ku." ucap Ren.


"Kau yang menghindariku. Kau mengajakku berkencan kemudian kau tak mengatakan apapun lagi. Kau juga tak mengatakan jika sakit." Teriak Hinana kepada Ren.


" Benarkah? Kalau begitu lupakan jika kita pernah berkencan. Lupakan jika aku pernah mengajakmu berkencan."


"HAH." Hinana terkejut karena Ren tiba-tiba menyuruhnya melupakan. Ia terasa seperti sedang terbang di langit yang tinggi, kemudian jatuh terhempas ke tanah.


"Lupakan. Anggap saja kau tak pernah berkencan dengan ku." Ucap Ren menjelaskan kemudian pergi meninggalkan Hinana.


"Shota kun, terimakasih sudah mau menjadi pendengar yang baik." Hinana enggan melanjutkan cerita, karena terlalu sakit jika ia mengingatnya. Baginya, bisa bersama Ren untuk saat ini sudah lebih baik.


"Semuanya akan baik-baik saja Hinana." Shota langsung memeluk Hinana kemudian mengusap kepala dengan lembut.


Tepat saat itu Ren yang sedang melintas membawakan makanan untuk Hinana. Melihat kakaknya memeluk orang yang ia sayangi rasanya sangat sakit.


Ren tidak hanya sekali melihatnya, ini sudah berkali-kali. Waktu itu ia juga melihat Hinana memeluk Shota saat keluar dari restoran. Hatinya sangat terguncang, mengapa kisah cintanya harus bersaing dengan kakaknya. Ia sangat mencintai Hinana tapi ia juga tidak ingin melihat kakaknya merelakan perasaannya. Sama seperti saat Shota merelakan Arimura untuknya.


Tiiiiiiit.......Tiiiiit


"Ren kun." Gumam Hinana lalu melepas pelukan Shota.


"Ada apa Hinana?" tanya Shota.


"Aku merasa mendengar gelang milik Ren."


"Aku juga, tapi tidak mungkin itu Ren karena gelang miliknya rusak." ucap Shota ,karena tahu jika saat itu Ren membanting smartbandnya.


"Ah kau benar juga, Shota kun aku harus pulang sekarang. Besok aku tak ingin terlambat bekerja." Hinana berpamitan pada Shota.


"Wakatta (baiklah), besok aku juga akan datang membantumu. Mata ashita Hinana." Ucap Shota melambaikan tangan kemudian melihat Hinana sampai benar-benar masuk ke gedung apartemennya.


Sementara Ren masih bersembunyi di gang yang sempit, dan memastikan jika Shota benar-benar pergi dari tempatnya. Ia melepas smartbandnya dan mengatur nafasnya.


Tapi rasanya benar-benar sangat nyeri hingga Ren akhirnya tersungkur di tanah. Ia berusaha berdiri dan ingin pergi dari tempat itu. Setiap tiga langkah berjalan Ren selalu terjatuh, rasanya ia benar-benar tak sanggup berjalan lagi.


"Hey, apa kau sedang mabuk? Setidaknya hubungi keluargamu jika kau mabuk berat."


Ren mendengar suara laki-laki dan menendang tubuhnya. Kemudian dengan sekuat tenaga ia membalikkan tubuhnya dan meminta tolong.

__ADS_1


"Sensei, watashi o tasuketekudasai (Dokter, tolong bantu saya)." Ucap Ren dengan suara yang berat.


__ADS_2