
Mereka berdua masih sama-sama menutup mulut. Arimura juga sepertinya agak ragu untuk menjawab pertanyaan Hinana.
"Hinana, ada yang ingin ku ceritakan padamu. Tapi kau harus janji untuk tutup mulut dengan siapapun." ucap Arimura dan mendekat pada Hinana.
"Hem, Wakatta." jawab Hinana setuju.
"Aku menyukai Shota dan dari dulu hingga sekarang dan seterusnya." Arimura segera menutup mulutnya dan perlahan menangis.
Hinana masih belum paham yang di maksud dengan Arimura. Bukankah dia adalah wanita yang sangat disukai Ren, dan bukankah Arimura kesini untuk Ren??
"Bukankah kau kemari untuk Ren?" Tanya Hinana dengan perlahan.
"Tidak. Aku tidak pernah mencintai Ren tidak pernah." Jawab Arimura dan masih meneteskan air mata.
Hinana yang mendengar jawaban Arimura sangat terkejut. Ia juga mengingat perkataan Arumi bahwa gadis yang di depannya adalah orang yang di sukai Ren.
"Hinana san, ada banyak kesalahan yang kau tahu. Aku sebenarnya menyukai Shota kun, tapi semuanya harus kurelakan demi Ren. Shota bahkan memutuskan ku dan menyuruhku bersama Ren." lanjut Arimura.
(Flashback cinta segitiga Ren, Alice dan Shota)
Suasana di restoran bintang lima dengan design interior yang sangat romantis. Terdapat dua sejoli yang sedang makan malam. Nama restoran itu adalah Chez Gladinez tepatnya di daerah Basque kota Paris. Yang menyediakan berbagai makanan khas daerah Basque terpopuler.
"Ren mencintaimu." Ucap Shota setelah menghabisakan suapan terakhir salad yang dipesannya.
" I know, but alwasy love you Shota." Jawab Arimura dan memegang tangan Shota.
"Kita putus saja."
"Apa? Kenapa tiba-tiba kau begitu?" Arimura sangat terkejut, karena makan malam yang harusnya jadi romantis malah jadi terburuk.
"Aku tak mungkin membuat Ren cemburu."
"Lalu bagaimana dengan aku." Teriak Arimura dan berdiri dari tempat duduknya.
"Kau bisa bermain-main dengannya. Lalu setelah Ren bosan dan mencampakkanmu, kau bisa kembali padaku." Ucap Shota kemudian pergi setelah membayar makan malamnya.
"Shota.... Wait (tunggu)!!" Teriak Arimura dan mengejar Shota. Tapi saat itu mobil yang di kendarai Shota sudah melaju sangat cepat.
Setelah itu Arimura memutuskan untuk menemui Ren, seperti biasa Ren selalu ada di galery tepatnya di lantai tiga di kampusnya.
Terlihat Ren sedang melukis di dalam, Arimura mengetuk jendela kaca dan mengisyaratkan Ren untuk keluar. Karena ia tidak menyukai bau cat minyak.
"Alice ada apa kau malam-malam kemari?" Tanya Ren dengan bibir yang menyunggingkan senyum.
"Apa kau sedang sibuk?"
__ADS_1
"Tidak juga, oh sebentar aku akan mencuci tanganku." Ren tahu kalau Arimura tidak menyukai bau cat minyak.
"Tidak perlu Ren, aku hanya butuh waktu sebentar untuk bicara denganmu." Arimura segera mencegah Ren yang akan pergi ke toilet.
"Baiklah."
"Kau tahu, aku hanya sebatas mengagumimu karena kau mahasiswa yang paling terpopuler disini. Tapi aku tidak menyukaimu sama sekali. Aku sudah berpacaran dengan Shota jadi kumohon mengertilah." ucap Arimura menjelaskan secara rinci.
Sementara Ren masih tetap terdiam berdiri di depan Arimura, antara percaya atau tidaknya dengan perkataan gadis yang sangat ia cintai.
"Oh ya Ren, sebelum aku mengenalmu. Aku lebih dulu mengenal Shota dan dia juga menceritakan banyak tentangmu. Aku juga ingin hidup dengan orang yang mempunyai masa depan. Maaf aku harus mengatakan itu padamu." Arimura melanjutkan kata-katanya.
"Hum tidak masalah aku mengerti." Jawab Ren dan dengan menampilkan senyum di bibirnya.
"Baiklah aku pergi. See you." Tanpa basa-basi lagi Arimura lalu pergi meninggalkan Ren.
Sementara Ren masih tetap berdiri terdiam. Ia memendam amarahnya hingga sebuah kuas yang di pegangnya pun akhirnya patah. Meskipun begitu ia masih tetap tersenyum dan kembali masuk ke ruang galeri.
Sebuah kanvas besar di depannya adalah lukisan wajah Arimura yang selalu ia panggil Alice. Dengan menahan kesedihan Ren berusaha menyelesaikan lukisan itu. Meskipun perasaannya tidak pernah terbalaskan.
Dari sudut ruangan Shota memperhatikan semuanya, termasuk pembicaraan antara Ren dan Arimura. Ia merasa bersalah pada adiknya, harusnya ia mengatakan sejak awal kalau dirinya dan Arimura sudah saling mengenal.
Esok pagi di kota Boston, Shota berjalan menemui Arimura dan dengan perasaan gembira Arimura menyambutnya.
" Bonjour (selamat pagi)." ucap Arimura dengan senyum indah saat Shota menghampirinya.
Mereka berdua sudah berjanji untuk bertemu dan berkencan dengan piknik di pinggir danau, dan pemandangan menara Eiffel.
"Sayonara (selamat tinggal)." ucap Shota pada Arimura saat sudah sama di tempat.
"Eh, apa yang kau katakan?" tanya Alice, karena saat itu ia benar-benar tidak tahu bahasa Jepang.
Meskipun ia keturunan Jepang-Inggris tapi Arimura tidak pernah tinggal di Jepang. Ia tinggal bersama ibunya di Inggris kemudian pindah ke Paris, sampai usia yang ke 25 tahun Arimura tidak pernah bertemu dengan ayahnya.
"Sayonara dalam bahasa Jepang artinya selamat tinggal untuk selamanya." Ucap Shota sekali lagi.
"WHY?? Kenapa kau mengatakan itu?"
"Aku hanya menyuruhmu bermain-main dengan Ren, bukan menyakitinya." Shota terlihat menahan air matanya. Ia masih mengingat apa yang di lihat pada adiknya semalam di galeri.
" Tapi aku tidak bisa. Aku benar-benar mencintai mu Shota. Please !! Don't leave me again." Arimura berlutut dan memohon pada Shota.
"Tapi jika kau menyakitinya sama saja kau menyakitiku."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Please Shota,!!" Arimura masih memegang tangan Shota dengan erat hingga air matanya membasahi telapak tangan Shota yang dari tadi di genggamnya.
__ADS_1
"Good bye Arimura. I don't want to meet you again." Shota melepaskan tangan Arimura dan menghapus air matanya yang menetes sedikit.
"NO! SHOTA NO!!" Teriak Arimura dan menangis.
Sementara Shota masih tetap berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang sama sekali. Meskipun air matanya sudah tak menetes tapi hatinya terasa sangat sakit, melebihi luka sayatan pedang yang pernah ia alami.
(back in time)
Hinana telah menghabiskan tisu miliknya karena mendengar cerita Arimura. Sungguh kisah cinta yang sangat menyakitkan, lebih menyakitkan dari pada yang pernah ia alami.
"Apa kau masih membutuhkannya lagi?" Arimura memberikan sekotak tisu miliknya.
"Hem arigatou." Jawab Hinana dan menerima pemberian dari Arimura.
"Aku akan membayar sarapan kita." Arimura merasa tidak enak karena membuat Hinana menangis. Karena selama ia bertemu Hinana terlihat sangat dingin padanya.
"Biar aku saja." tolak Hinana.
"Tidak apa, lebih baik kau ke kamar mandi. Wajahmu sangat berantakan." ucap Arimura dengan tertawa kecil.
"Benarkah? Kalau begitu cotto matte kudasai (tolong tunggu sebentar)." ucap Hinana lalu berlari ke kamar mandi.
Ternyata yang di katakan Arimura benar. Seluruh wajah Hinana terlihat menyeramkan. Maskara yang ia pakai sudah memenuhi lingkar matanya. Hinana segara mencuci wajahnya dan menghapus seluruh make up nya.
Tak butuh waktu lama Hinana segera keluar dan menemui Arimura yang menunggunya di luar.
"Apa kau tak pakai riasan?" tanya Arimura dan seperti biasa Arimura selalu tersenyum dan tertawa kecil. Sehingga membuatnya semakin cantik.
"Tidak perlu, ne Arimura san maukah kau membantu ku?" tanya Hinana.
"Nani? (apa)?"
"Aku melanjutkan festival itu, tapi aku juga tidak enak padamu karena harus bertemu dengan Ren kembali." ucap Hinana menjelaskan.
"Tidak apa-apa, aku dan Ren sudah berbaikan. Lagi pula Ren mengerti. Hanya saja Shota mungkin belum memaafkanku."
"Shota juga ikut membantuku di festival itu, kau bisa bertemu dengannya. Aku juga akan membantumu berbaikan dengannya."
"Eh benarkah?"
"Hum, bukankah kau menemuiku karena ingin minta bantuan itu?" ucap Hinana dengan bercanda.
"Kau pandai sekali menebak. Baiklah ayo." Arimura setuju dengan tawaran Hinana kemudian melajuka mobilnya ke kantor milik Ren.
__ADS_1
Arimura Tezuka.