
"kenapa kau masih belum tidur?" tanya Aoyama dan melanjutkan membaca buku.
"em.. Aku kepikiran sesuatu. Aoyama kun apa kau tahu sesuatu tentang Ren. Tentunya kau tahu, kau kan kerja di rumah sakit." Hinana ragu-ragu menanyakan itu pada Aoyama.
Saat menunggu Hinana diluar, Aoyama juga mendengar apa yang di katakan Ren pada Hinana. Sebelumnya ia juga sudah membaca riwayat keadaan Ren.
"aku belum terlalu paham yang di katakan Ren. Mungkin dia bercanda atau apa, setelah mengatakan itu tiba-tiba dia tertawa." lanjut Hinana kembali menceritakan.
"Dia tidak bercanda."
"Eh. Kau juga tahu."
"aku hanya tahu karena membaca data pasien."
"lalu kenapa tak katakan padaku?"
"aku pikir lebih baik kau tahu dari orangnya sendiri." jawab Aoyama dan menutup buku yang dari tadi ia baca.
"jadi apa nama penyakitnya?" tanya Hinana dan ia mulai meremas baju yang ia pakai.
"Gagal jantung. Dia sudah dua kali di operasi dan gagal pada operasi ke dua. Kemungkinan besar hanya mampu bertahan 10 tahun tapi kebanyakan tidak sampai. Aku juga kagum padanya bisa bertahan hingga sekarang." jawab Aoyama menjelaskan semua yang ia ketahui pada Hinana.
Suasana menjadi sangat sepi, Hinana sekarang mulai mengerti apa yang terjadi sekarang. Tangannya memegang erat-erat bajunya untuk menahan agar tidak menangis.
"Hey pergilah, aku ingin tidur." Ucap Aoyama dan memasang ear phone di telinganya kemudian menutup matanya.
Hinana perlahan pergi menuju ke kamar Aoyama. Perkatan yang di ucapkan Ren dan Aoyama masih memenuhi kepalanya.
" aku akan mati."ucap Ren
"kemungkinan besar hanya mampu bertahan 10 tahun tapi kebanyakan tidak sampai."perkataan Aoyama.
"ada sesuatu yang menyakitkan di dalam sini. Dokter mengatakan jika aku akan mati di umur ke 30 tahun." ucap Ren.
Sesampai di kamar Aoyama kaki Hinana terasa sangat lemas, ia tersungkur di lantai. Hinana tak bisa lagi menahan rasa sedihnya, ia akhirnya menangis.
Hinana juga mengingat alasan Ren menolak bermain ice skating, menolak naik roller coaster dan sering sekali pingsan. Anehnya kenapa selama ini Hinana tak pernah menyadarinya.
sudah ku bilang, semua itu tidak bisa ku ungkapkan jangan memaksaku." ucap Ren dengan sedikit marah. Ia menyerahkan kunci mobil kepada Hinana lalu pergi meninggalkannya.
Ingatan-ingatan saat bersama Ren mulai berputar di kepalanya, seakan film sedih yang pernah ia tonton.
" kenapa harus terjadi padanya? Aku merasa butiran -butiran salju itu seakan meleleh. Seorang yang selama ini ingin ku lihat senyumnya ternyata hanya kebohongan. Dibalik senyumnya yang selalu ku tunggu ia selalu menyimpan kepedihan yang mendalam. Mata indah itu kupikir tidak pernah meneteskan air mata."
Hinana hanya bergumam sendiri pada dirinya. Ia memeluk dirinya sendiri.
__ADS_1
Isak tangis Hinana terdengar sampai di ruang tengah menembus di telinga Aoyama. Perlahan cairan bening pun jatuh di pelupuk mata Aoyama.
Sebenarnya ia belum benar-benar tidur, Aoyama juga tak kuat menahan rasa sedihnya saat menjelaskan pada Hinana.
"malam ini sepertinya sangat dingin." ucapnya dan melihat foto Sakura kekasihnya.
...*******************...
Keesokan harinya Hinana terbangun dengan rambut yang sangat berantakan dan wajah yang basah. Ia tak bisa berdiri jadi tertidur di bawah lantai.
"ohayou.." sapa Hinana pada Aoyama yang sedang makan dan mengambil air minum pada teko.
"hem ohayou. Apa tidurmu nyenyak?"
"tentu saja. Aku haus, setelah ini ingin tidur lagi." jawab Hinana berbohong dan pergi.
"aku akan bekerja, bawalah kartu aksesku." teriak Aoyama dan menghentikan langkah Hinana.
"baiklah, mungkin aku akan membersihkan apartemenku." Hinana berbalik hanya untuk mengambil kartu akses milik Aoyama. Ia kembali lagi ke kamar dan melanjutkan tidur.
Setelah kepergian Aoyama ia memutuskan untuk mengemasi barang-barang miliknya. Karena Hinana ingin tinggal di apartemennya sendiri.
Sepanjang hari ia habiskan untuk membersihkan apartemennya. Hinana melihat lukisan yang tergantung di kamarnya. Terbesit di pikirannya untuk datang ke rumah sakit.
Hinana membeli Yakitori (sate khas jepang) untuk diberikan pada Ren.
"Hinana, ada apa kau kau kemari?" Suara Aoyama terdengar memanggilnya.
"mengembalikan kartu milikmu. Terima kasih sudah mengizinkan tinggal di apartemenmu." karena bertemu Aoyama, sekalian saja ia mengembalikan kartu akses.
"kau yakin kemari untuk menemuiku?"
"hem." jawab Hinana dengan anggukan.
"kalau begitu makanan itu untukku." ucap Aoyama dan melirik pada tas bekal yang di bawa Hinana.
"HAH tentu saja tidak ini makan siang ku. Sampai jumpa Aoyama." Hinana berlalu meninggalkan Aoyama.
Aoyama tahu maksud kedatangan Hinana ke rumah sakit untuk menemui Ren. Tapi Ren sudah pulang siang tadi dan Shota dan dirinyalah yang membantunya.
Hinana kembali ke apartemennya, perlahan kepalanya terasa sakit. Sepertinya ia terlalu lelah hari ini.
"Ne moshi moshi (ya halo)." ucap Hinana ketika mengangkat telepon dan merebahkan tubuhnya di kursi sofa.
"Hinana apa kau sudah baikan? Bagaimana keadaanmu, kau tinggal dimana sekarang. Apa kau makan dengan baik?." suara cerewet khas yang Hinana kesal mendengarnya.
__ADS_1
"okaasan bagaimana aku menjawab pertanyaanmu jika kau terus mengomel."
"dasar kau. Sekarang kau tinggal dimana?"
"tentu saja di apartemen."
"Yokatta (syukurlah). Ibu akan menyuruh Aoyama untuk menjagamu."
"hey aku bukan anak kecil lagi. Lagi pula apa hebatnya Aoyama."
"Hinana dengarkan ibu, kau harus jaga diri baik-baik di sana dan jangan terluka lagi. Gommen ibu belum bisa mengunjungimu karena ada hal mendadak."
"iya aku mengerti."
"apa perlu ku suruh Ryusei kesana."
"jangan lakukan. Okaasan kepalaku mendadak sakit aku ingin istirahat."
"baiklah. Cepatlah sembuh."
Setelah mengakhiri telepon dari ibunya Hinana segera menuju ke kamarnya dan tertidur lelap.
Sinar matahari sudah mulai keluar, terlihat indah karena menghiasi bunga sakura yang mekar.
Hari ini Hinana kembali bekerja lagi. Ia sedikit mengubah penampilannya poni yang biasa menutupi keningnya ia rapikan ke samping.
"Ohayou." sapa Hinana tang sudah menjadi tradisi orang jepang saling menyapa.
"Ohayou Hinana." jawab Tsubaki.
"senang bisa melihat kalian lagi di tempat ini."
"tidak biasanya kau mengatakan hal itu. Hey Hinana bagaimana dengan kepalamu?" Tsubaki menghampiri meja Hinana dan memberikan sejumlah dokumen.
"sudah sembuh."
"Yokatta (syukulah). Ku harap kau tak akan terluka lagi." ucap Tsubaki dan kembali ke mejanya.
Ucapan Tsubaki benar, sudah kedua kalinya ia melihat Hinana terluka. Dan dua kali juga Hinana selalu menolak jika di obati. Pandangan keduanya teralihkan saat melihat Ren mulai datang.
"Ohayou mina-san. (selamat pagi semua)." sapa Ren dan semua orang di kantor membalasnya.
Hinana melihat ke arah Ren dengan tatapan sendu, berharap yang dikatakan Ren kemarin adalah mimpi atau sebuah omong kosong. Ia tidak rela jika orang yang selama ini dianggap bunga saljunya akan mati.
"Berhenti menatapku seperti itu Hinana, aku membencinya. Hanya kaulah yang membuatku sedikit melupakan tentang kematian. Tapi jika kau melihatku seperti itu, rasanya sama saja aku mati sekarang." Batin Ren.
__ADS_1
Kedua mata masih saling bertemu, hingga Ren menundukkan kepalanya dan masuk ke ruangannya. Hinana masih berdiri terpaku. Ia masih belum sepenuhnya merelakan yang terjadi.