
Arumi dan Emi kembali ke kantor dengan raut wajah yang kusut.
"bagaimana hasilnya?" tanya Tsubaki dan Arumi menggelengkan kepala.
"sudah kuduga."
"sudah kuduga juga." ucap Hinana dalam hati dan memandangi ponselnya.
Tsubaki melihat Hinana yang dari tadi terus melihat ponsel, dan terlihat chat dengan Ren.
"apa kau bisa menghubungi Ren?" tanya Tsubaki dan Hinana langsung menyembunyikan ponselnya.
"aku juga tidak bisa menghubunginya, dimana anak itu?"
"tuan Jouji bilang dia menginap dirumah temannya."
"berikan ini jika bertemu Ren."
"apa ini?"
"gingseng yang ku petik dari gunung, aku lihat akhir-akhir ini Ren sering sakit."
"kau teman yang pengertian. Aku pergi dulu, ada client yang harus ku temui." ucap Hinana dan pergi.
"Hinana benar-benar berubah ya." tanya Emi pada Tsubaki.
"hem dia sudah terlihat ceria." sahut Arumi.
"aku harap keajaiban ini akan berlangsung lama." ucap Tsubaki dan semuanya kembali bekerja.
Hinana selesai meeting dengan client, meskipun tidak berasal dari brand terkenal setidaknya masih ada yang mau menerima keadaan kantornya.
"hem Shota." pekik Hinana saat melihat Shota membawa banyak baju ke Makino Laundry.
Hinana juga melihat Shota memasukkan baju dan jaket Ren ke bagasi.
Karena rasa penasarannya Hinana mengikuti mobil Shota dari belakang. Mobil Shota berhenti di sebuah rumah sakit, dan Hinana juga pernah di rawat disana.
Hinana keluar dari mobilnya dan mengikuti Shota yang membawa banyak barang.
Shota berhenti di tengah koridor dan mengangkat telepon, kemudian kembali keluar lagi. Hinana bersembunyi saat Shota lewat keluar.
"apa yang di sembunyikan? Shota mencurigakan." gumam Hinana.
Shota kembali lagi berjalan ke koridor dan masuk ke sebuah kamar.
"aku mau pergi ke Osaka, kau tidak mau mengantarku?" ucapan Shota terdengar Hinana yang menguping.
Saat Shota keluar dan pergi, Hinana yang rasa penasarannya muncul segera masuk ke kamar itu.
"Hinana, bagaimana bisa kau disini?"
"Ren." Hinana terkejut karena melihat Ren berbaring dan mengenakan baju pasien.
"kenapa kau bisa ada disini?" Ren merasa panik.
"aku mengikuti Shota karena mencurigakan. Kau sakit, kenapa berbohong padaku jika menginap dirumah teman?"
"aku baru sakit setelah dari rumah temanku, aku keracunan makanan." jawab Ren asal.
"eh, begitukah?"
"iya perutku sangat sakit jadi aku pergi ke rumah sakit."
"tunggu sebentar, Tsubaki memberi ku ini untukmu?" Hinana mengambil bingkisan dari dalam tasnya.
"Hah gingseng?" Ren sangat terkejut.
__ADS_1
"dia bilang kau sering sakit, yang aku tahu gingseng membantu menjaga stamina tubuh."
"terima kasih." Ren sedikit tertawa karena tak percaya Tsubaki memberinya gingseng.
Seseorang membuka pintu Ren dan Hinana sangat panik.
"aku harus sembunyi, mungkin itu Shota." Hinana sangat panik.
"toilet, masuklah sana." ucap Ren dan Hinana menurutinya.
"aku lupa, kemarikan Cameraku." ucap Shota dan dugaan Hinana benar.
"aku masih meminjamnya."
"kemarikan besok aku harus pergi, belilah sendiri uangmu lebih banyak dariku."
"baiklah, ini." Ren mengambil camera dari lemari dan memberikan ke Shota.
"oh iya cepatlah pulang, momy ingin merayakan ulang tahunmu dirumah saja." ucap Shota dan pergi.
"apa sudah pergi?" tanya Hinana yang muncul dari toilet setelah Shota pergi cukup lama.
"iya keluarlah. Hinana aku rasa aku tak bisa menerima hadiahmu. Itu terlalu mahal."
"kau sangat kejam. Aku tak peduli pakailah saat kau sembuh. Daah." ucap Hinana dan keluar dari kamar Ren.
"Hinana."
"hem ada apa lagi."
"tolong jangan katakan pada siapa pun jika aku disini."
"baiklah cepatlah sembuh Ren." Hinana kemudian meninggalkan Ren.
Hinana kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya.
"siapa?"
"nona Sawako." semua orang dibruang marketing terkejut begitu juga dengan Hinana.
"baiklah, katakan padanya aku akan ke bawah sepuluh menit lagi."
"baiklah."
"Hinana, apa nona Sawako akan setuju?" tanya Arumi.
"doakan saja teman-teman." Hinana segera menyiapkan berkas bermap kuning, mungkin saja Sawako-san menyetujuinya.
"Hinana ganbatte!!." Tsubaki memberi semangat Hinana.
Hinana melihat Sawako juga membawa setumpuk dokumen, mungkin ada harapan batinnya.
"halo, apa sudah lama menunggu?" sapa Hinana dengan senyum tipisnya.
"tidak begitu, ada yang ingin ku bicarakan tapi tidak disini."
"eh dimana?"
"ikutlah denganku, ayo." Sawako beranjak berdiri dan Hinana mengikutinya.
Mereka berdua berhenti di sebuah apartemen di Sapporo, ternyata Sawako juga tinggal disana.
"masuklah Hinana."
Hinana mengikuti Sawako, tepat disudut ruang tamu banyak foto dan majalah dengan wajah Yukiatsu. Hinana hanya terdiam, dadanya merasa sakit.
"penawaran terakhir dariku. Semua bergantung keputusanmu, jika kau memberi jawaban aku akan membuang semua berkas tentang Koizumi Clothes." Sawako memberikan sebuah dokumen dan memberikan ancaman.
__ADS_1
Kali ini Hinana harus berpikir jernih, antara masalah pekerjaan dan pribadinya.
"kenapa kau memberikan kesepakatan seperti itu?"
"sudah ku katakan sebelumnya kan."
"aku sudah tidak bersamanya lagi, kau juga tahu bagaimana hancurnya perasaanku saat itu."
"aku mengerti, tapi kau belum pernah merasakan bagaimana cinta bertepuk sebelah tangan. Dia satu-satunya temannku dan ,meninggalkanku untuk mengejarmu."
Sekali lagi Hinana masih berusaha menahan emosinya. Hinana teringat dengan perkataan Shota dan tuan Jouji.
"perusahaan ini hasil kerja keras Ren. Dulu Ren seorang yang introvert tapi saat ia punya usaha sendiri, aku selalu melihat ia ceria dan banyak teman." kata Jouji.
Ucapan tuan Jouji masih membekas di telinga Hinana. Selama ini Ren selalu baik padanya tak peduli sekeras apapun Hinana. Dan Ren yang membuat Hinana perlahan mampu menghadapi hidupnya.
"baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk menyelesaikan kerja sama ini sampai akhir, dan mendukung semua vakasinya." Keputusan Hinana untuk menyetujuinya, meskipun ada luka-luka lain yang berdatangan.
"oke deal." Sawako membalas jabatan tangan Hinana dan tersenyum puas.
Suasana di kantor, Tsubaki berlari menuju ruang Direktur setelah mendapat kabar dari Hinana.
"permisi tuan Jouji."
"Hinana berhasil." ucap Tsubaki dengan menunjukkan email dari Hinana.
"benarkah !! Ah syukurlah, segera persiapkan semua keperluannya."
"baik!"
Akhirnya semua berjalan lancar, dan perusahaan telah di sibukkan dengan pekerjaannya. Kerja sama dengan brand Comme des Garcons membuat keuntungan yang besar, meskipun baru seperempatnya saja. Banyak permintaan dari butik kecil maupun besar karena dari design dan merk terkenal.
"kau mau menemaniku makan malam Hinana?" ajak Sawako setelah selesai bekerja.
Tentu saja semua kerja keras ini memerlukan imbalan.
"mau makan apa?"
"sepertinya aku ingin gyudon (semangkuk nasi dengan daging sapi bakar)."
"baiklah sepertinya lezat." Hinana setuju dengan ajakan Sawako kemudian mereka berdua menuju restorant terdekat.
******
"kau tinggal dimana Hinana? Biar ku antar kau pulang." tanya Sawako saat selesai makan.
"ah tidak perlu, aku harus ke kantor dulu."
"apa kau menolak tawaranku?"
"bukan begitu, tapi mobilku ada dikantor dan semua barang pribadiku juga." Hinana mencoba menjelaskan agar Sawako tidak salah paham. Sebenarnya Hinana juga kurang nyaman jika Sawako terlalu agresif padanya.
"tapi aku sekarang tinggal di apartemen di Sapporo juga, adik sepupuku ajan kuliah sekitar sini."
"benarkah? Apa nama apartemnnya?"
"Ichibankan 205 fantasy."
"eh benarkah? Kudengar tempat itu sangat elit. Kau hebat Hinana."
"tidak juga, aku tinggal di lantai tiga masih standart." Hinana mengelak, memang benar yang di katakan Sawako. Tapi yang menyewa adalah ayahnya, bekerja di kantor kecil tidak mungkin bisa membayar sewanya.
"baiklah aku akan berkunjung."
"kabari aku dahulu jika kesana. Sawako, aku harus pergi. Terima kasih semuanya."
"baiklah Hinana. Sampai jumpa."
__ADS_1