Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
33


__ADS_3

Hinana dan Arumi pergi ke toko tekstil, sebenarnya Hinana kurang menyukai pergi ke sana tapi ia tidak enak jika menolak Arumi.


"Arumi apa kau masih lama?" tanya Hinana karena bosan.


"sebentar lagi."


"aku tunggu di depan saja ya, hubungi aku kalau sudah selesai."


"hem." jawab Arumi singkat karena masih sibuk untuk memilih kain.


Hinana yang merasa bosan akhirnya menunggu Arumi di depan toko.


"Aoyama-kun." Hinana melihat Aoyama yang berjalan dengan membawa bunga.


"oh Hinana, kau sedang apa?" Aoyama yang mendengar panggilan Hinana langsung bergegas menghampirinya.


"aku menunggu temanku, dia di dalam." jawab Hinana dengan menunjuk toko tekstil. "kau membawa bunga apa akan berkencan?"


"hem tentu saja."


"baiklah pergilah, kekasihmu sudah menunggu." usir Hinana dengan sedikit tertawa.


"tidak apa, lagian aku kesana dua jam lagi."


"begitukah, terserah kau saja. Tapi aku ingin tahu wanita mana yang bisa membuatmu luluh." Hinana mentertawai temannya karena dulu Aoyama orang yang sangat pemalu.


"baiklah baiklah kau senang mengejekku sekarang. Yang pasti dia lebih cantik dari pada kau. Oh ya Hinana, bagaimana denganmu?"


"heh aku? Apa maksudmu?"


"sampai kapan kau hiatus (istirahat) dari modeling?" pertanyaan Aoyama seakan membuat tertekan. Hinana tak menjawab dan memilih diam.


"kenapa kau diam saja? Sudah kuduga, mana mungkin kau bisa melepaskan posisimu begitu saja." tanya Aoyama dan memberikan sebotol air untuk Hinana.


"aku tidak akan kembali. Aku sudah merasa nyaman dengan pekerjaanku sekarang." Hinana mencoba mengelak ucapan Aoyama.


"Hinana sampai kapan kau akan melarikan diri? Kau bisa membohongiku, tapi kau tidak mungkin bisa membohongi dirimu sendiri."


Dari sudut pandang Aoyama, mana mungkin jika Hinana bisa melepaskan pekerjaannya sebagai model dengan mudahnya.


Dulu saat SMP Hinana rela setiap pulang sekolah berolah raga agar tubuhnya kecil, tak hanya itu Hinana mulai merawat wajahnya hingga menjadi cantik. Dan Aoyama tahu semua prosesnya.


"kau menyebalkan Aoyama, aku malas bertemu denganmu."


"tunggu sebentar Hinana, aku minta maaf." Aoyama menarik tangan Hinana yang akan pergi. Dan saat itu ia melihat gelang Ren yang di pakai Hinana.


"Hinana chan, sejak kapan kau memakai gelang itu." tanya Aoyama yang terkejut.


"memang kenapa dengan gelang ini?" tanya Hinana dengan sinis karena masih marah dengan Aoyama.


"tidak apa, hanya saja smartband sering di rekomendasikan untuk pasien gagal jantung." jawab Aoyama dengan lemah. Karena ia mengira bahwa gelang itu milik Hinana.


"pergilah, kau akan terlambat kencan." Hinana tetap meninggalkan Aoyama sendiri.

__ADS_1


Hinana tak begitu mendengar jelas ucapan Aoyama, ia memandangi gelang milik Ren dan menghampiri Arumi.


"maaf menunggu lama Hinana, baru saja aku akan keluar menghampirimu."


"tidak apa, oh ya Arumi setelah ini mau kemana?"


"mau makan siang bersama?"


"tidak, aku hanya ingin pulang. Tidak apa kan jika kau makan siang sendiri."


"eh kenapa tak ikut sekalian?"


"ada yang ingin ku lakukan, bye bye." ucap Hinana kemudian berjalan ke tempat halte bus.


Hinana berjalan santai dengan pandangan ke arah pohon sakura. Beberapa tumbuh daun mungkin sebentar lagi musim semi benar-benar tiba.


Ia teringat saat musim semi dua belas tahun lalu dirinya melakukan debut pertamanya. Hinana memakai dres warna merah muda seperti bunga sakura, karena saat itu festival musim semi.


" sampai kapan kau melarikan diri? Kau bisa membohongiku, tapi kau tidak mungkin bisa membohongi dirimu sendiri."


Kata-kata Aoyama masih membekas di ingatan Hinana. Tanpa sadar ia mulai menangis di halte bus. Satu hingga dua bus berhenti, tapi Hinana masih belum beranjak dari tempat duduknya. Akhirnya ia pulang dengan jalan kaki.


(flash back)


"Hinana are you ready?" ucap Kaoru manegernya.


"hem i'm ready."


"kau tidak perlu merasa gugup, anggap saja kau berjalan di tengah-tengah bunga lili. Semua orang yang melihatmu kau anggap saja bunga lili. Nantinya kau akan terbiasa." Kaoru memberi semangat untuk Hinana, karena memang merupakan debut pertama Hinana.


" ganbatte yo Hinana, kau cantik, kau berbakat."


"terima kasih Kaoru-san." ucap Hinana dan tersenyum pada Kaoru.


Lima menit kemudian nama Hinana di panggil untuk runaway fashion show. Hinana keluar dan berjalan catwalk diatas panggung.


Busana yang nampak sederhana namun terlihat elegan saat Hinana yang memakainya. Hingga akhirnya terdengar suara tepuk tangan yang meriah.


(back to time)


Tetesan air mata Hinana membasahi album fotonya. Hinana melihat fotonya saat debut pertama. Sejujurnya ia merindukan pekerjaannya dulu.


" andai saja aku tidak bertemu denganmu, pasti semua ini tidak akan berakhir." ucap Hinana dengan menangis.


"tapi semua sudah terjadi, bisakah aku kembali lagi? tidak, maksudku tidak apakah jika aku ingin kembali lagi?" Hinana memeluk fotonya hingga akhirnya tertidur.


Keesokan harinya, bel apartemen Hinana berbunyi sehingga membangunkannya.


" ohayou Hinana." sapa Ren dengan senyum khasnya saat Hinana membuka pintu.


"kenapa kau kemari?"


"mengajakmu sarapan." dengan polosnya Ren meperlihatkan bekal makan yang di buatnya.

__ADS_1


"baiklah masuklah. Maaf jika apartemenku selalu berantakan." Hinana menyuruh Ren masuk dan menyiapkan minuman.


"Hinana ada apa dengan matamu?"


"mataku kenapa?"


"lihatlah." Ren menarik Hinana ke cermin kamar mandi.


"oh itu tidak ada apa-apa. Keluarlah aku ingin mandi."


"tidak mau, kau menyembunyikan sesuatu dariku."


"tidak ada yang ku sembunyikan, cepatlah keluar atau aku akan memukulmu."


"tidak, katakan padaku kau kenapa?" Ren semakin mendekati Hinana dan menatapnya tajam.


Mata indah Ren selalu membuat Hinana tenang, hingga akhirnya Hinana kembali menetesakan air matanya.


"aku menangis semalam." ucap Hinana yang tidak bisa berbohong pada Ren. Namun masih saja Ren memandangnya dan mengusap air matanya.


"tidak apa-apa Hinana, kau boleh menangis sesekali jika bisa membuatmu lega." Ren berusaha menenangkan Hinana.


Hanya bersama Ren, Hinana bisa menangis dan hanya karena Ren ia menangis.


Sebelumnya baik sedih ataupun tersakiti Hinana tak pernah mengeluarkan air mata. Hanya terpendam di hatinya dan membuat sikap Hinana menjadi dingin pada siapapun.


Saat ini wajah Ren semakin dekat dengan Hinana, dan posisi Hinana pun tersudut. Ia pasrah jika saat ini Ren akan menciumnya, dan Hinana akan memulai kehidupan baru dengan Ren.


" Aww sakit." rintih Ren dan memegangi dadanya.


"kau kenapa Ren?" tanya Hinana.


"tidak apa-apa, kau mandilah Hinana. Aku tunggu di depan." Ren keluar dan menutup pintu kamar mandi Hinana. Sementara Hinana hanya menghembuskan nafas dan masuk ke bathub.


Dari balik pintu Ren masih memegangi dadanya. Sebenarnya saat itu Ren ingin mencium Hinana, tapi semakin mendekat pada Hinana semakin cepat juga jantungnya berdetak dan itu membuatnya sakit.


**************************


"selamat pagi Tsubaki." ucap Ren saat sampai di rumah Tsubaki.


"kau datang bersama Hinana? Masuklah ke atas sudah ada Emi."


"hem, ayo Hinana." ajak Ren pada Hinana dan Hinana berjalan lebih dulu.


"oh ya Ren bagaimana kedaanmu?"


"kau sudah lihat aku sudah baik. Dimana Arumi?"


" sebentar lagi datang, ini minuman khusus untukmu. Tidak ada gulanya."


"terima kasih Tsubaki, aku sangat terharu kau benar-benar sahabat terbaikku."


"ayolah kawan aku tak ingin lagi di tonjok Shota." ucap Tsubaki dan tertawa pada Ren.

__ADS_1


Kemudian mereka semua mempersiapkan peralatan untuk kerja samanya sambil menunggu Arumi.


__ADS_2