
Langit malam seakan membuat hidupnya benar-benar gelap. Bisakah pergi kebagian yang terang? Itulah yang saat ini Hinana pikirkan. Jika saja Hinana tak menyukai Yukiatsu, mungkin saja saat ini dirinya masih menyukai kota ini. Semuanya bukan salah Yukiatsu, hanya saja Hinana terlalu naif dengan perasaannya. Bahkan adiknya sendiri selalu mengatainya bodoh.
"Apa ada yang bisa ku bantu." tanya Hinana menghampiri Arimura.
"Baru saja aku akan memanggilmu. Kau bisa bereskan alat panggangnya tolong ya." Arimura membiarkan Hinana membantunya sementara ia menyiapkan hidangan di meja yang sudah ditunggu oleh teman-temannya.
"Hinana itu masih panas... " Teriak Arimura saat melihat Hinana menyentuh pemanggang dengan tangannya.
Dengan gerakan yang reflek Hinana langsung menjauhkan tangannya dan merasakan panas. Ren dan Tsubaki tentu saja menoleh kearah Hinana karena teriakan Arimura, kejadian ini sudah dua kali dirasa menimpa Hinana.
"Kau baik-baik saja? " tanya Tsubaki yang langsung menghampirinya.
"Hanya terasa panas, tapi tidak sampai melepuh. " Jawab Hinana dan membiarkan Tsubaki mengambil alih pekerjaan.
"Biar aku saja, kau pergilah obati lukamu." Dengan tangan cekatan Tsubaki membereskan semua peralatan dan membiarkan Hinana untuk pergi.
Ren menghampiri Hinana dan menanyakan apakah dirinya baik-baik saja. Melihat Hinana dengan wajah yang datar membuat Tsubaki juga khawatir, terlebih lagi Hinana juga berkelahi dengan Aoyama siang tadi.
"Ren, apakah kau punya cinta pertama? Lalu apa sekarang kau sudah melupakannya?" tanya Hinana saat Ren memberikan kompres untuk tangannya agar tidak lebam.
"Tentu saja. Bahkan sampai sekarang aku masih menyukainya." Jawab Ren dengan santai sambil membersihkan tangan Hinana.
Arimura dan Tsubaki yang berada didekatnya tentu saja bisa mendengar percakapan Hinana dan Ren. Namun mereka memilih diam tidak ingin ikut campur, dan Hinana juga hanya menanyakan pada Ren.
"Alice... " ucap Hinana perlahan. Karena yang ia tahu bahwa Ren pernah menyukai Arimura. Jika Ren mengatakan masih menyukai cinta pertamanya, apakah dia masih menyukai Arimura?
"Bukan. Baiklah sudah selesai, pastikan tetap mengompres bagian yang terasa panas. " ucap Ren kemudian berdiri.
"Hinana chan, ayo bersiap makan." Teriak Arumi dan Emi agar Hinana mendekat kearahnya.
__ADS_1
Sementara Arimura menyiapkan makanannya, meskipun Ren membantunya ia tak pernah melihat kearah wajah Arimura. Hal itu cukup baginya membuktikan jika ia bukan cinta pertama Ren.
Makan malam telah berlangsung, Tsubaki memesan wine padahal festival masih akan diadakan besok. Tapi Ren tidak mencegah, menurutnya kemewahan yang diberikan pada teman-temannya masih belum cukup sebanding dengan perjuangan membantunya.
Meskipun Hinana tidak menyukai minum, tapi kali ini dirinya terbawa suasana dan hampir setengah mabuk.
"Hinana kenapa kau banyak minum hari ini." Arumi hanya tertawa karena melihat kelakuan temannya yang menenggak wine seperti kehausan.
"Ini sungguh menyenangkan, ayo kutuangkan lagi untukmu." Dengan setengah mabuk Hinana menuangkan wine ke gelas Arumi, bahkan Hinana juga tak sadar kalau sampai tertumpah.
Emi dan Arumi hanya tertawa geli karena baru kali ini melihat Hinana yang sedang mabuk. Arumi menyerahkan gelasnya pada Tsubaki, karena dirinya tak berniat untuk mabuk malam ini.
"Heyy Arumi chan apa kau punya cinta pertama." ucap Hinana dengan melantur tapi sengaja ditanggapi oleh Arumi.
"Tentu saja, kenapa kau tanyakan itu?" Jawab Arumi dengan sedikit tertawa dan menahan tawanya.
"Apa kau masih mencintainya?."
"Aku bertemu dengannya berkali-kali, sebenarnya aku masih marah padanya. Tapi aku tak bisa menyembunyikan perasaanku, kalau sebenarnya aku masih senang melihatnya, mendengar suaranya. Meskipun itu berkali-kali akan melukaiku." Hinana melanjutkan ucapannya, Ren dan Tsubaki yang berada di dekatnya juga bisa mendengarnya.
Tsubaki juga pernah melihat Hinana yang sedang mabuk, Hinana selalu memanggil-manggil nama Yuki. Ia yakin bahwa saat ini Hinana bertemu dengan Yuki.
"Ren bilang bahwa ia juga masih menyukai cinta pertamanya, oleh karena itu kupukir aku juga sulit melupakan. Dan kupikir aku masih menyukainya." Ucap Hinana kembali sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri.
Arumi merasa genggaman tangan Hinana melemah, ia rasa saat ini Hinana sudah tertidur. Arumi melihat kearah Ren yang memang sedari tadi di depannya.
"Aku akan pergi ke Toilet, tolong jaga Hinana." Ren segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi.
"Ren... Matte (tunggu)." Panggil Arumi saat mereka sudah merasa jauh dari teman-temannya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak katakan saja? " Arumi menghampiri Ren yang berdiri. Ia tahu bahwa saudaranya menyukai Hinana.
Meskipun Arumi bukan saudara kandung, tapi Ren memperlakukannya dengan baik. Banyak orang juga yang mengira bahwa Ren dan Arumi saling menyukai karena mereka berdua sangat dekat.
"Tidak mungkin." Jawab Ren dengan menahan air matanya.
"Kenapa tak mungkin?"
"Ren, sejak awal Hinana datang ia sangat dingin dan tak berperasaan. Tapi perlahan ia berubah saat bersamamu. Aku yakin yang membuat Hinana seperti itu karena luka lamanya, dan kau berhasil menyembuhkannya. Jadi apa yang tidak mungkin? Aku juga tahu jika kau sama menyukai Hinana. " Arumi memberikan penjelasan pada Ren.
"Lalu jika aku tiba-tiba aku mati, luka seperti apa yang ku buat untuk Hinana? " Jawab Ren seketika kemudian pergi meninggalkannya.
Ucapan dari Ren serasa skak mat untuk Arumi. Ia terlupa jika saat ini saudara hanya memiliki waktu yang tidak teramat banyak. Arumi masih belum percaya akan penyakit Ren, apa jadinya hidupnya jika tidak ada Ren.
Saat Arumi sudah tidak punya kedua orangtuaa dan di asuhnya Bibinya, Ren datang bagaikan penyelamatnya. Karena Bibinya tidak baik dalam mengasuhnya, Arumi hanya dijadikan sebagai pembantu. Tapi Ren datang dan menolongnya, menjadikannya saudara. Kini air mata Arumi sudah tak bisa ditahan lagi. Memikirkannya saja ia tak ingin.
Langkah kaki kecil terdengar ditelinganya, dan seseorang memberikan sebuah sapu tangan.
"Sensei...." Gumam Arumi dengan lirih karena melihat Aoyama yang datang. Mungkin Aoyama sudah mendengar banyak saat ia berbicara pada Ren.
"Hari sudah larut, Ren harus pulang." Ucap Aoyama dengan singkat lalu memutar badan dan bersiap pergi.
"Sensei bisa menunggu Ren. Kami akan segera pulang. Setidaknya Sensei bisa makan dulu." Cegah Arumi sebelum Aoyama pergi jauh.
"Aku menunggu kalian dirumah."
"Tunggu.. Sensei... "
"Hey Arumi aku tidak menyukai pantai. Aku membencinya." Aoyama berbalik dan mengatakannya. Tak perlu menunggu balasan ia kembali pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Arumi hanya bisa berdiri mematung, ia mulai menyadari bahwa Aoyama memanggil namanya. Dan Arumi juga mulai memahami, jika Aoyama yang membenci pantai tapi berusaha datang hanya untuk Ren, lalu bagaimana dengan Ren? Yang berusaha menahan perasaannya agar Hinana tak terluka. Ia pun kembali ke tempat teman-temannya untuk mengajaknya pulang sesuai yang diperintahkan Aoyama.