
...Musim semi pertamaku,...
...Itu pertama kalinya jantungku berdebar-debar. Karena ada yang mengatakan "....kamu juga imut seperti neko (kucing)." Yah itu benar. Aku ini memang anak manis dan imut seperti kucing. (Ren Kouzumi)...
...********************...
"Konnichiwa (selamat siang). Maaf aku tidak bisa berlama-lama bersama kalian, karena aku harus mendampingi brandku ke Chiba." sapa Sawako dengan ceria. "Eh Ren?? Kau sudah sembuh?" Sawako terkejut saat melihat Ren dengan wajah ceria duduk di sofa bersama Tsubaki.
"Konnichiwa, lama tidak bertemu nona Sawako. Terimakasih karena setia membantuku dan teamku di festival ini." Sapa Ren dengan ramah.
" Tidak masalah, senang melihatmu bisa kembali lagi. Baiklah aku mulai menjelaskan."
"Hum, dozo (silahkan)." Ren menyuruh Sawako untuk duduk kemudian menjelaskan tentang tahapan selanjutnya. Semua orang pun sangat antusias mendengarkan bahkan tak jarang ada menanyakan pertanyaan konyol pada Sawako.
"Bagaimana dengan modelnya? Apa kalian sudah menyiapkannya?" Sawako mengajukan pertanyaan.
"Hey kau tak lihat gadis di depanku? Bukankah dia sangat berbakat?" jawab Tsubaki seraya memandang kearah Hinana.
"Kau pikir aku akan mengiyakan pendapatmu." ucap Hinana dengan sinis.
"Kenapa tidak? Hinana bukankah kau sangat paham tentang berjalan di panggung. Kau juga sering menjadi model untuk brand-brand ternama." sahut Arumi dan menepuk bahu Hinana.
Mereka semua setuju jika Hinana yang memperagakan gaun musim panas itu. Tapi Hinana hanya terdiam, ia bimbang dengan pikirannya sendiri. Ia belum siap.
"Jangan terlalu mendesak Hinana, kita dengarkan bagaimana pendapat Hinana apa dia setuju?"
Ren mengerti tentang perasaan Hinana, ia kemudian angkat bicara agar tak menyudutkan posisi Hinana.
"Ne, Hinana. Bagaimana menurutmu?" tanya Ren dengan lembut.
"Mustahil jika aku mau." jawab Hinana dengan sinis, kemudian ia bergegas keluar dari ruangan.
"Hinana, kau mau kemana? Aku belum selesai." cegah Sawako.
"Aku ke kamar mandi. Maaf Sawako, kau sedang terburu-buru jadi lanjutkan saja." jawab Hinana lalu pergi.
"Nampaknya Hinana masih belum bisa move on." gumam Emi.
"Aku merasa kasihan padanya, semoga dia baik-baik saja." balas Arumi.
"Nona Sawako bisa kau lanjutkan? Tentang model aku punya kenalan jadi tidak usah khawatir." Ren kembali bersuara.
"Ahh kau benar, kita masih punya Alice." tebak Tsubaki.
__ADS_1
"Iya iya, pas banget deh." seru Arumi.
"Okey, jadi kita bahas selanjutnya." ucap Sawako melanjutkan penjelasannya. Tak lama saat Sawako menjelaskan tiba-tiba Ariko datang.
"Sumimasen (permisi), ada yang mencari Hinana di loby." ucap Ariko sembari mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya Ren.
"Tuan Miura katanya dari Tokyo, hanya itu yang di katakan resepsionis padaku." Jawab Ariko.
"Hinana sedang di kamar mandi, akan kuberitahu padanya. Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu." balas Emi dan Ariko menuruti perintah seniornya.
Setelah lama menunggu akhirnya Hinana turun menuju loby untuk menemui seseorang
"Kenapa kau kemari?" ucap Hinana agak berbisik.
"Eh, kau sangat tidak sopan sekali. Jauh-jauh ayah kemari tapi kau tak menyambut."jawab ayah Hinana dengan kesal.
"Bukankah anda Miura-san dari perusahaan Hitachi?" Jouji tiba-tiba mengagetkan Hinana dan ayahnya.
"Eh, maaf apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Miura ayah Hinana pada Jouji.
"Aku Jouji Koizumi sebelumnya tuan pernah membantuku menyelesaikan rumahku."
"Eh, maaf aku baru teringat. Panggil saja aku Aoi, senang bisa berteman anda lagi." Ucap ayah Hinana dengan ramah.
"Hinana adalah...." agak ragu Aoi mengatakan karena ia di tatap tajam dengan putrinya. "Hinana juga rekan kerja terbaikku dulu." jawab Aoi pada akhirnya.
"Baiklah maaf mengganggu kalian, silahkan lanjutkan." Jouji membungkukkan badan dan berpamitan dengan ayah Hinana.
Setelah kepergian Jouji barulah Hinana menggandeng tangan ayahnya dan mengajak bicara di luar kantor.
"Dari mana otousan (ayah) bisa tahu tempat kerjaku. Harusnya ngabarin dulu kalo mau kemari." ucap Hinana kesal.
"Eh.. Nampaknya kau sangat malu menjadi anakku."
"Sudah kukatakan padamu, aku ingin berdiri dengan namaku sendiri. Semua orang sudah banyak yang tahu siapa otousan (ayah). Aku tak mau orang lain mengenalku karena ayah ataupun ibu."
"Wakatta (aku mengerti), kalau seperti itu kau sangat mirip denganku." Aoi mengusap lembut kepala putrinya yang sifatnya sangat mirip dengannya.
"Jadi apa yang membawa ayah kemari?" akhirnya muncul pertanyaan dari Hinana.
"Dasar anak bandel, tentu saja ayah dan ibu merindukanmu. Kapan kau kembali ke Tokyo?"
__ADS_1
"Tak lama lagi aku akan ke Tokyo tapi bukan untuk pulang. Aku kesana untuk pekerjaan, jadi bantu aku."
"Emm syukurlah, oh ya Hinana sebenarnya ada yang ingin ayah sampaikan. Mengenai Aoyama, kakaknya datang menemui ibumu. Ayahnya mengalami kecelakaan dan ingin bertemu dengan Aoyama. Tapi ayah ragu untuk mengatakan padanya, karena kurasa hidupnya sudah mulai membaik." ucap Ayah Hinana.
"Apakah ayah sudah bertemu dengan Aoyama?"
"iya, dia juga yang memberitahu alamat kantormu."
"Otousan (ayah). Selama aku bertemu dengan Aoyama disini dia sudah banyak berubah, bahkan Aoyama sudah punya pacar. Jadi kurasa aku setuju denganmu, biarlah Aoyama hidup dengan baik." Ungkap Hinana dan teringat masalalu Aoyama yang menyedihkan.
"Baiklah."
"Bisakah ayah pergi dari sini? Aku harus bekerja sekarang." ucap Hinana mengusir ayahnya.
"Ehh jahat sekali kau pada ayahmu. Baiklah, tapi ajak ayah makan siang. Ayah akan berada di apartemen Aoyama."
"Iterashai (hati-hati dijalan)." Hinana melambaikan tangan.
"Itekimasu (aku pergi)."
Setelah kepergian ayahnya, Hinana kembali ke kantor dan mendapati Sawako sudah beres-beres untuk pulang.
"Maaf tidak bisa mendengar penjelasanmu." ucap Hinana pada Sawako.
" Tidak apa, lagi pula aku juga tidak bisa terlalu lama. Ganbatte Hinana chan." Sawako memberi semangat sebelum pergi. Karena ia tidak bisa mendapingi hingga ke Tokyo.
"Terimakasih untuk kerjasama selama ini, kau sangat baik padaku."
"Tentu saja, aku tunggu hasilnya. Jaa ne." Sawako melambaikan tangannya sebelum pergi dan semuanya ikut membalas.
"Ren." Hinana memanggil Ren yang berjalan keluar.
"Ada apa?"
"Kau mau kemana? Semua sudah selesai, bukankah kau harus kembali ke rumah sakit?" ucap Hinana dan sontak membuat Tsubaki terkejut.
"Kau kabur dari rumah sakit?" tanya Tsubaki.
"Kau lihat saja, Ren masih memakai gelang dari rumah sakit itu." sindir Hinana dan Tsubaki langsung mengangkat tangan Ren untuk memastikan.
"Nekat banget sih. Ayo ku antar kau kembali." Tsubaki merada khawatir dan ingin mengembalikan Ren ke rumah sakit.
"Hey tak perlu menarikku, aku masih belum ingin kembali. Pulanglah, jangan khawatirkan aku."
__ADS_1
"Bakane (bodohnya). Sampai kapan sih kau terus berbuat seperti itu. Kami semua mengkhawatirkanmu bahkan Hinana sampai rela setiap pagi mengunjungimu. Dia selalu melaporkan kondisimu pada kami. Bisakah kau berpikir yang lebih jernih, jangan lakukan hal yang sembrono." umpat Tsubaki yang merasa kesal karena perbuatan Ren.
Ren tak bisa membalas perkataan Tsubaki, ia memilih diam karena memang yang dia lakukan bersalah. Emi dan Arumi juga terkejut saat tahu kalau Ren sebenarnya kabur dari rumah sakit.