
"Kenapa masih kau bahas, semua itu sudahlah berakhir." Emi yang merasa tak tertarik pembicaraan keduanya langsung beralih ke meja kerjanya.
"Sepertinya aku dan Hinana punya pikiran yang sama, kenapa kita tak mengulang. Membuat design dan baju yang baru." Tsubaki menjelaskan apa yang di maksud.
"Dengan waktu yang sedikit mana mungkin." Sahut Emi dengan cepat.
"Aku juga mengerti sih, tapi kenapa kita tak mencobanya saja. Kan hanya Review, soal penilainya masih dua bulan lagi."
"Cukup hentikan, lalu bagaimana dengan Arumi, dan Ren? Apakah kalian tahu bagaimana perasaannya sekarang? Bahkan Arumi tidak bisa lagi di hubungi, dia juga mengundurkankan diri setelah itu." Emi tampak binggung dan mengernyitkan dahinya, tampak kekhawatiran menghiasi wajahnya. Meskipun Emi sering berselisih dengan Arumi tapi ia tetap mengkhawatirkan keadaan temannya.
"Gomennasai." Ucap Hinana dengan menunduk.
"Sudahlah Hinana tak perlu minta maaf, lagian semua ini bukan salahmu."
"Tidak, aku bersalah atas semua yang terjadi."
"Kenapa kau menyalahkan dirimu?" Tanya Tsubaki pada Hinana.
"Kalau saja aku tidak keluar begitu saja, mungkin aku juga merasakan kekecewaan yang kalian rasakan. Dan mungkin aku juga tak seenaknya mengatakan untuk membuat yang baru. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Hinana dengan penuh penyesalan.
"Sudahlah Hinana, yang di katakan Emi benar. Semua ini bukan salahmu, malah Ren mengatakan harusnya kita lebih menghargai keputusan Hinana. Bagaimanapun juga kau sudah membantu sekuat tenaga meskipun membuatmu terluka." Tsubaki segera menenangkan Hinana.
"Benarkah Ren mengatakan begitu?"
"Iya, Ren bilang bahwa kita terlalu jahat padamu. Kami membiarkan mu tetap membantu sedangkan perasaanmu sedang terluka. Kau pasti punya impian sendiri tapi kita tak bisa membantu." lanjut Tsubaki.
"Bagaimana dengan kalian?"
"Hinana, semuanya pasti ada keberhasilan dan juga kegagalan. Anggap saja ini kegagalan kami, memang di awal pasti berat bahkan tidak ingin menerimanya. Tapi perlahan kesakitan itu memudar, Daijoubu." Emi menghampiri Hinana dan memeluknya seakan mengatakan pada Hinana bahwa semua baik-baik saja.
"Hem benar, kami juga sudah bisa merelakan." Ucap Tsubaki dengan senyumnya dan berusaha menenangkan Hinana.
"Pagi-pagi sekali kalian sudah berpelukan. Apakah aku melewatkan satu hal." Ucap Ariko yang baru datang melihat Emi dan Hinana sedang berpelukan.
"Tidak biasanya kau datang di akhir." balas Tsubaki.
"Aku mensurvei taman yang di rekomendasikan Hinana, dan aku baru saja menyebar pamlet (brosur) di sana."
__ADS_1
"God job Ariko san." Hinana memuji kerjaan Ariko.
"Hem kerja bagus Ariko. Baiklah kita mulai pekerjaannya kita, karena tiap hari harus ada yang kita makan." Puji Emi dan melanjutkan pekerjaannya.
Seperti biasa saat jam makan siang Hinana menuju ke rooftop, disana ia sudah melihat Ren dengan kanvas di depan laki-laki itu.
"Apa yang kau lukis." Tanya Hinana dan menghampiri Ren.
"Entahlah, hanya menghabiskan waktu saja." Jawaban dari Ren membuat Hinana menyadari penyakit Ren. Ia pun terdiam hanya memandangi Ren yang sedang melukis. "Doshite? (kenapa?), sudah ku katakan jika aku benci kau lihat seperti itu." Ren menghentikan aktivitasnya dan berbalik menghadap Hinana.
"Apa kau mau ku lukis?" tanya Ren dan menepuk kepala Hinana dengan lembut. Melihat Hinana hanya terdiam membuat Ren kembali lagi mencoretkan kuas ke kanvasnya.
"Anoo... Bagaimana jika kita mengulang lagi. Emm maksudku Tokyo Summer, bukankah masih ada waktu, itu kan hanya review saja aku rasa dua bulan kita bisa menyelesaikannya." ucap Hinana menjelaskan apa maksudnya.
"Sudahlah Hinana lagi pula aku sudah melupakannya."
"Jadi kau menerima kekalahanmu begitu saja?."
"Bukankah sudah terlihat jelas, lagi pula aku juga tidak berharap menang. Aku hanya mencoba saja."
"Hey bukan mencoba namanya jika kau berhenti di tengah jalan."
"I-itu..I-tu.." Hinana memundurkan langkahnya karena merasa Ren mengintimidasinya. Laki-laki itu semakn mendekatinya hingga Hinana tepojok di sudut. Ia bahkan bisa mencium aroma Ren yang merasa membuatnya nyaman.
"Lihatlah bahkan kau sendiri tak bisa menjawabnya." Ucap Ren dengan lembut dan hal itu membuat detak jantung Hinana berdegub kencang.
"Aku akan memulainya tanpa kau." Teriak Hinana dan sedikit mendorong tubuh Ren yang dari tadi memojokkannya.
"HAH."
"Aku akan membawa nama Koizumi ke Tokyo Summer."Hinana mempertegas ucapannya.
"Bagaimana kalau gagal untuk kedua kalinya?" Tanya Ren dan memijat pelipisnya yang tidak pusing.
"Tidak ada kata gagal kalau kita belum memulainya, jadi Ren apakah kau mau bergabung denganku?" Hinana mengulurkan tangan untuk Ren, ia juga berharap jika Ren mau kembali memperbaiki semuanya.
"Aku tidak punya waktu itu, lagi pula aku harus sering ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Jadi lupakanlah." Ren tak membalas uluran tangan Hinana. Ia langsung pergi berlalu meninggalkan Hinana.
__ADS_1
Sementara Hinana masih berdiri mematung, ia melihat tangannya yang tak mendapatkan balasan. Baru kali ini ia di abaikan, Hinana pun tersenyum dan memulai tekadnya kembali. Ia segera memakan bento dengan chiken katsu yang di belinya.
Hinana kembali ke pekerjaannya, dalam tekadnya ia masih berencana mengajak teman-temannya kembali ke tujuan.
"Hinana, aku terkejut saat resepsionis meneleponku mengatakan kau mencariku. Ada apa?" Sawako menghampiri Hinana yang menunggunya di kursi lobi.
"Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan, ini tentang festival itu. I-itu bagaimana kalau melajutkannya, team kita akan buat design baru dan gaun baru. Apakah masih bisa?" tanya Hinana dengan penuh harap dan Sawako menautkan senyumnya sembari memandang Hinana.
"Sebenarnya aku juga ingin kalian kembali lagi, aku senang saat kau mengatakan hal itu."
"Eh, Hountoni? (benarkah?)".
"Em, Hinana sebelumnya team ku juga pernah seperti itu. Tapi saat itu juga seniorku langsung mengubah konsepnya. Jika kalian bersungguh-sungguh maka sebesar apapun halangannya pasti kalian akan dapat menempuhnya." Sawako juga ikut memberi Hinana semangat.
"Yosh baiklah, aku akan memulainya kembali."
"Ganbatte yo Hinana san." Sawako memberikan semangat dan meminum secangkir tehnya.
"Tapi apakah Sawako bisa membantuku?."
"Tentu saja Hinana, bukankah kita teman. Tapi Hinana sepertinya jika hanya lima orang tidak akan bisa, kau harus menambah orang lagi."
"Eh, tapi aturannya kan lima orang."
"Memang benar tapi waktu kita tidaklah banyak. Setidaknya pembuatannya di kerjakan dengan tangan dan bukan dari orang konveksi."
"Begitukah, baiklah akan ku pikirkan baik-baik." ucap Hinana dan meminum secangkir teh yang di berikan oleh Sawako.
Malam harinya setelah mengunjungi Sawako dari kantornya, Hinana langsung menyiapkan keperluan. Ia juga akan meminta izin dari Jouji ayah Ren.
Pagi telah menyapa, kali ini Hinana bergegas keluar dari apartemennya menggunakan mobil. Ia sudah berjanji untuk bertemu Jouji ayah Ren di kantor.
"Bagaimana jika kali ini tidak berhasil lagi." Ucap Jouji dengan sedikit ragu.
"Bukankah lebih baik di coba dulu. Menurutku jika mengharapkan menang tentu saja sulit, bukankah dulu yang Ren inginkan hanya partisipasi." Jelas Hinana.
"Kau benar, memang tidak ada harapan untuk menang. Tapi Hinana kau tahu bagaimana keadaan Ren, jika ia bekerja terlalu keras akan mempengaruhi kondisinya."
__ADS_1
"Akan ku pastikan Ren tidak terlalu lelah, aku berjanji."
"Sokka (oh begitu), semuanya ku serahkan padamu." Jouji menarik senyumnya dan mulai memberikan kesempatan itu pada Hinana.