
Keesokan harinya Hinana terbangun dan mulai menuju ruang makan. Hidungnya mencium aroma roti bakar buatan ibunya.
"Emm kelihatannya enak." ucap Hinana pada ibunya.
"Kau sudah bangun? Cuci dulu wajahmu lalu kita makan bersama."
"Tidak mau, aku sudah lapar Okaasan." rengek Hinana namun ibunya tetep saja menariknya.
" Ayolah, setidaknya gosoklah gigimu." ucap Larisa, tiba-tiba Hinana memeluk ibunya karena merasa sangat merindukannya. "Eh doshite (ada apa)?"
"Tidak ada apa-apa." jawab Hinana namun masih memeluk erat ibunya. " Apa ibu akan berangkat bekerja?"
"Tentu saja."
"Cutilah sehari saja."
"Eh, seenaknya saja kau bicara."
"Okaasan akan menyesal jika tidak menuruti ucapanku, seseorang yang kau tunggu sudah ada di Tokyo." Tanpa memperdulikan ibunya, Hinana langsung duduk di kursi dan menuangkan susu di gelasnya.
"Siapa yang kau maksud? Hinana bukankah ibu menyuruhmu untuk cuci muka?" Dengan sedikit kesal Larisa kembali menyuruh Hinana untuk mencuci mukanya.
"Nanti saja bu, Itadakimasu (selamat makan)."
Larisa yang tak ingin ribut di pagi hari akhirnya membiarkan Hinana untuk makan. Karena Ryusei sendiri sudah datang di meja makan.
"Ohayou. (selamat pagi)." sapa Ryusei dengan pakaian kerja yang sudah rapi.
"Ohayou, ayo kita makan bersama." ajak Larisa kepada kedua anaknya.
"Ohayou oniichan."
"Eh dimana Otousan? Kenapa dia tak ikut sarapan?" tanya Hinana sambil menoleh mencari keberadaan ayahnya. Dan lagi-lagi Ia tidak memperdulikan adik laki-lakinya.
"Otousan masih berada di Kuriyama." Jawab Ryusei dan mengoleskan slai jeruk pada roti milik Hinana.
"Sudah kuduga pasti ia akan kesana." gumam Hinana dan memakan roti miliknya.
Sepuluh menit berlalu mereka bertiga menikmati sarapan bersama, meskipun Hinana masih tidak memperdulikan keberadaan adiknya.
"Sepertinya mereka sudah datang." Hinana langsung keluar saat mendengar bel berbunyi.
__ADS_1
Sesuai dengan tebakannya Ren dan yang lainnya telah berada di depan.
"Arimura kau juga datang?"
"I miss you Hinana." Arimura memeluk Hinana dengan pelukan hangat.
"Baiklah ayo masuk dulu, ibuku sudah menunggu kalian."
Saat Ren dan lainnya hendak masuk, mereka bersimpangan dengan Ryusei yang akan berangkat kerja.
"Genki desuka? (apa kabar)." sapa Aoyama saat bertatapan.
"Hum." jawab Ryusei dan mengulas senyum kemudian pergi berlalu.
"Hinana, siapa dia?" bisik Arumi yang terpesona saat melihat.
"Adik laki-lakiku, tapi dia sudah punya pacar." jawab Hinana dengan menggoda Arumi dan tertawa kecil.
Sementara Ren hanya melihatnya sekilas karena sudah mengetahuinya waktu bersama Hinana.
Larisa menyambut kedatangan teman-teman Hinana, terutama Aoyama yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri. Karena Larisa ingin berbicara dengan Aoyama, akhirnya Hinana mengajak teman-temannya untuk berkeliling dihalaman.
"Tidak juga, semua tanaman disini ayahku yang menanamnya."
"Sepertinya tuan Miura sangat berhati lembut."
"Kenapa begitu?" tanya Hinana penasaran dengan apa yang dikatakan Ren.
"Seorang laki-laki jika menyukai bunga maka ada kelembutan di hatinya." Jawab Ren lalu berjalan mendahului Hinana.
"Lalu apakah Ren juga menyukai bunga?" tanya Hinana dengan berlari kecil mengejar Ren.
"Tidak." Ren menjawab dengan tertawa kecil pada Hinana.
"Ayahku menanam bunga krisan karena dia sangat menyayangi saudaranya, tapi aku membencinya karena ayahku pasti akan pergi menemuinya. Ren lihatlah disana ada pohon maple, ayahku bilang jika dia sangat menyukai daunya. Bunga sakura disebelah sana, ayahku mengatakan bahwa dia sangat mencintai ibuku." Hinana berlarian kecil di depan Ren dan menceritakan. Mengapa ayahnya menanam tanaman tiga musim.
Bunga sakura ia akan mekar saat musim semi dan bunganya sangat indah, banyak orang yang menatikannya. Pohon maple akan terlihat indah saat daunnya bewarna merah, filosofinya melambangkan kesetiaan dan keberanian. Daunnya yang berguguran di musim dingin/gugur membuatnya indah. Dan bunga krisan melambangkan kebahagiaan.
"Dari ketiganya manakah yang Hinana sukai?" tanya Ren tapi seketika senyum Hinana langsung memudar.
"Tidak ada." jawab Hinana
__ADS_1
"Sudah kuduga, Hinana chan menyukai salju. Benarkan? Tapi hanya ada satu bunga yang berhasil mekar di musim dingin."
"Apa?"
"Yuki no hana (bunga salju)." Jawab Ren dengan tersenyum lalu berjalan mendahului Hinana.
Hinana menoleh dan melihat punggung Ren yang perlahan menjauh darinya. Lalu ia meraih tangan Ren dan mencegahnya berjalan.
"Ada apa?"
"Setelah festival itu selesai,
Apa kau benar-benar akan mati?"
Ren melihat ada butiran kristal yang berada di kedua mata Hinana. Jika satu kata yang tidak tepat terucap dari mulutnya, maka kristal itu akan pecah dan mengalir di pipi Hinana.
Ren memilih diam dan memeluk Hinana, ia mengusap rambut Hinana dengan lembut. Jika saat ini Hinana sedang menangis, setidaknya air matanya akan menetes di baju miliknya bukan di pipi Hinana, itulah yang saat ini Ren pikirkan.
Sebenarnya Hinana tak ingin mengatakan hal itu, hanya saja ia sempat mendengar percakapan Ren dengan Shota jika festival itu adalah permintaan terakhirnya.
Dari jendela Aoyama tak sengaja melihat keduanya berpelukan. Entah apa yang terjadi ia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi Aoyama yakin bahwa Hinana saat ini merasa nyaman bersama dengan Ren.
"Siapa pemuda itu? Apakah pacar baru Hinana." Suara Larisa membuat Aoyama terkejut.
"Koizumi Ren, entahlah bibi bisa tanyakan sendiri padanya." Jawab Aoyama lalu meminum teh buatan bibinya.
"Akhirnya Hinana bisa menemukan orang yang baru dan melupakan Yukiatsu. Ku harap Koizumi adalah orang yang baik. Bagaimana denganmu, apakah Aoyama sudah menemukan pengganti Sakura?"
Pertanyaan Larisa membuat Aoyama tersedak karena terkejut.
"Soal itu aku sama sekali tidak memikirkannya, aku hanya berfokus pada karirku." Jawab Aoyama dan membersihkan mulutnya.
"Kurasa salah satu temannya Hinana ada yang tertarik padamu." ucap Larisa dengan bercanda.
"Obasan (bibi) apa yang kamu katakan, jangan bercanda seperti itu padaku."
"Ayolah... Aku hanya ingin ketiga anak-anakku memiliki kisah cinta yang indah. Sudahlah aku harus menjawab telepon dari pamanmu." Larisa berlalu pergi saat mendapat telepon dari suaminya.
Sementara Aoyama menghabiskan teh buatan bibinya dengan masih memandangi Ren dan Hinana.
"Hinana chan apa kau bahagia saat ini? Aku tak bisa menyuruhmu untuk tidak mencintainya. Tapi aku juga tidak bisa membuat air matamu berhenti mengalir." gumam Aoyama yang masih memandangi keduanya.
__ADS_1