Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
115 First date


__ADS_3

Pagi cerah di musim panas dan Hinana sudah mencium bau kopi buatan ayahnya yang menyegarkan.


"Ohayou. (selamat pagi)." Sapa Hinana kepada ayahnya yang sedang duduk dengan membaca koran.


"Ohayou, Ayah dengar kau mulai dengan pekerjaanmu yang lama lagi." Aoi melipat koran yang ia baca dan melipat kedua tangannya ke depan untuk berbicara dengan putrinya.


"Pekerjaan baru, aku akan mengikuti Audisi senin depan. " Jawab Hinana dan meminum secangkir buatan ayahnya.


"Tunggu sebentar, kau bisa buat sendirikan." Aoi gagal mencegah mulut Hinana yang langsung saja menyeruput kopinya. Ia hanya menggelengkan kepala karena mengingat kelakuan putrinya masih sama tidak ada yang berubah.


"Dimana Ryusei? " Hinana menanyakan adiknya, karena suasa rumah sangat tenang. Biasanya jika Ryusei selalu menyanyi tidak jelas saat pagi hari.


"Sudah berangkat kerja. Hinana, ayah akan menjadikan adikmu ketua direktur apa kau tidak masalah? " tanya Ayahnya yang sedang membahas bisnis.


"Kenapa otousan (ayah) bertanya padaku, lakukanlah jika menurut ayah bagus. Aku sama sekali tidak tertarik pada perusahaan milik ayah. " ucap Hinana lalu pergi ke kamar mandi.


Hinana terlihat sibuk memilih sebuah baju. Hari ini merupakan pertama kalinya ia akan berkencan dengan Ren. Entah kenapa Hinana merasa gugup.


"Woah.... Itai (sakit). " Hinana terjatuh dan kepalanya terbentur di tembok.


"Sejak kapan kau berada disitu" Ucap Hinana dan masih meringkih kesakitan. Ia terkejut saat Aoyama tiba-tiba berdiri di depan kamar Hinana yang tak tertutup.


"Kenapa kau salah tingkah." Aoyama tertawa kecil kemudian masuk ke kamar Hinana dan mainkan pianonya.


"Hey siapa yang menyuruhmu masuk, pergilah..!!!" Hinana mencoba menyeret Aoyama untuk keluar dari kamarnya tapi tak berhasil sama sekali entah kali ini dirinya yang lemah atau Aoyama yang terlalu kuat.


"Baiklah. Apa kau akan kencan dengan Ren?"


Pertanyaan dari Aoyama semakin membuat Hinana malu hingga pipinya mulai memerah.


"Kau tahu dari mana? " tanya Hinana dengan malu-malu. Kemudian Aoyama menunjuk pada lemari Hinana yang terbuka lebar dan beberapa baju yang berserakan di tempat tidurnya.


"Hinana, kau tau apa yang membuat Ren menyukaimu?" Perlahan Aoyama mendekat kearah pakaian Hinana yang berserakan kemudian merapikannya di lemari.


"Ren menyukaimu apapun yang ada pada dirimu, jadilah dirimu sendiri." Ucap Aoyama sekali lagi.


Hinana merasa malu karena Aoyama berhasil menebaknya dengan benar. Ia segera menyeret Aoyama untuk keluar.


"Urusi saja urusanmu sendiri." Teriak Hinana dan menutup pintunya.


Aoyama hanya tertawa karena melihat tingkah Hinana.


"Kau benar-benar tumbuh dewasa dengan baik." Gumam Aoyama kemudian pergi dari kamar Hinana.

__ADS_1


Sebenarnya tujuan Aoyama adalah menemui Bibi Larisa yaitu ibunya Hinana. Tapi langkahnya terhenti saat melihatnya Hinana yang sedang sibuk memilih baju. Aoyama juga melihat Ren yang sibuk memilih baju, maka dari itu Aoyama menebak jika mereka berdua akan berkencan.


Akhirnya Hinana memakai midi dress bewarna biru yang dulu pernah ia beli tapi belum pernah dipakai sama sekali. Hinana akan mengajak Ren untuk pergi ke Sumida melihat pinguin dan berkunjung ke musim.


"Hinana... " Panggil Ren saat melihat Hinana yang berdiri di sebelah jembatan.


Hinana tersenyum kemudian menghampiri Ren begitu juga dengan Ren.


"Pergi kemana dulu?" Tanya Ren yang sedikit canggung. Entah kenapa setelah menyatakan perasaannya pada Hinana ia malah sangat canggung saat dekat dengan Hinana.


"Melihat pinguin." Jawab Hinana.


"Sepertinya menyenangkan, baiklah ayo." Ren menerima jawaban Hinana kemudian ia mengajak Hinana menuju tempatnya.


"Tunggu sebentar, ada sesuatu dibelakang rambutmu." Ren mendekat kearah Hinana dan melihat ada sesuatu yang terselip di rambut Hinana. Ren mengambil ternyata baju Hinana masih baru dan merknya belum terlepas.


"Bberikan padaku." Hinana merasa malu dan segera merampas kertas itu dari Ren. Ia menutup wajahnya dengan tasnya kemudian berlari masuk kedalam aquarium.


"Hinana tunggu." Teriak Ren dan berjalan cepat mengikuti Hinana.


Aquarium besar terdapat berbagai jenis biota laut. Ren mengajak Hinana berfoto dan memberi makan pinguin saat berada di luar aquarium.


"Mereka sangat lucu." ucap Hinana dengan senang saat memberi makan pinguin.


"Benar sekali."


"Aku tak akan pakai ini lagi."


"Eh kenapa? Kau marah? " tanya Hinana masih sambil menertawakan Ren. Saat Ren mengerucutkan bibirnya bagi Hinana Ren seperti anak kecil saja.


Mereka akhirinya pergi ke museum dan melanjutkan perjalanannya ke taman.


"Bunga sakuranya sudah berakhir." Ren menunjuk ke arah pohon bunga sakura yang hanya tumbuh daunya saja.


Hinana tiba-tiba teringat saat itu ia pernah mengajak Ren melihat bunga sakura sebelum menyuruh Ren kembali ke rumah sakit.


"Apa Ren menyukai bunga sakura? " tanya Ren seketika.


"Hum, meraka berwarna merah muda." Jawab Ren dan tersenyum kearah Hinana.


Perlahan Ren mendekat kearah Hinana, melihat wajah muram kekasihnya ia tahu bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Hinana.


"Hinana chan tidak menyukai bunga sakura." Tanya Ren.

__ADS_1


"Tidak juga, aku lebih menyukai bunga salju daripada sakura. Musim semiku pernah berakhir saat itu... " ucap Hinana menggantung.


Entah kenapa dirinya masih belum bisa melupakan kenangan pahitnya tahun lalu. Harusnya saat ini dirinya bahagia karena sudah bersama orang yang dicintainya.


"Hinana chan pejamkan matamu."


Hinana terkejut saat Ren menyuruhnya menutup matanya, apakah Ren akan


menciumnya.


Tidak...! Aku belum siap untuk seajuh itu.


"U-untuk apa? "tanya Hinana dengan gugup.


"Sudahlah pejamkan saja matamu." ucap Reb sekali lagi.


Dengan ragu Hinana mencoba menuruti apa yang dikatakan oleh Ren. Jantungnya berdetak sangat kencang, ia mencoba menyiapkan dirinya. Bagaimanapun juga suasan ini terasa canggung untuk Hinana.


"Aku akan menghapus kenangan buruk Hinana chan." Ren mengacak- acak rambut Hinana dengan pelan.


"Mulai hari ini, yang Hinana ingat adalah ingatan yang indah tentang musim semi." ucap Ren sekali lagi.


"Ehhhh." Perlahan Hinana membuka matanya dan melihat laki-laki yang dicintainya sudah tersenyum kepadanya.


"Hinana chan, musim semi tidak bersalah. Jadi jangan membencinya." Ren memegang pipi Hinama dan tersenyum kepadanya.


"Ayo kita pulang, waktu hampir malam." Ajak Ren dan berjalan lebih dulu dari Hinana.


Hinana masih terdiam di tempatnya, ia menutupi wajahnya. Saat Ren menyuruhnya untuk memejamkan mata, Hinana pikir Ren akan menciumnya. Dan kenyataan tidak, hal itu membuat Hinana malu dan merasa naif pada dirinya sendiri.


Hinana pergi mengikuti langkah kaki Ren. Hari sudah berganti malam, siluet warna matahari terasa indah di kota ini. Sebenarnya Hinana ingin bergandengan tangan dengan Ren, tapi itu hanya keinginan Hinana semata. Ren berjalan di sampingnya saja sudah membuat Hinana bahagia.


"Ehh... " Hinana terkejut saat Ren tiba-tiba meraih tangannya dan menggandengnya. Apakah gerak geriknya ini sangat mudah ditebak.


"Ayo berjalan dengan bergandengan tangan." ucap Ren dan Hinana mengangguk dengan tersenyum senang. Baru kali ini Hinana merasakan hatinya berbunga-bunga walaupun hanya bergandengan tangan.


"Hinana chan, katakan saja jika kau menginginkan sesuatu." suara Ren terdengar lembut di telinga Hinana.


"Sejujurnya aku merasa gugup.... "


"Tidak apa, aku akan datang di acara audisimu. Arumi juga, Emi juga dan Aoyama, kami semua akan mendukung Hinana. Berjuanglah." Ren memberikan semangat untuk Hinana. Sebenarnya bukan itu yang ingin Hinana katakan.


Hinana merasa gugup saat bersama Ren untuk saat ini, jauh sebelum saat mereka belum berpacaran.

__ADS_1


"Masuklah." ucap Ren menyuruh Hinana untuk masuk ke rumahnya.


"Sepertinya aku tepat waktu." Suara Aoyama terdengar tiba-tiba dan sudah berada di pinggir gerbang.


__ADS_2