
Mendapatkan dukungan dari Jouji tekad Hinana semakit bulat. Kini Hinana yang dulu telah kembali, Hinana yang selalu optimis dan penuh semangat. Ia pun optimis jika bisa menyelesaikan gaun itu sebelum festival itu di tampilkan.
Ia menemui Emi dan Tsubaki mengajaknya untuk melanjutkan festival itu. Hinana juga menceritakan kondisi Ren dan semuanya tanpak terlihat raut kesediaan. Mereka semua tidak percaya bahwa hidup yang dialami Ren cukup sulit dan dia menyembunyikan semuanya.
"Tapi Hinana, bagaimana dengan Arumi? Tidak mudah untuk mengajak Arumi kembali." ucap Emi.
"Soal itu aku akan melakukannya, percayalah padaku. Kalian hanya harus mengerjakan semua dari awal." jawab Hinana kemudian memberikan selembar kertas design untuk Emi. "Menurutku kita bisa memakai design punya Ren, bagaimana menurutn kalian?"
"Kurasa itu bagus, terkesan simpel dan tidak memakai waktu yang lama." balas Tsubaki dan mengambil kertas itu.
"Ingat tujuan utama kita bukan untuk kemenangan. Jika nantinya kita kalah, setidaknya kita sudah pernah mengikuti festival ini. Karena tidak semua brand bisa terpilih."
"Wakatta aku setuju denganmu. Oke, nanti saat jam istirahat aku dan Emi akan ke toko kain." ucap Tsubaki.
"Teman-teman, Arigatou goizaimasu." Hinana menunduk mengucapkan rasa terimakasih yang teramat dalam.
"Arigatou ne Hinana, seharusnya aku yang mengucapkan. Kau berhasil membuat ku memperoleh kepercayaan diri lagi." Emi kemudian memeluk Hinana begitu juga dengan Tsubaki.
"Entah mengapa sekarang perasaanku begitu hangat. Berada di sekeliling mereka membuatku berpikir.
Kebahagiaan itu bukanlah malam yang di penuhi bintang.
Atau pagi menyilaukan yang terus berulang.
Kebahagiaan adalah memayungi orang yang kau cinta saat mereka kehujanan.
Saat ini bersama dengan mereka sudah cukup membuatku tersenyum. Melihat mereka kembali tertawa membuatku terhanyut dalam kehidupan mereka."
"Baiklah nanti sepulang kerja aku akan mengunjungi Arumi." Ucap Hinana.
"Kenapa tak sekarang saja." Suara Jouji mengejutkan mereka bertiga. Entah sudah berapa lama dia ada di sana.
"Jouji san, sejak kapan anda disini." Hinana terkejut dan langsung melempar pertanyaan.
"Emm tidak akan ku ceritakan. Kalau kau ingin ke tempat Arumi pergilah, dia ada di kedai ramen saat ini." Jouji memberikan selembar leafleat tempat Arumi bekerja.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Jangan khawatirkan, seperti biasa aku akan menghadle." Ariko muncul setelah bersembunyi di balik punggung atasannya.
"Ariko san." Teriak Emi dan Tsubaki bersama.
"Sejak Hinana memutuskan untuk melanjutkan festival itu, aku sudah menghubungi Ariko untuk pekerjaan kalian. Jadi pergilah, tunjukkan padaku kalian akan berhasil." Jouji menghampiri Hinana, Emi dan Tsubaki. Ia ingin mereka semua berfokus pada pekerjaannya, tentunya Jouji juga senang karena Hinana ingin mewujudkan impian Ren.
Mereka bertiga memutuskan untuk menemui Arumi di kedai ramen tempat dia bekerja. Setelah keluarnya Arumi dari perusahaan Koizumi. Arumi memutuskan kerja paruh waktu.
"Arumi chan bisakah kau kembali ke team. Kami berencana untuk melanjutkan kembali festival itu, jadi ayo kita bekerja sama .Kita perbaiki bersama." Ucap Tsubaki meyakinkan Arumi. Sementara Hinana dan Emi juga duduk diantara mereka.
"Aku pikir sudah tidak bisa lagi di perbaiki. Jika kalian sudah selesai maka pergilah." Tampak penolakan yang di lontarkan Arumi.
"Ne Arumi, bukankah ikut festival Tokyo juga merupakan mimpimu?" Emi pun berusaha menahan Arumi yang hendak pergi.
"Dengan semua yang telah terjadi, mana mungkin kalian percaya padaku. Anoo maksudku kalian sebenarnya masih menyalahkanku dan hanya..."
"Semuanya bukan kesalahanmu Arumi, anggap saja suatu kebetulan. Jadi kita buat design yang baru dan mulai semua dari awal." Tsubaki memotong ucapan Arumi. Ia tahu apa kata selanjutnya yang akan di ucapkan oleh Arumi.
"Tentang itu akan kupikirkan, kalian pergilah aku masih bekerja. Sumimasen (permisi)." dengan cepat Arumi pergi meninggalkan teman-temannya.
"Sudah kubilang sangat susah untuk berbaikan dengannya." Celoteh Emi saar berjalan menuju parkiran.
"Menurutmu apa yang membuat Arumi seperti itu?" tanya Hinana dengan polosnya.
"Kalian tahu brand yang membuat design yang sama dengan team kita? Salah satu anggotanya adalah kakak sepupu Arumi. Mereka berdua sudah bersaing semasa SMA, dan keduanya tidak terlihat akur. Mungkin saja Arumi chan takut jika gagal untuk kedua kalinya." Tsubaki menjelaskan secara rinci. Dan sebenarnya itu juga yang ingin dikatakan Arumi, yang terpotong oleh Tsubaki.
"Mana mungkin gagal jika tidak mencobanya." ucap Hinana spontan.
"HAH apa maksudmu Hinana?" Emi yang mendengar langsung membalikkan tubuh ke arah Hinana yang berjalan di belakangnya.
"Kegagalan akan terjadi jika kita sudah menjalaninya. Mulai saja belum mana mungkin akan gagal. Kalian berdua pergi saja dulu, Sawako sudah ada di tempat."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Teriak Emi. "Percuma, Arumi susah untuk di bujuk."
__ADS_1
"Serahkan saja padaku. Bye bye..." Hinana melambaikan tangan ke arah kedua temannya. Ia kemudian berlari kearah kembali menemui Arumi.
Hinana masih setia menunggu Arumi bekerja. Ia pun tak segan menemuinya berkali-kali.
"Pergilah Hinana, aku sangat sibuk jangan ganggu aku." Ucap Arumi seraya mengusir Hinana.
"Cotto matte (tunggu sebentar), kalau begitu akan ku tunggu kau selesai."
"HAH, akhir shiftku masih jam 2 siang. Pergilah !!!."
"Arumi, kumohon pertimbangkan baik-baik yang di katakan Tsubaki."
"Sudah ku katakan, jika kalian ingin melanjutkan silahkan saja. Tanpa perlu mengajakku." Tolak Arumi sekali lagi dengam kedua tangannya membersihkan meja-meja yang kotor.
"Mana mungkin, tanpa mu tidak akan bisa."
"Kau berlebihan sekali." Arumi mendengus kesal. "Pergilah Hinana, ku tegaskan sekali lagi. Lanjutkan tanpa aku, lagi pula aku hanya akan mengacaukan saja."
"Hey Arumi, tak apa jika kau tak menginginkan festival itu. Tapi kumohon lakukanlah demi Ren, hanya ini permintaan terakhirnya." Teriak Hinana sekali lagi, sebenarnya Hinana tak ingin menceritakan penyakit Ren.
"Kau bisa tunggu sepuluh menit?" Mendengar nama Ren membuat Arumi terkejut dan meminta Hinana menunggunya. "Duduklah di salah satu kursi, aku akan menemuimu sepuluh menit lagi."
"Haik." Hinana mengangguk mengerti dan segera duduk di salah satu kursi dekat jendela.
Ia pun juga memesan seporsi ramen untuk menemaninya. Sepuluh menit berlalu dan ramen pun telah habis di mangkoknya. Hinana melihat Arumi datang menghampirinya.
"Ini benar-benar enak."Ucap Hinana saat Arumi duduk di depannya.
"Ayolah apa yang ingin kau katakan? Aku hanya punya sesikit waktu sebelum kembali bekerja."
"Baiklah. Arumi apa kau yakin tidak ingin mengikuti festival itu?"
"Sudah ku katakan dari tadi, jika kalian ingin melanjutkan silahkan. Tapi aku tak ingin terlibat lagi." Ucap Arumi dengan tegas.
"Aku tahu kau pasti sangat kecewa saar itu, tapi semua itu bukanlah kesalahanmu. Mereka semua juga tahu itu, jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Kami semua tak bisa melakukannya tanpa mu. Jadi Arumi kumohon kembalilah." Hinana memegang tangan Arumi berharap ada kesempatan untuknya.
__ADS_1
Suasana pun menjadi hening. Hinana melihat ke arah mata Arumi mencari sebuah kepastian. Seperti yang di katakan Tsubaki, bahwa Arumi sebenarnya masih merasa bersalah. Padahal kesalahan itu bukan miliknya.
"Apa Ren yang menyuruhmu?" tanya Arumi yang akhirnya melontarkan pertanyaan.