
Shota tiba di rumah sakit dan bertemu dengan Ayahnya Jouji Koizumi. Wajah Shota terlihat acak-acakan karena bingung harus berbuat apa.
"apa kerja sama di batalkan?" tanya Ayahnya dengan terkejut.
"hem." jawab Shota menunduk.
"kita bahas di resto, jangan sampai Ren mendengarnya." ayahnya mengajak keluar dan Shota mengikutinya.
"apa terjadi sesuatu?" tanya Ren yang melihat ayah dan kakaknya pergi.
"tidak ada tenanglah." jawab Sheren ibunya.
Ibunya Ren dan Shota adalah orang Paris, namun sudah menguasai bahasa Jepang karena sudah lama tinggal di Jepang.
"Mom aku sangat haus, aku akan beli minuman."
"biar ku belikan duduklah dan jangan pergi kemanapun."
"ayolah Mom, aku bosan disini. Hanya sebentar saja." Ren memakai sebuah setelan jas.
"kenapa kau ganti baju? Ren kau jangan macam-macam lagi, Momy sudah pusing dengan tingkahmu." Sheren menggerutu karena Ren sering kabur dari rumah sakit.
"aku tidak akan kabur, tenanglah aku masih di sekitar rumah sakit." Ren menunjukkan gelang yang dipakainya, itu adalah tanda jika Ren pasien rawat inap.
"jangan terlalu lama."
"siap." jawab Ren dengan senyumannya.
Ren berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, sebenarnya besok pagi sudah diperbolehkan pulang. Tapi Ren sudah benar-benar merasa bosan.
"Hinana.."panggil Ren yang melihat Hinana dengan Keiko.
"Kak Ren senang bertemu denganmu." sapa Keiko.
"aku juga senang bertemu denganmu Keiko. Apa yang kalian lakukan di sini?"
"chek up, dan melepas perban di tanganku?" jawab Hinana dengan memperlihatkan tangannya.
"sudah sembuh? Syukurlah."
"lalu kenapa kau di sini?"
"aku.... Aku menjenguk temanku." jawab Ren.
"ku dengar kau sakit, bagaimana keadaanmu?"
"sudah lebih baik."
"ah aku harus membeli sebuah kertas, Hinana aku pergi dulu." ucap Keiko karena melihat Hinana sudah begitu akrab dengan Ren.
"Daah Keiko hati-hati." Ren melambaikan tangan kearah Keko.
"mau minum bersama?" ajak Ren dan Hinana mengikutinya.
"terima kasih." Hinana mengambil sekaleng soda yang di berikan Ren.
"bagaimana pekerjaanmu? Apa Shota masih tidak memberimu izin?" tanya Ren karena tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"tidak masalah, kau membawa Camera boleh aku melihatnnya." Hinana sengaja mengalihkan pembicaraan, karena malas untuk membahasnya dan Hinana juga sudah keluar dari kantor Ren.
"oh tentu saja."
"mengapa banyak sekali dokter yang kau foto, sepertinya kau selalu akrab dengan semua orang." tanya Hinana saat melihat galeri.
"sebenarnya tidak, dulu aku anak yang pemalu."
__ADS_1
"aku tidak percaya ucapanmu, maukah kau berfoto denganku? "
"eh kenapa tiba-tiba sekali?"
"tidak mau, ya sudah kalau begitu."
"bukan begitu, maksudku tidak biasanya kau seperti ini. Semejak kau tidak menjadi model kau anti camera."
"kau benar, hanya saja ku pikir tidak apa-apa jika hanya sekali."
"baiklah. Satu, dua, tiga. CKRIK.."
"bagaimana hasilnya, berapa resolusinya?"
"entahlah ini milik Shota." jawab Ren dengan memperlihat kan tulisan nama Shota.
"satu kali lagi dengan poselku. Satu, dua, tiga Chese.." ucap Hinana dengan senyumnya.
Sebenarnya Hinana mengajak Ren berfoto sebagai salam perpisahan, karena Hinana mungkin tidak akan bertemu Ren lagi.
"kirimlah ke email-ku."
"tidak."
"kenapa tidak mau? Aku juga ingin memilikinya."
"mana ponselmu?" tanya Hinana dan Ren memberikannya.
"apa kau akan berfoto dengan milikku juga?"
"tentu saja." jawab Hinana dan mulai dengan kamera depannya.
"apa kau tidak suka, di galerimu tidak ada foto mu satupun."
Hinana merasa meskipun Ren menyebalkan, tapi ada sisi dimana Ren juga menyimpan kesedihannya.
"Aoyama..." panggil Hinana saat melihat temannya.
"Oh Hinana, Ren." Aoyama kemudian menghampiri.
"apa kau sedang sibuk?" tanya Hinana.
"tidak, sedang apa kalian kemari."
"oh aku sedang selesai chek up dan Ren menjenguk temannya." jawab Hinana.
"apa temanmu sedang sakit?" tanya Aoyama karena melihat gelang Ren. Kemudian Ren menyembunyikan tangannya di saku karena Aoyama melihatnya.
"tentu saja, jika temanku bahagia pasti aku ke Bar." jawab Ren lalu tertawa di ikuti Aoyama.
"sebentar lagi istirahat makan siang, maukah menungguku? Kita makan bersama."
"maaf aku tidak biasa makan di luar." tolak Hinana.
"maaf juga aku harus ke kamar temanku."
"baiklah tidak ada yang mau rupanya." Aoyama merasa kecewa.
"bukan begitu, berikan kontakmu. Jika aku tidak sibuk kita bisa bertemu kembali." Ren memberikan ponselnya.
"baiklah. Sudah. Ren apa kau berkencan dengan Hinana?" tanya Aoyama, karena sekilas melihat foto Ren dan Hinana saat Ren memberikan ponselnya.
"kau tanyakan saja padanya. Aku pergi dulu daah Hinana." Ren kemudian pergi meninggalkan Hinana dan Aoyama.
"tentu saja mustahil." ucap Hinana.
__ADS_1
"Hinana apa kau berpacaran dengan Ren?" tanya Aoyama.
"tentu saja tidak, mengapa kau bisa berpikiran seperti itu?" ucap Hinana dengan kesal.
"karena saat hari kau dioperasi sebenarnya saat itu Ren sedang dirawat di rumah sakit."
"benarkah." Hinana terkejut dan menghentikan minumnya.
"hem, kau lihat sendiri Ren begitu pucat dan menolak saat ku periksa. Sehari setelah itu aku bertemu Shota, dan mengatakan akan menjenguk Ren."
"kenapa dia melakukannya." lirih Hinana. Ia tak percaya begitu pedulinya Ren padanya.
"Hinana aku harus pergi, ada yang harus ku lakukan sebelum makan siang."
"iya aku juga akan pulang."
"sampai jumpa Hinana."
Hinana berjalan keluar dari rumah sakit, ia masih memikirkan perkataan Aoyama. Hinana melihat foto Ren di ponselnya.
(flash back)
"kenapa kau lakukan ini padaku? Kau tidak takut jika ku tampar lagi." tanya Hinana saat melihat Ren mengobati lukanya di tempat Ski.
"karena kau temanku, tak peduli jika ribuan kali kau tampar aku." jawab Ren dan tersenyum pada Hinana.
"aku tak ingin berteman dengan siapapun." ucap Hinana tegas tapi Ren malah tersenyum lebar ke arahnya.
(back to time.)
"aku pulang." ucap Hinana saat tiba di apartemennya.
"selamat datang Hinana, makanlah ibu mengirimkan kue tar."
"siapa yang ulang tahun?"
"ayahku, aku akan memberikan hadiah untuk ayahku lihatlah." Keiko menunjukan sebuah jaket untuk hadiah ayahnya.
"Keiko hadiah apa yang cocok untuk ulang tahun?" Hinana mengingat Ren ulang tahun bulan ini, Hinana ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih.
"hemm sebenarnya aku ingin membelikan jam tangan Rolex terbaru, hanya saja uangku tidak cukup. Kau ingin belikan hadiah untuk ayahku?"
"hem, tentu saja. Ayo makan kuenya aku juga lapar." ucap Hinana kemudian makan bersama Keiko.
Ren masuk ke kamarnya dan melihat semua keluarganya sudah berkumpul.
"sepertinya kasur rumah sakit sudah tak nyaman untukmu Ren." tanya ayahnya yang menyindir Ren selalu kabur-kaburan.
"maka dari itu jangan ajak aku kemari lagi. Oi Shota mengapa wajahmu seperti itu."
"diamlah." jawab Shota dengan cuek.
"Ren lepas bajumu sebenar lagi dokter kemari." ucap ibunya.
"tak perlu sayang, nanti sore Ren sudah bisa pulang."
"benarkah? Syukurlah."
"Ren kau harus jaga kondisimu, jangan bekerja terlalu keras."
"baiklah Dad, aku mengerti."
"Shota bawakan tas ini ke mobil. Kau baik-baik saja Shota?" tanya ibunya yang melihat Shota melamun.
"hem iya aku baik-baik saja." Shota mengambil tas dari ibunya dan keluar ke parkiran.
__ADS_1