Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
91 janji Hinana


__ADS_3

..."Kita tidak pernah tahu takdir seseorang." (Aoyama kou)...


...**********...


Setelah cukup lama terdiam akhirnya Aoi memeluk putrinya yang berlutut memohon di bawah kakinya. Aoi teringat bagaimana sakitnya kehilangan Larisa, ia bagaikan mobil tanpa kemudi hanya berjalan lurus entah kemana. Tapi berbeda dengan putrinya, bagaimana pun juga pemuda yang dicintai putrinya tidak bisa menemani untuk hidup yang lebih lama.


"Yakushoku (janji)." ucap Aoi dengan pelan saat memeluk putrinya. Aoyama perlahan mendekat dan ikut memeluk Hinana, ia juga tidak mengira bahwa Hinana akan melakukan hal bodoh sepertinya.


"Kenapa kau ikut-ikutan." Hinana memukul Aoyama karena ikut berpelukan, tapi Aoyama masih bisa memeluk Hinana dan ayah Hinana.


"Aku juga ingin paman memelukku dan berjanji."


Aoi juga memeluk Aoyama, ia sudah menganggap Aoyama seperti anaknya sendiri meskipun ia gagal mengadopsi karena beberapa kendala.


Malam harinya Hinana terbangun karena ia merasa haus. Hinana melihat ayahnya yang duduk di ruang tamu dengan membuka album foto milik Hinana.


"Apa insomnia ayah kambuh lagi?" tanya Hinana dengan nada bercanda, ia membawa air minumnya dan menghampiri ayahnya.


"Sepertinya begitu, lihatlah Hinana. Senyumanmu sangat mirip dengan ibumu. Kawai (imut)."


Aoi membuka-buka album foto saat Hinana pertama kali ikut training menjadi model.


"Darimana ayah mengambil album foto itu?"


"Kamarmu, ayah juga melihat lukisan dirimu. Bagus sekali, siapa yang menggambarnya?"


Pertanyaan dari ayahnya membuat Hinana terdiam sejenak, ia bingung bagaimana mengatakan pada ayahnya.


"Seseorang yang ayah temui di rumah sakit, dialah yang menggambar."


Hinana duduk di samping ayahnya, ia memandang raut wajah ayahnya. Dulu saat ia gagal menikah, ayahnya terus mengikutinya kemanapun Hinana pergi. Ia tahu jika ayahnya sangat khawatir.


"Maukah kau mendengar cerita ayah."


Tanpa menjawab Hinana tahu bahwa ayahnya akan menceritakan semuanya pada Hinana.


"Saat kau lahir, ayah meneteskan air mata lho dan mengatakan "yokatta (syukurlah)". Ayah teringat saat ayah berdiri di sebuah gedung yang sangat tinggi. Andai saja, saat itu pamanmu tidak datang tepat waktu, aku tidak pernah bisa melihatmu."


Aoi tertawa kecil saat mengingat masa mudanya dahulu, betapa bodohnya ia karena cinta.


"Saat ayah mengatakan "syukurlah" tentu saja ayah sudah bersama orang yang ayah cintai dan ayah tunggu selama sepuluh tahun. Tapi Hinana chan, itu tak akan mungkin terjadi padamu. Sepuluh tahun, dua puluh tahun atau sampai lima puluh tahun kau menunggu, Hinana chan tidak akan pernah hidup bersama."


Ayah Hinana menundukkan kepala dan mengeluarkan air matanya. Dan tanpa sadar cairan bening pun ikut terjatuh dari pelupuk mata Hinana.


Hinana tahu apa maksud ayahnya, sampai kapanpun ia tak akan pernah hidup bersama Ren. Meskipun Hinana menunggu Ren tapi ia tak akan pernah bisa bersatu.


"Aku tidak akan sebodoh ayah kok. Otousan (ayah) kau bisa memegang janjiku. Aku gak tidak akan melakukan hal bodoh yang pernah kau lakukan." ucap Hinana dan ingin menenangkan ayahnya.

__ADS_1


"Bagaimana jika kau mengingkari janjimu?"


"Emmm, bencilah aku seumur hidup ayah." Hinana tertawa kecil dan menyeka air matanya.


Sejujurnya ia tak ada pikiran untuk mengakhiri hidupnya seperti yang di khawatirkan ayahnya. Tapi karena ucapan ayahnya, Hinana jadi mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan saat Ren benar-benar pergi.


...*****************...


"Ohayouhozaimasu (selamat pagi), bagaimana kabarmu." Seto menyapa Ren yang sedang serius menggambar di note book.


"Ohay..." Ren terkejut saat dokter Seto datang bersama Aoyama, jujur ia masih marah mengingat kata-kata kejamnya.


"Gambar yang bagus, apa itu imajinasimu?" tanya Seto dengan mengontrol tekanan darah Ren.


"Sebuah kenangan, aku pernah pergi melihat hanami dan aku ingin menggambarnya." jawab Ren tanpa melihatnya kearah dokter Seto maupun Aoyama.


Saat Aoyama akan memeriksa detak jantung, tiba-tiba tangan Ren langsung mencegahnya. Kedua mata mereka saling bertatapan. Aoyama segera memundurkan langkahnya ia tahu betul bahwa Ren masih marah padanya.


"Aku akan pergi ke kamar sebelah, ini catatan medisnya." ucap Aoyama sambil memberikan catatan medis, kemudian ia pergi meninggalkan kamar Ren.


"Eh kenapa kau tak selesaikan dulu. Ada apa dengannya?"


Seto bertanya pada Ren, tapi ia tak memeperdulikannya.


"Hey bukankah kalian berdua berteman? Apa ada sesuatu diantara kalian?" tanya Seto kembali.


Tanpa menjawab pertanyaan doktet Seto, ia malah memberikan pertanyaan balik.


"I-itu..... Lihat kondisimu nanti." ucap Seto setengah ragu, ia juga menggaruk kepalanya. Situasinya tertolong karena ada Arimura yang datang menjenguk Ren.


"Ohayougozaimasu.( selamat pagi)."


Arimura datang membawakan rangkaian bungan krisan yang bewarna kuning.


"Maaf mengganggu saat pemeriksaan."


"Oh tidak sama sekali, aku juga sudah selesai. Baiklah aku pergi dulu."


Seto keluar dari kamar Ren, namun tak lama kemudian ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Ia berhenti dan memutar langkahnya.


" Ada apa?"


"Anoo, apa Aoyama sensei bekerja hari ini?"


Tanya Arimura dan mengatur nafasnya karena berlari mengejar dokter Seto.


"Oh tentu, tapi ia keluar lebih dulu dari kamar Ren."

__ADS_1


"Apa mereka berdua baik-baik saja?"


"Em." seketika Seto teringat saat Ren menolak untuk diperiksa. "Matte."


Seto mencegah Arimura yang berbalik pergi, ia merasa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.


"Nona, bisa kau katakan apa yang terjadi pada mereka berdua?" tanya Seto dan memegang pundak Arimura. Ia mengajak Arimura untuk duduk di ruang tunggu agar tak mengganggu aktivitas di rumah sakit.


"Kino (kemarin), aku tidak sengaja mendengar mereka berdua bertengkar." Arimura mengawali percakapan tanpa basi-basi.


"Eh benarkah?" Seto terkejut, meskipun tahu bahwa Aoyama tidak bisa merayu pasien di rumah sakit.


"Jjika kau tahu, apa yang mereka bicarakan?" tanya Seto sekali lagi.


"Maaf, aku tak terlalu dengar. Tapi aku melihat Ren keluar dari ruangan Aoyama dengan mencubit tangannya. Sensei bisakah kau beri tahu di mana Aoyama sensei?"


"Em biasanya dia ada di ruangannya. Bukankah kau menjenguk Ren?"


"Aku sudah selesai, dia hanya menitipkan barang saat aku kemari. Sensei aku pergi dahulu." Arimura segera berpamitam dan pergi.


...**********************...


"Ohayou." Sapa Ren saat Hinana membuka pintu apartemennya. Tentu saja hal itu membuat Hinana sangat terkejut dan menutup pintunya kembali.


"Kau tidak jadi pergi? Atau ada yang tertinggal?" teriak ayahnya yang menyadari Hinana menutup pintu.


Tanpa memperdulikan ayahnya, ia menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum membuka pintunya kembali. Yang membuat Hinana sangat terkejut adalah saat dahinya tanpa sengaja terbentur di bibir Ren.


"Ohayou, kenapa kau menutup pintunya?" sapa Ren kembali dan tersenyum seperti biasanya.


"K-kau membuatku terkejut." jawab Hinana setengah gugup.


Karena curiga dengan sikap Hinana, ayahnya pun menghampirinya dan bertemu dengan Ren.


"Ohayougozaimasu (selamat pagi) Arizawa san."


Melihat ayah Hinana yang hendak keluar, Ren langsung mengucapkan selamat pagi.


"Eh sudah kubilang margaku bukan Arizawa, panggil saja aku Aoi." jawab ayah Hinana dengan malu karena Reh selalu memanggilnya tuan Arizawa.


"Eh, kalian....." mulut Hinana terbuka karena melihat ayahnya dan Ren nampaknya sudah saling kenal.


"Otousan memberitahunya." Ucap Hinana terkejut.


"Tidak begitu, ayah tak memberitahu apapun. Temanmu mengetahuinya sendiri. Beneran deh, ayah tidak bohong." Jawab Aoi sebelum Hinana benar-benar marah padanya.


"Kudengar anda sangat menyukai bunga krisan, ini dipetik sendiri di halaman rumahku." Ren memberikan rangkaian bunga krisan pada ayah Hinana. Bunga yang di bawakan Arimura memang Ren yang memintanya.

__ADS_1


__ADS_2