
Mudur satu hari sebelumnya.
Saat Aoyama di depan pintu rumah Ren, ia tak sengaja mendengar percakapan Ren dengan ayahnya.
"Sumimasen (Permisi) , aku hanya mengantarkan dokumen dari Seto sensei." Aoyama memberanikan diri untuk berbicara karena tak ingin berlama-lama menunggu.
"Oh Sensei masuklah sebentar." Jouji mempersilakan Aoyama untuk duduk. Tapi ia sangat terkejut saat melihat Ren hendak keluar dengan menenteng tas dan jaket tebalnya.
"Ren sekali saja menurutlah pada dady." ucap Jouji dengan mencegah Ren. Ia tidak tahu lagi cara apa yang bisa membuat Ren untuk tidak melakukan hal-hal yang konyol.
Aoyama yang melihat keadaan itu langsung memalingkan wajahnya, ia tidak ingin ikut campur hanya saja Jouji masih harus mendengar penjelasan darinya.
"Maaf." lirih Ren kemudian langkah kakinya menuju ke pintu meskipun ayahnya mencegah tangannya.
"Anoo menurutku lebih baik tidak usah dicegah, maaf jika ucapan saya lancang. Tapi aku kesini tidak ingin melihat keributan kalian."
Aoyama berdiri dari tempat duduknya, kemudian menyerahkan amplop cokelat pada Jouji.
"Apa maksud sensei?" ucap Jouji bertanya-tanya. Ingin sekali ia marah pada asisten dokter Seto karena tidak paham situasinya saat ini.
"Dengan keadaannya yang seperti ini, orang tua mana yang tega membiarkan anaknya pergi. Apalagi ke Tokyo." Kali ini kemarahan Jouji sudah tidak bisa ditahan lagi, ia mencengkram kra milik Aoyama.
"Dady hentikan." Ren menjatuhkan tasnya kemudian menghampiri ayahnya.
__ADS_1
"Bukankah sudah menjadi keinginnya untuk pergi? Sekalipun putra anda tidak diizinkan pulang, tetap saja tidak akan mempengaruhi kondisinya. Pada akhirnya dia hanya seperti burung yang terkurung dalam sangkar besi lalu mati. Maaf, aku hanya mengantarkan pesan dari Seto sensei. Aku juga harus segera bergegas untuk mengunjungi Bibi ku di Tokyo. Sumimasen (permisi)."
Tanpa rasa bersalah Aoyama berpamitan untuk pulang, sementara Ren yang mendengar hanya bisa mematung sesaat kemudian membawa tasnya kembali ke kamar.
Ren terduduk di kamarnya yang sekian lama tidak pernah ia tiduri. Pandangannya melihat kearah coretan di dinding kamar dan perlahan mendekatinya. Terlihat seutas senyum di bibirnya kemudian Ren menaiki ranjangnya dan terlelap.
..."Impian sepuluh tahun kedepan"...
Keesokan paginya, Ren terbangun karena suara berisik ayahnya yang berada di kamarnya.
"Kau akan terlambat jika tidak segera bangun."
Ucap Jouji dengan membereskan beberapa obat-obat milik Ren kedalam tas kecil milik Ren.
"Ohayou." Sapa Aoyama yang sudah ada diruang tamu dan Ren hanya membalas dengan anggukan.
"Pergilah." Ayah Ren mengatakan itu dengan sedikit senyum dan pelan.
Mendengar perkataan ayahnya tentu saja Ren semakin terkejut dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa kepala Dady terbentur?"
Dengan bertanya-tanya Ren mendekati ayahnya, karena tak mungkin semudah itu ayahnya berubah pikiran.
__ADS_1
"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran."
"Yang benar saja." Gumam Ren dengan tertawa kecil kemudian membawa tasnya dan bergegas menuju stasiun.
Aoyama berpamitan sejenak pada Jouji sebelum mengikuti Ren pergi.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya? Dady berubah pikiran secepat itu mana mungkin." ucap Ren memulai percakapan dengan Aoyama saat di dalam taxi.
"Aku pikir juga begitu, anggap saja sebuah keajaiban." balas Aoyama dengan bercanda dan diikuti tertawa kecil.
"Kiseki? (keajaiban), benar juga anggap saja begitu. Tapi aku tak pernah percaya keajaiban."
"Watashi mo (aku juga). Ayahmu memberi izin karena tau kalau aku juga pergi ke Tokyo. Jika disana kau tidak baik-baik saja, hubungi aku secepatnya." Aoyama membalas pertanyaan Ren dengan serius.
"Tapi aku lebih menyukai Seto sensei daripada kau."
"Aku lebih baik dari Seto sensei. Ayo turun, kau tidak mau tertinggal kereta kan."
Seperti biasa Aoyama dengan sikap cueknya menanggapi ucapan Ren. Ia juga segera mengambil barang-barang milik Ren dan menurunkannya.
Kemudian mereka berdua segera turun dari taxi dan menuju pintu stasiun.
Terlihat Hinana dan teman-temannya sudah disana, dan Ren mulai mengambangkan senyum di bibirnya.
__ADS_1