Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
85 Ren dan Aoyama sebenarnya sama


__ADS_3

Ren merasa bersalah pada dirinya sendiri setelah mendengar perkataan Aoyama. Sebelumnya ia sempat kecewa pada Hinana karena tak memberitahu keberadaan kakaknya.


Sensei." panggil Ren setelah lama terdiam.


"Iya, ada apa?"


"Aku ingin melihat bunga sakura." ucap Ren pada akhirnya.


"Baiklah, karena aku sedang senggang maka akan ku bawa kau keluar sebentar." Seto lalu mengambil kursi roda dan membantu Ren. Ia membawa Ren keluar dari kamarnya, dan membiarkan Ren duduk di bawah pohon sakura yang ada di halaman rumah sakit.


Seto sensei juga baru pertama kali melihat ekspresi Ren yang tampak putus asa. Sebelumnya Ren selalu terlihat ceria dan sangat mengganggu. Tapi ia senang, setidaknya Ren tidak memperlihatkan apa yang sedang menjadi kesulitannya. Yang Seto lihat selama ini hanyalah Ren yang selalu pura-pura bahagia.


"Moshi-moshi (halo). Iya baiklah aku akan kesana." Seto menjawab telepon dari seseorang dan sepertinya ia harus segera kembali ke tempatnya.


"Ren, kita harus kembali." Dengan segera Seto mendorong kursi roda Ren dan kembali ke kamarnya.


"Sensei, tolong kembalikan ponsel ini ke Aoyama sensei." ucap Ren sebelum pergi dan menyerahkan ponsel.


"Ren, jujur baru kali ini aku melihat Aoyama memperdulikan orang lain. Aoyama sangat pendiam, bahkan hanya bicara secara formal. Berikan sendiri padanya, mungkin jika kau bertemu dengannya kalian akan saling memahami. Jaa ne." dengan senyum yang tulus Seto menutup pintu kamar Ren.


Ren hanya memandangi kepergian dokter Seto kemudian meletakkan ponsel milik Aoyama di atas nakas.


Saat jam makan siang Ren mendatangi ruangan Aoyama untuk mengembalikan ponselnya.


"Boleh aku masuk." ucap Ren dan mengetuk pintu.


"Masuklah." jawab Aoyama dari dalam yang sedang makan siang dengan bekal makanannya.


"Ehhh kau sedang makan ternyata. Aku kemari mengembalikan ponselmu." Ren langsung duduk di kursi dan memberikan ponsel milik Aoyama. "Kau bisa memasak?" tanya Ren.


"I-itu... Buatan pacarku." jawab Aoyama dengan gugup dan segera menghabiskan makanannya.


"Sugoi (hebatnya). Aku juga ingin punya pacar dan membuatkannya bento (bekal) untuknya. Karena aku suka membuat sarapan dipagi hari." Ren tersenyum dan langsung memandangi Aoyama makan.


Melihat Ren yang seperti itu membuat Aoyama teringat ucapan Sakura beberapa silam.


"Aku ingin punya pacar dan membuatkannya bento untuknya. Setiap hari aku ingin melakukannya, pasti rasanya menyenangkan." ucap Sakura dengan senyuman yang menawan.


"Bisakah kau pergi dari sini?" Aoyama merasa tidak nyaman dan menyuruh Ren pergi.


"Eh Kenapa?"


"Aku merasa terganggu, lagipula aku juga harus bekerja. Jadi pergilah."

__ADS_1


"Ternyata Aoyama sensei sangat kaku. Baiklah." Ren tertawa kecil setelah mengejek Aoyama, kemudian pergi dari ruangan Aoyama.


...********************...


Hinana memarkirkan mobilnya dan keluar berjalan menuju kamar Ren dirawat. Kali ini ia ingin membahas tentang festival Tokyo summer.


"Sumimasen (permisi), pasien di kamar ini apa sedang periksa?" Hinana menunjuk kamar Ren saat bertanya pada perawat yang melintas.


"Sepertinya tidak, tunggulah sebentar nona. Saya akan melaporkan pada dokter yang menanganinya." ucap perawat laki-laki dengan lembut.


Hinana menunggu di kursi dengan perasaan gelisah, karena kemarin saat bertemu Ren kondisinya masih belum membaik. Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya Dokter Seto menghampiri Hinana.


"Huft... Rasanya tak mungkin dia jadi anak yang baik." ucap Seto dengan membuang nafas yang kasar.


"Eh?? Apa maksudnya?" tanya Hinana keheranan.


"Pergilah Hinana, sebab kau tak akan menemukan Ren dirumah sakit. Sudah pasti dia kabur."


"HAH, kenapa sensei tidak khawatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Ren?"


"Kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Tenang saja, nanti malam pasti ia akan kembali. Hinana, ada yang harus ku kerjakan."


"Hum, baiklah maaf mengganggu sensei." Hinana membungkukkan badan saat Seto pergi, kemudian barulah ia pergi ke kantornya.


"Ohayou.." sapa Ariko saat bertemu Hinana di loby.


"Ohayou,"


"Kudengar kalian sudah menyelesaikan bajunya, kenapa masih pergi ke kantor?" tanya Ariko.


"Hum, kami semua harus membicarakan pada Jouji san tahap berikutnya. Oh ya Ariko terimakasih."


"Eh kenapa berterimakasih padaku, aku tak melakukan apapun." Jawab Ariko dengan tertawa.


"Proposal ku waktu itu, kau yang menyarankan pada Jouji san bukan? Aku bahagia akhirnya beberapa ideku berhasil." ungkap Hinana dengan senang.


"Sebenarnya kau itu jenius, namun terlihat bodoh." Ariko segera pergi setelah mengatai Hinana.


"Eh, kau mengejekku bodoh? Hey kemarilah." teriak Hinana dan berlari mengejar Ariko.


Sesampai diruang marketing, jantung Hinana berdebar karena terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"Ohayou Hinana. Hey aku sudah bicara dengan Ren tentang undangan ke Tokyo." Sapa Tsubaki dan ia juga terlihat sedang berbincang dengan Ren.

__ADS_1


Yang membuat Hinana terkejut karena melihat Ren sudah berada di kantor dengan pakaian yang rapi.


"Hinana kenapa kau tak memberitahuku tentang itu." ucap Ren pada Hinana.


Ia tak menjawab pertanyaan dari Ren dan malah memukulnya dengan tasnya.


"Auch, sakitnya. Kenapa kau malah memukulku." Ren meringis kesakitan.


"Pikirkan saja sendiri kesalahan apa yang kau perbuat." jawab Hinana dengan kesal. Sementara Arumi yang baru hanya tertawa kecil karena melihat kelakuan Hinana.


"Ohayou Hinana. Eh... Kurasa kau tadi ke rumah sakit dan tidak bertemu dengan Ren. Makanya kau marah." ucap Arumi.


Hinana hanya membuang muka pada Ren dan duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


"Ehhh jadi itu yang membuat Hinana memukulku."


"Asal kau tahu Ren, setiap pagi sebelum ke kantor Hinana selalu menjengukmu dirumah sakit. Bahkan saat kau masih belum sadar. Dia sangat peduli padamu." ucap Emi menjelaskan pada Ren.


"Benarkah seperti itu? Aku beruntung sekali." ucap Ren terkejut namun tersenyum pada Hinana.


"Baka (bodoh)." gumam Hinana sendiri, ia melihat wajah Ren yang tampak tersenyum ceria dan hal itu sudah cukup membuatnya lega.


Ren mendekati Hinana yang duduk di sofa lalu memeluk sembari berbisik pada Hinana.


"Terimakasih, Hinana chan telah melindungiku." bisiknya dan tersenyum pada Hinana.


Hinana masih diam tercengang, karena tidak pertama kalinya Ren berhasil membuat jantung Hinana berdebar.


"Ehh kau anggap apa kami semua." pekik Tsubaki dan tertawa.


Ren melepaskan pelukannya kemudian mengajak semuanya membahas tentang rencana Tokyo Summer. Sembari menunggu kedatangan Sawako mereka semua bercanda di ruangan itu.


"Selamat pagi Jouji-sama." Ren menyapa ayahnya yang baru datang dan terlihat sedang kerepotan memakai jam tangan.


"Selamat pa... Kau disini? Dasar anak bandel." Balas Jouji dan terkejut melihat putranya ada di kantor. Mendengar umpatan ayahnya Ren malah tertawa cekikilan.


"Bagaimana kondisimu? Apa kau sudah sehat?" tanya Jouji.


"Seperti yang kau lihat."


"Yokatta (syukurlah) jika merasa kurang sehat kembalilah." Jouji mempercayai Ren kemudian ia masuk ke ruangannya, karena ada beberapa berkas yang harus di siapkan.


like + comen ya...

__ADS_1


__ADS_2