Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
52


__ADS_3

Aoyama membantu Hinana merapikan barang-barang. Sebenarnya tidak terlalu banyak yang di bawa Hinana, tapi Hinana memaksa Aoyama untuk mengantarkan pulang.


"apa kau yakin akan tinggal sendiri?" tanya Aoyama, karena Bibinya pergi ke Tokyo saat Hinana berada di rumah sakit.


"lalu aku harus bagaimana lagi?"


"emm baiklah terserah kau saja."


"ku pikir kau akan menawarkan untuk tinggal dirumahmu." gerutu Hinana dengan memperbaiki perban di kepalanya.


"mana mungkin, meskipun kau satu-satunya temanku tapi aku tidak suka jika ada orang di tempatku."


"dasar kau, lalu bagaimana kau akan hidup bersama pasanganmu nanti."


" itu bukan urusanmu. Cepatlah ada seseorang yang harus ku temui hari ini."


"aku rasa pacarmu terpaksa pacaran denganmu."


"kenapa kau mengatakan seperti itu." Emosi Aoyama tersulut dengan ucapan Hinana.


"hey tidaklah kau pikir siapa yang betah dengan sikapmu yang nolep seperti ini."


"setidaknya aku tampan dan pintar, ayo pergi." Aoyama langsung membawakan tas Hinana.


"tunggu sebentar, apa kau tidak keberatan jika menungguku sebentar. Aku harus menemui seseorang, jika kau keberatan kau bisa pergi aku akan pulang naik taksi." Hinana teringat ucapan ayah Ren waktu itu. Jadi ia memutuskan untuk mengunjungi Ren sebelum pulang.


"tidak masalah, aku bisa memundurkan waktu. Lagi pula aku sudah berjanji pada ibumu, untuk menjagamu selama sakit."


"Arigatou Aoyama. Aku pergi sebentar." Hinana kemudian bergegas untuk menuju ke kamar Ren. Aoyama mengikuti Hinana dari belakang, karena ia tahu jika Hinana akan pergi ke kamar Ren.


"Ne Hinana, aku harap kau tak mengambil keputusan sepertiku. Karena resikonya sangat besar, bahkan aku sendiri tak tahu apakah aku mampu menjalaninya." Aoyama Kou.


TOK... TOK... TOK...


"Konichiwa, watashi Hinana desu (halo aku Hinana)." Hinana mengetuk pintu kamar Ren dengan ragu, karena ia melihat Ren sedang membaca buku.


"masuklah." terdengar suara Ren dari dalam menyuruhnya masuk. Hinana mulai masuk kamar Ren di ikuti Aoyama.


"kau sudah boleh pulang?" tanya Ren dan menyapa Aoyama.


"aku tunggu di luar saja." Aoyama sadar diri tak ingin menggangu mereka berdua.


"kemarilah Hinana, ku dengar luka mu tidak ada yang serius. Aku lega mendengarnya. "Ren menyuruh Hinana duduk di ranjangnya.


"Hem. Ren kun aku minta maaf, kemarin tidak seharusnya aku marah padamu." sesal Hinana dan menunduk.

__ADS_1


"apa sangat sakit rasanya." Perlahan jari jemari Ren menghelai rambut Hinana dengan lembut. Hinana terkesima dengan perlakuan Ren. Hari ini Ren tersenyum seperti biasanya, tak bisa di pungkiri kalau Hinana menyukai senyuman milik Ren.


"Hem." jawabnya dengan berdehem saja.


"Hinana ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu. Sebenarnya aku ingin mengatakannya setelah festival itu, tapi karena festival itu tidak tecapai jadi aku akan mengatakannya sekarang."


"hem katakanlah." jawab Hinana. Ia terkejut saat Ren memegang tangannya dan meletakkan di dada bidang milik Ren. Perlakuan Ren kali ini benar-benar membuat pipi Hinana memerah.


"aku akan mati." ucap Ren dengan penuh tekanan.


Hinana terkejut dan masih belum mengerti apa maksud ucapan Ren. Ia segera menarik tangannya kembali karena merasa sangat gugup.


"Hey ku pikir semua orang pasti akan mati." ucap Hinana. Namun lagi-lagi Ren melakukan hal yang sama. Ren kembali meletakkan tangan Hinana di dadanya yang bidang, sehingga membuat pipi Hinana memerah lagi.


"Dengarlah aku belum selesai bicara. Hinana ada sesuatu yang menyakitkan di dalam sini. Dokter mengatakan jika aku akan mati di umur ke 30 tahun. Hinana san maukah kau menemaniku menjalani hidupku yang sangat sedikit ini?" Ren kembali melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.


Hinana masih terdiam memandang wajah Ren mencari keseriusan disana. Apakah ini bercanda? Tanya Hinana sendiri. Dirinya masih belum mencerna dengan benar ucapan Ren.


"berapa umurmu sekarang?" tanya Hinana tiba-tiba.


"hampir menuju 30 tahun."


"pada bulan apa?"


"Desember."


"31."


Sejumlah pertanyaan Hinana di jawab Ren dengan santai, seakan tak ingin berbohong padanya. Tapi jujur Hinana masih belum terlalu paham betul apa yang di katakan Ren.


"Daijobu, lagi pula ini masih bulan Febuary. Masih lama menuju bulan Desember." ucap Ren dengan santainya. "apa kau tidak jadi pulang? Aoyama sudah menunggumu."


"wakatta (baiklah) aku kemari juga ingin berpamitan." jawab Hinana dengan gugup. Di otaknya juga masih mencerna perkataan dari Ren.


"Hati-hati. Jangan buat aku khawatir lagi, Okey." Ucap Ren dengan masih mengembangkan senyumnya.


"hem cepatlah sembuh." ucap Hinana sebelum pergi dari kamar Ren. Tapi ia malah melihat Ren tertawa terbahak-bahak. "Doshite (kenapa)?" Hinana menanyakan kenapa dia tertawa.


" bukankah sudah ku katakan padamu tadi."


"eh, lalu apa yang salah."


"tidak tidak, tidak ada yang salah. Pergilah Aoyama sensei sepertinya sudah bosan menunggu." usir Ren dengan masih tertawa.


"baiklah aku pergi." Hinana merasa kesal karena Ren mengusirnya. Tidak hanya itu Hinana merasa di tertawakan oleh Ren.

__ADS_1


Hinana langsung melangkahkan kaki keluar menuju mobil Aoyama.


"aku mau ke apartemen saja." pintanya pada Aoyama saat perjalanan.


"Hah kenapa berubah haluan tiba-tiba."


"aku bosan jika dirumah sendiri. Setidaknya jika di apartemen aku bisa berkunjung ke apartemenmu."


"terserah kau saja." Aoyama membelokkan mobilnya dan menuju Sapporow.


Memang Aoyama juga tinggal di apartemen yang sama. Itupun yang membelikannya orang tua Hinana.


Saat tiba di apartemen Hinana mereka masih melihat bahwa apartemennya belum bisa di tinggali. Hinana juga menutup semua barangnya dengan kain putih.


"kita tidak punya waktu untuk pindah rumah." Aoyama mengeluh dan mana mungkin membiarkan Hinana bersih-bersih sendiri.


"aku punya Toru." Hinana menghampiri robot miliknya. "Eh, sepertinya baterainya harus di isi dulu." ucapnya dengan malu.


"lupakan Toru, mau tidak mau aku harus membawamu ke tempatku." Aoyama langsung menarik tangan Hinana dan naik di lantai 25 tempat Aoyama tinggal.


Hinana dan Aoyama sudah seperti saudara sendiri. Karena Hinana dulu lebih dekat dengan Aoyama daripada Ryusei adiknya. Orang tua Hinana juga menganggap Aoyama sebagai putranya saat itu.


"Woah... Kau merapikan sendiri apartemen mu?" Hinana langsung menyandarkan tubuhnya di sofa yang empuk. Sementara Aoyama membuatkan minuman.


"minumlah dan cepatlah tidur ke kamar."


Dengan cepat Hinana menyeduh teh chamomile yang di buakan temannya.


"apa kita tidur berdua?"


"BAKA... (bodoh)." Aoyama langsung melempar bantal ke arah Hinana. Dan Hinana malah tertawa karena berhasil menggodanya. Aoyama orang yang menyendiri, bahkan tidak bisa tidur jika ada orang di dekatnya. Ia senang menjalani hari-hari dengan sendiri.


Sebaliknya Aoyama malah terganggu jika ada orang menemaninya. Karena tak ingin berlama-lama bertengkar Hinana memutuskan masuk ke kamar Aoyama dan tidur. Sedangkan Aoyama tidur di sofa ruang tengah.


Hinana masih memikirkan ucapan Ren saat dirumah sakit. Namun pandangannya beralih ke dimding kamar Aoyama. Hinana melihat foto-foto perempuan berambut pendek. Dan foto Aoyama dengannya semasa kecil.


" yokatta (syukurlah) akhirnya kau bisa mencintai orang lain selain dirimu sendiri." pekik Hinana dengan memandangi foto perempuan cantik yang di letakkan di meja.


"Aoyama kun apakah ini pacarmu?" tanya Hinana dan membawa foto wanita itu. Aoyama yang sedang minum kopi dan membaca buku saat itu terkejut.


"aku menyesal membawamu kemari." Aoyama langsung mengambil foto kekasihnya dari tangan Hinana.


Sementara Hinana yang melihatnya hanya cekikilan, merasa sikap temannya belum berubah.


__ADS_1


Sakura (Pacar aoyama)


__ADS_2