
Pengenalan tokoh lagi di novel Salju di Bulan Desember.
Menceritakan tentang Hinana Arizawa melakukan pelarian saat gagal menikah. Namun pelariannya menjadi terusik karena bertemu dengan Renchiro Koizumi atau biasa di panggil Ren.
Hinana yang ingin memulai hidup baru yang dingin dan cuek seakan gagal. Karena selalu diganggu oleh laki-laki yang mempunyai sifat hangat, riang dan sepertinya anak kecil, semua kemauannya harus dituruti. Hingga akhirnya Hinana akan kehilangan orang itu.
Main role:
Hinana Arizawa, model cantik berusia 25 tahun.
Renchiro Koizumi, Ceo di perusahaan tekstil Koizumi chlotes yang berusia 29 tahun. Mempunyai penyakit jantung yang bisa bertahan hidup 10 tahun
Aoyama kou,
Seorang dokter ahli bedah yang berusia 29 tahun. Ia merupakan teman kecil Hinana yang sekaligus dianggap menjadi kakak Hinana. Karena ditinggal oleh kedua orang tuanya kehidupan Aoyama menjadi menyedihkan (anggap saja sadboy. Meskipun perannya gak banyak tapi dia merupakan tokoh utama)
Support role (pendukung)
Tsubaki (teman dekat Ren)
Shota Koizumi (kakak Ren, kemunculan di awal dan di akhir epsd.)
Arumi (saudara angkat Ren, yang buat semua gadis cemburu)
Emi (teman Ren dan Hinana)
__ADS_1
Arimura (mantan Ren di paris)
Yukiatsu ( cinta pertama Hinana)
Happy reading guys...
Arumi, Emi dan Tsubaki segera berlari memasuki gedung. Mereka sudah terlambat sepuluh menit, jika mereka tidak mengkonfirmasi maka bisa saja di diskualifikasi.
Sedangkan Hinana berjalan perlahan untuk membantu Ren tapi ditolaknya. Selang oksigen milik Ren memang sudah dilepas, dan kondisinyaperlahan membaik. Tapi tetap saja masih membutuhkan pengawas.
Suasana di ruangan sudah sangat meriah, semua gaun sudah dipamerkan termasuk milik team mereka. Aoyama tetap mendampingi Ren di dalam dan mendapat kartu tanda pengenal tambahan. Ia hanya berjaga-jaga jika kondisi Ren memburuk lagi.
"Jangan lupa topengmu." Aoyama mengingatkan Hinana.
Saat Aoyama berpamitan ke toilet tanpa sengaja ia berpapasan dengan Yukiatsu. Memang Yukiatsu tak mengenalinya tapi Aoyama mencemaskan Hinana.
Proses penilaian sudah dimulai, mereka juga mendatangkan designer ternama sebagai juri. Seperti Alessandro michele dari brand Gucci.
Ren mendapat panggilan masuk dari Arimura. Karena posisi Ren masih diwawancarai oleh beberapa juri, Aoyama yang melihat langsung mengambil dan mengangat teleponnya.
Perawat rumah sakit menelepon Ren karena hanya satu-satunya di kontaknya dengan kode Jepang. Aoyama sangat terkejut dengan berita itu, ia bingung bagaimana harus mengatakannya.
"Hey, Arimura kecelakaan di jalan Shibuya." Bisik Aoyama pada Tsubaki yang saat itu sedang menjawab beberapa pertanyaan di kertas.
"Ehh Nani (apa?), lalu bagaimana keadaannya? Sebentar lagi makan siang dan selanjutnya akan fashion show? "
Tsubaki menggaruk kepalanya karena merasa pusing. Hari ini sepertinya terasa sangat berat baginya.
Pagi tadi ia harus bernegosi pada panitia karena kedatangannya yang terlambat, dan sekarang seseorang yang akan menjadi modelnya mengalami kecelakaan. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Aku harap jangan buru-buru memberitahu Ren, aku takut jika ia terkejut dan memperburuk kondisinya. Kalian pikirkan dulu solusinya. "Bisik Aoyama sekali lagi.
Tsubaki merasa ingin membenturkan kepalanya karena bingung harua mencari solusi. Belum lagi Aoyama mengingatkan untuk tidak melibatkankan Ren. Jalan satu-satunya adalah menemui Hinana. Ia harus membicarakan baik-baik pada Hinana. Seperti yang ia kira, tak mudah untuk membujuknya meskipun situasinya sudah sangat mendesak.
"Kumohon Hinana.!!! " Ucap Tsubaki dengan nada memohon. Kali ini ia sudah bernegosiasi dengan panitia, jalan satu-satunya adalah mengganti model atau terpaksa diskualifikasi.
Hinana hanya melihat kearah panggung catwalk sengan perasaan nanar, ia juga bisa melihat Yukiatsu yang sudah duduk di meja juri. Bahkan Kaori mantan menegernya pun juga ada disana. Aoyama mengikuti pandangan Hinana yang mengarah ke seorang laki-laki. Aoyama tahu siapa laki-laki itu, tentunya pasti sangat sulit untuk Hinana.
"Kenapa kau masih disini? Tsubaki serahkan saja pada Hinana dan Emi. " Suara Ren terdengar mendekati mereka berdua, sementara Arumi mengikuti dari belakang dan sudah tahu apa yang terjadi.
"Berikan gaunnya pada Arimura, dan dandani sebagus mungkin. " Ucap Ren sekali lagi.
Tsubaki dan Hinana hanya terdiam, entah harus mengatakan apa pada Ren. Mengingat kejadian pagi tadi saja sudah membuat hati Hinana terasa sedih.
"Arimura mengalami kecelakaan, siang tadi perawat menghubunginya lewat ponselmu. Sensei yang menjawab." Arumi mengatakannya dengan perlahan, karena tahu jika kedua temannya tidak akan mengatakan pada Ren.
"Eh....?? "Ren terkejut, Hinana dan Tsubaki langsung melihat kearah Ren.
"Bagaimana kondisinya, kenapa tak memberitahuku?"
"Entahlah, kami ingin mencari solusi dulu sebelum memberitahumu karena.... --."
__ADS_1
Perkataan Arumi diabaikan begitu saja. Ren mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Arimura. Meskipun terlihat raut wajah Ren yang kebingungan tapi ia masih bisa mengatakan "tidak masalah" saat di telepon.
"Pergelangan kakinya mengalami patah tulang, tapi dokter sudah mengobatinya dan bisa kembali malam ini. " Ren memberitahu keadaan Arimura pada teman-temannya.
"Hinana, aku mohon padamu. Hanya saat ini saja, penilaian sudah berlangsung kalau di diskualifikasi akan sia-sia." Tsubaki memegang pundak Hinana dan memohon sepenuh hati.
Mendengar kata diskualifikasi Ren sangat terkejut sampai mulutnya terbuka tapi tidak bisa mengatakan apa-apa. Ren melihat mata Hinana yang saat ini terasa hampa sembari menunggu jawaban yang terlontar darinya.
"Tuan Koizumi segera bersiaplah, sepuluh menit lagi dan tinggal dua team lagi." Seorang panitia memberitahu Ren bahwa sebentar lagi pertunjukan fashion show yang akan membawakan karyanya.
"Hinana, aku mohon padamu. "Arumi dan Emi pun juga ikut berlutut dan memohon pada Hinana. Suasana terasa hening meskipun sebenarnya ramai sekali tepuk tangan penonton di luar panggung.
"Gomenne (maaf)... " Ucap Hinana dengan sangat pelan dan dengan mata yang menahan air mata. Hinana tahu jika keputusannya akan melukai semua orang, tapi ia merasa tidak bisa. Belum lagi ada Yukiatsu disana sebagai juri. Aoyama sudah tahu apa yang akan terjadi, sungguh ini tidak akan mudah bagi Hinana.
"Daijoubu. (tidak apa-apa). " Ren mengukir senyumnya untuk Hinana.
"Ren....!!!!!!! " Tsubaki, Arumi dan Emi terkejut dengan ucapan Ren. Mereka ingin sekali memprotes.
"Hinana chan sudah membantuku sampai sejauh ini. Mengenalkan pada Sawako, mendaftar pada kompetisi ini, melanjutkannya saat aku sudah benar-benar tak menginginkan lagi. Jika bukan karena Hinana, mungkin saat ini aku tidak akan berdiri disini. Arigatou Hinana chan." Ren mendekati Hinana dan memegang kedua tangannya.
Bagaimanapun juga memang benar, Hinana yang selama ini mengusahakan sampai sejauh ini. Mungkin saja kali ini sudah berada dititik Hinana tak bisa membantunya lagi. Semua teman-temannya juga berusaha memahami itu meskipun harus menelan pil pahit.
"Tujuan kita bukan untuk menang, tapi bisa berada dititik ini benar-benar luar biasa. Ayo kemasi barang-barang, kita harus pergi menengok Arimura." Ren mengambil ransel kecilnya dan pergi terlebih dahulu. Aoyama juga mengambil tasnya dan berlari mengikuti Ren.
Meskipun terasa berat bagi Ren tapi ia harus menerimanya. Dirinya juga tak mungkin untuk memaksa Hinana, terlebih lagi sudah mengetahui masa lalu Hinana. Ia juga tak ingin melukai perasaan orang yang dicintainya. Ren berjalan keluar gedung meskipun dengan langkah hambar.
Langkahnya terhenti saat telinga Ren mendengar suara host yang menyebut nama teamnya.
" Tidak mungkin..... Tidak mungkin.. "
Gumam Ren sedikit terkejut kemudian berlari memasuki gedung lagi.
"Ren, jangan lari.. " Teriak Aoyama dan langsung mengikuti Ren pergi.
.
.
.
.
.
"Peserta terakhir, peragaan busana dari Koizumi team dengan tema Spring day... " ucap host dari acara.
Hinana melangkahkan kakinya, tubuh cantiknya dibalut gaun warna merah muda. Terlihat elegant, dengan santai ia berjalan di atas panggung catwalk dan senyuman seakan membius semua orang.
"Nana... " Gumam Yukiatsu yang terkejut, ia pun bangkit dari tempat duduknya.
"Arizawa...Hinana, hey benarkah itu dia?? " ucap salah satu seseorang yang berada di bawah panggung.
Ren berhasil masuk kedalam keramaian penonton. Ia bisa melihat Hinana yang berjalan sangat cantik dengan gaun yang melekat pada tubuhnya. Terlihat sangat sempurna jika dibanding Arimura yang memakai. Karena saat Ren membuat sketsanya saat itu Hinana sedang berdiam diri dab tertutup oleh kelopak bunga sakura.
Gaun itu telah menemukan Muse nya.
Ekspresi Ren tidak bisa dijelaskan bagaimana terkejutnya, mulutnya terbuka nafasnya sudah tidak dihiraukan lagi. Ia benar-benar tak percaya melihat Hinana.
.
.
.
.
__ADS_1