Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
103 Cinta yang hilang


__ADS_3

"Saat ini, aku merasa jantungku berhenti. Seseorang yang membawa cinta pertamaku berada disini. Tapi meskipun begitu, terasa menyakitkan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana kabarmu, Nana chan? " sapa seorang laki-laki yang memakai kacamata.


"Baik. Bagaimana kabarmu? " Dengan segara, Hinana menjawab pertanyaan darinya sebelum laki-laki itu mendekatinya.


"Genki desuka (sehat). Anoo dimana saja kau selama ini, aku selalu mencarimu.... "


"Eetooo, aku ada janji dengan seseorang. Sepertinya aku sudah terlambat, gomenn." Dengan canggung dan menggaruk kepalanya Hinana berbohong, karena sebenarnya ia masih menyimpan luka yang sangat dalam dan ia ingin menghindari laki-laki yang saat ini dihadapannya.


"Jaa ne (sampai jumpa)." Ucap Hinana lagi kemudian berlari menjauh.


"Cotto matte... (tunggu)." Meskipun laki-laki itu berusaha mencegah Hinana, tapi ia terpaksa harus melihat jejak Hinana yang menghilang.


Hinana berlari menjauh dari tempat itu, tanpa terasa air matanya tiba-tiba terjatuh.


"Namida... (air mata) "


Doshite...? (Kenapa). Kenapa harus bertemu dengannya kembali?" ucap Hinana dari dalam hati. Ia terus berlari hingga menuju mansion Ren.


Hinana melihat Ren yang masih bermain ayunan di luar rumahnya.


"Okaeri (selamat datang)." ucap Ren menyapa Hinana saat melihatnya.


"Kenapa kau berada diluar? "


"Aku menunggumu, terlebih lagi hampir tengah malam." Jawab Ren dan tersenyum kearah Hinana.


"Senyuman yang sama." gumam Hinana dari dalam hati saat melihat Ren dan air matanya kembali terjatuh lagi.


"Hinana... Apa kau baik-baik saja?" Ren mendekat kearah Hinana dan menyeka air matanya. Dengan reflek Hinana langsung memeluk Ren, entah kali ini ia merasa jika sangat rapuh.


"Bolehkah hanya sebentar saja???


Aku ingin memelukmu, berbuat baiklah kepadaku." ucap Hinana dengan lirih, saat ini Hinana ingin menyembunyikan air matanya dipelukan Ren.

__ADS_1


Tangan Ren kemudian perlahan membelai rambut Hinana dan membalas pelukannya. Sedari tadi ia memang menunggu Hinana dan memandangi foto yang ia temukan di tas Aoyama.


"Kau boleh memelukku sepanjang yang kau mau. Tapi, jangan jatuh cinta kepadaku." Ucap Ren dengan membelai rambut Hinana.


Mendengar ucapan dari laki-laki yang ia peluk, Hinana merasa kecewa. Perlahan Hinana melepas pelukannya, dan kali ini ia harus kembali menyakiti dirinya.


"Kenapa?" Tanya Hinana dengan pelan dan menghapus air matanya.


"Watashi wa, Hinana chan to issho ni i rarenai (aku tidak bisa bersama Hinana). Hinana harus mencintai seseorang yang bisa bersamamu untuk waktu yang lama. Tersenyumlah."


Masih dengan senyum yang memikat Ren membantu Hinana menghapus air matanya.


Meskipun perkataannya terdengar menyakitkan, Ren selalu tersenyum untuknya. Itulah mengapa Hinana selalu merasa jika Ren juga meyukainya.


Tapi sekali lagi Hinana harus mengalami cinta yang tak berbalas.


"Lihatlah, langit malam dipenuhi bintang." Ren melihat kearah langit.


"Sangat indah. " Gumam Hinana dan mengikuti pandangan Ren.


Keduanya tanpa sengaja saling pandang dan tersenyum. Untuk kesekian kalinya, Ren berhasil membuat rasa sedih Hinana menghilang


Matahari sudah mulai meninggi, tanpa terasa pagi datang dengan sangat cepat.


"Kali ini pastikan bahwa gaunnya tetap utuh." Tsubaki sudah mengatur strategi untuk persiapan esok.


"Hey Arimura, kau sudah mencoba gaunnya?" tanya Emi untuk memastikan agar gaun yang di buat bisa di pakai oleh modelnya.


"Tenang saja, sangat pas. Tapi, besok aku harus pergi menemui seseorang."


"Ehhhhhhh, Kenapa harus besok? Kau tahu bahwa acara terpentingnya adalah besok." Tsubaki terkejut dengan ucapan Arimura.


"Aku tahu, bukankah peragaan busana dimulai setelah makan siang? Aku janji akan datang ke lokasi sebelum makan siang. Aku akan menemui seseorang pada pagi hari. "


"Kenapa mendadak sekali? Bukankah kau sudah berjanji pada mereka. Setidaknya kau bisa mengundur janjimu besok. "


Aoyama yang sedari tadi diam, tiba-tiba ikut berbicara karena merasa kesal dengan tindakan Arimura. Sebenarnya ia juga tak ingin datang ke Tokyo, tapi karena ia sudah berjanji pada Ren, ia harus menurunkan sikap egonya.

__ADS_1


"Tapii janji esok juga sangat penting bagiku. Ini pertama kalinya aku akan bertemu dengan ayahku. Baiklah, aku akan membatalkannya. Kita bisa berangkat bersama-sama ."Jawab Arimura dengan melemah dan mencoba tersenyum kepada teman-temannya.


Seketika suasana hening menyelimuti pagi hari yang sangat sibuk ini. Hinana dan Arumi yang sangat kerepotan menyiapkan asessorist juga menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Tidak perlu dibatalkan juga. " Suara Ren terdengar seakan memenuhi ruangan yang sunyi seketika.


"Besok kau pergi pada pagi harinya, dan siang harinya akan datang ke lokasi. Buatlah janji hanya dua jam dengannya." ucap Ren kembali.


"Tapi, aku merasa tidak enak pada kalian semua." Jawab Arimura.


"Kau sudah mau membantu team ini aku sangat berterimakasih. Jadi kau bisa pergi menemui ayahmu. Jika dalam dua jam kau menunggunya tapi tidak datang, pergilah. Apa kau mengerti Arimura."


Ren berusaha memberikan jalan keluar, karena bagaimanapun juga ia tahu bahwa Arimura sama sekali belum pernah melihat ayah kandungnya.


Sepertinya keputusan Ren juga diterima oleh teman-temannya. Mereka pun juga ikut mengiyakan dan mendekati Arimura.


"Tunggu sebentar. Sejak kapan kau memanggil namanya dengan benar? "tanya Tsubaki yang terkejut. Karena Ren biasa memanggilnya dengan Alice.


"Ummmm, entahlah. Mungkin sejak aku tak menyukainya lagi. " Jawab Ren dengan tertawa kemudian mengajak semua orang untuk pergi ke halte.


Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di lokasi.


"Aku akan menunggu disini." ucap Aoyama saat Ren akan masuk kedalam gedung.


"Eh kenapa? Sensei bisa menunggu di Lobi." Sahut Arumi.


"Ren sudah bersama dengan kalian, jika terjadi sesuatu padanya segera telpon aku."


"Wakatta (baiklah). " Jawab Tsubaki dengan merangkul pundak Ren dan membiarkan Aoyama pergi.


Hinana mengeluarkan topeng kitsune, ia menghembuskan nafas dengan kasar. Kemudian Hinana memakainya sebelum masuk kedalam gedung. Identitasnya benar-benar harus disembunyikan, karena tentu saja banyak orang yang mengenalnya.


"Ehh.. "


Hinana terkejut saat Ren membantunya mengikat tali di belakang kepalanya.


"Aku akan berada di sampingmu." Bisik Ren tepat di telinga Hinana.

__ADS_1


Sekali lagi, laki-laki bermata abu-abu ini berhasil membuat perasaannya tak karuan. Dengan canggung Hinana membalas uluran tangan Ren yang mengajaknya masuk.


Hampir dua tahun sejak pernikahannya gagal, Hinana memutuskan untuk menjauh dari rekan agensi permodelan. Dan sekarang ia merasa dirinya belum siap jika harus bertemu dengan rekan-rekannya kembali.


__ADS_2