
..."Tak ada seorang pun yang hidup tanpa ada masalah. Hanya saja bagaimana bisa ia menyikapinya dan menyelesaikannya" (Shota Koizumi)...
...*****************...
Dua jam berlalu, Hinana, Tsubaki, Arumi dan Arimura merasa senang karena melihat Ren yang tertawa bahagia. Mereka semua juga setuju jika Arimura menjadi model di festival itu, hanya saja yang menjadi kendala Ren merajuk ingin ikut ke Tokyo. Dan Hinana masih belum memikirkan cara untuk itu.
"Ren, apa kau baik-baik saja?" tanya Hinana setelah teman-temannya pulang.
"Hum tentu saja, tapi aku bosan berada di sini seharian." Jawab Ren dan tertawa kecil.
"Tentu saja, cepatlah membaik agar bisa keluar. Note book, apa kau menyukainya?" Hinana melihat kearah note book, ingin sekali menanyakan apa Ren menangis tapi ia ragu.
"Tentu saja, hey Hinana aku menggambar bunga sakura." Ren mengambil note booknya dan menunjukkan gambarannya pada Hinana.
"Sugoi (keren sekali), tapi masih hitam putih."
"Hum, aku akan mewarnainya nanti. Karena aku malas menulis jadi aku menggambarnya. Arigatou Hinana chan." ucap Ren dan menyentuh pipi Hinana.
Hinana sangat terkejut saat Ren meletakkan tangannya di pipinya. Tangan Ren yang terasa hangat dipipinya tentu saja berhasil membuat jantung Hinana berdegup kencang.
"T-tidak m-masalah." jawab Hinana dengan gugup dan memundurkan langkahnya. Beberapa saat kemudian pintu kamar Ren terbuka dan dua orang pria paruh baya masuk.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Jouji dan Aoi ayah Hinana yang datang menjenguk Ren. Sebelumnya Jouji dan Aoi sudah bertemu teman-teman Ren saat di koridor.
"Sedikit sakit tapi tidak masalah, dokter sudah memberikan beberapa obat. Apa itu teman Dady?" tanya Ren dan menyapa kearah Aoi.
"Ren dia teman ayah yang membuatkan full house di Tokyo." ucap Jouji memperkenalkan Aoi.
"Eh bukankah ayah pernah cerita kalau orang yang membuat full house adalah presdir di perusahaan Hitachi. Sugoi (keren sekali)." ucap Ren dengan kagum.
"Benar sekali."
Jangan katakan kau ayahku.
Pesan Hinana mendarat di posel ayahnya. Aoi hanya tersenyum ketika membaca pesan dari putrinya.
"Aku pamit pulang dulu." ucap Hinana berpamitan.
__ADS_1
"Eh Hinana kenapa terburu-buru? Apa kami menganggu?"
"Tidak seperti itu, sebenarnya aku juga ingin pulang dengan yang lainnya. Hanya saja aku ingin membahas tentang keberangkatan ke Tokyo." Jawab Hinana pada Jouji.
"Baiklah, kita bahas besok di kantor. Hati-hati di jalan." ucap Jouji dan Hinana pun keluar dari kamar Ren.
"Senang bisa berkenalan denganmu tuan Arizawa." Ucap Ren memulai percakapan saat ayahnya pergi keruangan dokter.
"Senang juga bisa berkenalan denganmu, tapi margaku bukan Arizawa itu marga keluarga istriku. Eh?" Aoi sangat terkejut saat Ren memanggilnya dengan nama marga istrinya.
"Dari mana kau tahu nama marga istriku?" tanya Aoi dengan keheranan.
"Tentu saja aku tidak tahu jika itu marga istri anda. Kukira itu nama anda." Jawab Ren dengan sopan.
"Tadi bukankah kita sudah berkenalan? Jadi panggil saja namaku. Tunggu sebentar, darimana kau tahu marga Arizawa apa kau..." Aoi terkejut untuk kedua kalinya, ucapannya terputus saat melihat Ren tertawa kecil.
"Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau tuan adalah ayah Hinana." Jawab Ren dan tertawa kecil.
"Eh begitukah, aku terkejut. Teman-teman Hinana tidak ada yang mengenaliku, bahkan ayahmu saja tidak tahu. Tapi bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Aoi dan ikut tertawa, karena tidak menyangka.
"Hinana sangat mirip dengan anda."
"Wakarimasu (baiklah)." Jawab Ren kemudian mereka berdua membahas tentang perusahaan kecil Ren yang ia rintis sejak lulus kuliah. Aoi sangat tersanjung dengan usaha Ren, ia merasa jika Ren sangat luar biasa karena berani memulainya.
Dulu ayah Hinana juga punya impian ingin menjadi arsitek, tapi itu semua harus direlakan karena harus menjadi penerus di perusahaan keluarganya. Setidaknya Aoi pernah membuat full house yang mewah milik keluarga Ren, dan rumah yang sekarang ia tinggali.
...*************...
Suasana di apartemen Hinana terasa penuh kehangatan, ia senang sejak ayahnya mengunjunginya. Karena ayahnya selalu membuatkan makanan yang enak. Tak hanya itu, ayahnya juga mengajak Aoyama untuk makan bersama. Seperti keluarga yang damai hanya saja kurang ibu dan adiknya.
"Ayah mengunjungi anak Jouji, rasanya ayah teringat masa muda ayah. Dulu ayah juga mengejar mimpi ayah namun tidak berhasil." Aoi bercerita sambil menyantap yakiniku dan shabu-shabu yang ada di meja.
"Setidaknya paman berhasil membuat rumah impian, itu keren sekali." Puji Aoyama dan membuat ayah Hinana tertawa.
"Kau benar sekali, tapi aku merasa kasihan. Anak sehebat itu akan pulang dengan cepat." Aoi sudah mendengar kondisi Ren dari Jouji, ia merasa iba karena untuk kedua kali temannya akan kehilangan seorang anak.
"Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir seseorang kan paman."
__ADS_1
"Berhenti membicarakan orang lain, makanannya tidak enak jika dingin." ucap Hinana karena kurang suka jika ayahnya membicarakan Ren.
"Eh, apa putri ayah merasa terganggu? Doshite (kenapa)?" tanya Aoi pada putrinya.
"Hinana dan Ren adalah teman dekat, jadi wajar saja jika tidak suka jika paman membicarakan." Sahut Aoyama.
"Tapi bukankah dia juga pasienmu?" tanya Aoi dan Aoyama menjawab dengan anggukan.
"Terimakasih makanannya." Hinana segera membereskan peralatan makannya tanpa memperdulikan ayahnya.
"Hinana, ada apa? Apa kau marah?" tanya Aoi berkali-kali tapi Hinana tak menjawab.
Hinana malah menyalakan kran air agar tidak mendengar suara ayahnya. Selama ini Hinana berusaha tegar menghadapi Ren, ia berusaha untuk membuat Ren bahagia meskipun ia sendiri merasa sedih.
"HINANA.." ayahnya berteriak memanggilnya, mau tidak mau Hiana mematikan kran airnya.
"Tidak usah membicarakannya lagi, otousan (ayah) tidak tahu bagaimana perasaannya. Hidupnya sudah menyedihkan jadi jangan mengatakannya, sudah cukup dengan penyakitnya lebiah baik buat dia bahagia disisa hidupnya bukan membicarakannya." ucap Hinana setengah berteriak, ia juga memegang bajunya erat-erat.
Aoyama hanya diam mendengar perkataan Hinana, ia merasa bersalah dengan yang dikatakan pagi tadi pada Ren. Yang diucapkan Hinana memang benar, jika Ren mendengarnya pasti akan sedih.
"Kenapa Hinana sangat peduli padanya?" tanya Aoi yang tidak menyangka, karena diamnya Hinana adalah memendam kemarahan.
"Aku menyukainya. Tak peduli jika hidupnya sebentar, tidak peduli jika ia pernah menolakku. Tapi aku menyukainya."
Sekali lagi ucapan Hinana membuat ayahnya terkejut. Kenapa putrinya harus mencintai seseorang yang hidupnya hanya sebentar.
"Hinana.... Nande (kenapa)?" gumam Aoi dengan pelan, tapi Hinana masih bisa mendengarnya.
"Ren kun satu-satunya orang bisa membuatku memaafkan masa laluku. Ren kun satu-satunya orang yang memelukku dan mengatakan "daijoubu". Ren kun juga yang mengatakan padaku "jika sakit katakanlah sakit, jika ingin menangis maka menangislah tak perlu di tahan. Memang semua itu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya bisa membuatnya merasa lega." Hinana menarik nafasnya dan melanjutkan apa yang selama ini dipendamnya
" Saat aku terluka dan semua orang menjauhiku, hanya Ren yang mau mengobati lukaku. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum seperti biasanya. Aku ingin mendengar dia memanggil namaku dan tersenyum melambaikan tangan. Setiap hari aku ingin melihatnya, bahkan saat ia tidur aku selalu ingin melihatnya bangun lagi. Suki desu (aku menyukainya)." ucap Hinana dengan air matanya yang sudah tumpah membanjiri pipinya yang merah itu.
"Hinana." Aoi hanya berdiri mematung setelah mendengar perkataan putrinya. Ia berpikiran kenapa kisah cinta putrinya harus mirip sepertinya.
"Nee otousan, tolong jangan katakan pada okaasan (ibu). Kumohon!!! Tolong jangan beritahu ibu. Berjanjilah padaku otousan." Hinana segera berlutut di bawah kaki ayahnya, agar merahasiakan dari ibunya.
Aoyama merasa terharu dan juga sedih melihat Hinana yang seperti itu. Kekhawatirannya selama ini akhirnya terjadi.
__ADS_1
Aku tidak bisa melarangnya, dan semua orang juga tidak bisa melarangnya. Karena perasaan seseorang tidak bisa dipaksa atau dihentikan. Cinta itu bukan benda mati, ia akan hidup meskipun orang itu sudah mati.