
Hinana kembali melajukan mobilnya kearah apartemen. Tapi sebelum itu ia pergi ke rumah sakit untuk memberikan Aoyama makan malam. Sebagai balasan kalau dia merawatnya selama sakit.
"Aoyama kun..." panggil Hinana dan masuk ke ruangan dokter.
"Iya, kenapa kau kemari." balas Aoyama belum dengan menyalin catatan pasien.
"Ku belikan makan malam untukmu, Nih." Hinana meletakkan dua bento di meja dan mulai menjelajahi ruangan Aoyama.
"Apa kau sudah makan?." tanya Aoyama dan Hinana membalas dengan menggelengkan kepala, sembari asyik membaca buku milik Aoyama.
"Baiklah ayo makan bersama." Aoyama mengajak Hinana makan di ruangannya.
"Hey Aoyama kun, aku ingin kau membantuku. Kau bisa menjahit kan?" ucap Hinana saat sedang menyantap makanan bersama. Dan saat itu juga Aoyama tersedak entah apa yang membuatnya terkejut.
" Kau baik-baik saja. Minumlah." Hinana membukakan air mineral yang dibelinya juga.
"Pantas saja kau tiba-tiba baik membawakan makan. Ternyata itu tidak gratis." gumam Aoyama setelah menelan minumanya.
Hinana yang mendengar ocehan Aoyama menjadi tertawa. Karena merasa Aoyama tahu rencananya.
"Bukan seperti itu juga, sesama teman bukankah harus saling menolong." Hinana masih belum bisa berhenti tertawa saat melihat wajah teman semasa kecilnya.
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Baiklah, aku ingin kau membantuku untuk membuat gaun. Aku sudah buat designnya hanya saja Sawako bilang butuh banyak bantuan lagi."
"Eh!! Kau tidak lihat baju yang ku pakai? Aku ini dokter bukan tukang jahit." ucap Aoyama dan mengacak-acak rambut Hinana.
"Ayolah kumohon, hanya kau satu-satunya temanku." Rayu Hinana dan membuat wajah imut pada Aoyama. "Lagi pula aku juga mengatre sangat panjang untuk membawakan makanan kesukaanmu, kau tahu kaki ku rasanya hampir patah karena lama berdiri."
"Baiklah terserah kau saja." Aoyama menyerah mau tidak mau ia harus menuruti permintaan Hinana. Sedari dulu memang ia tidak bisa menolak apa yang di katakan Hinana. Karena hanya Hinana satu-satunya teman Aoyama.
"Arigatou ne." Ucap Hinana dan memeluk Aoyama. "Besok datanglah ke kantorku jam 10 pagi mengerti."
"Kenapa seenaknya kau menyuruhku? Besok aku tidak bisa."
"Eh lalu kapan kau akan membantuku?"
"Besok ada jadwal operasi, mungkin besok lusa aku akan ke kantormu."
__ADS_1
"Baiklah ku tunggu, awas saja jika kau tidak menepati janji." Hinana menatap wajah Aoyama dengan tajam.
"Memangnya kapan aku pernah ingkar janji padamu." Pekik Aoyama dan membuat Hinana kembali tertawa.
"Iya iya, Aoyama kun selalu menepati janjinya padaku. Jaa Mata." Hinana melambaikan tangan kemudian pergi dari ruangan Aoyama.
"Ne Hinana, bahkan janji 12 tahun yang lalu aku masih mengingatnya. Gomen ne, tentang itu aku tidak bisa menepatinya." Aoyama kou.
Pagi telah menyapa, dan bunga sakura sudah semakin berani mekar sehingga membuat keindahan kota Hokkaido.
Hinana segera bergegas menuju kantor dengan membawa sejumlah renda yang di kerjakan di apartemen. Kali ini Hinana ingin memulai lebih awal.
"Ohayou." Sapa seseorang yang sedang duduk di meja kerjanya. Bisanya pekerjaaan akan di mulai jam 8 pagi, tapi Hinana sudah berangkat jam 7 pagi.
"Ohayou." Balas Hinana tapi tidak menoleh sama sekali. Ia langsung buru-buru pergi keruangan karena ingin segera menyelesaikan gaunnya. "Eh." Hinana segera berbalik ke ruangan marketing karena sangat mengenal suara itu. "Anoo apa yang kau lakukan sepagi ini?" tanya Hinana.
"Baka ne (bodoh), harusnya itu yang ku tanyakan padamu." Ucap Ren yang sedang membaca buku di meja kerja Hinana.
"A-aku sedang menyelesaikan sesuatu. Hey Ren ku pikir tidak ada salahnya jika kau menilainya." Hinana segera mengambil gaun yang belum jadi dan menunjukkan kepada Ren. Ia pikir Ren akan senang jika melihat usahanya.
Tapi Ren saat ini berbeda dari yang ia kenal sebelumnya, bahkan Hinana juga belum melihat senyum Ren yang biasanya.
"Eh, aku membuatnya dengan design milikmu. Kupikir ini bagus." Jawab Hinana dengan polosnya.
"Terserah kau saja. Silahkan lakukan dan kau akan di permalukan di depan podium." Bisik Ren dengan nada yang menekan kemudian pergi meninggalkan Hinana.
Mendengar kata terakhir dari Ren membuat kaki Hinana terasa lemas. Ia tersungkur di lantai dengan memegangi gaunnya.
"Entah mengapa aku menjadi lemah saat ia menatap ku seperti itu. Apakah itu kau? Apakah itu benar-benar kau?." ungkap Hinana dan memandangi punggung Ren yang meninggalkannya.
Lima belas menit Hinana masih terdiam di tempatnya, dengan air mata yang membasahi gaunnya. Otaknya masih di penuhi wajah Ren yang berkata kasar padanya.
"Hinana, Kau kenapa?" Arumi segera menghampiri Hinana yang duduk di lantai.
Ucapan Hinana waktu itu berhasil membujuk Arumi. Rencananya hari ini Arumi memang berniat kembali dan sengaja tidak mengabari Hinana.
"Arumi, apakah aku salah." Gumam Hinana dengan air mata yang mengalir dan Arumi bisa mendengarnya.
"Apa terjadi sesuatu padamu? Katakan padaku Hinana. Apa ada yang menyakitimu?" Arumi menjadi khawatir karena tidak pernah melihat Hinana seperti ini.
__ADS_1
"Ohayou gozai..." Saat itu juga Tsubaki dan Emi datang bersama. Ia juga melihat Hinana dan Arumi.
"Hey apa yang terjadi?" Tanya Tsubaki dan mendekati mereka berdua.
"Aku juga tidak tahu, saat aku kesini sudah melihat Hinana seperti ini." Jawab Arumi.
"Arumi chan senang bisa melihatmu kembali." Emi menyambut senang kedatangan Arumi. Kemudian membantu Hinana berdiri dan mengambil gaun yang telah basah akibat air mata Hinana.
Hinana hanya terdiam belum bisa mengatakan sepatah katapun. Ia masih belum bisa percaya dengan yang di dengarnya dari Ren.
"Hinana minumlah sedikit, dan coba katakan apa yang barusan terjadi." Tsubaki membawakan secangkir teh olong untuk Hinana.
Kali ini Sawako sudah datang dan menepuk-nepuk pundak Hinana dengan lembut. Ia juga tahu jika ada masalah Hinana pasti sulit untuk mengatakannya.
"Ren kun."
"Ren kun pagi ini datang, dia mengatakan jika nantinya aku hanya akan mempermalukan nama Koizumi." ucap Hinana dengan terbata-bata.
"Aku, memang tidak tahu tentang design atau apapun. Tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk Ren." Lanjut Hinana.
Teman-teman Hinana tertegun mendengar apa yang di ucapkan oleh Hinana. Baru kali ini juga ia melihat Hinana menangis karena seseorang.
"Apa Ren yang dulu telah kembali?" Pekik Emi.
Emi memang mengenal Ren saat SMA, sifatnya jauh berbeda dengan Ren yang di temuinya setelah dari Paris.
Dulu Ren selalu bermulut kasar dan tak tertarik untuk berteman. Tapi setelah kepulangan dari Paris Ren berubah menjadi pribadi yang ceria tak pernah lagi mengumpat orang lain.
Jouji mendengar semua cerita Hinana dari bawah tangga. Ia merasa bersalah pada Hinana. Tapi ia juga merasa bersyukur karena Ren tidak lagi menyembunyikan sifat aslinya. Jouji juga ingin melihat anaknya marah, sedih dan kecewa tanpa harus berpura-pura.
"Ohayou. Senang rasanya melihat kalian bersama lagi." Sapa Jouji dengan senyuman dan berpura-pura tidak tahu.
"Ohayou." Jawab semua orang dengan menunduk hormat.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Hem hanya sedikit masalah dan kami akan menyelesaikannya." Jawab Emi.
"Syukurlah. Mina san ganbatte (semangat untuk semuanya)." ucap Jouji memberi semangat pada team Hinana. Dengan senang semua orang tersenyum kearah Jouji termasuk Hinana.
__ADS_1