Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
12


__ADS_3

Ponsel Ren berdering, ada panggilan dari ibunya.


"halo ada apa Mom?"


"Ren kau kemana saja, sudah hampir empat jam." teriakan ibu Ren di telepon terdengar oleh Hinana dan Aoyama.


"aku akan kembali, daah." ucap Ren dan mematikan teleponnya.


"pulanglah." Hinana menyuruh Ren pulang, karena mendengar suara ibu Ren yang sangat khawatir.


"aku akan menengokmu besok."


"tidak perlu, aku baik-baik saja."


"cepatlah sembuh Hinana, Aoyama sampai jumpa." sebelum pulang Ren juga berpamitan pada Aoyama, teman semasa SMA.


"hati-hati di jalan kawan." Aoyama melambaikan tangan dan melihat kepergian Ren.


"kau tidak kembali kerja?"


"sebenarnya aku belum waktunya kerja, aku kemari hanya perkenalan saja. Hinana bagaimana bisa kau mengenal Ren apa kau pacaran?" Aoyama mendekati Hinana, karena semasa SMP Hinana adalah teman baiknya.


"tentu saja tidak. Aku bekerja di kantornya."


"bukankah kau menjadi model?"


"dulunya, sekarang aku sudah berhenti. Kau mengenal Ren?"


"sebenarnya tidak terlalu kenal, hanya saja Ren cowok paling populer di SMA kami. Penampilannya yang cool membuat semua orang menyukai. Tapi dia sangat dingin sifatnya."


"HAH... apa katamu dingin?"


"he'em, maka dari itu aku sangat terkejut saat Ren menghawatirkanmu. Aku kira kalian pacaran."


"seperti apa Ren dulunya?"


"emm entahlah aku tidak begitu mengenalnya."


"ceritakan saja yang kau tahu Aoyama." Hinana memukul kepala Aoyama karena kesal.


"aww, kau selalu saja memukul kepalaku." ucap Aoyama kesakitan.


"kalau begitu cepatlah."


"baiklah kuberi tahu Ren selalu dapat peringkat satu di sekolah, dia juga suka ikut ekskul baseball. Tapi saat pertandingan antar kelas Ren terjatuh saat akan home run, aku membantunya membawa ke rumah sakit. Sejak saata itu aku tidak pernah melihat Ren bermain baseball lagi, juga saat kelas olahraga aku tidak pernah melihatnya." Aoyama menceritakan semua tentang Ren, dan Hinana juga mendengarkannya.


"apa kau menyukainya Hinana?" tanya Aoyama dan menghentikan lamunan Hinana.


"tentu saja tidak. Kau bilang Ren sifatnya dingin?"


"oh soal itu, Ren tidak pernah peduli pada siapapun. Banyak wanita menyatakan cinta padanya tapi selalu di tolak. Ren juga sangat pendiam waktu itu, hobinya membaca buku di perpustakaan."


"begitukah? Sangat berbeda." gumam Hinana.


"ada apa Hinana?"


"eh tidak ada, Aoyama bisa kah kau pergi. Aku sangat mengantuk."

__ADS_1


"iya baiklah, oh ya Hinana dimana kau tinggal?"


"di rumah nenekku yang dulu. Aku tinggal bersama Bibi ku."


"baiklah aku akan kesana jika luang. Daah." Aoyama keluar dan membiarkan Hinana untuk istirahat.


Saat Hinana akan tidur ponselnya berdering, ada nomor baru entah dari siapa.


"halo." jawab Hinana.


"aku dengar kau habis operasi, berapa lama penyembuhannya?"


"dokter mengatakan sekitar empat atau lima hari."


"baiklah aku beri izin sakit seminggu lagi."


"Shota." panggil Hinana untuk memastikan apakah yang meneleponnya adalah Shota.


"iya ada apa lagi."


"terima kasih, hanya itu yang ingin ku katakan."


"baiklah, cepatlah sembuh dan kembali bekerja." ucap Shota dan mematikan teleponnya.


Hinana segera menyimpan kontak Shota sebagai atasannya. Hinana terkejut saat melihat kontaknya, ada banyak sekali nomor telepon yang disave. Padahal Hinana tidak melakukannya.


"Hinana, Hinana." Ren memanggil Hinana dan tersenyum saat Hinana membuka matanya.


"jam berapa sekarang?"


"enam pagi."


"ayo kita jalan-jalan, udara pagi sangat segar." Ren mengambil kursi roda untuk Hinana.


"pergilah sendiri, aku mengantuk." Hinana menguap dan menutup kepalanya dengan kepala.


"ayolah Hinana, hanya sepuluh menit."


"sepuluh menit." tegas Hinana dan berdiri menuju ke kursi roda, dibantu oleh Ren.


Hinana dan Ren sudah sampai di atap rumah sakit, udara semakin dingin dan awan putih sudah menyelimuti.


"udaranya sangat dingin." kata Hinana dengan menekuk kedua tangannya.


"apa sudah merasa hangat?" Ren memakaikan syalnya pada Hinana.


"terima kasih. Ren aku ingin kembali saja, hari ini sangat dingin." Hinana meminta untuk ke kamarnya dan Ren menurutinya.


"hadiah ulang tahun apa yang kau inginkan?"


"lupakan, sebenarnya aku hanya ingin menelponmu malam itu."


"dasar kau." umpat Hinana kesal.


"kau mau tidur atau duduk dulu?"


"aku akan duduk di sofa. Sepagi ini kau datang apa tidak ada yang mencarimu."

__ADS_1


"kau mengejekku?"


"tentu saja, kau anak manja. Kau sudah dewasa belajarlah hidup mandiri." Hinana mulai mengomel pada Ren. Sejak bersama Ren sifat Hinana perlahan kembali.


"kau mengataiku anak manja?" tanya Ren kemudian tertawa.


"memang itu kenyataannya, Shota yang over protektif dan ibumu yang menelepon saat kau keluar. Yang benar saja."


"mereka seperti itu karena peduli padaku. Hinana aku tak bisa berlama-lama disini."


"pergilah aku juga tak ingin kau kemari."


"soal hadiah, jika tidak keberatan aku ingin sesuatu yang sangat kau sukai. Tapi lupakan saja jika itu mengganggumu." Ren menepuk kepala Hinana dengan lembut sebelum pergi.


""Ya Tuhan, kenapa terjadi lagi. Nafas ku hampir saja terhenti saat dia memegang kepalaku."" ucap Hinana dalam hati dan melihat punggung Ren dari pintu kaca.


Pandangan mata Hinana tertuju pada sebuah tas berwarna hijau di samping sofa. Ada tiga buku di dalamnya.


"Hinana aku tahu sangat membosankan berada di rumah sakit. Kau bisa membaca buku untuk menghilangkan penat."


Sebuah pesan dari Ren, Hinana sempat terkejut karena nama kontak Ren sudah berubah. Hinana tak ingin pikir panjang kemudian memutuskan untuk membaca salah satu buku dari Ren.


"Shota.." panggil Aoyama saat melihatnya keluar dari Rumah sakit.


"aku?" Shota balik bertanya karena merasa tidak mengenal Aoyama.


"kau melupakanku? Aku Aoyama."


"oh Aoyama Takahasi." ucap Shota dan memukul pundaknya.


"pukulanmu selalu menyakitkan bung."


"bagaimana kabarmu? Apa kau bekerja di sini?" tanya Shota karena melihat Aoyama mengenakan pakaian dokternya.


"iya kau benar, aku baru di pindah tugaskan. Bagaimana denganmu, lama sekali tidak bertemu apa kau betah di Paris?"


"tidak ada yang menarik di Paris, aku lebih menyukai negara asalku sendiri."


"syukurlah kau tidak berbeda dari sebelumnya. Apa yang kau lakukan disini? Aku melihatmu dari jauh kau begitu kesal." tanya Aoyama dan mengajak Shota lalu membeli minuman di mesin.


"ah terimakasih. Aku menjenguk adikku, sudah tiga hari berada di rumah sakit. Bagaimana aku tidak kesal, dia sedang sakit tapi masih saja memikirkan festival konyol ini." Shota meminum soda yang di berikan Aoyama.


"apakah Ren?"


"memangnya siapa lagi adikku?."


Aoyama sedikit terkejut karena saat itu Ren menunggu Hinana yang sedang operasi. Dan Aoyama juga tidak tahu kalau sebenarnya Ren juga sedang rawat inap.


Menurutnya Ren benar-benar berbeda dari waktu SMA, Ren menghawatirkan Hinana padahal dia sendiri sedang sakit dan dirawat.


"Tokyo Summer Fashion. Jadi kalian bekerja sebagai designer?" Aoyama membaca sebuah sampul buku yang di remas oleh Shota.


"sebenarnya aku bekerja sebagai fotografer di Paris, tapi aku harus kembali ke Jepang untuk menyelesaikan bisnis Ren. Dia punya perusahaan kecil dan menjabat jadi Direktur."


"Ren selalu keren dari dulu. Dia berhasil membuat perusahaannya sendiri."


"hey kau sebenarnya teman Ren atau aku." Shota merasa kesal karena dari dulu Aoyama tidak pernah mendukungnya.

__ADS_1


"tentu saja aku temanmu, tapi aku sangat mengagumi Ren. Ayo bersulang." ajak Aoyama dan mereka berdua tertawa bersama.


__ADS_2