
Aoyama melihat pandangan Hinana yang seakan mengitrogasinya. Entah harus apa lagi yang harus ia katakan pada Hinana.
"Hanya masalah pekerjaan. Baiklah sampai jumpa." Ucap Aoyama lalu bergegas pergi sebelum Hinana menanyakan hal yang lain.
Tsubaki mengajak semua teman-temannya untuk masuk kedalam mobil dan bersiap pulang. Karena hari ini sangat melelahkan.
"Arizawa san... " panggil seorang perempuan dan berlari kearah Hinana.
"Kaori..." Gumam Hinana sangat pelan, matanya hanya terbuka lebar saat melihat mantan menegernya berlari kearahnya.
"Arizawa san aku ingin berbicara kepadamu, apakah kau luang? Aku harap aku bisa... "
"Gomenne (maaf), aku sangat lelah. Kita bicara lain waktu." Hinana memotong ucapan Kaori lalu masuk kedalam mobil adiknya. Saat ini Hinana masih bingung apa yang harus dikatakan pada Kaori, ia tak ingin jika Kaori membahas masa lalunya.
Ren yang masih di luar berinisiatif mendatangi Kaori, mungkin Kaori memang ada kaitannya dengan Hinana.
"Hajimemashite (halo). Apa kau mengenal Hinana? " tanya Ren perlahan sebelum Kaori pergi jauh.
"Aku adalah menegernya Hinana. Lebih tepatnya mantan menegernya. Kau adalah pemilik perusahaan Koizumi? " Jawab Kaori dan melihat kearah Ren.
"Benar, panggil saja aku Ren. Aku juga temannya Hinana." Ren memperkenalkan dirinya pada Kaori.
"Apakah Hinana makan dengan baik selama ini? Bagaimana hidup yang dilalui Hinana selama ini? " tanya Kaori dengan cemas, karena selama ini Kaori sudah menganggap Hinana sebagai adiknya.
"Kau sepertinya sangat peduli pada Hinana. Selama ini Hinana mengalami masa sulit, apakah kau bisa membantu Hinana? " Jawab Ren.
"Tentu saja, dari dulu aku selalu ingin membantunya. Tapi Hinana menghilang bahkan mengganti no ponselnya." ucap Kaori.
Kemudian Ren meminta no ponsel Kaori, ia mengatakan akan memberitahu kondisi Hinana dan ingin agar Kaori membantunya.
Ren tak ingin berlama-lama berbicara pada Kaori karena tak ingin Hinana curiga, dan teman-temannya juga sudah kelihatan lelah.
"Kenapa kau lama sekali." Protes Hinana saat Ren masuk kedalam mobil.
"Maaf, ayo kita pergi sekarang." Ren memberitahu Ryusei agar segera menjalankan mobilnya.
__ADS_1
...----------------...
Aoyama sudah sampai di rumah sakit, ia bergegas menuju ruang Arimura.
"Aoyama kun. " panggil seseorang yang ternyata adalah bibinya.
"Apa kau kemari sendiri? Dimana Hinana? " Bibinya menanyakan kenapa Aoyama hanya pergi sendiri.
"Hinana sepertinya lelah, lagipula aku juga menjemput temanku." Jawab Aoyama.
"Ada yang ingi Bibi sampaikan, bisa ikut sebentar." Larisa ibuny Hinana mengajak Aoyama untuk pergi ke ruangannya.
Larisa menceritakan tentang kondisi ayah Aoyama yang sedang sakit. Ia ingin Aoyama menemui ayahnya tapi Larisa juga tak ingin memaksanya. Karena masa lalu Aoyama dengan keluarga yang benar-benar buruk. Bahkan ayahnya Aoyama juga pernah memukuli putranya hingga pingsan, beruntung waktu itu Larisa melihatnya jadi masih bisa menyelamatkan Aoyama.
"Aku tidak akan menemuinya, katakan saja jika putranya sudah meninggal." ucap Aoyama lalu keluar dari ruangan bibinya. Ia langsung mengampiri Arimura dan mengajaknya pulang.
"Sensei, maaf telah merepotkanmu." Ucap Arimura.
"Santai saja. Apa kau bisa berjalan? " tanya Aoyama kepada Arimura.
"Baiklah, aku akan pesankan taxi online. Tunggulah sebentar." Aoyama segera mengambil ponselnya tapi ia sangat terkejut saat mendapat pesan dari ayahnya. Aoyama langsung mebuang ponselnya, tangannya gemetar saat membaca pesan dari ayahnya.
"Sensei, apa kau baik-baik saja." Arimura dengan sekuat tenaga berjalan kearah Aoyama yang sudah tersungkur di lantai.
"Kenapa kau muncul setelah hidupku mulai membaik." gumam Aoyama dari dalam hati. Kalinya terasa lemas hingga tak kuat menopang tubuhnya.
"Sensei.... Aoyama sensei.. " Berulang kali Arimura memanggil nama Aoyama tapi Aoyama hanya meneteskan air matanya.
Tanpa pikir panjang Arimura akhirnya memeluk Aoyama, baru kali ini Arimura melihat Aoyama yang rapuh. Ia pernah melihat Hinana memukulnya, tapi Aoyama masih bisa bangun dan tak berekpresi. Saat ini Aoyama terlihat seperti hendak menangis, mungkin telah terjadi sesuatu padanya.
"Sensei apa kau baik-baik saja? "Tanya Arimura setelah beberpa menit memeluk Aoyama. Mereka belum melepaskan pelukan dan Arimura juga menepuk punggung Aoyama agar tenang.
"Apa kau tahu, aku baru saja mendapat pesan dari orang yang ku benci. Setelah sekian lama berpisah kenapa dia menghubungiku." Ucap Aoyama yang masih dalam pelukan Arimura. Entah kenapa rasanya Aoyama sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit yang selalu ia pendam.
"Ayahku tiba-tiba mengirim pesan dan mengatakan jika merindukanku. Kau tahu betapa hancurnya perasaanku, dia membunuh ibuku dan hampir membunuhku. Orang itu menghancurkan sebagian hidupku, kenapa dia datang kembali... Kenapa dia datang saat hidupku mulai membaik? " Tangis Aoyama akhirnya pecah dipelukan Arimura.
__ADS_1
Ia masih mengingat bagimana ayahnya memukulnya dan membuat ibunya bunuh diri. Ayahnya juga mengatakan jika dirinya lahir karena kesalahan dan ayahnya tak pernah mencintai ibunya. Itulah yang membuat ibunya bunuh diri.
"Daijoubu, Sensei. Daijoubu Aoyama." Arimura masih mencoba menenangkan orang yang saat ini dipeluknya. Ia juga seakan merasakan hal yang sama, karena Arimura juga baru saja bertemu dengan ayah kandungannya. Perasaan sakit pasti sangat dalam bagi Aoyama karena tersakiti oleh orang yang sangat disayangi. Sama seperti Arimura, ibunya selalu menyembunyikan keberadaan ayah kandungnya.
Aoyama mengambil kursi roda dan membantu Arimura untuk duduk. Setelah satu jam lamanya mereka berada diruangan dan Aoyama juga merasa sedikit lega karena menceritakan kepada Arimura.
Aoyama melihat kaki kanannya Arimura yang tampak bengkak, mungkin karena Arimura memaksakan berjalan saat menghampirinya.
"Naiklah ke punggungku, kakimu akan tambah parah jika dipaksa berjalan. " ucap Aoyama.
"Tapi aku tidak seringan yang kau pikirkan." Jawab Arimura karena tak ingin merepotkan.
"Aku pikir kau seringan anak gajah yang pernah ku tolong saat di Afrika."
"Sensei, hentikan bercandamu yang tidak lucu. " Arimura memukul pundak Aoyama karena mengejeknya. Kemudian ia menuruti ucapan Aoyama.
"Terimakasih sensei." ucap Arimura saat Aoyama menggendongnya sampai ke mobil.
"Panggil saja aku Aoyama, aku bukan sensei buatmu."
"Aku pikir kau akan marah jika memanggil namamu." Balas Arimura dengan menggodanya tapi sepertinya Aoyama tak menghiraukannya. Arimura hanya tersenyum saat Aoyama duduk disebelah dan memberikan satu eaphone di tinganya. Mereka mendengarkan musik bersama hingga sampai ke rumah Ren.
Malam ini Hinana pulang kerumahnya, ia tak adiknya makan malam berdua karena ayah dan ibunya masih belum pulang kerja.
"Setelah itu apa yang Onichan (kakak) lakukan." Tanya Ryusei adik Hinana saat selesai makan.
"Entahlah."
Kenapa tak menjadi model lagi? Penampilan Onichan masih luar biasa." Ryusei mencoba meyakinkan kakaknya, karena bagaimanpun juga kakaknya sangat luar biasa berpose di panggung.
"Sudahlah Ryu aku tak ingin membahas hal itu lagi." Hinana mulai berdiri dan meninggalkan meja makan tapi Ryusei mencegahnya.
"Onichan, sampai kapan kau akan melarikan diri. Aku akan melindungi kakak, kau adalah kakakku yang berharga." ucap Ryusei dan memeluk kakaknya.
"Tapi aku kakak yang bodoh, kenapa kau mau melindungi kakak yang sangat bodoh." Hinana ingin mengelak pelukan adiknya tapi Ryusei semakin memeluknya dengan kuat.
__ADS_1
Kali ini Ryusei benar-benar ingin melindungi kakaknya, meskipun Hinana adalah kakak yang ceroboh tapi Hinana selalu berada di sampingnya saat ia melakukan banyak kesalahan.