
Kali ini Hinana melanggar janjinya. Dulu saat ia melangkahkan kaki di Hokkaido, Hinana berjanji tidak akan lagi mencintai seseorang. Siapa dia, dan apapun keadaannya. Dan ini pertama kalinya Hinana menangis untuk seseorang.
Hinana melepas pelukannya dan menghapus air matanya. Ia juga melihat Ren yang berbeda saat ini.
"dari mana kau tahu aku ada disini?" tanya Ren dan memandang Hinana dengan tajam.
"Aoyama." jawab Hinana dengan rasa takut. Beberapa kali Hinana melihat Ren tapi baru kali ini ia merasa takut dengan tatapan itu.
"pergilah aku sedang sakit." ucap Ren dengan sifat dinginnya. Dan saat itu ayahnya masuk ke kamar bersama Shota.
"Nona Hinana kau ada disini?" tanya Jouji. "maaf aku mengganggu kalian.
"kalian semua pergilah, aku ingin istirahat." ucap Ren sekali lagi dan semua orang keluar, termasuk Hinana.
Hinana berjalan di koridor rumah sakit. Ia berusaha menahan air matanya tapi tidak berhasil. Rasa sakit tiba-tiba sudah mulai merasuk di dadanya. Selama ini dirinya selalu mendapatkan perlakuan lembut dari Ren. Dipandang dengan tatapan tajam seperti itu membuatnya sangat sakit bagaikan ribuan pedang yang menusuknya.
"Harusnya aku tahu jika akan seperti ini. Ne Hinana kau sangat bodoh, bahkan setelah sakit hati yang berkepanjangan kau tidak juga mengambil pelajaran." Pekik Hinana kemudian segera menghapus air matanya
"Hinana, akan ku antar kau pulang." panggil Shota yang bergegas menghampiri Hinana.
"tunggu sebentar Shota." ucap Hinana lalu menjawab panggilan dari Emi.
"halo Emi, aku sudah menemukan Ren." jawab Hinana.
"syukurlah dimana dia? Oh ya Hinana kami sudah berhasil mengundur waktu reviewnya jadi bulan depan."
"syukurlah." ucap Hinana dengan lega.
"Hinana apa kau sedang menangis? Apa terjadi sesuatu pada Ren?"
"tidak ada Ren baik-baik saja, maaf Emi aku sedang ada dijalan. Daah." Hinana segera menutup panggilannya.
"apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya Shota.
"em tapi sudah terselesaikan."
"maaf aku tidak sempat menjawab teleponmu."
"tidak apa-apa."
"ayo Hinana ku antar pulang." Shota menggandeng tangan Hinana dan berjalan bersama menuju halte bus. Saat itu juga Ren melihat mereka berdua dari jendela kamarnya.
"Hinana boleh ku tanya sesuatu padamu?" tanya Shota saat sampai di depan apartemen Hinana.
"tanyakan saja."
"dari mana kau tahu kalau Ren ada di rumah sakit?"
"aku hanya menduga saja. Semalam kau terlihat panik saat berpamitan pulang. Oh ya sampaikan maafku padanya."
"untuk apa?"
"kemarin sore aku mengajak Ren ke Disneyland. Saat naik komedi putar ia terlihat ketakutan tapi aku memaksanya. Mungkin Ren sakit karena ulahku."
"baiklah. Aku pulang dulu Hinana."
__ADS_1
"terimakasih sudah mengantarku." ucap Hinana lalu meninggalkan Shota.
Hinana menuju ke kamarnya, pandangannya tertuju pada sebuah lukisan yang Ren gambar.
"bodohnya kau Hinana, harusnya kau tak membuka hatimu kembali." gumamnya.
Seharian ini Hinana masih tenggelam dengan perasaannya. Ia tak ingin kemanapun bahkan melakukan apapun, bahkan Hinana mengatakan hiatus dari team Koizumi. Sehingga membuat semua temannya kebingungan Pikirannya sedang sangat kacau hingga akhirnya ia tertidur.
...***************...
Selama seminggu ini Hinana tidak pergi kemanapun. Telepon dari teman-temannya tak satupun ia jawab. Hinana merapikan apartemennya dan menutupinya dengan kain putih. Ia berpikir untuk sementara waktu ia akan tinggal di rumah bibi Miyo.
"lama tidak bertemu." terdengar suara yang sangat Hinana kenal.
"kenapa kau kemari? Apa kau sudah sembuh?" tanya Hinana.
"Tsubaki menyuruhku mengembalikan mobilmu." Ren mendekati Hinana dan menyerahkan kunci mobil milik Hinana.
"terimakasih."
"teman-teman menghawtirkanmu, kau tidak bisa di hubungi sama sekali. Oh ya apa kau mau pindah?" tanya Ren, saat ini Hinana melihat Ren sudah kembali mendapati senyumnya.
"aku akan tinggal di rumah bibi Miyo untuk sementara waktu." jawab Hinana dan memasukkan koper ke mobilnya.
"baiklah aku akan membantumu pindahan."
"tidak perlu, kau baru saja sembuh. Aku tidak mau kau sakit lagi." Hinana menolak tawaran Ren.
"begitukah, maaf telah telah merepotkanmu."
"benarkah kau keluar dari team?"
"aku sibuk sekarang sampai jumpa Ren." ucap Hinana mengakhiri pembicaraan dengan Ren kemudian melajukan mobilnya.
Perjalan ke rumah Bibinya tak membutuhkan waktu lama saat naik mobil. Sepuluh menit ia sudah sampai di rumah Bibinya. Tepat di halaman rumah bibi Miyo nampak sudah menunggu kedatangan Hinana.
"emm tadaima (aku pulang)." ucap Hinana yang turun dari mobil dan memeluk bibi Miyo.
"okaeri, Hinana. Akhirnya bibi ada yang menemani." Miyo-san membalas pelukan Hinana dan membantu membawakan barang-barang milik Hinana. "bibi akan menyiapkan makan siang."
"baiklah." Hinana segera menata bajunya di lemari. Nampak ada bingkisan dan kartu ucapan berada di meja rias milik Keiko. Hinana seakan tertarik dan mendekatinya.
"Tanjoubu omedeto Naomi chan (selamat ulang tahun Naomi)
Di hari ulang tahunmu apa keinginanmu, anggap saja aku adalah peri pengabul harapan.
Oh iya waktu berwisata di Kyoto kau melihat sebuah gelang couple, aku rasa kau menginginkannya tapi kau ingin jika orang yang kau cintai yang memberinya.
Aku membelikannya untukmu, dan satunya sudah ku berikan pada Tetsuya. Aku harap keinginanmu di 17 tahun ini akan terkabul.
Tomodachi
Keiko Hayase."
Hinana melihat ada sebuah kotak kecil dan didalamnya ada gelang batu bewarna putih kebiruan. Tapi disebelahnya lagi terdapat foto Keiko dan Naomi dengan pigora yang sudah pecah. Ia teringat saat Naomi mengatakan bahwa hubungannya dengan Keiko sudah retak. Dan yang lebih membuat Hinana terkejut adalah sebuah amplop coklat yang mana pemeriksaan medis jika Keiko mengalami usus buntu dan harus operasi.
__ADS_1
"Hinana makan siang sudah siap." ucap bibi Miyo saat melihat Hinana keluar dari kamarnya.
"Bibi boleh ku tanya sesuatu padamu?" Hinana menyerahkan amplop coklat pada Miyo.
"Keiko memintaku untuk merahasiakan dari Naomi. Saat aku akan mengatakan padamu dia melarang. Keiko bilang akan mengatakan sendiri padamu." Miyo menjelaskan seakan mengerti apa yang hendak dikatakan Hinana. "Hinana kau mau kemana?"
"aku akan mengakhiri kesalah pahaman mereka."
"hentikan Hinana. Keiko tidak mau jika Naomi tersakiti."
"Naomi pun sama. Jika mereka benar-benar sahabat pasti akan mengerti satu sama lain." Hinana meyakinkan Bibi nya dan keluar menuju mobilnya.
Hinana membawa kado untuk Naomi, kartu ucapan dan hasil rekam medis. Setidaknya Hinana tidak ingin jika Keiko mengalami nasib yang sama dengannya. Sudah cukup ditinggalkan dengan orang yang dicintai, tapi tidak untuk sahabat.
Sesampai di rumah Tsubaki ia membunyikan bel dan tak butuh waktu lama pintu terbuka.
"Hinana, selamat datang. Aku senang akhirnya kau memutuskan untuk kembali." ucap Tsubaki dengan senang, dan teman-temannya yang ada di ruang tamu segera menghampirinya.
"aku kemari bukan untuk kembali. Aku mencari Naomi." tegas Hinana.
"kenapa kau mencarinya."
"itu bukan urusanmu, aku akan pergi jika dia tidak dirumah." ucap Hinana dengan ekspresi dingin.
"tunggu sebentar, masuklah akan ku panggilkan dia." Tsubaki segera menuju kamar Naomi. Sedangkan Hinana duduk di kursi sudut rumah Tsubaki.
"Hinana bagaimana menurutmu." Arumi menghampirinya dan membawakan gaun yang hampir jadi.
"maaf aku sudah bukan team kalian lagi."
"apakah kau serius mengundurkan diri? Lalu bagaimana dengan kelanjutannya."
"itu bukan urusanku."
"Hinana san. Kau mencariku?" panggil Naomi dan mendekat pada Hinana.
"ini." Hinana menyerahkan kado beserta surat dari Keiko.
"apa ini?" tanya Naomi dan membuka surat dari Keiko. Terlihat raut wajah tak biasa dari Naomi. Ia menutup mulutnya kemudian menangis. Naomi juga membuka kotak kado yang berisi gelang.
"Naomi kau kenapa?" tanya Tsubaki yang ada di samping Naomi.
"malam ini Keiko akan di operasi." Hinana menyerahkan rekam medik milik Keiko.
"Keiko gomenne." gumam Naomi lirih kemudian tersungkur di lantai. Semua orang di ruang tamu segera menghampiri Naomi dan menanyakan. Tidak untuk Hinana, ia masih berdiri dengan sikap angkuhnya.
"masih ada waktu jika naik kereta shinkasen." ucap Hinana dan membuat Naomi berdiri. Hinana seakan tahu apa yang ada di pikiran Naomi.
"apakah Keiko akan memafkanku?" tanya Naomi.
"kau pasti tahu apa yang Keiko pikirkan kan? Dia selalu memikirkan orang-orang yang ia sayangi."
"terimakasih Hinana san." Naomi segera bergegas pergi.
"Naomi..." panggil Hinana saat Naomi akan keluar. "selamat ulang tahun."
__ADS_1
"arigataou Hinana." balas Naomi dengan senyumnya dan menghapus air matanya.