Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
35


__ADS_3

Setelah menghabiskan minumannya, Shota mengajak Hinana untuk makan siang.


Di sepanjang jalan Hinana memandangi pohon sakura yang daunnya mulai tumbuh lebat.


"kau menyukai bunga sakura?" tanya Shota yang sedari tadi memperhatikannya.


"tidak begitu, hanya saja aku menantikan musim semi."


"kenapa?"


"tidak apa-apa, Shota musim apa yang kau sukai?"


"emm aku menyukai musim panas, aku ingin ke pantai."


"kau suka dengan pantai?"


"iya, aku biasa berselancar, main voly dan banyak lagi hal yang menyenangkan. Jika musim panas ku ajak kau ke pantai."


"Woah kau memang benar-benar pria sejati."


"duduklah disni Hinana, " Shota memundurkan kursi dan menyuruh Hinana duduk saat sampai di resto. "kenapa kau tiba-tiba membicarakan musim?"


"tidak apa-apa, hanya saja aku menyuruh seseorang menyukai musim semi. Saat ku tanya musim apa yang kau suka, dia menjawab menyukai musim gugur tapi tak tahu alasannya."


"musim gugur, aku tidak begitu suka."


"eh kenapa? Karena saat itu banyak daun berjatuhan dan angin sangat lebat. Membuatku memakai mantel tebal."


"hem kau benar, daun-daun berserakan. Shota kau mau pesan apa? Aku mau makan steak."


"sama denganmu. "


"baiklah. Oh ya Shota gelang Ren."


"bagaimana bisa kau yang membawa."


"waktu itu tertinggal di galeri."


"baiklah aku ku berikan padanya." Shota segera memasukkan gelang milik Ren di sakunya. Kemudian memakan makanan yang sudah siap dalam 15 menit.


"Hinana setelah ini kau mau kemana?" tanya Shota.


"sepertinya aku langsung saja pulang, ah Shota terima kasih sudah mengajakku."


"tak masalah, aku juga banyak pikiran hari ini."


"Shota adakah seseorang yang kehidupannya berjalan lurus?"


"kau bercanda, mana mungkin. Semua orang memiliki liku-liku kehidupan."


"aku melihat ada orang yang seperti itu, orang itu selalu ceria. Aku rasa dia orang yang sangat bahagia di dunia ini. Dia tahu menjalani hidup dengan baik." ujar Hinana, Shota mulai merasa Hinana sepertinya sedang membicarakan seseorang.


"mana mungkin ada orang yang seperti itu, kadang kita harus bersenang-senang untuk tetap waras."


"kau tahu caranya bagaimana?"


"em kurasa seperti tadi. Ku lihat kau menikmati beberapa wahana permainan."


"kau benar, Shota terima kasih untuk hari ini. Kau bisa pulang sekarang." ucap Hianana saat sampai di parkiran.

__ADS_1


"eh aku akan mengantarmu pulang."


"tidak perlu, aku akan naik busway saja. Kau bilang kita harus bersenang-senang agar tetap waras bukan?"


"Wakatta, bye-bye Hinana." Shota mengerti apa yang di bicarakan, mungkin Hinana perlu waktu sendiri. Lalu Shota mulai melajukan mobilnya meninggalkan Hinana.


Hinana pergi ke lapangan basket, tempat bermainnya masa SMP dengan Aoyama. Ia berkali-kali memasukkan bola ke dalam Ring meskipun bermain sendiri.


Saat bolanya menggelinding jauh Hinana segera mengejarnya, hingga bolanya berhenti pada seseorang.


"Ren." Hinana terkejut karena tiba-tiba melihat Ren sudah ada di depannya, dan dengan senyum yang selalu ia suka. Jantung Hinana terasa berdebar-debar karena dari tadi Hinana memang memikirkan Ren.


"Ren? Apa kau buta aku Aoyama." ternyata benar pikiran Hinana benar-benar kacau.


"HAH maaf, untuk apa kau kemari."


"tentu saja main basket, tadinya aku mau mengajak Shota tapi dia tak mengangkat teleponku. Tunggu sebentar tadi kau memanggilku Ren, apa kau sedang memikirkannya?"


" Ti...dak. kembalikan bola ku." Hinana mengelak dan mengambil bola yang ada di tangan Aoyama.


"jangan bohong, jelas-jelas aku mendengar kau memanggil nama Ren. Kau menyukai Ren ya.."


"berisik, pergilah kau mengganggu saja." Hinana yang merasa malu segera menghindar dari Aoyama. Tapi tidak dengan Aoyama, ia mengejar Hinana dan merebut bolanya. Hingga akhirnya Aoyama sadar Hinana tak memakai smarband di tangannya.


"Hinana dimana gelang itu?"


"gelang? Oh itu milik Ren, sudah ku kembalikan."


"jadi gelang itu bukan milikmu?"


"tentu saja bukan, aku tak suka pakai gelang atau perhiasan apapun. Kecuali saat pemotretan."


"apa yang kau lakukan, menyingkirlah."


"tidak mau, aku senang kau baik-baik saja."


"Aoyama, aku tak bisa bernafas. Lepasakan." Hinana segera melepas pelukan Aoyama. Hinana sendiri masih heran dengan sikap Aoyama yang berlebihan. Padahal Aoyama sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa, tapi sikapnya masih seperti dulu.


"maaf, tapi aku sangat senang kau baik-baik saja."


"hey Aoyama, kita sudah sama-sama dewasa. Jika kau masih seperti itu oarang lain akan salah paham dengan kita."


"baik aku minta maaf Hinana."


"tapi aku senang bisa bertemu denganmu lagi, aku merasa di hargai sebagai seorang kakak."


"aku juga senang, karena aku punya seorang kakak Yakuza (preman)."


"aku bukan Yakuza, berhentilah mengataiku." Hinana semakin geram dan memukuli Aoyama.


"Aw, aku minta maaf. Aw hentikan oni-san." Aoyama merintih kesakitan karena Hinana terus saja memukulinya.


Hinana dan Aoyama sudah bersahabat sejak kecil. Saat SMP Aoyama selalu di bully dan Hinana yang menolongnya.


(flash back)


Saat itu Aoyama sedang di rundung oleh ke empat temannya.


"berikan saja semua uangnya." Yamada sebagau ketua geng terus menggeledah saku milik Aoyama.

__ADS_1


"aku tidak punya lagi, itu uang saku terakirku." Aoyama ketakukan hanya pasrah. Tiba-tiba sebuah batu mengarah ke Yamada dan teman-temannya.


" AUH... Siapa yang berani melempar batu kearah ku."


"aku, memangnya kenapa?" tiba-tiba Hinana dengan percaya diri datang menantang Yamada.


"hei kau anak perempuan berani sekali padaku. Pergilah jangan ikut campur."


"memangnya kenapa jika aku perempuan, kau takut ya." Hinana semakin menantang dan mendekati Yamada.


"HAH mana mungkin aku takut." Yamada tertawa, tapi sebuah pukulan mengarah ke mukanya. Yamada berusaha menghindar tapi tak bisa, saat ia akan memukul Hinana kembali hanya kegagalan yang di dapat. Hinana berhasil menghindar dan memukul balik.


"ayo pergi." ucap Yamada mengajak kedua temannya setelah babak belur oleh Hinana.


"dasar beraninya pada anak perempuan. Hey kau baik-baik saja?" tanya Hinana pada Aoyama.


"terima kasih."


"lain kali lawanlah mereka atau lari saja."


"hem sekali lagi aku benar-benar berterimakasih oh ya aku Aoyama Kou, ibu ku membuat iga rebus. Datanglah ke rumahku untuk makan bersama."


"aku Hinana Arizawa."


"terima kasih sudah membantuku Hinana-chan."


"hey panggil aku onii-chan. Aku lebih besar darimu."


"tapi aku kan senpai mu (kakak kelas)."


"tubuhmu lebih kecil dariku, tak pantas jika kau memanggilku adik."


"baiklah Hinana-san, ayo pergi makan bersama." Aoyama menarik tangan Hinana dan mengajak kerumahnya untuk makan bersama.


(back to time)


Itulah mengapa Hinana selalu senang ketika berada di Hokkaido. Dia bisa bertemu dengan sahabatnya dan mengingat masa kecilnya yang indah.


Saat Hinana sedang bercanda dengan Aoyama, tanpa sadar Ren memandanginya dari kejahuan. Ren sengaja tidak menghampiri Hinana, perasaannya lega karena bisa melihat Hinana tertawa lagi. Kemudian Ren memilih untuk pergi sebelum Hinana melihatnya.


"aku baru sampai rumah, maaf baru membalas pesanmu. Hinana baik-baik saja besok dia bisa kembali lagi."


Ren membaca pesan dari Shota. Dari tadi Ren mencemaskan Hinana, meskipun Shota sudah mengatakan jika Hinana baik-baik saja Ren belum bisa percaya jika belum melihatnya.


" tidak apa-apa, aku baru selesai dan akan pulang sekarang."


" baiklah. Be careful." balas Shota tidak lama kemudian.


Ren tak membalas lagi, kemudian fokus menyetir mobil dan pulang. Ren masih memakai mobil Hinana, memang sempat di kembalikan tapi Ren meminjamnya lagi.



Aoyama Kou yang berprofesi sebagai dokter. Aoyama juga teman semasa kecil Hinana.


.


.


.

__ADS_1


Rencananya otor pengen buat cerita tentang kehidupannya Aoyama.


__ADS_2