Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
11


__ADS_3

Ren bergegas ke kantor untuk menyampaikan permintaan maaf pada semua stafnya. Setelah itu kembali lagi pulang, semua pekerjaan dikantor ia serahkan pada Shota kakaknya.


"Ren, siang ini apa ada waktu?" Emi berlari menghampiri Ren.


"ada apa?"


"mungkin aku akan mengunjungi Hinana, tapi tidak tahu ingin mengajak siapa. Tsubaki dan Arumi tidak ada di kantor."


"tidak perlu, Hinana pasti tidak menyukainya. Aku pergi dulu Emi." Ren berpamitan pada Emi dan pergi meninggalkannya.


Dirumah sakit akhirnya Keiko dan Miyo datang untuk menjaga Hinana.


"Onii-san bagaimana kabarmu."


"seperti yang kau lihat."


"makanlah aku membawakan banyak buah untuk mu, mau apel?" Keiko dengan perhatian merawat kakaknya.


"hem kupaskan untukku." jawab Hinana dengan senyumnya.


Ren berada di depan pintu kamar Hinana, melihat Hinana yang sudah tersenyum lagi ia merasa lega. Tapi Ren tidak ingin menemui Hinana, mungkin hanya dengan keluarganya Hinana bisa bahagia.


"bagaimana kalau kau makan banana dulu, sambil menunggu aku mengupas apel."


"baiklah berikan padaku." Hinana memakan buah pisang yang ambilkan Keiko. Ia teringat saat berebut buah pisang dengan Ren, tanpa sadar Hinana memikirkan Ren.


"oh iya Hinana dimana teman-temanmu? Semalan Bibi mendapat telepon dari Ren jika kau sakit, Dia mengatakan untuk jangan khawatir karena ada dua orang teman yang menjagamu sampai besok pagi ." tanya Miyo-san.


"mereka sudah pulang, mungkin lelah." jawab Hinana berbohong, padahal dia yang mengusirnya.


"syukurlah jika kau sudah membuka dirimu lagi Hinana, sepertinya mereka orang yang baik. Hinana Bibi harus pulang dulu, karena pamanmu akan pulang nanti malam."


"iya, jangan khawatirkan aku. Daah" ucap Hinan dan melambaikan tangan pada Miyo-san.


"selesai, ini makanlah."


"terima kasih, Keiko apa kau sudah baikan dengan Naomi?"


"aku tidak bertengkar padanya."


"eh, lalu siapa teman yang kau ceritakan padaku waktu itu."


"Oh soal itu, Hinana-san aku memutuskan untuk memilih persahabatan. Meskipun itu akan menyakitiku tapi Naomi lebih berharga dari pada pacarku." ucap Keiko dengan senyumannya.


Hinana merasa rendah diri karena sikap Keiko yang begitu dewasa. Andai saja Hinana bisa seperti itu memilih sahabat dan meninggalkan kekasihnya. Tapi sepertinya tidak, karena sahabat Hinana sendiri yang menghianatinya.


"bagaimana denganmu Onii-san?"


"apanya yang bagaimana? Aku tidak sama denganmu."


"bukan itu maksudmu, bagaimana dengan kak Ren? Aku rasa dia menyukaimu." Keiko berusaha menggoda kakaknya, karena sudah lama tidak bisa bercanda dengan Hinana.


"Ren itu hanya penganggu, tidak ada hubungannya denganku."


"tapi kak Ren sangat tampan lohh."


"ya ku akui kau benar, tapi menyebalkan." kata Hinana dengan memakan buah apelnya.


Setelah bercanda dengan Keiko cukup lama, Hinana merasa mengantuk mungkin karena efek obat. Hinana pun akhirnya tertidur dengan di temani Keiko.


"Onii-san, Onii-san...." Keiko membangunkan Hinana yang masih tertidur.


"Onii maaf aku harus pulang sekarang, karena ayahku mengalami kecelakaan saat pulang. Apa kau baik-baik saja jika ku tinggal sendiri?" ucap Keiko saa melihat Hinana mulai terbangun.


"Hem, pergilah aku baik-baik saja."

__ADS_1


"maaf Onii aku harus meninggalkanmu, aku janji tidak akan lama." Keiko segera keluar dari kamar, sedangkan Hinana mulai tidur kembali.


Keiko berjalan keluar dari rumah sakit, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Hinana sendirian. Keiko memutuskan menelepon Ren.


"halo, kak Ren apa kau sibuk hari ini?"


"ada apa?"


"sebenarnya aku meminta bantuan mu untuk menjaga kak Hinana. Ayahku mengalami kecelakaan di Sapporo."


"aku akan kesana, kau pergilah tak apa."


"syukurlah, terima kasih kak Ren. Aku bisa tenang meninggalkan kak Hinana."


"hem, sampaikan salam pada ayah dan ibu mu."


"tentu, daah kak Ren." Keiko mengakhiri panggilannya dan segera memesan taksi.


Setelah satu jam Hinana akhirnya bangun, ia merasa sedikit haus. Hinana mencoba mengambil air yang ada di meja, tapi tangannya merasa sangat sakit padahal tadi tidak.


PYAARR.


Akhirnya ia menjatuhkan gelasnya.


"anda tidak apa-apa nona?" tanya seorang dokter yang kebetulan lewat.


"tanganku sangat sakit sekali, padahal tadi pagi tidak terasa." rintih Hinana yang kesakitan.


"sebentar biar ku priksa dahulu." dokter kemudian membuka perban Hinana dan mulai memeriksa lukanya.


"siapa dokter yang merawatmu?"


"dokter Takamiya."


Tak butuh waktu lama akhirnya dokter Takamiya datang, kemudian mereka berbicara dan sepertinya itu serius.


"Hinana." Panggil Ren saat masuk di kamar Hinana. Ren melihat ada dua dokter yang sedang berbincang serius, sedangkan Hinana terlihat kesakitan.


"kau kenapa Hinana?"


"tanganku terasa sangat sakit."


"biar ku panggilkan dokter, mereka ada di depan."


"tidak usah, tadi dokter sudah datang memeriksa. Ren bisa ambilkan aku air putih, aku sangat haus." Hinana meminta bantuan kepada Ren dengan malu-malu, karena selama ini Hinana selalu bersikap mandiri.


"baiklah, aku akan belikan keluar." Ren melihat ada pecahan gelas di lantai. Kemudian ia bergegas ke lobi untuk membeli minuman.


Tak butuh waktu lama Ren segera kembali, tapi Ren melihat Hinana di bawa pergi oleh beberapa perawat.


"Ren, aku akan di operasi." ucap Hinana saat melihat Ren, kemudian dengan segera perawat membawanya pergi.


"maaf tuan apa kau keluarganya?" tanya dokter muda.


"aku teman, keluarganya baru saja pulang."


"Oh ya aku tidak sopan sekali, aku Aoyama dokter spesialis bedah."


"kau dokter baru disini?"


"iya aku baru pindah dari Osaka, maaf bagaimana bisa kau tahu aku baru?"


"aku hanya menebak saja, berapa lama operasinya."


"sekitar satu jam, kau baik-baik saja. Wajahmu sangat pucat apa kau sakit?"

__ADS_1


"hanya sedikit pusing." jawab Ren kemudian duduk di ranjang kamar.


"baiklah Tuan bisa istirahat dulu, aku akan pergi."


"Dokter Aoyama, bisa berikan ini pada Hinana? Dia bilang kalau sangat haus." Ren memberikan sebotol air minum.


"Tentu, aku permisi." Aoyama mengambil air minum dan pergi.


Sementara Ren kemudian beralih duduk di sofa dan memejamkan matanya. Sebenarnya saat Keiko meneleponnya Ren sedang sakit, tapi Ren tidak tega dengan Hinana.


Hampir dua jam Ren tertidur di sofa, tanpa menyadari Hinana sudah ada di kamar dan sudah sadar.


"bagaimana keadaanmu nona?" tanya Dokter Aoyama.


"aku sedikit pusing, mungkin karena efek obat."


"maaf apa kau Hinana putri dari tuan Arizawa?"


"hem iya."


"sudah ku duga, aku Aoyama apa kau tidak mengingatku?"


"entahlah." jawab Hinana karena ia memang ingin melupakan masa lalunya yang buruk.


"kau sudah lupa, kita sekelas saat SMP kau tak ingat? Kita juga satu club Baseball waktu itu."


"Aoyama...?"


"benar kau sudah ingat? Aku tak menyangka bisa bertemu disini."


"kau jadi dokter sekarang?"


"hem, bagaimana denganmu?" Tanya Aoyama dan tidak sengaja membangunkan Ren.


"Hinana."


"kau sudah bangun Ren?" tanya Hinana.


"maaf aku tertidur. Bagaimana keadaanmu?"


"aku masih lemah."


"kau sangat pucat, maukah ku periksa sakitmu?" Aoyama mengahmpiri Ren karena tidak melihat kulit Ren semakin putih pucat.


"tidak perlu, aku sudah minum obat tadi. Hanya perlu istirahat." Ren menolak Aoyama.


"kau sakit? Pulanglah dan istirahat." Hinana tak heran karena Ren selalu peduli dengan nya, meskipun Ren sendiri sakit.


"hem, aku akan pulang setelah ini." Ren tersenyum karena merasa Hinana memperdulikannya.


"apakah kau Ren Koizumi?" tanya Aoyama.


"iya aku Ren Koizumi."


"benar juga, kita dulu satu SMA. Kau dulu juga satu ekskul Baseball."


"benarkah, tapi aku tidak mengenalimu."


"aku Aoyama Takahasi dari kelas 3-D. Kalau tidak salah kau adiknya Shota."


"kau teman sekelas Shota rupanya. Salam kenal." ucap Ren.


"senang mengenalmu, jika ada waktu bisakah kita saling bertemu?" tanya Aoyama pada Ren.


"tentu saja."

__ADS_1


__ADS_2