Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
37


__ADS_3

Mereka semua membantu Tsubaki membersihkan sisa-sisa bahan dari pekerjaannya.


"Ren apakah kita akan lanjut menjahit." tanya Emi.


"tidak, kita lanjutkan besok saja."


"baiklah." Emi melanjutkan membereskan dan bersiap pulang. Dalam situasi ini Ren masih tetap diam dengan Tsubaki tidak seperti biasa. Hinana pun menyadari hal itu, sejak kejadian siang tadi mereka tak saling bicara.


"terima kasih atas kerja kerasnya, aku pulang dulu Tsubaki." ucap Hinana berpamitan.


"sampai jumpa besok lagi." Arumi juga berpamitan kemudian pergi.


"aku pulang." ucap Ren dengan dinginnya dan Tsubaki hanya mengangguk.


Hinana tak tahu apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Ren dan Tsubaki. Dia semakin penasaran lalu memutuskan untuk memperlambat langkahnya.


"Hinana, kita pulang bersama." ajak Ren.


"aku akan naik bus."


"ayolah, ini kan mobilmu." Ren segera keluar dan membuka pintu mobil untuk Hinana.


"Ren apa kau ada masalah?"


"tidak, memangnya kenapa?"


"tidak apa-apa, hanya saja kau selalu membantuku. Jadi jika kau perlu bantuan kau bisa katakan padaku."


"hem pasti akan ku lakukan." ucap Ren dan melajukan mobilnya untuk mengantar Hinana pulang.


Seperti biasa Ren membawa mobil Hinana pulang kerumahnya, agar besok pagi bisa menjemput Hinana.


Hinana masih memikirkan keadaan Ren, ia semakin penasaran pada Ren. Orang seperti apa Ren? Ia tak bisa menyangkal kalau sebenarnya dirinya mulai menyukai Ren. Lamunan Hinana di kejutkan oleh ponselnya yang berbunyi.


"ya halo."


"Hinana ini aku Sawako, kau ada waktu?"

__ADS_1


"kenapa?"


"aku ingin bertemu denganmu, ada yang ingin ku katakan padamu." ucap Sawako dan Hinana merasa akan akan pedang lagi yang menyakiti lukanya.


"baiklah, kali ini datang ke resto yang ku kirim alamatnya. Karena mobilku sedang di pinjam."


"hem baiklah, see you Hinana." ujar Sawako dan menutup panggilannya. Hinana mulai menyiapkan dirinya, karena sebentar lagi ia harus merasakan sakit lagi.


Ia mengirimkan alamat pada Sawako dan menunggunya.


"Sawako." panggil Hinana saat melihatnya di depan pintu.


"apa kau sudah lama menunggu?."


"tidak juga, aku juga baru selesai makan malam."


"oh ya Hinana bagaimana persiapan festivalnya? Aku mendapat kabar dari pantia kalau bulan depan team kalian akan di review."


"heh apakah akan diadakan shoot?"


"haruskan seperti itu?." gumam Hinana dan menggaruk kepalanya.


"tentu saja, oh ya grub pertama yang di review adalah Snidel dari Osaka. Kalian bisa melihat dan mempersiapkan apa saja yang akan di shoot saat review."


"baiklah, terima kasih infonya Sawako. Aku akan beritahukan pada teman-teman lainnya." Hinana membaca semua yang ada di makalah tentang apa saja yang harus di siapkan.


"Hinana, aku ingin minta maaf padamu." ucap Sawako tiba-tiba. Hinana pun mengerti apa yang di maksud Sawako.


"tidak masalah, tak perlu minta maaf." jawab Hinana dengan acuh.


"tidak seharusnya aku melampiaskan amarahku padamu. Yukiatsu adalah satu-satunya temanku, sahabatku dan orang yang ku cintai. Tapi saat itu aku benar-benar kecewa padanya, karena dia tidak memperkenalkanku pada teman-temannya. Aku di campakkan olehnya." Sawako menceritakan semuanya pada Hinana dengan menangis.


Dan saat itu Hinana menjadi tak tega pada Sawako, ia memilih diam dan mendengarkan semua cerita Sawako.


"aku pernah menyatakan perasaanku padanya saat SMA, dan dia menolakku. Yukiatsu mengatakan kalau dia tak mungkin memiliki pacar seperti aku. Kemudian aku sadar bahwa wanita idaman Yukiatsu adalah model cantik sepertimu. Aku juga merubah penampilanku agar secantik dirimu, tapi Yukiatsu sama sekali tak melihatku. Dia juga mengatakan jika tak ingin punya hubungan apapun denganku, dan memutus pertemanan kita. Aku..."


"cukup hentikan Sawako." Hinana tak sanggup lagi mendengar cerita Sawako. Ia menghampiri Sawako dan memelukknya. "air mata milikmu tak pantas untuk menangisi orang brengsek itu."

__ADS_1


" aku tidak siapapun lagi sekarang, saat meninggalkanku aku tak punya teman lagi." ucap Sawako yang masih dalam isak tangisnya.


"Sawako-san aku akan menjadi temanmu, mari kita lupakan Yukiatsu sama-sama.


"benarkah kau mau menjadi temanku?"


"hem, mari kita cari seorang teman yang mau menerima kita apa adanya."


"Arigatou Hinana-san." Sawako mulai menghapus air matanya dan memeluk Hinana dengan erat.


Suasana semakin haru malam itu, meskipun musim semi belum tiba tapi perlahan es di hati Hinana sedikit meleleh.


Ternyata bukan hanya dirinya saja yang di campakkan seseorang, dan Hinana bersyukur karena masih punya seseorang yang menemaninya. Seperti Keiko, Ryusei adiknya yang sebenarnya sangat peduli padanya. Serta Ren, mengingat nama Ren membuat Hinana ingin pergi ke suatu tempat. Dan Hinana berpamitan pada Sawako untuk pergi.


"sudah kuduga, pasti terjadi sesuatu padanya." gumam Hinana saat melihat Ren di Niseko. Hinana tak memanggilnya, diam-diam dia mendekati Ren. Hinana melihat Ren menutup matanya dan mengeluarkan air mata.


" benarkah ini Ren? Kenapa terlihat sangat berbeda? Apa Ren sedang menangis? Kenapa dia bersedih apa terjadi sesuatu padanya? Wajah ceria yang kusukai kenapa penuh dengan air mata?"


Berbagai pertanyaan berkecambuk dalam hati Hinana. Ia tak bisa menahan diri, kemudian mengusap air mata di pipi Ren. Dan membuat Ren membuka matanya.


"Hinana." Ren sangat terkejut saat melihat Hinana ada di depan matanya.


"kenapa kau bersedih?"


"aku tidak sedih, hanya menangis. Karena air mata bisa melindungi mata kita dari iritasi." Ren mencoba mengelak Hinana.


"kau tak pandai berbohong, sudah terlihat jelas di wajahmu."


"pergilah Hinana, aku sedang ingin sendiri."


"tidak mau."


" Why?"


" karena aku menyukaimu Ren." akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Hinana.


Ren terkejut namun tak bisa membohongi jika hatinya sangat senang mendengar pengakuan cinta dari Hinana, ia menghampiri Hinana dan memeluknya dengan erat. Hinana membalas pelukan Ren, ia juga ikut menangis karena melihat cahaya saljunya bersedih.

__ADS_1


__ADS_2