
" Ren-kun benarkah kau tak ingin menaiki salah satu permainan disini?" Hinana berteriak karena saat itu ia sedang menaiki salah satu komedi putar.
"ini menyenangkan lho." teriak Hinana sekali lagi lalu turun menghampiri Ren.
"tidak Hinana, kau saja."
"kenapa?"
"tidak apa, melihatmu menaikinya saja aku sudah senang."
"dasar aneh. Kemarilah." Hinana menarik tangan Ren dan mengajaknya naik komedi putar.
"tunggu sebentar Hinana. Hinana, Hinana." Ren terus saja menolak tapi Hinana masih terus memaksa Ren. Dan Ren menepis tangan Hinana.
"hentikan Hinana, aku takut." ucap Ren kemudian menunduk. Hinana seketika menghentikan langkahnya dan perlahan mendekati Ren. Ia tak pernah melihat Ren yang seperti ini.
Ren ketakutan? Aku tak pernah melihat wajah Ren yang seperti ini. Mungkinkah dia punya rasa trauma yang amat dalam?beribu pertanyaan yang ada di pikiran Hinana.
" Ren...." panggil Hinana namun Ren masih tetap menunduk dan tak mengatakan apapun
" Ren, gommene."
"tak perlu minta maaf, karena tidak ada yang salah."
"apa kau benar-benar takut? " tanya Hinana sekali lagi.
"sebenarnya tidak begitu, hanya saja aku tak pernah naik wahana apapun. Jadi aku merasa...."
" wahana ini tidak berbahaya sama sekali. Percayalah padaku Ren."
"benarkah?"
" aku akan berada di sisimu, jadi tidak ada yang di khawatirkan. Ayo." Hinana kembali menggandeng tangan Ren dan mendekati komedi putar.
Ren hanya menurut mengikuti kemauan Hinana. Sesuai janji Hinana, ia berada di samping Ren sampai satu putaran terhenti. Kali ini semua hanya tertuju pada Ren, entah kapan, bagaimana dan mengapa. Hinana merasa jika Ren mulai masuk di sebagian hidupnya.
"Hinana terima kasih." ucap Ren dan berjalan menuju ke sebuah restaurant.
"untuk apa?"
"untuk hari ini. Meskipun aku hanya menaiki itu tapi rasanya menyenangkan." Ren menunjuk ke komedi putar yang tadi ia naiki.
"tidak masalah, tapi apa kau serius baru pertama kali menaikinya?" tanya Hinana dan Ren hanya mengangguk.
__ADS_1
"lalu saat kau kecil, apa tidak pernah main ke Disneyland?"
"emmm dulu momy berjanji mengajakku dan Shota untuk bermain di festival musim semi. Tapi saat itu momy masih bekerja dan sangat sibuk. Dia melupakan janjinya. Sejak saat itu aku kecewa dan aku melampiaskan dengan belajar. Jadi aku tidak pernah berlibur dengan kedua orang tuaku."
"ohh kenapa kau memilih belajar? Kau kan bisa pergi dengan Shota atau temanmu yang lain."
"saat itu aku belum punya teman di Jepang. Aku memilih belajar karena menurutku tidak mengecewakan. Aku bisa dapat juara, jadi ketua kelas dan lolos ujian dengan baik."
"jadi kau merasa bahwa bisa diraih dengan belajar. Begitu kecewanya kau dengan ibu mu."
"itu dulu, ayo kita makan dulu Hinana." ujar Ren saat pelayan memberikan makanan yang di pesannya.
Hari sudah larut malam, Ren mengajak Hinana untuk pulang. Meskipun semakin hari semakin ramai, tapi bagi Ren dan Hinana sudah cukup menghabiskan waktu bersama.
"Ren-kun boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Hinana saat akan menuju parkiran mobil.
"katakan saja."
"mengapa kau menangis." tanya Hinana dengan hati-hati.
"sudah ku katakan, aku hanya terharu dengan lagunya. Ayo pulang."
" tunggu sebentar. Waktu itu, saat di Niseko aku juga melihatmu. Kau menutup mata dan membiarkan air matamu keluar." Hinana mencegah Ren untuk masuk mobil. Ren hanya diam sepertinya tak ingin mengatakan sesuatu pada Hinana.
" katakan pada ku Ren." Hinana tak bisa menyembunyikan air matanya dan tumpah begitu saja.
"Ren-kun apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Kumohon katakan padaku."
" aku baik-baik saja Hinana." ucap Ren dengan suara lirih.
"tidak, kau berbohong Ren, kau tidak sedang baik-baik saja. Jika kau baik-baik saja jangan menunduk, lihat ke arah ku." Hinana mendekati Ren dan membuka rambut Ren yang dari tadi menutupi wajahnya.
"Ren lihat aku jika kau baik-baik saja." Hinana memegangi kepala Ren dan menatap wajah Ren.
Akhirnya dengan terpaksa Ren menuruti ucapan Hinana, ia menegakkan kepalanya menghadap Hinana. Kini Ren tidak bisa membohongi Hinana, saat Ren menunduk sebenarnya ia menyembunyikan air matanya. Dan sekarang ia sudah ketahuan.
Hinana terkejut begitu melihat Ren, tangannya perlahan menghapus air mata milik Ren. Selama ini sepasang mata yang ia lihat sangat tenang, ternyata ada kesedihan di baliknya.
"aku sudah ketahuan sekarang." ucap Ren dengan mengembangkan senyumnya. " terkadang ada perasaan yang tidak bisa ku katakan, dan hanya air mata yang dapat menyampaikan. Untuk itulah aku menangis."
"kesedihan apa yang menimpa mu."
"sudah ku bilang, semua itu tidak bisa ku ungkapkan jangan memaksaku." ucap Ren dengan sedikit marah. Ia menyerahkan kunci mobil kepada Hinana lalu pergi meninggalkannya.
__ADS_1
" Ren-kun tunggu." Hinana segera menyusul Ren dan memeluknya dengan erat. "Gomennasai."
Ren sangat terkejut saat Hinana memeluknya dari belakang. Perlahan ia ingin menyentuh tangan Hinana tapi mengurungkan niatnya. Ia hanya menutupi wajahnya agar tidak ada orang yang melihatnya bersedih.
Selama ini Ren belum pernah merasakan perasaan ini. Meskipun Ren punya banyak teman, namun saat bersama Hinana ia tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Ia bahagia bersama Hinana, tapi tidak mungkin jika kebahagiaan ini berlangsung lama.
"ayo kita pulang Hinana." ucap Ren dan menghadap ke arah Hinana.
"hem ayo." Hinana menggandeng tangan Ren dan mengajaknya masuk ke mobil.
Kali ini Hinana yang menyetir mobilnya. Suasana di mobil sangat sepi. Sesekali ia melihat ke arah Ren, tapi Ren hanya diam. Pandangannya jauh melihat ke luar.
"Ren, kita sudah sampai di rumahmu."
"hem arigatou. Oh ya Hinana, mulai besok aku tidak akan menjemputmu lagi." ucap Ren kemudian turun dari mobil Hinana.
" mata ashita Ren..." teriak Hinana dengan melambaikan tangan. Tapi tidak ada balasan dari Ren, bahkan Ren tidak menoleh ke belakang sama sekali.
Hinana melajukan mobilnya, pikirannya sangat kacau. Kali ini ia tidak ingin pulang, Hinana melajukan mobilnya ke tempat bermain basket. Berkali-kali ia melempar bola tapi tidak ada satu pun yang masuk kedalam ring.
"payah sekali." ucap seseorang yang di kenal Hinana.
" Shota... Sejak kapan kau ada disini?" Hinana terkejut saat mendengar suara Shota.
"barusan." Shota kemudian mengambil bola yang dipegang Hinana. "Yossh." ucap Shota saat berhasil melempar bola ke ring.
"kau sajalah."
"eh kenapa? Kau tidak seperti biasanya."
"mungkin hanya perasaanmu saja." Hinana mengambil sebotol air dan meminumnya sampai habis.
"hem mungkin benar, karena perasaanku saat ini sedang baik."
"apa yang terjadi denganmu?" tanya Hinana.
"entahlah, aku juga bingung harus dari mana mulai menceritakannya. Yang jelas aku bingung, apa yang harus ku lakukan. Karena saat ini aku hanyalah seorang pengangguran." jawab Shota sambil memainkan bola basket di tangannya.
"kau tidak bekerja di perusahaan?"
"kau bercanda? Aku tak punya keahlian apapun di perusahaan Ren. Malah aku mengacaukannya dan hampir membuatnya bangkrut."
"lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di Osaka?"
__ADS_1
"aku sudah di pecat." jawab Shota ringan.