Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
81 Ren mengingat kakaknya


__ADS_3

Hinana mengikuti Jouji keluar dari kamar Ren. Kali ini wajahnya benar-benar merah. Ia berpikir bahwa dirinya seperti paparazi mesum yang tiba-tiba datang ke kamar Ren.


"Doshite (kenapa)?" tanya Jouji ayah Ren yang dari tadi memperhatikannya.


"iie-iie (tidak), ano (itu) maksudku. Aku benar-benar minta maaf, aku tidak tahu jika Ren sedang di bersihkan. Tapi aku benar-benar tidak melihat apapun, sungguh, aku bersumpah." ucap Hinana dengan panik karena ia takut jika Jouji mengiranya paparzi.


Melihat pengakuan Hinana yang seperti itu Jouji hanya tertawa keras, karena tak percaya jika Hinana menjelaskan begitu detail. Memang saat itu perawat mengatakan akan membersihkan tubuh Ren, oleh karena itu Jouji keluar dari kamar. Tapi ia terkejut saat melihat Hinana ada di dalam dan melihat baju bersih Ren masih tertata rapi di meja.


"Tidak masalah, maaf menertawakanmu." balas Jouji.


"Tidak apa." ucap Hinana dengan canggung.


"Jangan minta maaf padaku, karena yang malu bukan aku. Oh ya Hinana saat ini kondisi Ren sangat lemah jadi jangan bicarakan tentang pekerjaan dulu, biarkan dia agak membaik Okey." ucap Jouji memberi tahu Hinana.


"Baik aku mengerti."


"Jouji san, Hinana." Sapa dokter Seto dan menghampirinya, tidak hanya itu Aoyama juga ada di belakangnya.


"Sensei." sapa Jouji dan Hinana bersamaan.


"Melegakan sekali karena akhirnya Ren bisa melewati masa kritisnya. Hal itu karena ada dorongan di pikirannya sehingga otaknya bekerja. Arigatougozaimasu (terimakasih banyak) Hinana chan." ucap Seto menjelaskan dan menundukkan kepala kepada Hinana.


"Oh ya Jouji san bisakah keruanganku sebentar, karena sudah ada Hinana dan Aoyama yang bisa menjaga Ren."


"Baiklah." balas Jouji dan mengikuti Seto sensei berjalan.


"Hey kenapa Seto sensei berterimakasih padaku?" tanya Hinana pada Aoyama yang sudah ada di sampingnya.


"Itu karena kau yang membuat Ren bisa sadar kembali."


"Eh, apa maksudnya?"


"Saat kau masuk ke kamar NICU secara tidak sengaja kau berkomunikasi padanya dan membuat pikirannya ingin sadar kembali. Entah karena ada sesuatu yang ingin ia lakukan jadi mendorong otaknya untuk bekerja dan membuatnya sadar." Jawab Aoyama.


Memang saat itu Hinana disuruh dokter Seto untuk membantunya. Sejauh itu hanya dokter dan perawat yang hanya boleh masuk ke ruang NICU, dan Hinana teringat saat dokter Seto menyuruhnya.

__ADS_1


*"Oh ya aku akan memeriksa kondisi Ren sekarang, masuklah dan bantu aku." ajak Dokter Seto dan membuat Hinana kebingungan tapi Hinana mengikuti dokter Seto masuk ke ruangan NICU.


"Anoo, kenapa mengajakku. Aku tidak tahu apapun tentang ilmu kedokteran." tanya Hinana bingung.


"Karena Aoyama sedang istirahat dan hanya kau yang bisa membantuku. Oh ya pakailah pakaian yang steril." Ucap dokter Seto memberi perintah pada Hinana.*


"Cotto matte (tunggu sebentar) kau mau kemana?" teriak Aoyama saat melihat Hinana pergi berlari. Rupanya ia ingin menemui dokter Seto.


"Seto sensei." ucap Hinana setengah berteriak memanggilnya. Seto dan Jouji yang mendengar panggilan Hinana kemudian berhenti dan menoleh ke belakang.


"Arigatougozaimasu (terimakasih banyak)." ucap Hinana dan membungkuk sangat dalam.


"Tidak perlu, akulah yang harus berterimakasih padamu. Terimakasih sudah membantuku." Jawab dokter Seto yang mengerti maksudnya Hinana. Kemudian ia masuk keruangannya bersama ayah Ren.


Hinana kembali ke kamar Ren, ia sudah melihat perawat laki-laki keluar dan Aoyama yang masuk ke kamar Ren.


"Kau bisa bernafas dengan baik?" tanya Aoyama saat memeriksa Ren.


"Apa masih terasa nyeri?, Baiklah akan ku berikan peredanya ,Bisakah kau menelan air? Baiklah sudah lebih baik. Tapi kau masih harus banyak beristirahat, jika kau bisa bernafas tanpa alat bantu tandanya kau sudah boleh makan." ucap Aoyama dan Ren hanya memberikan jawaban dengan anggukan kepala bahkan mengedipkan mata, karena saat ini kondisinya benar-benar lemah.


"Berisik." umpat Hinana karena Aoyama menganggunya.


"Jika ada masalah kau bisa menghubungiku." ucapnya Aoyama kembali sebelum benar-benar pergi.


Setelah Aoyama sudah keluar dari kamarnya, Ren pun memanggil Hinana.


"Hinana, kemarilah." Ren memanggil Hinana dan dengan segera ia duduk di sampingnya.


"Apa ada yang kau butuhkan? Katakan saja akan ku ambilkan."


"Onichan (kakaku), bisakah kau membawanya kesini?" ucap Ren yang terdengar lemah.


Hinana baru menyadari jika Ren seperti ini karena mengejar Shota saat itu.


"Kondisimu masih terlalu lemah, bisakah kita tak membicarakan hal itu." Hinana segera menghentikan topik yang akan di bahas Ren, karena ia juga mengingat perkataan Jouji yang memperingatinya.

__ADS_1


"Demo (tetapi), aku ingin bertemu dengan Shota. Aku.."


"Ren kun, kau ingin apa sekarang. Apa kau ingin makan sashimi? Atau Donburi aku akan membelikannya." dengan segera Hinana memotong perkataan Ren agar tidak membahas Shota terus menerus.


"Tidak perlu, pergilah, aku ingin tidur saja." ucap Ren dengan nada kecewa. Karena ia merasa Hinana saat ini tidak akan berpihak kepadanya.


"Baiklah, cepatlah sembuh. Jaa mata (sampai jumpa)." Hinana akhirknya keluar dari kamar Ren, ia perlahan menutup pintunya dan masih memandanginya.


Sejujurnya Hinana masih ingin menemani Ren didalam, tapi ia tidak suka jika Ren masih memikirkan Shota. Karena Hinana menganggap semua ini kesalahan Shota. Ia memutuskan menunggu Ren di luar.


"Kenapa kau tak menemaninya di dalam?" tanya Jouji yang baru selesai berbicara dengan dokter Jouji.


"Ren mengingat kakaknya." jawab Hinana dengan singkat. "Apa anda sudah selesai dengan Seto sensei?"


"Ini.."Jouji menunjukkan amplop cokelat pada Hinana.


"Apa ini?" tanya Hinana yang kebingungan dan menerimanya.


"Sebenarnya hanya pihak keluarga yang boleh mengetahui hasil nya. Tapi kuberitahu kau karena sepertinya kau sangat peduli pada Ren."


"Eh, aku hanya merasa Ren temanku yang baik." jawab Hinana dengan menggaruk kepalanya.


"Eh hanya teman? Kondisi jantungnya sudah membengkak, hingga memenuhi ring yang di pasang. Bisanya akan digantikan ring yang baru, tapi Sensei bilang itu tidak mungkin untuk Ren." ucap Jouji menjelaskan kondisi Ren.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Hinana dengan polosnya.


"Operasinya membutuhkan waktu 60 menit, dan belum dipastikan akan berhasil."


"Gomennasaai (maafkan aku)." ucap Hinana karena merasa bersalah menanyakan hal itu.


"Tidak perlu. Sampai saat ini aku pun belum bisa menghubungi Shota. Pasti saat ini kau akan menyalahkan Shota, tapi sejujurnya ia tidak bersalah. Shota anak yang baik, dia sangat menyayangi adiknya." Jouji menceritakan sedikit tentang Shota pada Hinana.


" Tapi mengapa ia meninggalkan Ren? Kenapa ia tak berhenti saat tahu Ren mengejarnya. Ia juga sudah tahu bagaimana kondisi Ren, jika aku jadi dia apapun masalahnya tak akan pergi." ucap Hinana yang berterus terang.


"Kau benar, tapi kita tidak tahu apa masalahnya. Ren juga mengatakan padaku jika ia ingin minta maaf pada Shota. Tapi apapun masalahnya Shota tidak salah. Pulanglah kau masih punya pekerjaan untuk besok." ucap Jouji dan menepuk bahu Hinana, kemudian ia masuk ke kamar Ren. Sementara Hinana masih berdiri memikirkan omongan Jouji sebelum akhirnya pergi pulang.

__ADS_1


__ADS_2