
Langit yang sudah berubah menghitam namun terlihat indah dengan hiasan bintang-bintang. Pemandangan yang menyenangkan bagi seseorang yang menyukai bintang. Tapi tidak bagi pria berwajah kalem yang memakai kemeja biru. Sejak kematian itu, dia tak ingin melihat kearah langit.
"Ren, ayo pulang." Ajak Aoyama membuyarkan lamunannya.
Tanpa jawaban Ren langsung mengikuti perintah Aoyama.
"Apa kau baik-baik saja? Aku sangat lelah karena memukul bola sebanyak itu." ucap Aoyama berusaha mencairkan suasana.
"Kau tidak memukul satu bola pun."
"Setidaknya aku mengayunkan tongkatku."
"Benar meskipun dengan teknik yang salah." Ejek Ren sekali lagi dan menertawai Aoyama.
"Iyalah, ngomong-ngomong panggil saja aku Aoyama. Melihatmu yang hebat aku merasa malu dipanggil sensei."
"Mite!!! (lihatlah)." Ren menunjuk kearah menara Tokyo. "Hei aku ingin kesana sebentar." Tanpa persetujuan Ren langsung menggeret Aoyama untuk mengikutinya.
Aoyama yang sedari tadi sudah lelah, hanya pasrah saja saat Ren menariknya. Bagaimanapun juga sudah konsekuensi Aoyama karena mengizinkan Ren pergi ke Tokyo.
"HAAH BAAKKAA..." teriak Aoyama saat Ren mengajak Aoyama naik kereta gantung.
"Ayolah."
"Kenapa kau tidak mengajak pacarmu saja. Lihatlah mereka semua berpasangan. Kita akan di anggap Gay." Ucap Aoyama dengan berbisik sembari menoleh kearah kanan dan kiri.
" Aku tidak punya pacar. Kaulah saja jadi pacarku hari ini."
Aoyama hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan terpaksa harus mau menuruti kemauan Renchiro adik dari Shota teman baiknya. Entah bagaiman bisa Shota menghadapi sifat adiknya yang sangat manja ini.
Pemandangan kota Tokyo sangat indah jika dilihat dari atas, Ren berkali-kali mengabadikan dalam kamera kecil yang dibawanya.
"Lapangan baseball !!! Bahkan tidak terlihat pemainnya." Gumam Ren dengan tertawa kecil.
"Ren ada berapa medali yang kau dapat saat bermain basseball?" tanya Aoyama.
"Entahlah, aku bahkan tak bisa menghitungnya."
"Dasar sombong. Saat kau memutuskan berhenti dari club aku sangat terkejut. Tidak hanya aku bahkan semua orang. Karena kau keluar dari semua ekskul. Apa semua itu gara-gara penyakimu?" tanya Aoyama.
"Aku masih ingat saat pertandinganku di musim semi. Aku pingsan saat setelah home run dan di bawa ke rumah sakit. Saat itu dokter mengatakan ada kelainan di jantungku. Tapi tak masalah sekarang aku sudah tak menyukai permainan itu lagi." Jawab Ren dengan santai.
Pintu kereta sudah terbuka, dengan cepat Aoyama menarik Ren untuk keluar karena sebenarnya ia tak suka berada di ketinggian.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang sudah marah-marah." Aoyama membuka ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Hinana. Bahkan Hinana mengirim pesan pada Aoyama.
"Hinana chan?" tanya Ren dengan spontan.
"Hum, dia sangat khawatir padamu. Aku rasa Hinana menyukaimu. Dia begitu perhatian padamu, Hinana juga rela pergi ke Tokyo hanya karena kau."
"Hum, aku tahu. Aku juga menyukainya." Jawab Ren dengan santainya.
"Sebuah hubungan yang tak jelas. Aku tahu jika sebenarnya kau tak ingin melukai Hinana. Tapi mengatakan tidak menyukainya sangatlah sulit bukan. Dan kau benar-benar Hebat."
Ren menghentikan langkahnya membiarkan Aoyama berjalan sedikit lebih jauh satunya.
"Aoyama." panggil Ren dengan pelan.
Merasa namanya di panggil Aoyama menoleh kearah Reb yang terlihat jauh di belakangnya.
"Aku berbohong saat aku mengatakan tidak menyukai basseball." ucap Ren dengan menundukkan kepalanya.
Aoyama teringat ucapan Ren saat dikereta gantung tadi, ia sedikt tersenyum dan menghampiri Ren.
"Aku tahu kok, ayo pulang. Kau sudah berhasil memukul bolanya dengan keren." Aoyama mengajak Ren pulang.
Saat ini Ren merasa jika Aoyama mempunyai kesamaan dengannya. Keduanya tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik. Hanya saja Aoyama bersikap lebih dingin dan Ren bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
Tepat jam 9 malam Ren dan Aoyama baru sampai di Mansion. Tentu saja Hinana sudah menunggu di depan pintu.
"Tenanglah, Ren pergi denganku." Jawab Aoyama dengan santai.
"Meskipun begitu, aku mencemaskannya." Jawab Hinana dengan tatapan tajam kearah Aoyama.
Sedangkan Ren membagikan makanan yang ia beli di street foot untuk teman-temannya.
"Aku punya sesuatu untukmu." Ren memberikan sebuah gantungan yang ia beli di toko oleh-oleh.
Sebuah gantungan berbentuk kucing bewarna hitam yang Ren berikan pada Hinana.
"Kucing?" pekik Hinana saat menerimanya. Karena hewan yang ia sukai bukan kucing, melainkan kelinci.
"Hum, kau menyukainya?" tanya Ren.
"Eh aku suka gantungnya. Terimakasih." jawab Hinana dengan sedikit canggung, entah mengapa ia tiba-tiba terasa aneh di sebelah Ren.
"Karena kucing itu imut, makanya aku memberikannya padamu."
__ADS_1
"Benarkah, ah sepertinya begitu." Jawab Hinana singkat.
Sepertinya gadis di sebelah Ren tidak mengingat apapun, dan Ren hanya tersenyum seperti biasanya.
Disis lain terlihat Arimura yang menggoda Aoyama.
Sebuah bingkisan cicin milik Aoyama berhasil di ambil oleh gadis cantik asal turunan Inggris.
"Kirei (cantiknya)." ucap Arimura saat memakai cincin milik Aoyama.
"Berikan padaku, mengapa kau tiba-tiba merebutnya."
Dengan cepat Aoyama mengambil cincinnya dari tangan Arimura. Meskipun ditahannya tapi Aoyama berhasil mengambilnya dengan paksa.
"Sensei, apa cincin itu untuk pacarmu?" tanya Arimura dengan mengibaskan jarinya yang agak sakit.
"Tentu saja."
"Sensei, kau sangat mencintai pacarmu. Aku juga ingin dicintai seperti itu." ucap Arimura dan tersenyum kearah Aoyama.
Sedangkan Aoyama hanya melihat saja tanpa mengatakan apapun sebelum ia pergi meninggalkannya.
Hinana hanya memperhatikan kedua temannya dari kejauhan sambil melihat sebuah gantungan yang diberikan Ren.
"Aku juga ingin dicintai seperti itu." Gumam Hinana menirukan ucapan Arimura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat jam 10 malam, semua teman-temannya pergi tidur. Karena mereka ingin pergi ke toko oleh-oleh. Hinana sengaja menginap di mansion Ren karena ibunya bekerja di rumah sakit, ia masih tidak ingin bertemu dengan Ryusei adiknya.
"Kau tidak tidur?" Hinana melihat Ren yang masih terbangun.
"Aku sudah banyak tidur, kau sendiri?"
"Aku terbiasa tidur tengah malam." Hinana hanya menjawab pertanyaan dari Ren dengan ringan. Kemudian ia duduk di sebelah Ren. Saat ini Ren sedang menggambar di note book yang ia belikan.
"Aoyama. Ternyata dia baik juga." Ucap Ren memecah keheningan namun masih fokus menyelesaikan gambarnya.
"Hum, dia baik." Jawab Hinana masih dengan perasaan yang canggung.
"Selesai !!!!" ucap Ren setelah berhasil menyelesaikan gambarannya. "Aoyama mengajakku bermain baseball, rasanya menyenangkan."
Hinana mengintip gambar yang dibuat Ren. Ternyata Ren menggambar sebuah lapangan baseball lengkap dengan bola dan pemukulnya.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja? Bukankah kau tak boleh melakukan aktivitas yang berat?" Tanya Hinana karena merasa khawatir, ia masih mengingat Ren yang nekat bersepada lalu pingsan.
"Aku baik-baik saja. Hinana chan, apa kau masih menyukai musim dingin?" tanya Ren dan mengulurkan tangannya.