
Semua orang diruangan itu hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya. Karena membuat gaun itu mereka hanya tidur empat jam saja. Dan itu berlangsung selama satu minggu. Mereka juga terkejut karena Ren bisa sekejam itu melakukannya.
"Aku rasa gaunnya terlalu panjang, karena itu ku buat untuk musim dingin." Ucap Ren dan menghadap ke arah teman-temannya.
"Arigatougozaimasu Ren kun." Hinana berlari memeluk Ren. Ia sempat berpikir bahwa Ren akan merusaknya, tapi memang yang tahu design itu hanya si pembuat. Seperti yang dikatakan Arumi, dan sekarang Ren sudah mau menjelaskan apa makna dari designnya.
"Selamat datang kembali Ren." Ucap Tsubaki dan ikut memeluk Ren. Situasi kali ini antara senang dan bercampur sedih, karena mereka berhasil membuat Ren kembali melanjutkan impiannya. Sedihnya karena Ren mempunyai penyakit yang serius dan menyembunyikan dari teman-temannya.
"Gomen ne Arumi chan, seharusnya aku membiarkanmu menjelaskan dulu." Ucap Ren pada Arumi dan memeluknya.
Melihat pemandangan itu hati Hinana merasakan sakit, karena selama ini ia tak pernah melihat Ren memeluk wanita lain selain dirinya. Sama sakitnya saat melihat Ren memeluk Arimura waktu itu.
"Daijoubu (tidak apa-apa). Ne kenapa kau tidak pernah menceritakan sakitmu padamu?" Jawab Arumi dan menangis tersendu-sendu di pelukan Ren.
"Karena kau akan menangis seperti ini. Aku tak ingin." balas Ren dan menghapus air mata Arumi.
Hinana dan Emi juga melihat perlakuan Ren yang sangat lembut pada Arumi. Mereka berdua merasa cemburu dan mereka harus menahanya.
"Sumimasen (permisi), maaf menganggu kalian tapi aku harus membawa Ren kembali kerumah sakit." Ucap seorang berpakaian dokter tak lain adalah Aoyama.
"Baiklah, maaf aku harus pergi." Jawab Ren dan melepaskan pelukan Arumi.
"Tenanglah Ren, kau bisa jelaskan pada chat. Biar kami semua yang mengerjakannya. Don't worry." Teriak Tsubaki saat melihat Ren di bawa Aoyama. Sedangkan Arumi masih menangis untuk Ren.
"Hati-hati di jalan, maaf merepotkan pekerjaanmu." Ucap Hinana pada Aoyama.
"Tak masalah. Jaa mata Hinana (sampai jumpa)."
Setelah kepergian Ren dan Aoyama, Hinana menghampiri Arumi dan memeluknya.
"Kuatkan hatimu Arumi, kau harus kuat." Ucap Hinana berkali-kali untuk membuat Arumi tenang.
...***************...
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Emi saat melihat Hinana meminum sekotak susu coklat.
"Nani mo (tidak ada)."
"Hey akhirnya aku bisa melihat wajahmu yang cemburu."
"HAH?? Apa yang kau katakan?" Teriak Hinana tapi Emi malah tertawa melihat ekspresi Hinana yang ketahuan.
"Kau cemburu dengan Arumi kan? Tsubaki juga pernah cerita saat Ren memeluk Arimura pandanganmu padanya seakan mau menangis."
"Dasar Tsubaki." Gumam Hinana seakan kesal.
"Hey hal itu sudah biasa bagiku. Ribuan kali aku sering melihatnya."
__ADS_1
"Eh Hountoni (benarkah)?." tanya Hinana dan Emi menjawab dengan anggukan kepala. "Kenapa tak sekalian saja ajak Arumi bersaing secara sehat."
"Mana mungkin, sudah jelas Ren akan memilih Arumi."
"Ehhhh." Teriak Hinana karena terkejut. Sementara Emi malah tertawa karena berhasil menjahili Hinana. "Lalu untuk apa kita bersaing kalau akhirnya Ren memilih Arumi." Ucap Hinana dengan melemah.
"Kenapa kau pesimis sekali Hinana. Belum ada yang tahu siapa yang akan di pilih Ren, lagi pula Alice juga ada di Jepang saat ini."
"Huft, kau tahu Emi perjalanan cinta ku tidak pernah berjalan mulus. Dulu aku hampir saja menikah, tapi pacarku membatalkannya dan memilih sahabatku. Harusnya ia mengatakan juga kalau menyukainya, tapi sahabatku bermain di belakang." Setelah sekian lama bungkam akhirnya rasa sakit itu bisa Hinana katakan.
"Hey, jika saat ini Ren tidak memilihmu apa kau akan sakit hati seperti dulu?" Tanya Emi dengan penuh haru, karena baru kali ini Hinana menceritakan masalah pribadinya.
"Setidaknya tidak ada kebohongan diantara kami, siapapun yang nanti bersamanya aku bisa menerimanya."
"Apakah kau sungguh-sungguh mencintainya?" Tanya Emi sekali lagi dan Hinana hanya menunduk.
"Ganbatte yo!! Karena sainganmu juga Arumi." Emi memukul pundak Hinana kemudian pergi.
Sementara Hinana masih berdiri dengan memandangi bunga sakura yang mekar. Lalu ia memutuskan kan untuk segera meninggalkan tempat kerjanya.
Hinana melangkahkan kakinya keluar dari apartemennya, ia ingin menikmati udara yang tidak begitu dingin dan indahnya bunga sakura tertiup angin.
"Auch." Ucap Hinana saat ada seseorang yang mengacak-acak rambutnya dan melewatinya "Shota." Teriak Hinana dan berlari menghampiri orang yang sangat ia kenal.
"Mau makan ice cream." Ajak Shota.
"Ice cream apa yang kau sukai?" Tanya Shota.
"Emm Yukini daifuku (mochi dalamnya ice cream lembut)."
"Eh kawai (imut), aku hampir tidak tega memakannya."
"Tapi aku ingin Tiramisu blist, Stowbery vanila dan Frost Bite Pari-Pari."
" Banyak sekali, aku bisa bangkrut jika terus mentraktir mu."
"Ayolah." Hinana tak peduli dengan ucapan Shota, ia segera menarik lengan Shota untuk pergi ke kedai ice cream.
Sesampai di restoran Hinana memesan tiga ice cream sekaligus. Shota yang melihatnya hanya bisa tertawa.
"Kau yakin akan makan semua itu?" tanya Shota saat melihat tiga mangkok berisi ice cream. Sedangkan Shota hanya memesan satu mangkok ice cream wijen denan variasi rasa.
"Hem, itadakimasu. Oishi ne." ucap Hinana saat satu sendok ice masuk ke mulutnya.
Melihat Hinana berkali-kali makan ice cream membuat Shota tidak bisa berhenti tertawa. Ia juga senang melihat ekspresi Hinana yang ceria saat ini, berbeda saat pertama bertemu.
"Shota ada di ice cream di bibirmu." ucap Hinana memberitahu. "Bukan di situ agak ke atas."
__ADS_1
Shota mengelap mulutnya tapi tidak ada bekas ice cream. Dengan tiba-tiba Hinana mengelapnya dengan lembut.
"Sudah selesai." Ucap Hinana dengan senyumnya setelah selesai membersihkankan sisa ice cream di bibir Shota.
Kemudian Hinana melanjutkan kembali memakan ice cream yang masih tersisa satu.
Shota masih terdiam dan berusaha mengatur detak jantungnya yang semakin kencang. Perlakuan Hinana yamg seperti itu membuat hatinya di penuhi cinta kembali.
"Kali ini aku ingin lebih lama bersamamu, aku benar-benar ingin memilikimu seutuhnya tanpa harus bersaing dengannya. Bisakah?" Pekik Shota dan larut dalam senyuman Hinana.
Setelah selesai mengajak Hinana makan ice cream, Shota mengajak Hinana berjalan-jalan untuk melihat bunga sakura yang mekar. Ia juga membawa cameranya dan berkali-kali memotret bunga sakura.
"Hinana." Panggil Shota dan saat Hinana menoleh ia segera memotretnya.
CKREK CKREK...
Berkali-kali Shota mengambil gambar Hinana dengan pose yang pas.
"Eh kau seenaknya saja mengambil gambar." ucap Hinana dan berlari mengejar Shota.
"Matte yo (tunggu) Shota."
Shota berlari setelah berhasil memotret Hinana, ia merasa sangat senang karena berhasil membuat Hinana jengkel.
*"Ren kun, aku mengingatkan saat aku mengejarmu di sini dan di tempat ini juga. Kemudian kau mengatakan untuk berhenti, saat itu juga kenapa aku tidak sadar jika kau sedang berusaha untuk hidup." Batin Hinana karena mengingat kenangannya bersama Ren.
Semuanya berbeda seratus persen, saat Hinana mengejar dan saat Hinana mengejar Shota. Ia melihat Shota yang berlari begitu senang saat Hinana mengejarnya.
"Andai saja Ren kun sepertimu Shota. Dia pasti menginginkan sepertimu." Batin Hinana kembali dan menghentikan langkahnya
"Apa ada sesuatu?" Tanya Shota dan menghampiri Hinana.
"Nanimonai (tidak ada)." Balas Hinana.
"Apa kau mau pulang sekarang?"
"Kurasa begitu, Hey Shota. Bisakah kau membantuku?" tanya Hinana bergantian.
"Tentu saja, apa yang harus ku lakukan?" Shota langsung duduk di tanah dan melihat-lihat hasil jepretannya.
"Aku ingin kau ikut membuat gaun untuk festival itu."
"Apa ini untuk Ren?"
"Hem, aku merasa bersalah saat aku meninggalkan team. Jadi aku ingin melanjutkan kembali, aku pikir ini satu-satunya harapan Ren." Jawab Hinana dan menutup mulutnya agar tidak menangis.
"Tentu saja, untuk Hinana." Balas Shota dan tersenyum pada Hinana.
__ADS_1