Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
48


__ADS_3

"Hinana kau tidak mau terlambat bekerja kan... Cepatlah bangun dan makan pagi." teriakan bibinya memasuki telinga Hinana. Ia perlahan membuka matanya, sebenarnya ia malas untuk berangkat kerja. Tapi bagaimana lagi, itu kesalahan karena bekerja di perusahaan milik orang lain.


"cepatlah makan, kau bangun terlalu siang." celoteh Bibi Miyo saat mengetahui kalau Hinana sudah duduk di meja makan. "ada apa denganmu? Kenapa wajahmu kusut?"


"terimakasih sarapannya, aku berangkat dulu." Hinana tak memperdulikan pertanyaan Bibinya. Ia menuju ke kamar mandi dengan malasnya.


"Hinana apa kau baik-baik saja?" tanya Bibi Miyo saat Hinana akan menuju ke kantor.


"aku baik-baik saja, jangan khawatir. Sampai jumpa bi." balas Hinana kemudian berjalan menuju kantor.


Pemandangan bunga sakura di jalan membuat suasana musim semi bertambah indah. Sekali lagi Hinana mengingat masa lalunya saat musim semi. Dan saat musim semi juga Hinana di lamar oleh mantan kekasihnya Yukiatsu. Sebenarnya itu adalah momen terindah dalam hidupnya. Tapi untuk kali ini Hinana tidak begitu antusias dengan musim semi.


"ohayou." sapa Hinana pada seseorang yang ia temui di loby.


"ohayou, kau Hinana Arizawa kan?" wanita itu tersenyum riang membalas sapaan Hinana.


"oh kau ternyata." kaki Hinana terasa lemas saat mengetahui yang ia sapa adalah Arimura atau Ren biasa memanggilnya Alice.


"Hinana apa boleh aku mengobrol denganmu sebentar, aku ingim memberikan bekal untuk Ren. Tapi sepertinya aku terlalu pagi kemari."


"gomenne, pekerjaanku akhir-akhir ini sangat banyak. Sebentar lagi mungkin dia akan datang." tolak Hinana dan mulai menghidupkan komputernya.


"begitukah, tapi aku boleh kan jika duduk menemanimu disini?" tanpa pernyataan setuju Arimura langsung duduk di kursi dengan Hinana.


Hinana sesekali melirik kearahnya. Wanita itu memiliki tinggi semampai dengannya, dia cantik karena turunan Jepang-Inggris.


"pantas saja Ren menyukainya." ucap Hinana dalam hati. " tunggu sebentar, mengapa aku memikirkan Ren? Bukankan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak tertarik pada siapapun lagi. Sadarlah Hinana kau tak ingin sakit hati lagi kan." *


Ribuan pernyataan berkecambuk di pikiran Hinana hingga ia ta menyadari dari tadi Arimura memanggilnya.


"Hinana.... Hinana... Hinana." Arimura memanggilnya berkali-kali tapi Hinana membawab.


"iya Arimura san, maaf tidak terdengar." jawab Hinana yang baru tersadar dari lamunannya.


" Yokatta (syukurlah) ada yang memanggil namaku dengan benar. Aku benar-benar senang sekali."


"Eh?" Hinana tak mengerti perkataan Arimura.


"kau tahu selama aku disini semua orang memanggilku Alice, bahkan orang tua Ren juga ikutan. Tapi mendengar mu memanggilku dengan namaku aku senang sekali."


"eh kau berlebihan sekali."

__ADS_1


"terserah kau, tapi sejujurnya aku kurang suka jika di panggil Alice. Semua itu karena Ren yang seenaknya saja mengganti nama."


Memang benar Ren selalu bertindak semaunya, ia juga pernah memanggil Hinana dengan sebutan Nana. Tentu saja Hinana menolak, karena Yukiatsu pernah memanggilnya Nana-Chan.


"kenapa kau memanggilku?"


"apa kau suka coklat, aku membawakan dari Paris." Arimura menyodorkan sekotak coklat dan Hinana langsung tertarik.


"sepertinya lezat, arigatou nanti siang akan ku makan." ucap Hinana dan tersenyum pada Arimura.


" oh ya Hinana, sepertinya kau sibuk sekali sampai tidak mendengarku. Kalau begitu aku pergi saja, tapi aku ingin merepotkanmu sekali lagi."


"apa lagi?"


"kau berikan ini pada Ren." Arimura memberikan tas berisi bekal makan yang dari tadi di pegangnya.


"kenapa tak kau berika sendiri?"


"aku bosan menunggunya, lagi pula ada seseorang yang ingin ku temui."


"baiklah, jadi kau menyogokku dengan sebuah coklat." Hinana menautkan senyumnya.


"arigatou Hinana-san, mata ashita (sampai jumpa). Oh ya kau cantik saat ternyum." Arimura memuji Hinana sebelum pergi.


Selang berapa menit setelah kepergian Arimura. Teman-teman Hinana yang pernah menjadi satu team mulai berdatangan.


"selamat pagi Hinana." sapa Arumi dengan riang kemudian masuk ke ruangannya. Sementara Emi, Tsubaki dan Sawako tersenyum kearah Hinana.


Hinana membalas lambaian dan tersenyum kepada mereka, hingga senyumnya memudar ketika melihat Ren yang datang.


"Ren." panggil Hinana dengan ragu karena masih mengingat kejadian semalam.


"iya, ada apa."


"Arimura san menitipkan ini padaku." Hinana menghampiri Ren dan memberikan titipan Arimura. Tapi keduanya tidak saling memandang.


"oh arigatou gozaimasu." ucap Ren menerima bekal itu dan memandangi punggung Hinana yang telah pergi.


Hinana melanjutkan pekerjaannya meskipun ia tahu jika Ren masih berdiri mematung di tempatnya. Ia sengaja tak ingin melihat Ren karena tak ingin berharap lebih.


Empat jam berlalu dan jam istirahat telah tiba. Seperti biasa Hinana membawa bekalnya untuk di makan di atas rooftop.

__ADS_1


"Hinana." panggil Arimura dan melambaikan tangan kearah Hinana.


"hem." balas Hinana dengan mengangguk, ia mengurungkan niatnya untuk makan di sana karena melihat Ren dan Arimura sedang berdua. Hinana memutuskan untuk pergi.


"kenapa Hinana tak kemari?" tanya Arimura pada Ren.


"mungkin karena ada aku." jawab Ren dan memasukkan tamagoyaki ke mulutnya.


"apa kau ada masalah dengan nya?"


"hem."


"kenapa tak kau selesaikan, apa jangan-jangan dia cemburu padaku. Aku harus menjelaskannya."


"tunggu sebentar." Ren memegang tangan Arimura dan mencegahnya pergi. "biarkan saja, akan lebih baik seperti itu."


"HAH. Apa kalian pacaran?"


"tentu saja tidak. Aku sudah memutuskan untuk tidak memacari siapapun."


"apa karena penyakitmu?" tanya Arimura dan Ren tidak menjawabnya. Arimura memang sudah mengetahui penyakit Ren sejak masih di Paris. Karena itulah dia menolak Ren.


"kenapa tak kau jelaskan saja? Biar mengerti satu sama lain dan tak bermusuhan."


"akan ku katakan padanya tapi tidak sekarang." ucap Ren.


"kau takut kalau dia meninggalkanmu?"


"tentu saja, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Kadang saat aku bersamanya, aku lupa kalau hidupku sangat singkat. Aku selalu berharap selalu bertemu dengannya dan bersamanya." Ren menjelaskan apa yang selalu terusik di dalam hatinya.


"Ren, aku ke pantry sebentar. Aku ku buatkan kau minuman." Arimura segera memotong cerita Ren karena sebenarnya ia juga tak kuat menahan air matanya jika tahu kondisi Ren.


" cotto matte (tunggu sebentar), tidak perlu repot-repot aku ambil sendiri." Ren bergegas mengekori Arimura yang lebih dulu di depannya.


Mereka berdua menuju pantry dan mengambil minuman. Tepat saat itu atap plafonnya bergerak sehingga roboh.


"AWAS..." ucap Ren dan menarik tangan Arimura agar tak kena runtuhan atap. Dengan cepat Arimura sudah berada di pelukannya Ren menghidar dari reruntuhan atap.


Tapi saat itu juga Hinana sedang lewat dan terjatuh karena tertimpa reruntuhan atap.


" HINANA..." tetiak Ren panik karena melihatnya. Harusnya ia juga menyelamatkannya juga. Karena suaranya sangat keras menyebabkan semua orang berlari ke pantry.

__ADS_1


"STOP." ucap Hinana saat tahu Ren menghampiri dan ingin membantunya.


__ADS_2