Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
121


__ADS_3

Ren meminta bantuan Tsubaki untuk duduk, dirinya masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Tsubaki dengan setia masih menemani Ren dan memberikan apa yang dibutuhkan Ren.


"Apa kau mau cerita padaku?" Tanya Tsubaki, sebenarnya ia juga penasaran. Tapi Tsubaki tak mau memaksa Ren, karena mungkin hanya menambah luka bagi Ren.


"Ingatkah kau saat Aoyama mengatakan sangat mencintai pacarnya? Dia adalah Izumi, temanku saat di karantina. Izumi chan meninggal karena serangan jantung sepertiku." Ren mulai menceritakan sosok Izumi pada Tsubaki. Tentu saja Tsubaki paham apa yang menjadi kekhawatiran sahabatnya.


"Aoyama belum bisa melupakannya?"


"Benar, dan apa kau ingat saat aku terlambat pulang bersama Aoyama. Dia mengajakku ke toko oleh-oleh dan membelikan cincin untuk pacarnya. Jika aku meninggal bagaimana... "


Air mata Ren terjatuh dan tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Disaat yang bersamaan Hinana datang dan memeluk Ren.


"Aku baik-baik saja." Ucap Hinana yang langsung memeluk Ren.


Entah Hinana merasa jika Ren mengkhawatirkannya. Tsubaki hanya bisa melihat kedua sahabatnya yang saling memendam kesedihan satu sama.


"Aku akan baik-baik saja, kita akan selalu bersama." Ucap Hinana sekali lagi untuk membuat kekasihnya tenang.


Sore harinya, Ren sudah berada di mansionnya bersama Tsubaki dan Aoyama. Ia berada di dalam kamarnya dan enggan menemui Arumi dan Emi yang baru selesai mengantar Arimura. Sedangkan Hinana mendapatkan telepon dari agensi dan mengatakan jika ia lolos audisi.


"Apa menurutmu Ren baik-baik saja?" Tanya Emi pada Tsubaki yang mencemaskan Ren setelah mendengar cerita singkat dari Tsubaki.


"Ku pikir Ren ingin menenangkan diri." Jawab Tsubaki seakan ragu akan kondisi sahabatnya.


"Ku pikir juga kau sebaiknya berada di dalam bersamanya. Pergilah, bukankah kalian berdua sudah berteman cukup lama."


Emi memberikan saran agar Tsubaki tetap bersama Ren, dan Aoyama juga menyetujui meskipun hanya dengan tatapan mata.


"Mungkin kau butuh teman bicara?" Ucap Arumi yang datang dan mendekati Aoyama.


"Aku baik-baik saja." Jawab Aoyama, ia juga mengukir senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Jalan hidupmu ku rasa sulit, jadi ceritakan saja padaku. Tenang saja aku tidak akan memukulmu seperti Hinana. Aku membawakan anggur, Arimura yang membelikannya." Arumi mengeluarkan sebotol anggur dari tasnya dan menunjukan pada Aoyama.


"Baiklah, aku akan menemani minum." Balas Aoyama.


"Emi chan, ayo kita minum bersama." Ajak Arumi pada Emi.


"Kalian berdua sajalah, aku ingin menelepon ibuku. Jaa ne. " Dengan berat hati Emi menolak ajakan Arumi karena ia sudah berjanji lada ibunya. Dan hampir sepekan juga mereka berada di Tokyo.


"Baiklah ayo kita bersulang."


Emi menuangkan anggur ke dalam gelas milik Aoyama dan miliknya.


"Sensei, apa kau benar-benar masih menyukai pacarmu yang sudah mati. Maaf kalau aku lancang bertanya." Tanya Arumi setelah meminum anggurnya.


"Lalu bagaimana denganmu, apa kau mempunyai orang yang kau sukai?"


Aoyama tak langsung menjawab pertanyaan dari Arumi, ia malah kembali memberikan pertanyaan.


Tapi sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan." Arumi mengatakan dengan senyum yang sudah memudar di wajahnya.


"Kau sudah menyatakan perasaanmu?"


"Tidak, sampai saat ini aku tak berani menyatakannya. Aku hanya ingin bersamanya meskipun tidak ada hubungan apapun. Aku sudah bahagia." Jawab Arumi dan menautkan senyum dengan paksa.


"Lalu bagaimana bisa kau tau laki-laki itu tidak menyukaimu kalau kau tidak menyatakannya. Kalau aku sih pernah ditolak sekali padahal aku belum sempat menyatakan perasaanku." Balas Aoyama dan tertawa kecil karena teringat masa lalunya.


Arumi mulai menuangkan anggurnya kembali di gelasnya, ia bersualang lagi dengan Aoyama. Tetapi Aoyama hanya minum anggur yang masih tersisa di gelasnya tanpa menambah lagi.


"Dengan tatapan matanya aku bisa melihat jika orang yang ku sukai menyukai orang lain. Walaupun kami bersama aku berusaha untuk menyembunyikan perasaanku meskipun berat."


"Sensei, aku rasa cinta tak pernah berpihak kepadaku. Sejak kematian kedua orang tuaku, aku diasuh oleh paman dan bibiku. Tapi mereka tak memperlakukan ku dengan baik, hingga akhirnya Ren menyelamatkan ku. Bahkan Ren juga mengatakan jika aku harus mencari orang lain."

__ADS_1


Arumi mulai meneteskan air matanya saat bercerita kepada Aoyama. Entah kenapa ia bisa menceritakan pengalamannya pada Aoyama, padahal Arumi bukan tipe orang yang mudah terbuka.


"Kau menyukai Tsubaki?"


Aoyama menebak seseorang yang disukai Arumi. Entah benar atau tidaknya Arumi hanya mengalihkan pandangan ke gelas yang berisis anggur dan meminumnya. Sepertinya Arumi mulai kebablasan menceritakan perasaannya pada Aoyama. Ia mengambil botol anggur dan menuangkan kembali di gelasnya.


"Kau mau tahu bagaimana cinta benar-benar tak berpihak? Yang kau lalui hanya seperempat dari gelas anggur ini dan masih belum seberapa."


Aoyama mencegah Arumi saat akan meminum anggur kembali. Memang minuman itu bisa membuat otak sedikit lebih refresh, tapi jika berlebih juga tidak baik. Dan Arumi sudah hampir menghabiskan satu botol.


"Kelahiran yang tak diinginkan oleh seorang ayah, aku rasa cinta itu juga tak berpihak. Ibuku bunuh diri meninggalkanku padahal waktu itu aku hanya mempunyainya. Satu lagi, aku mencintai seorang gadis yang sudah jelas dia mempunyai penyakit dan sebentar lagi akan mati. Saat aku perlahan bisa melupakannya dan akan memilih cinta yang baru, tapi ternyata gadis itu adalah saudara denganku. Perlahan satu persatu orang yang ku sukai akan pergi meninggalkanku."


Arumi hanya bisa menangis mendengar kisah dari Aoyama. Kehidupannya benar-benar sangat pahit, maka dari itu Aoyama sering terlihat sangat dingin dan tak berperasaan. Arumi menangis sejadi-jadinya, ia masih beruntung karena bertemu dengan Ren dan masih bersama dengan orang yang disukai.


Tanpa sengaja Ren mendengar saat Aoyama menceritakan kisahnya pada Arumi. Butiran air mata tanpa sengaja menetes di pipinya. Yang Ren khawatirkan masih Hinana, jika ia mati apakah Hinana akan seperti Aoyama. Dan Ren tak mau hal itu terjadi.


"Kenapa kau yang menangis, itu adalah kehidupanku. Dan aku rasa kehidupanmu masih lebih baik dariku." Ucap Aoyama yang mencoba tersenyum dan memegang tangan Arumi yang masih menangis.


"Kau sangat menyedihkan.


Sensei, bukankah kau masih mempunyai Hinana dan keluarganya? Kau bahkan masih memiliki teman seperti Ren dan aku."


Arumi sebenarnya ingin menghibur Aoyama, tapi malah dirinya yang terlihat harus dihibur karena menangis terus menerus.


"Bukankah Ren juga akan mati sebentar lagi? Dan Hinana dulu pernah meninggalkanku, saat SMA Hinana pergi ke New York. Padahal saat itu aku mulai merasa mendapatkan seorang teman yang akan ku cintai sepenuh hati. Jadi aku memutuskan untuk tidak menyukai Hinana sama sekali. Arumi chan, cinta itu tidak berpihak kepadaku. Satu persatu orang yang ku sukai perlahan akan pergi dan aku akan sendirian."


Ucap Aoyama dengan menggigit bibir bawahnya, ia mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.


"Sensei, kau masih punya aku. Tsubaki, Emi chan, dan Hinana chan. Kita akan berteman kan." Kali ini Arumi menggenggam erat tangan Aoyama. Meskipun festival sudah selesai bukan berarti pertemanan mereka akan selesai.


"Aku tidak berani berharap, bahkan harapanku akan berbalil dari kenyataan." Balas Aoyama tanpa melihat wajah Arumi, ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik rambut depannya yang sedikit panjang.

__ADS_1


__ADS_2