Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
43


__ADS_3

Setelah Naomi pergi perlahan Ren mulai menghampiri Hinana.


" Anoo.... Apa kau ada waktu sekarang?" tanya Ren.


"memangnya kenapa?" Hinana pun balik bertanya.


"ada ingin ku katakan padamu, tapi tidak disini." ajak Ren sambil tersenyum dan penuh harap. Sebenarnya Hinana masih malas bertemu Ren, ia menganggap ada sesuatu yang di sembunyikan. Hal itu yang di benci Hinana, terlebih lagi ia benci jika di bohongi.


"hanya sepuluh menit." ucap Hinana dengan ketus kemudian pergi dari rumah Tsubaki. Ren pun dengan senyum cerianya tetap mengikuti Hinana dari belakang. Ia memberi isyarat pada temannya untuk break dari pekerjaannya.


"kita bicara di mobil saja." Hinana memberi penawaran pada Ren.


"baiklah."


"apa yang ingin kau katakan?" tanya Hinana saat ia dan Ren sudah masuk di mobilnya.


"gomenne Hinana." jawab Ren, sementara Hinana masih menunggu kelanjutan apa yang akan keluar dari mulut Ren. Tapi jeda yang cukup lama tak terdengar lagi suara Ren.


"untuk apa?" tanya Hinana dan melihat kearah Ren. "apa hanya itu saja yang akan kau katakan?"


"tidak, aku akan mengatakan jika kau melihat ke arahku bukan mengalihkan pandangan."


"baiklah ku turuti kemauanmu." dengan pasrah Hinana melepas safety belt dan memandang ke arah Ren.


"sebenarnya aku kecewa saat kau memutuskan untuk keluar di Team. Apa kau marah karena aku? Lalu apa saja yang kau ketahui saat aku di rumah sakit?"


"aku malas membicarakan hal itu."


"Hinana.. Kumohon, kembalilah." dengan suara penekanan Ren berharap pada Hinana. Kali ini Hinana bingung harus menjawab apa.


"untuk apa aku kembali." jawab Hinana dan kembali mengalihkan pandangannya. "Ren-kun, sesaat otakku berfikir bahwa aku sama sekali tak mengenal tentang designer. Dan betapa bodohnya aku hingga saat ini masih bertahan, dari sesuatu yang sama sekali aku tidak mengerti." lanjut Hinana dan menahan perasaan perihnya.


"lalu kenapa kau tidak lari saja?"


"aku ingin lari saja, tapi tidak ada tujuan untuk aku berlari. Ren, melakukan sesuatu yang kita tidak bisa sungguh menyakitkan." akhirnya Hinana bisa mengatakan semuanya dengan jujur pada Ren.


" Wakatta (baiklah) maaf."


"tidak perlu meminta maaf, semua ini karena kesalahanku sendiri. Andai saja aku tidak melarikan diri, pasti tidak akan berakhir seperti ini." Hinana menutup matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam. Ia berharap bahwa tidak akan menangis untuk saat ini.


Tapi air mata tetap mengalir di pipinya tanpa seizinnya.


"semuanya belum berakhir." teriak Ren dan membuat Hinana membuka matanya.


"Eh.."


"ku bilang semuanya belum berakhir. Kau bisa kembali lagi menjadi model."


"aku tak mengatakan seperti itu." Hinana menyangkal tuduhan Ren.


"hatimu yang berbicara."


"Eh.." Hinana hanya mendengus tak mengerti arah pembicaraan Ren. Ia juga terkejut, bagaimana Ren bisa tahu isi hati Hinana.

__ADS_1


"keluarlah kau membuatku kesal." usir Hinana.


"tapi aku belum selesai bicara."


"keluar." ucap Hinana dengan sikap yang dingin sehingga Ren memutuskan untuk keluar dari mobil Hinana.


Setelah Ren keluar, Hinana segera menancapkan gas dan pergi dari rumah Tsubaki.


"apa kau berhasil bicara dengan Hinana?" tanya Arumi dan menghampiri Ren.


"em, tapi sepertinya Hinana benar-benar keluar."


"apa kau tahu apa alasannya?"


"hem, tapi tidak akan ku ceritakan pada kalian." jawab Ren dan kembali masuk ke rumah Tsubaki.


Hinana mengendarai mobilnya tapi entah kemana tujuannya. Hingga mobilnya terhenti di sebuah pusat perbelanjaan, disana sangat ramai dan membuat Hinana penasaran.


Hinana masuk kedalam Mall dan masuk kedalam kerumunan orang-orang. Tampak sedang ada parade busana, meskipun tidak dari brand ternama tapi sukses membuat puluhan penonton.


"Shota." panggil Hinana saat melihat sosok yang sangat di kenalnya.


"oh Hinana, kau kemari juga?" Shota berjalan menuju Hinana yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"aku sedang iseng saja."


"bagus bukan? Mereka mengeluarkan produk baru."


"heh siapa yang kau maksud?"


Mereka duduk di kursi dan memesan minuman.


"arigatou Shota." Hinana mengambil sebotol minuman yang di belikan Shota.


"tidak masalah. Sedang apa kau disini?" tanya Shota dan meneguk minumannya.


"sudah ku katakan tadi, aku hanya iseng saja. Kalau kau?"


"aku bekerja di restoran, tempatnya ada di Mall ini dilantai tiga."


" Sugoi.. Kau tidak lagi menjadi pengangguran." ucap Hinana dan memberikan tepuk tangan pada Shota.


"hey bagaimana jika kau mampir, aku akan mentraktir minum."


"Heh, sekarang kau sudah membelikanku minum dan mau lagi."


" Ya bagaimana lagi, gajiku belum cukup untuk mentraktirmu makan." ucap Shota dan tertawa sehingga membuat Hinana ikut tertawa.


"aku hanya bercanda."


"aku juga bercanda. Tapi aku serius mengajakmu ketempat kerjaku."


"baiklah. Tapi apa yang kau kerjakan? Kau jadi juru masak?"

__ADS_1


" tidak, aku hanya jadi pelayan."


"maaf jika pertanyaanku membuatmu tersinggung." Hinana menjadi tidak enak karena mulutnya yang asal berbicara.


"tidak apa. Hidup itu juga perlu uang, jadi apapun pekerjaan akan ku lakukan untuk bertahan hidup. Lagi pula aku sudah dewasa mana mungkin minta pada orang tua." Shota bersandar pada kursi dan melihat kearah Hinana.


"aku setuju denganmu. Aku lelah." Hinana ikut bersandar pula. Rasanya ia dan Shota memiliki nasib yang sama, melakukan pekerjaan tanpa keahlian demi bertahan hidup.


Setelah cukup lama mereka berdua memejamkan mata dan bersandar pada kursi, akhirnya Shota mengajak Hinana pergi ke tempat kerjanya.


...****************************************...


Keesokan harinya Hinana kembali lagi bekerja di kantor. Ia melihat semua orang baru yang ada di ruangan marketing dan satu-persatu memperkenalkan diri pada Hinana.


"selamat datang kembali Hinana." ucap Jouji yang menjadi Direktur utama di kantor.


"baik, terimakasih."


"selamat bekerja." setelah menunjukkan beberapa arsip yang harus di kerjakan, Jouji kembali ke ruanganya.


Hinana kembali berkutat pada komputernya. Mengingat festival yang di lihat bersama Shota seakan membuat ide untuk melakukan promosi pada pekerjaannya.


Setelah cukup lama ia bekerja fokusnya terpecah karena suara berisik.


"kenapa kau kemari?" tanya Hinana saat melihat sosok Ren di depan matanya.


"ini kantorku." ucap Ren dengan senyumnya. "ayo." Ren juga mengandeng tangan Hinana.


"tunggu sebentar apa yang kau lakukan."


"ikutlah denganku."


"aku sedang bekerja, tidak bisa." Hinana dengan kukuh menahan tarikan Ren.


"DADY AKU MEMINJAM HINANA SEBENTAR..."teriak Ren dan tak butuh waktu lama ayahnya keluar dari ruangan.


"terserah kau saja." ucap Jouji pada anaknya.


"Eh." Hinana terkejut dan melotot. Ren dengan semangat langsung menyeret Hinana keluar. Sementara ayahnya hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya.


Ren membawa Hinana ke ruangan yang sudah tak terpakai lagi. Disana sudah ada Tsubaki, Emi dan Arumi. Ia menyuruh Hinana untuk membersihkan ruangan itu.


"kita akan bersih-bersih sekarang." ucap Ren dengan senyum khasnya.


"HEH...." Hinana terkejut karena ruangan itu sangat kotor.


"ayolah Hinana kita kerjakan saja, Ren alergi debu." ajak Arumi dan menertawakan Hinana karena sukses di jahili Ren.


"baiklah." ucap Hinana dengan lemasnya dan mengambil sapu yang sudah di sediakan.


Mereka berempat mulai membersihkan ruangan dan memindahkan barang-barang yang tak terpakai di gudang satunya. Ruangan itu akan mereka gunakan untuk bekerja, karena Tsubaki tidak enak pada adiknya yang sebentar lagi akan ujian masuk universitas.


"Shota kau juga datang rupanya." panggil Arumi yang melihatnya.

__ADS_1


" Ah Shota akhirnya kau menyelamatkanku." Hinana pun ikut senang, karena biasanya Shota tak pernah menolak jika di minta bantuan.


__ADS_2