Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
94 Welcome Tokyo


__ADS_3

^^^"Selama ini aku tidak pernah menyadari, bahwa orang-orang yang berada di sampingku saling peduli satu sama lain. Satu tahun yang lalu saat aku meninggalkan Tokyo, aku sempat berpikir bahwa aku ingin menjalani sisa hidupku saja. Tapi saat bertemu mereka, aku ingin merasakan kebahagiaan bersama."(Hinana arizawa)^^^


Hinana mengantar Tsubaki ke rumah sakit, tapi mereka tidak bertemu dengan Ren karena sudah pulang sore hari.


Akhirnya mereka mendatangi rumah Ren dan bertemu dengan Jouji, ayah Ren.


"Selamat datang. Ada apa malam-malam ke rumahku?" sapa Ren yang menghampiri Hinana dan Tsubaki, serta mempersilakan masuk ke rumah.


"Ada yang ingin kami bicarakan, apakah Jouji san ada?" jawab Hinana yang berterus terang dan mengikuti Tsubaki. Tapi Ren malah menahan Hinana.


"Apa kau akan bicara pada ayahku jika aku akan ke Tokyo?" Bisik Ren tepat di telinga Hinana, tentu saja membuat Hinana sangat terkejut karena jaraknya dengan Ren sangat dekat.


"Tentu saja." Hinana berusaha menampik tapi cenkraman Ren lebih kuat menahan Hinana dan menyudutkan ke tembok.


Hingga akhirnya Tsubaki datang karena merasa Hinana dan Ren terlalu lama di luar.


"Kenapa kalian lama sekali." Tsubaki sedikit berteriak dan membuat Ren melepaskan Hinana.


"Maaf, hey apa yang ingin kau bicarakan?" balas Ren dan langsung mengajak Tsubaki masuk, ia masih memberikan isyarat pada Hinana agar tak mengatakan apapun pada ayahnya.


Akhirnya Tsubaki dan Hinana bertemu dengan Jouji diruang tamu. Tapi tatapan mata Ren masih tajam memandangi Hinana. Hingga akhirnya Tsubaki yang angkat bicara pada Jouji.


"Jouji san, aku ingin memberitahukan pada mu. Tentang festival itu Ren akan pergi." Ucap Tsubaki dengan sedikit gemetar.


"Tentang itu biarkan Ren istirahat dulu, dia juga baru keluar dari rumah sakit sore ini."


"Aku memberitahumu bahwa Ren akan pergi. Anoo maksudku.... perkataanku bukan untuk meminta izin. Jouji san pasti tahu maksudku." Dengan segera Tsubaki memotong ucapan Jouji dan melanjutkan maksudnya.


Jouji lalu memandang kearah putranya, sementara Ren hanya diam saja. Memang Ren tetap berencana akan pergi meskipun orang tuanya tak mengizinkannya.


"Sudah kukatakan padamu, fokuslah pada kesehatanmu." ucap Jouji pada putranya.


"Sudah larut malam aku sudah mengatuk, Oi kalian segeralah pulang." Ren berdiri dan mengacuhkan nasehat dari ayahnya. Ia tampak tak peduli karena tentu saja ayahnya tak mungkin mengizinkan.


"Renchiro." panggil Jouji dengan penekanan. Dan saat itu juga Ren memberhentikan langkahnya. Selama ini ayahnya tak pernah memanggil namanya dengan lengkap, tapi kali ini mungkinkah ayahnya benar-benar marah padanya.


"Jouji san, maaf jika aku mengganggu kalian malam hari. Tapi mungkin Jouji san punya saran yang terbaik. Maksudku mungkin Ren bisa pergi ke Tokyo dan ada alternatif yang bisa membuat Ren baik-baik saja selama disana." ucap Hinana.


"Aku tahu yang terbaik untuk putraku, terimakasih telah memberitahuku. Kalian berdua bisa pulang, maaf."


Jawab Jouji sementara Ren hanya berdiri tanpa melihat kearah Tsubaki maupun Hinana.


Karena situasinya sudah agak canggung, Tsubaki mengajak Hinana untuk pergi. Tapi sebelumnya mereka berpamitan dulu pada Jouji dan Ren.


"Eh Aoyama? Apa yang kau lakukan disini?" ucap Hinana dan Tsubaki secara bersamaan saat melihat Aoyama di depan rumah Ren.

__ADS_1


"Seto sensei menyuruhku memberikan ini pada pak Jouji." dengan santai Aoyama memamerkan amplop cokelat pada Hinana dan Tsubaki.


"Ada apa?" tanya Aoyama karena melihat ekspresi kedua temannya yang sedikit sedih.


"Tak ada apa-apa, kalau begitu aku pulang dulu." jawab Hinana, ia juga mengajak Tsubaki untuk segera pergi.


"Sokka (begitukah)." Gumam Aoyama dan melangkahkan kakinya.


...-----------------------...


Keesokan harinya Hinana menemui teman-temannya yang sudah berada di stasiun.


"Hinana, kemarilah." Arumi melambaikan tangannya pada Hinana.


"Apa kau datang dari tadi?" tanya Hinana.


"Tidak juga." Arumi menggelengkan kepala dan membawa barang-barangnya.


"Dimana yang lain?"


"Tsubaki dan Emi sudah menunggu di dalam, aku sengaja menunggumu diluar."


"Benarkah, sepertinya aku yang selalu datang terlambat." Hinana menepuk jidadnya sendiri.


"Akhirnya kalian berdua datang juga, Hinana karena kau tak membawa banya barang jadi tolong bawakan gaunnya." ucap Emi dengan senang menyambut kedatangan Hinana.


"Kalian semua tidak menungguku?"


Terdengar suara seseorang yang sangat familiar, sehingga membuat mereka semua melirik kearah sumber suara.


"Ren." pekik Emi, Arumi dan Tsubaki dengan terkejut. Tapi tak lama kemudian ia melihat sosok Aoyama yang baru muncul dengan raut wajah yang begitu masam.


"Aoyama." seru Hinana yang juga melihat.


"Kita akan berangkat bersama-sama bukan?" ucap Ren dan tersenyum pada semuanya.


Tsubaki langsung menghampiri Ren dan memeluknya..


"Kau itu sangat keras kepala."


"Tidak juga, lagi pula ayahku sudah mengizinkannya." jawab Ren


"Eh seriusan? Bagaimana bisa?" tanya Tsubaki.


"Rahasia." Ren tersenyum lalu berjalan menuju gerbong saat kereta berhenti.

__ADS_1


"Hinana, ayo." panggil Ren saat melihat Hinana masih terdiam dengan gaun yang dibawanya.


Seutas senyum di bibir Hinana ketika melihat Ren sudah kembali seperti dulu. Ia senang melihat Ren memakai pakaian kemeja dengan topi flat putih di kepalanya.


"Apa perlu ku bantu." tanya Aoyama.


"Tidak perlu, tapi kenapa kau juga ikut?"


"Tanyakan saja pada pria bertopi putih." Jawab Aoyama lalu berjalan mendahului Hinana.


Dengan segera Hinana pun juga masuk kedalam kereta.


Selama di perjalanan mereka semua tampak sangat senang dan saling berfoto mengabadikan kenangan. Kecuali Aoyama, ia sibuk membuka laptopnya entah apa yang di kerjakan.


Setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka semua telah sampai di Tokyo. Mereka akan menginap di rumah Jouji yang letaknya di Shibunya.


"Tokyo akhirnya bisa kemari." Teriak Arumi dengan senang, sementara keempat orang hanya tertawa kecil.


"Hey Arumi sepertinya impianmu datang ke Tokyo sudah tercapai." balas Emi dengan tawanya.


"Tentu saja, ayo berfoto." ajak Arumi lalu mengambil foto selfi bersama kelima temannya.


"Baiklah kita berpisah disini saja." ucap Hinana berpamitan pada teman-temannya karena ia tinggal dirumah orang tuanya.


"Apa kau perlu kuantar?" Ren menawarkan dirinya untuk mengatarkan Hinana.


"Oy lalu siapa yang akan membawa kami kerumah mu." teriak Tsubaki lalu Ren tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.


"Aku bisa pulang sendiri, besok aku akan ke tempatmu. Kau bisa kirimkan lokasinya." ucap Hinana.


"Jaa ne (sampai jumpa)." Ren dan Aoyama memberi salam pada Hinana.


"Eh Aoyama juga tinggal ditempat Ren?" tanya Hinana sedini terkejut, karena Hinana sudah memberitahunya kalau ibunya ingin bertemu.


"Hum, karena pekerjaanku. Nanti jika ada waktu luang aku pasti kerumah bibi."


"Wakatta (baiklah)."


"Jaa ne Hinana (sampai jumpa)." Aoyama lalu mengikuti Ren dan lainnya yang berjalan duluan.


Sementara Hinana naik taksi untuk pulang ke rumah orang tuanya.



Ren Koizumi

__ADS_1


__ADS_2