
..."Apakah aku akan merasakan cinta yang tak terbalas untuk kedua kalinya? Tapi aku menginginkannya, sama seperti waktu itu. Apakah aku benar-benar egois."(Hinana Arizawa)...
Hinana tak ingin pulang, ia pergi ke Mall untuk menemui Shota. Entah rasanya kali ini ia benar-benar rapuh.
"Hey Hinana. Kebetulan sekali aku baru selesai shift ayo kita makan." Sapa Shota saat melihat Hinana di depan tempat kerjanya.
Betapa terkejutnya Shota saat Hinana memeluknya. Detang jantung miliknya semakin tak karuan, mungkin Hinana bisa mendengarnya karena sangat dekat. Tapi Hinana tak mengatakan apapun keduanya sama-sama terdiam, dan Shota perlahan membalas pelukan Hinana.
"Aku ingin makan sukiyaki." Akhirnya Hinana mengeluarkan suaranya.
"Em." Jawab Shota dan melepaskan pelukan Hinana. Keduanya pun pergi menuju tempat makan di luar Mall.
"Kau kenapa?" tanya Shota dan menuangkan Sukiyaki ke mangkok Hinana.
"Entahlah." Jawab Hinana dengan memasukkan nasi ke mulutnya.
"Kalau begitu makanlah yang banyak, sepertinya kau sangat kelelahan."
"Hem itadakimasu." Ucap Hinana sebelum makan.
Shota tertawa kecil saat melihat Hinana makan, meskipun tubuh Hinana kecil tapi ia mampu melahap banyak makanan.
"Kemanakah semua makanan ini pergi?" Ucap Shota dengan bercanda, sedangkan Hinana masih meminum segelas sakenya.
"Diamlah, hanya kau yang tahu berapa banyak yang ku makan."
"Itulah kenapa kau selalu menolak makan dengan teman-temanmu kan." Balas Shota dan semakin tertawa. Sementara Hinana hanya diam karena memang yang diucapkan Shota benar.
"Shota kun, bolehkah aku duduk di sampingmu?" tanya Hinana.
"Memangnya kenapa? Bukankah sama sa-..." Belum selesai Shota berbicara Hinana langsung duduk di sampingnya dan kepalanya bersandar di pundaknya. Untuk kesekian kalinya, Hinana berhasil menguncang jantungnya.
Hinana merasa hari ini sangat berat di laluinya. Karena perkataan Arumi ia jadi teringat saat Ren memeluk Arumi, menghapus air mata milik Arumi. Serta selama kerja memang Ren selalu bersikap sangat ramah pada Arumi.
Rasanya Hinana tidak terima melihat perlakuan Ren yang ramah pada perempuan lain. Ia juga lelah karena pekerjaan, dan karena memikirkan Ren rasa lelahnya jadi semakim bertambah.
"Aku sangat lelah hari ini." gumam Hinana dan Shota bisa mendengarnya.
"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu?"
"Kau ada waktu?" Hinana melempar pertanyaan pada Shota, karena ia tahu Shota tak pernah menolak keinginannya.
"Emm biar ku pikir dahulu." Balas Shota dan tertawa.
__ADS_1
"Menyebalkan, kalau begitu tidak usah memberi tawaran."
"Baiklah maaf. Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Shota dan mencubit kedua pipi Hinana.
Tanpa menjelaskan apapun Hinana langsung mengajak Shota menuju apartemennya. Ia akan memberikan pekerjaan yang sangat melelahkankan untuk Shota.
"SUGOI... kau tinggal sendirian di apartemen sebesar ini?" tanya Shota kagum saat masuk ke apartemen Hinana.
"Apartemen ini milik ibuku." Jawab hinana dan membuatkan secangkir teh chamomile.
"Arigatou. Lalu bagaimana kau membersihkannya, kau juga bekerja." Tanya Shota dan menyeduh teh buatan Hinana.
Hinana menjatuhkan beberapa snack kelantai. Dan tak lama kemudian robot miliknya datang dan membersihkannya.
"Toru sudah tahu apa yang harus di kerjakan." Jawab Hinana dengan santai.
"HEBATnya..... Auch itai (sakit)." Shota meringis kesakitan karena sapu milik Toru memukul kepala Shota.
"Jangan memukul kepalanya dia akan marah." teriak Hinana, melihat kejadian itu ia teringat dengan Ren. Saat itu Toru akan memukul Ren tapi Ren malah menangkis dengan tongat, sehingga terjadi perkelahian antara Ren dan robot miliknya.
"Hey Shota jangan pukul kepalanya meskipun dengan lembut. Jika memujinya cukup usap saja." ucap Hinana sekali lagi, namun ekspresinya sudah berubah agak sedih.
"Em waktta (baiklah), siapa namanya?" tanya Shota.
"Aku memangilnya Toru. Dia robot milik ayahku."
Hinana yang melihatnya ikut tertawa, ternyata kakak beradik ini sama saja konyolnya. Dan lagi Hinana mengingat sosok Ren. Saat Ren berada di apartemennya selalu saja bermain dengan Toru.
"Shota kun hentikan menggoda Toru."
"Gomenne, jadi apa yang harus di kerjakan?" tanya Shota dan mendekat. Hinana sudah mulai menggunting kain menjadi beberapa bagian. Kemudian Hinana menjelaskan pada Shota apa yang harus di lakukan.
Shota membuat hiasan bunga hampir jam 3 dini hari. Sedangkan Hinana terlihat terlelap di depan meja. Shota merasakan betapa tulusnya Hinana mengerjakan semuanya, sekarang ia juga mengerti bagaimana kecewanya teman-temannya saat Ren memutuskan menghentikan ikut festival.
"Aku harap hari ini tidak cepat berakhir. Aku ingin menjadi egois untuk diriku sendiri. Aku tak ingin melepaskanmu, aku ingin bersamamu selalu. Untuk hari ini, esok ataupun seterusnya." Shota Koizumi.
Shota yang merasa lelahpun akhirnya ikut tertidur di meja dan mengahadap ke wajah Hinana.
...***************...
Esok harinya Hinana terbangun karena suara Shota.
"Hinana chan, bangunlah." Ucap Shota yang sudah berada di depannya.
__ADS_1
"Apa aku ketiduran?" tanya Hinana dan menguap.
"Iya, maaf semalam aku juga ketiduran. Oh ya Hinana aku harus pulang sebentar."
"Hem tidak perlu minta maaf. Shota kun, terima kasih banyak sudah membantuku." Hinana berdiri dan membantu mengambilkan jaket milik Shota.
"Oh ya Hinana, jam berapa kau ke kantor?"Tanya Shota sebelum pergi.
"Seperti biasa aku kesana jam 8. Ada apakah?"
"Tidak ada, sepertinya aku kesana agak siang."
"Hem tidak apa-apa."
"Jaa Mata." ucap Shota dan pergi dari apartemen Hinana.
Hinana segera berbenah diri dan menuju ke kantornya. Tapi saat ia keluar dari gedung apartemennya tampak ada seorang gadis menunggunya.
"Arimura san." panggil Hinana dan gadis itu menghampirinya.
"Yokatta (syukurlah) akhirnya aku bertemu denganmu." ucap Arimura dan memeluknya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinana saat Arimura melepas pelukannya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukanmu. Ne Hinana apa kau akan berangkat ke kantor?"
"Iya tapi aku akan pergi untuk sarapan."
"Baiklah, let's go." ucap Arimura dengan senang kemudian menarik lengan Hinana untuk masuk ke mobilnya.
Arimura mengajak Hinana sarapan di toko roti. Mereka berdua sangat menikmati makanan yang manis, terutama saat pagi hari. Kesukaan mereka berdua hampir sama.
"Aku kira kau sudah kembali ke negaramu." Ucap Hinana dan memasukkan sesendok cake ke mulutnya.
"Sebenarnya aku kesini untuk menemui sesorang."
"Aku tahu itu, jadi apa kau akan tinggal di Jepang seterusnya?"
"Tidak, sampai aku berhasil menemui orang itu. Setelahnya aku akan kembali ke Paris." Jawab Arimura dan saat itu ekspresinya sudah berubah.
"Hinana maukah kau membantuku?" tanya Arimura dan langsung memegang tangan Hinana.
"Eh."
__ADS_1
"Aku tahu kau dekat dengan Shota, aku mau kau membantuku untuk bertemu dengannya. Kumohon." ucapan Arimura membuat semua orang yang ada di toko roti melihatnya.
"Tunggu sebentar. Bukankah kau kemari untuk menemui Ren?" tanya Hinana dengan perlahan dan menyuruh Arimura untuk duduk di kursinya kembali.