Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
119


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan pemilik rumah, akhirnya Aoyama mengajak Ren untuk masuk ke kamar Ryusei. Mereka akan tidur bertiga malam ini.


"Kenapa kau mengatakan pada ibu Hinana jika aku berpacaran? " tanya Ren sedikit kesal.


"Apa salahnya, kalian berdua memang pacaran kan." Jawab Aoyama dengan santai kemudian mengambil PS milik Ryusei.


"Memang benar sih, tapi aku belum siap jika secepat ini." Gumam Ren pada dirinya sendiri dan Aoyama hanya membiarkannya.


"Sensei aku ingin memakan kepalamu." Ucap Ren tiba-tiba, entah mengapa kali ini ekspresi Ren sangat lucu menurut Aoyama.


Tanpa mengatakan apapun Aoyama memberikan stik game dan mengajaknya bermain game.


Tak lama kemudian Ryusei datang, ia sangat senang karena kamarnya ramai. Ryusei akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung bermain game hingga tertidur.


"Hinana." Panggil ibunya saat melihat Hinana berada di dapur. Hinana segera menghampiri ibunya dan sudah melihat ayahnya pulang dari tempat kerjanya.


"Ayah sudah pulang?" tanya Hinana menyapa ayahnya.


"Tentu saja, bagaimana dengan audisinya?"


"Berjalan baik." Jawab Hinana dengan singkat.


"Hinana kapan Aoyama akan kembali ke Sapporow? Ibu akan ikut dan tinggal disana sementara." Tanya ibunya yang masih saja mengkhawatirkan Aoyama.


"Entahlah aku juga belum tahu. Ibu, Aoyama sudah dewasa tak perlu berlebihan padanya." Jawab Hinana yang tahu kekhawatiran ibunya.


"Tidak bisa, kau tahu Hinana. Saat itu Aoyama mengatakan ingin bertemu dengan ibunya. Ibu tak bisa membiarkan itu terjadi, bagaimanapun juga ibu akan menjaganya. Ibu merasa bersalah jika sampai Aoyama bunuh diri." Larisa mulai menangis karena mengingat kematian ibunya Aoyama.


"Okaasan (ibu) .."


"Istriku, semua itu bukan salahmu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, kematian Maira bukan salahmu. Maira sendiri yang memutuskannya." Aoi memeluk istrinya untuk membuatnya tenang. Memang saat itu jika Aoi tak berhasil menemukan Aoyama yang tenggelam , pasti sahabatnya sudah mati bersama putranya.


"Ookaasan (ibu). Aoyama sudah dewasa, Aoyama pasti bisa memutuskan yang terbaik. Mungkin saat ini Aoyama masih terluka, tapi aku yakin Aoyama pasti bisa berdiri lagi. Percayalah." Hinana ikut memeluk ibunya dan membuatnya tenang. Ia juga tidak tahu apakah ucapannya itu benar atau tidak.

__ADS_1


Karena Hinana juga tidak tahu apa yang ada dipikirkan Aoyama. Jika terjadi sesuatu pada Aoyama, dirinya juga pasti akan terluka karena ibunya pasti menyalahkan dirinya sendiri.


Dari kejauhan tak sengaja Aoyama mendengar semua percapakan Bibinya. Ia merasa bersalah karena hidupnya selalu menyusahkan orang lain, andai saja saat itu dirinya mati. Pasti tidak akan membuat keluarga Hinana menanggung bebannya. Aoyama mengurungkan niatnya untuk mengambil air, ia kembali lagi ke kamar Ryusei kemudian tidur.


Esok harinya rumah Hinana dalam keadaan sepi. Ibu dan ayahnya sudah pergi bekerja, sementara Ryusei masih tertidur karena bergadang bermain game. Sesuai dengan rencananya Hinana mengajak Aoyama untuk makan bersama untuk mengantar kepergian Arimura. Entah apakah hal ini akan membuat Aoyama menjadi lebih baik atau makin memburuk Hinana masih belum tahu.


Mereka bertiga pergi ke restoran bersama. Ren sudah menyuruh Tsubaki untuk membawa teman-temannya ke tempat yang sudah ia pesan


"Kapan kau akan kembali ke Saporrow?" tanya Hinana yang sambil menyetir memulai percakapan pada Aoyama.


"Tanyakan saja pada orang di sebelahmu." Jawab Aoyama dengan singkat dan masih memainkan game di ponselnya.


"Ibuku akan ikut jika kau kembali ke Saporrow. Kau tahu kan bagaimana ibuku khawatir padamu? Ku harap kau bisa bersikap lebih dewasa." Hinana memberikan sedikit nasehat untuk Aoyama. Meskipun tahu jika ia lebih muda dari Aoyama.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di restoran. Aoyama masih terlihat bersandar santai di mobil Hinana.


"Aoyama ayo." Ajak Ren tapi Aoyama masih enggan melepas sabuk pengamannya.


"Kalian berdua makanlah sendiri, aku menunggu di mobil." Jawab Aoyama yang menolak ajakan Hinana.


"Turunlah." Hinana menarik Aoyama keluar dan Ren hanya melihatnya. Ia tak ingin ikut campur dalam permasalahan mereka.


"Tidak usah." tolak Aoyama sekali lagi.


"Aoyama turunlah." Hinana menekankan ucapannya dan melihat kearah Aoyama dengan tajam. Jika Hinana sudah begitu mau tidak mau Aoyama menurutinya. Ia kemudian turun dari mobil dan mengikuti ajakan Ren dan Hinana.


"Hinana chan menakutkan." Gumam Ren yang memperhatikan bagaiman kekasihnya mengancam Aoyama.


"Akan kulakukan padamu jika kau nakal." balas Hinana dengan sedikit tertawa.


"Aku... Nakal..? Mana mungkin." Sahut Ren kemudian mengikuti Hinana dan Aoyama dari belakang.


Aoyama terkejut saat melihat semua temannya ada disana termasuk Arimura. Selera makannya sudah hilang, ia ingin kabur dari tempat ini. Tapi Hinana memegangnya dengan kuat dan mencubit lengannya.

__ADS_1


Cubitan dari Hinana sampai tak terasa sakit, karena rasa sakit itu sudah berpindah ke hatinya. Ren masih memperhatikan kelakuan Hinana, ia berpikir sebegitu sakitnya perasaan Aoyama sampai tidak merasakan cubitan Hinana yang mulai memerah.


"Sensei... " panggil Arimura dengan pelan.


"Aoyama, maaf jika mengejutkanmu. Arimura akan kembali ke Paris, dia ingin berpamitan dengan kita semua. Termasuk denganmu." ucap Ren kepada Aoyama.


Aoyama masih terdiam enggan mengatakan apapun. Tsubaki juga berada di sebelah Aoyama untuk membuatnya tenang. Aoyama hanya bisa menuruti keinginan Hinana, meskipun ia sudah mengatakan selamat tinggal pada Arimura.


"Sebaiknya kita makan dulu." Ajak Tsubaki dan semua orang mengiyakan termasuk Aoyama. Mereka semua menikmati semua makanan tanpa bersuara karena takut jika melelakukan kesalahan. Hinana memperhatikan Aoyama yang makan dengan ala kadarnya, matanya juga melihat lengan Aoyama yang memerah karena ia cubit. Tapi Aoyama sama sekali tak merasakan sakit dan menyalahkan Hinana.


"Sensei, aku ingin mengucapkan selamat tinggal dengan benar." ucap Arimura setelah selesai makan. Saat ini mata Arimura hanya terlihat sembab, entah berapa banyak air mata yang mengalir.


Aoyama masih diam enggan mengatakan sesuatu. Ia juga hanya melihat kebawah tak mampu melihat wajah Arimura.


"Maafkan aku jika selama ini aku membuatmu menderita."


Mendengar perkataan dari Arimura semakin membuat Aoyama merasa bersalah. Kenapa Arimura harus meminta maaf, semua ini juga bukan salahnya. Arimura juga baru jika Tahara adalah ayah kandungannya.


"Sayounara (selamat tinggal) Sensei, daisuki (aku menyukaimu) ." Arimura perlahan pergi meninggalkan Aoyama dan teman-temannya. Arumi dan Emi yang mengantar Arimura sampai ke bandara, mereka berdua juga membantu membawakan barang-barangnya karena kaki Arimura belum sepenuhnya sembuh.


Aoyama mengangkat kepalanya untuk melihat Arimura yang terakhir kalinya. Rasa sakit kali ini harus terasa lagi.


"Sayounara, aku tidak bisa mencintaimu. Aku tidak mencintaimu Arimura." Aoyama mengatakan dengan sangat pelan saat Arimura sudah berjalan lumayan jauh.


Hinana bisa mendengarkan suara Aoyama meskipun sangat pelan.


"Akhirnya kau bisa mengucapkannya. Aoyama kun, mengakatakannya tidak seburuk yang kau kira.


Hinana merasa lega karena akhirnya Aoyama bisa bersuara lagi. Saat Aoyama hanya diam, itu tandanya Aoyama ingin mengakhiri hidup dan membawa semua bebannya menghilang. Tapi dengan Aoyama mengatakan bebannya, tandanya Aoyama bisa bepikir jernih.


Entah kenapa sekan Arimura bisa mendengar suara Aoyama yang sangat pelan dan jaraknya jauh. Arimura menoleh kebelakang dan tersenyum kepada Aoyama.


Ren merangkul Aoyama dan membiarkannya menangis, meskipun pantang laki-laki untuk menangis.

__ADS_1


__ADS_2