
Smartband milik Ren hancur berkeping-keping, dan dengan hati-hati Aoyama mengambil dan membersihkan pecahan kacanya.
Saat Arumi akan mengejar Ren, ia menahannya.
"Anoo biar aku saja yang menemuinya, eh maksudku aku akan melihat bagaimana kondisinya." ucap Aoyama dengan kaku saat memegang tangan Arumi.
"Wakatta (baiklah). Sensei, aku mohon pastikan Ren baik-baik saja." Jawab Arumi dengan penuh harap.
Aoyama hanya menjawab dengan anggukan lalu pergi ke rooftop menemui Ren.
Sementara itu Ren masih bisa melihat Hinana yang mengejar Shota dari atas roftoop.
"Punyamu." Aoyama memberikan smartband milik Ren yang sudah rusak. "Besok akan ku bawakan yang tidak rusak."
"Arigatou sensei."
"Apakah dadamu masih terasa sakit?" tanya Aoyama dan ikut duduk di sebelah Ren. Ia juga bisa melihat bahwa Hinana masuk kedalam mobil Shota dan pergi bersama Shota.
"Sensei, apakah orang seperti aku tidak boleh merasakan jatuh cinta?" Ren tak menjawab pertanyaan Aoyama, ia malah melempar pertanyaan padanya.
"Apakah kau mencintai Hinana?" pertanyaan Aoyama membuat Ren hanya mengangguk tanpa bisa menjawab dengan suara.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan padamu untuk tidak menyukai Hinana, karena jika kalian berdua pacaran dan kau meninggal Hinana pasti akan sedih. Karena Hinana adalah satu-satunya temanku, aku tak ingin jika ia bersedih untuk waktu yang lama.
Tapi, aku juga tidak berhak ikut campur dalam kehidupan kalian. Jika kau mencintainya katakan saja, ditolak atau diterimanya itu keputusan Hinana." Jawab Aoyama.
"Aku pernah mengalami fase seperti ini. Aku ditolak, tapi yang membuatku sedih adalah melihat seseorang yang merelakan hatinya untukku." Ucap Ren dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Kali ini Ren sudah tidak mampu lagi menahan cairan bening yang dari tadi terganjal. Perlan air matanya terjatuh dan membasahi pipinya. Ia menatap kearah Aoyama tapi tanpa di sangka Aoyama pun juga tidak bisa menahan kesedihannya.
"Sensei kenapa kau menangis?" tanya Ren dengan sedikit tertawa tapi tak lama kemudian air matanya ikut terjatuh.
"Tidak aku tidak menangis." Aoyama mengelak tuduhan Ren dan mengahapus air matanya.
"Sebagai seorang dokter harusnya kau tak mudah terbawa suasana." umpat Ren dan memukul bahu Aoyama.
"Gomennassai."
Setelah sepuluh menit Ren dan Aoyama turun dari roftoop dan kembali ke ruang kerjanya. Senyum Ren kembali terpancar dan semakin senang menggoda Aoyama.
"Untukmu." Ren memberikan sekotak tisu untuk Arimura.
__ADS_1
"Arigatou, tapi aku sudah membawanya."
"Sokka (begitukah), kalau begitu bawalah sebagai cadangan." ucap Ren sambil tersenyum kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Anoo... Semuanya aku minta maaf atas kekacauan yang ku sebabkan." ucap Arimura pada semua orang saat sudah berkumpul.
"Tidak masalah, benarkah teman-teman?" jawab Ren dan meyakinkan teman-temannya.
"Hem tidak masalah, jika kau ingin bercerita kau bisa lakukan itu padaku nanti." balas Emi dan menghampiri Arimura.
"Arigatou." Arimura memeluk Emi dengan hangat kemudian membantunya memasang manik-manik.
"Aku datang, maaf terlambat." ucap Hinana dengan lemah kemudian menaruh tasnya di kursi dekat Ren.
"Hey Hinana kemarilah pekerjaanmu menanti." Teriak Tsubaki dan Hinana menghampirinya.
Aoyama masih memperhatikan Ren dan melihat bahwa Ren masih mencubit tangannya sendiri. Ia mengingat ucapan Ren saat di roftoop. Jika Ren sedang sedih ia selalu mencubit tangannya sendiri agar tidak menangis.
Matahari terbenam sudah tiba, mereka semua segera membereskan pekerjaannya dan segera pulang.
"Arimura san, maafkan aku." Ucap Hinana saat menemui Arimura di loby.
"Tidak apa-apa Hinana, sepertinya memang sudah berakhir. Shota sudah memberiku pesan, aku akan bertemu dengannya untuk terakhir kalinya." Jawab Arimura.
"Iya, tidak apa jika memang seperti itu. Setidaknya kami bisa bertemu untuk mengatakan salam perpisahan."
"Tetap semangat Arimura san." ucap Hinana memberi semangat.
"Tentu saja. Tapi benarkah kau tak ingin ku antar pulang?"
"Panglah, aku lebih suka naik bus daripada naik mobil. Jaa Mata." Hinana berpamitan pada Arimura sebelum pergi ke halte bus.
Pemandangan bunga sakura disaat senja membuatnya semakin indah. Antara warna oranye dari langit dan merah muda seakan menggambarkan ada warna-warna indah yang akan menghiasi kehidupan kita pada nantinya.
Pandangan mata Hinana teralihkan pada sosok Ren yang tengah berjalan sendirian. Ia mengurungkan niatnya naik bus dan diam-diam mengikuti Ren dari belakang. Hingga langkah Hinana terhenti pada taman Furano.
"Kirei.." Gumam Hinana kagum saat melihat kelopak bunga sakura yang berterbangan tertiup angin.
"Hinana." Ren terperanjat karena mendengar suara Hinana. " Sejak kapan kau mengikutiku?" tanya Ren.
"Emm entahlah, aku melihatmu saat di halte bus." Jawab Hinana dan mengumpulkan bunga sakura yang jatuh kemudian ia tiup ke arah Ren.
__ADS_1
"Ne Hinana, saat ini aku sedang ingin sendiri." ucap Ren tapi kemudian Hinana datang dan memeluknyanya.
"Apa sudah baikan? Dimana rasa sakitnya? Apa masih terasa sakit? Semua itu yang pernah di katakan Ren kun saat aku terluka dan menepuk kepalaku dengan lembut. Dan sekarang aku juga ingin melakukannya untuk Ren kun. Semua akan baik-baik saja Ren kun." Ucap Hinana yang memeluk Ren.
"Tapi luka ku tak akan sembuh, aku akan mati." Balas Ren dan melepaskan pelukan Hinana.
"Tak peduli kau akan mati esok, lusa ataupun hari yang akan datang. Setidaknya aku ingin memelukmu saat sedang terluka seperti kau yang selalu ada saat aku terluka." Hinana mengusap pipi merah milik Ren, entah mengapa kali ini ia tak ingin melihat Ren bersedih. Ia ingin melihat Ren yang selalu tertawa dan ceria seperti pertama kali ia lihat.
"Ren kun, pasti saat ini kau sedang menahan air matamu kan? Keluarkan saja, aku akan mengusapnya." Hinana melanjutkan kata-katanya.
Hinana sebenarnya tahu saat Ren melemparkan smartbandnya. Meskipun Ren bersikap tak peduli saat Arimura memeluk Ren, tapi saat ia mengejar Shota keluar sebenarnya Hinana masih mengintip Ren dari balik pintu. Hinana melihat Ren yang menahan sakit dan memegangi dadanya. Yang ada di pikiran Hinana mungkin Ren menahan rasa sakitnya saat Arimura memeluk kakaknya.
"Aku tidak akan menangis. Aku sangat bahagia karena kau disini bersamaku." Ucap Ren dan langsung memeluk Hinana dengan erat.
"Eh benarkah? Aku punya tisu jika kau memerlukannya."
"Yang aku butuhkan adalah Hinana chan." Ren semakin erat memeluk Hinana.
"Hey lepaskan, aku tak bisa bernapas jika kau terlalu erat memelukku." Ucap Hinana dan mencoba melepaskan pelukan Ren. Tapi tiba-tiba sebuah ciuman mendarat tepat di kening Hinana.
Tepat di taman Furano dan bunga sakura yang behembus karena tiupan angin. Semua ini terjadi tepat seperti yang ada pada mimpi Hinana waktu itu.
Ren mengajak Hinana berbaring di rerumputan sambil memandangi indahnya bunga sakura yang sedang berjatuhan. Meskipun malam sudah tiba, tapi ada cahaya purnama yang menerangi indahnya taman Furano.
"Hinana, sepertinya aku menyukai musim semi." ucap Ren sambil tersenyum.
"Apa alasannya?" tanya Hinana.
"Saat musim semi aku seperti melihatmu." Jawab Ren dengan asal.
"Ren kun, bolehkah aku jujur padamu?"
"Em apa?"
"Sebenarnya aku khawatir saat review, aku belum siap menampilkan wajahku di media. Aku ingin melarikan diri lagi, tapi itu tidak mungkin kan?" ucap Hinana dan kemudian duduk.
"Emm aku akan memikirkan cara agar kau tetap ada tanpa di kenali siapapun." balas Ren dan bersandar pada bahu Hinana.
"Eh, bagaimana caranya?" tanya Hinana dengan rasa penasaran.
"Entahlah aku masih memikirkannya."
__ADS_1
"Kalau begitulah cepatlah, kita tidak punya waktu lagi reviewnya tinggal tiga hari lagi."
" Ternyata sifat aslinya Hinana ini sangat cerewet ya." ucap Ren dan menutup mulut Hinana.