Salju Di Bulan Desember

Salju Di Bulan Desember
106 Pantai


__ADS_3

Setengah jam Ren masih menunggu Aoyama untuk keluar dari kamarnya. Sebenarnya ia ingin bersama teman-temannya, tapi Ren memutuskan pulang bersama Aoyama karena tahu bingkisan yang terjatuh adalah makan siang yang di belikan Aoyama untuknya. Karena di kemasan ada tulisan tanpa gula, tentu saja untuknya.


"Aoyama... Apa aku menganggumu? " Teriak Ren dan mengetuk pintu kamar. Tak lama kemudian Aoyama membuka pintu dan menyuruh Ren untuk masuk.


"Apa aku menganggumu? "tanya Ren sekali lagi saat berada di dalam kamar.


"Jika iya mana mungkin ku bukakan pintu. Ada apa? " Jawaban Aoyama sepertinya menandakan jika perasaannya sudah membaik.


"Aku menemukan fotomu terjatuh. Ini." Ren memberikan foto milik Aoyama.


"Siapa ini? " tanya Ren dengan penasaran meskipun sudah tahu siapa yang ada difoto itu.


"Oh ini adalah foto masa kecilku dengan Hinana. Aku sangat jelek kan? "Jawab Aoyama dengan sedikit tersenyum dan menerima foto yang diberikan Ren.


"Kalian berdua sudah berteman sejak kecil ternyata."


"Hum. Aku bertemu dengannya sejak umur duabelas tahun, Hinana lima tahun lebih muda dariku."


Mendengar jawaban Aoyama yang tampak santai, sepertinya Aoyama tidak ada perasaan marah pada Hinana. Ren menyadari bahwa sekeras apapun umpatan Hinana pada Aoyama, ia tak pernah marah bahkan dendam. Mungkin karena mereka sudah berteman sangat lama, jadi sudah saling mengetahui karakter satu sama lain. Itulah yang ada di pikirannya Ren.


"Kau simpan saja jika mau." Aoyama memberikan kembali fotonya pada Ren.


"Ehhh.. "


"Bukankah kau menyukai Hinana? Kau bisa menyimpan foto kecil Hinana. " ucap Aoyama dan memberikan pada tangan Ren.


"Terimakasih." Ren tersenyum senang seakan memenangkan lomba.


"Kita tak pernah tahu takdir seseorang, Hinana yang ku kira kuat ternyata sangat bodoh dalam urusan percintaan. Hey Ren kenapa kau tak menyatakan perasaanmu padanya? Kalian berdua sama-sama saling menyukai kan? " Ucap Aoyama sekali lagi dan pergi menuju kearah jendela. Untuk saat ini Aoyama berani memandang kearah langit.


"Aku hanya ingin melindunginya. Dengan waktu yang kumiliki, aku tak pantas jika bersamanya. Itu hanya akan membuatnya menderita." Jawab Ren.


"Bagaimana kau tahu jika Hinana menderita?"


"Jika aku meninggal, bagaimana dengannya?" jawab Ren dengan menunduk.


"Aku paham. Terkadang cinta hanya saling melindungi." Ucap Aoyama dengan singkat kemudian mereka sama-sama terdiam.


Ren hanya memegangi foto yang diberikan Aoyama, ia memang sangat mencintai Hinana. Tapi Ren tak ingin membuat Hinana menderita setelah kematiannya.


"Hey Aoyama, ayo kita pergi ke pantai. Matahari yang terbenam akan indah jika dilihat si sana. "Ajak Ren tiba-tiba. Aoyama masih diam dan berdiri di depan jendela. Ren juga masih bingung dengan sikap Aoyama, jika Aoyama sudah tidak marah bukankah dia mau pergi ke pantai menemui Hinana dan lainnya.


"Akan kuceritakan sedikit dariku."


"Ehh... "Ren hanya bingung dengan ucapan temannya.

__ADS_1


"Pantai menjadi hal yang menyakitkan bagiku. Ibuku meninggal karena bunuh diri dipantai, bahkan jika tidak ada orang tua Hinana aku pasti juga mati bersama ibuku." Aoyama menceritakan masa lalunnya pada Ren. Ia hanya sedikit mengingatnya.


"Gomennassai (maaf), aku sunggu tak bermaksud membuatmu mengenang kenangan itu.. "Ren hanya menunduk menyesali ajakannya.


Karena dari pagi ia dan teman-temannya sangat senang membicarakan akan ke pantai. Mungkin hal itu yang membuat Aoyama sedih karena mengingat masa lalunya.


"Tidak apa. Pergilah, tetap gunakan pakaian hangat selama disana. Udara dinginbisa memperburuk keadaanmu. Tunggulah Hinana menjemputmu, dia tahu kalau aku membenci pantai. Jadi dia pasti akan menjemput mu." Aoyama memberikan coatnya pada Ren.


"Gomenne... "Ucapan itu kembali terlontar dari mulut Ren.


Aoyama tak membalas ucapan Ren, ia memilih diam walaupun sebenarnya terasa menyakitkan setelah mengatakannya. Tak lama kemudian suara Hinana sudah terdengar di telinga mereka berdua.


"Pergilah dia sudah datang. "Ucap Aoyama.


Ren hanya mengangguk dan menunduk pelan sebelum pergi dari kamarnya.


"Kenapa lama sekali? " protes Hinana saat bertemu dengan Ren.


"Aku sedang mencari baju hangat. Ayo pergi."


"Hum. " Hinana mengangguk, ia menaruh sebuah bingkisan di pegangan pintu kamar Aoyama. Ia menyesal karena membuat makana Aoyama tertumpah di jalan. Kemudian ia pergi mengikuti Ren dari belakang.


Sebenarnya Hinana sudah berada disana selama limabelas menit. Ia juga mendengar jika Aoyama menceritakan pahitnya masa lalu kepada Ren. Ada perasaan tidak tega darinya, karena dari dulu Aoyama tidak bisa mengatakannya. Dan sekarang Aoyama menceritakan pada orang lain, Hinana tak tahu betapa sakitnya perasaan Aoyama sekarang.


...****************...


"Hal semacam ini saja apakah sudah membuatmu bahagia? Aku percaya jika dengan hal-hal kecil sudah bisa membuatmu tersenyum bahagia." ucap Hinana dari dalam hati sambil memandang wajah Ren memejamkan mata.


"Hinana..." teriak Arimura yang berada di bibir pantai.


"Oii Ren kemarilah. " diikuti dengan teriakan Tsubaki dan melambaikan tangan.


"Ayo kita kesana. "ajak Hinana dan Ren mengangguk.


Ren mengeluarkan ponselnya dan memotret teman-temannya. Ia tak berani mendekat karena teman-temannya sedang bermain air.


Ren mengambil gambar pemandangan pantai dan mengirimkan pada kakaknya. Tapi sepertinya Shota telah mengganti ID Line yang baru.


"Hinana bra mu bewarna merah ternyata. " ucap Tsubaki setelah menyiram Hinana dengan air pantai.


"Dasar cabul.. " umapat Hinana tapi Tsubaki malah tertawa.


Sebenarnya salah Hinana sendiri karena memakai baju putih, jadi saat basah akan terlihat menerawang.


"Hey hey aku kasihan dengan Ren yang duduk sendiri disana. " ucap Emi dan menunjuk kearah Ren.

__ADS_1


"Mungkin Ren tak membawa baju ganti, jadi tak ingin bermain dengan kita. " Jawab Tsubaki.


"Lalu untuk apa kita ke pantai jika Ren juga tak bisa bersenang -senang. "Sahut Arimura.


"aku punya ide, ayo ikut aku. "Dengan senyum licik Arumi merencanakan sesuatu agar Ren ikut bergabung.


Arimura berjalan mendekat kearah Ren dan spontan Ren menjauh karena melihat baju Arimura yang basah.


"Ren, ada bintang laut disana kau harus mengambilnya. " ucap Arimura.


"HAH, kenapa harus aku?" tanya Ren dengan kebingungan.


"Kau kan menyukai bintang laut? " Arimura masih berusaha membujuk Ren agar mendekat kearah air.


"Sejak kapan aku menyukai bintang laut" Jawab Ren dan tertawa heran.


"Awas Ren..... "Teriak Hinana tiba-tiba dan


BYURRRRRR


.


.


.


.


.


.


Arumi menyiram air pada Ren tapi gagal karena Hinana memeluknya. Hinana teringat ucapan Aoyama jika Ren harus tetap hangat agar baik-baik saja.


Ren sangat shock karena tiba-tiba Hinana memeluknya sehingga membuat smartbandnya berbunyi kencang. Apalagi Hinana memeluknya dalam keadaan pakaian yang basah. Meskipun begitu Ren juga laki-laki yang normal.


"Ren kau baik-baik saja? "Tanya Arumi karena khawatir saat mendengar suara smartband milik Ren.


"Aku hanya terkejut. " jawab Ren dan Hinana melepas pelukannya. Kemudian ia mematikan suara dari jam yang ia pakai.


"Hinana kau benar-benar memakai bra warna merah. Keliatan jelas lho. "Teriak Tsubaki yang menghampirinya.


"Brengsek... " umpat Hinana sekali lagi.


__ADS_1


visual Hinana


__ADS_2